Connect with us

Memoar Kehilangan

Ziarah Malam

mm

Published

on

Apa kami akan kalah malam ini?
Sedang langit benderang dengan panji-panji kemenangan

Obor menyala-nyala mengagumkan hati
Kami tak berdaya melihat bayangan cahaya
Mestikah kami dikalahkan malam ini
Pada keyakinan kami akan kemenangan jiwa

Jika kami terlambat

adakah kami harus menebus dengan ribuan waktu?
Sedang bagimu betapa tak berguanya menghitung waktu:
Waktu berlalu
Waktu bergerak maju
Mengitari kekinian mencari kemarin
Untuk ditempakan di sini
Hendak digambar sesuka jiwa ini

Apakah engkau sudi berjanji memberitahu?

sebab ia tertidur dan tak sempat mendengar;
Betapa kami membutuhkan sejumput waktu

yang tak menyebabkan jarak rentang
Secuil nyata yang tak tersunggingkan kenangan
Seutas tali yang tak menali hanya untuk patah
Keyakinan ini menjadi bunyi
Tanpa kata-kata yang di susun menjadi puisi

Keyakinan ini waktu,
Keyakinan ini cahaya,
Jarak dan cinta
Tanpa tali jeda mengada
Hanya keyakinan bahwa kami membutuhkan engkau

Maka pada malam gemilang
Kami mengenakan pakaian
Menziarahi waktu dimana engkau menyatu;

tanpa jarak antara malam dan siang;

sunyi dan ramai digemintang gelap nun bunyi.

(Di kamar, 28 Juni 2011)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: