Connect with us

Books

Thomas Paine: Melihat Amerika, Mempertimbangkan Akal Sehat Kita

mm

Published

on

Tidak ada serorangpun yang cukup waras pikirannya yang akan mau meramalkan masa depan yang gemilang bagi Thomas Paine, tatkala ia sampai dalam usia tigapuluh tujuh tahun ke Amerika. Seluruh kehidupannya sampai saat ini semata-mata terdiri dari rentetan kekandasan dan kekecewaan. Apa saja usaha yang pernah ia jamah berakhir dengan menyedihkan.

Siapa yang mengira, bahwa dalam waktu beberapa tahun imigran yang baru saja datang ke Dunia Baru ini akan muncul sebagai salah seeorang penulis pamflet terbesar dalam bahasa Inggris, salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah Amerika, seorang agitator politik dan revolusioner yang namanya dikenal, ditakuti, dibenci atau dielu-elukan dan disanjung-sanjung diseluruh koloni Amerika-Inggris. Britania Raya dan Eropa Barat? Seolah-olah perjalanan laut yang ia lakukan belum lama sebelum itu telah menyebabkan suatu metamorfosis yang hebat dalam kepribadian dan wataknya; ia berobah hampir dalam waktu sekejap mata dari seorang biasa menjadi seorang cendekia yang gemilang.

Common Sense (Pikiran Sehat)

Tapi jika kita selidiki masa mudanya maka jelaslah bahwa tahun-tahun dari kehidupannya yang lampau bukanlah masa yang hilang, malahan masa ini adalah semacam masa persiapan untuk hidupnya yang baru. Ia dilahirkan di Thetford, distrik Norfolk, disebelah timur Inggris, dalam bulan Januari tanggal duapuluh sembilan, tahun 1737, sebagai anak laki-laki seorang ayah penganut mazhab Quaker dan ibu penganut Gereja Anglikan. Semenjak kecil ia telah mengalami kemelaratan yang teramat sangat, kekurangan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina. Sampai usia tigabelas tahun, ia belajar disekolah rakyat, dimana ia, menurut ucapannya sendiri telah beroleh “pendidikan akhlak yang sangat baik dan diberi sejemput pengetahuan yang berguna.” Nalurainya untuk ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru – untuk kepentingan praktis sebagai kebalikan dari kepentingan teritis – sudah kelihatan pada waktu itu. Naluri ini kelak akan tetap subur dalam seluruh kehidupannya yang sibuk itu.

Sehabis pendidikan formil yang singkat ini Paine mempelajari pekerjaan ayahnya – pekerjaan seorang pembuat korset. Pkerjaan ini ia jalankan selama tiga tahun. Kemudian kegiuran laut dan keisengang disebabkan pekerjaan yang membosankan ini menyebabkan ia lari dari rumah dan mencatatkan diri diatas kapal bajak Terrible, yang dipimpin oleh seroang nachoda yang mempunyai nama yang dahsyat, yaitu Death (Maut). Setelah dibawa puang kembali oleh ayahnya, ia melanjutkan pekerjaan membuat korset sampai ia berumur sembilanbelas tahun. Sesudah itu selama masa singkat ia mengesampingkan pekerjaan itu kembali, kalu berlayar sebagai lanun di kapal King of Prusia. Sesudah itu sembuhlah ia dari pengertiannya yang romantis tentang kehidupan pelaut, dan sekali lagi ia memulai pertukangannya kembali, tapi tidak lagi di Thetford, melainkan di London. Disana ia bekerja diekdai seorang pembuat korset dekat Ddrury Lane. Sedangkan waktu senggangnya ia pergunakan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran dalam ilmu falak.

Masa selanjutnya adalah masa yang penuh kesulitan dan pengelanaan tak tahu tujuan. Di Sandwich ia kawain dengan seorang gadis pelayan piatu. Gadis ini kemudian meninggal dalam masa setahun sesudah perkawinan itu. Ayahnya adalah seorang pegawai pabean. Karena pekerjaan dapat memberikan kepadanya waktu-waktu senggang yang ingin ia pergunakan untuk keperluan-keperluan lain, lalu Paine merasa tertarik. Paine diangkat sebagai seorang pejabat pabean. Jabatan ini adalah jabatan yang pelaing tepat sekali jika kita ingin menjauhkan kawan dan membuat orang menghindarkan diri. Sebab pekerjaan Paine ini, ialah pekerjaan mengangkap saudagar gelap, sehingga orang baik yagn kaya maupun yang miskin menjadi tak senang kepadanya. Disebabkan ketidak-telitian dalam menjalankan peraturan, maka ia dipecat dari jabatannya. Paine kembali megnerjakan pekerjaan membuat korset selama waktu singkat. Kemudian ia hidup melarat sebagai seorang guru yang bergaji f25/ setahun di Kensington.  Setelah kemudian ia dipulihkan kembali dalam jabatan pabena, ia kawin untuk kedua kalinyad alam tahun 1771 lalu menyertai istri dan mertuanya menjalankan sebuahtoko tembakau dan rempah-rempah, sebagai cara untuk menambah pendapatannya.

Selama tahun-tahun yang akhir ini, Paine sering sekali mengunjungi White Heart Tavern, tempat pertemuan sebuah perkumpulan sosial yang ia masuki sebagai anggota. Untuk kepentingan pendidikan anggota-anggota perkumpulan ini ia menulis sajak-sajak lucu dan lagu-lagu patriotik, disamping sekaling-sekali menulis karangan-karangan mengenai persoalan-persoalan yang lebih dalam sering kali ia terlibat dalam perdebatan menyebabkan kawan-kawan sejawatnya dijabatan pabean memilih dia sebagai juru-bicara mereka dalam suatu permintaan kenaikan gaji dan perbaikan keadaan pekerjaan. Selama berminggu-minggu Paine asyik menyiapkan sebuah karangan yang berkepala “masalah gaji pejabat-pejabat pabean dan pendapat-pendapat mengenai korupsi yang disebabkan oleh kemiskinan pejabat-pejabat pabean”. Dalam musim dingin tahun 1772-1773, ia pergi ke Londong untuk mengajukan permintaan itu kepada anggota parlemen dan pejabat-pejabat lain.

Tapi bukan saja petisi yang ia majukan atas nama pejabat-pejabat cukai itu ditolak, malahan ia diperhentikan akrena menyia-nyiakan pekerjaan. Kedai tembakaunya jatuh rugi, perabot rumah tanggan dan ahrta bendanya yang lain terpaksa dijual untuk menghindarkan dia dari hukuman penjara yang telah disap-siapkan oleh mereka yang berpiutang padanya; dan ia berpisah dari isterinya. Begitulah, tatkala umurnya sudah hampir separuh baya, ia tinggal seorang diri dengan tak ada uang sepeserpun juga.

Untunglah, waktu ia pergi ke London, Paine bertemu dengan Benjamin Franklin yang lagi berada disana sebagai komisaris daerah jajahan, dan Franklin, barangkali karena ia lihat, bahwa paine adalah seseorang yang berotak cerdas, menganjurkan kepada Paine untuk mencoba nasib di Amerika. Sepucuk surat pengantar dari Franklin yang dialamatkan kepada menantunya, Ricahrd Bache di Philadelphia melukiskan Paine “sebagai seorang anak muda yang patut dan cendekia”, dan ia menganjurkan supaya Paine dijadikan kerani, seorang guru bantu disekolah atau seorang pembantu pengawas. Surat ini adalah bekal Paine satu-satunya waktu it mendarat di Philadelphia dipermulaan bulan Desember tahun 1774.

Tapi, dalam dirinya Paine juga membawa bekal yang lain bentuknya dan yang tak ternilai harganya – dasar yang diiperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dimasa lampau. Ia telah melihat cara-cara yang lancang dan primitif yang dipergunakan orang dalam menjalankan keadilan di Inggris; ia telah mengenal kemelaratan yagn pahit; ia telah melihagt jurang yang lebar yagn memisahkan rakyat jelata yang jutaan jumlahnya dari segolongan kecil anggota keluarga raja dan kaum bangsawan di Inggris; dan ia tahu skema yang busuk yang dipergunakan kotapraja dalam pemilihan naggota-anggota House of Commons dan ia tahu kedunguan dan korupsi-korupsi yang dijalankan oleh keluarga-keluarga raja. Setelah merenungkan hal-hal ini sedalam-dalamnya, lalu Paine dirasuki oleh suatu semangat yang bergelora bagi peri-kemanusiaan, cinta yang besar pada demokrasi, dan suatu kemauan berjuang untuk mengadakan perobahan secara universil dalam soal kemasyarakatan dan politik.

Segera setelah ia sampai ke Philadelphia, paine lalu dipekerja karier Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima yang baru diterbitkan. Disana Paine bekerja hampir selama delapanbelas bulan, yaitu seumur dengan majalah itu. Dengan menyiarkan sebuah essay yang mengutuk perbudakan bangsa Negro dan pembelaan yang gigih bagi kemajuan, maka mulailah karir Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima minggu kemudian maka di Philadelphia didirikanlah perhimpunan Amerika yang pertama untuk memberantas perbudakan. Kemudian Paine menulis karangan-karangan yang membela kesamaan hak bagi kaum wanita, usul-usul mengenai hukum hak cipta internasional, pengutukan pengajiayaan hewan, cemooh atas adat-kebiasaan untuk berperang-tanding dan usul untuk menolak  peperangan dan menegakkan perundingan antara bangsa-bangsa.

            Tepat pada saat ia menulis, sebuah peperangan internasional dalam mana Paine kelaknya akan memainkan peranan penting sedang tumbuh dengan cepat. Dalam musim semi tahun 1775 terjadilah pertempuran-pertempuran Concord. Lexington van Bunder Hill. Setelah terjadi “pembegelan di Lexington” dalam bulan April, Paine menulis keapda Benjamin Franklin. “Tidaklah enak rasanya mengalami negeri ini terbakar sejadi-jadinya tepat pada saat aku memasukinya”.

Dalam mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan sengeketa ini, pendirian-pendirian di daerah koloni ini sangat terpecah-pecah. Waktu itu dikeluarkan pendapat-pendapat yang extrim seperti oleh Samuel Adams dan John Hancock yang menyetujui perperangan dan pendapat-pendapat yang menghendaki kesetiaan kepada raja seperti yang didukung oleh kaum Tory, George Washingotn, Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson tergolong kepada pemimpin-pemimpin yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Inggris dan yang memandang pikiran-pikiran mengenai pemsiahan dan kemerdekaan dengan penuh curiga. Baik Kongres Kontinental yang pertama maupun yang kedua telah mengesahkan resolusi yang menegaskan hubungan tetap dengan mahkota Inggris, dengan hanya mengemukakan sedikit petisi mengenai permintaan bagi penyelesaian yang menyenangkan bagi rasa-rasa tidak-puas yang terdapat para penduduk koloni-koloni ini.

Ditengah-tengah pemikiran yang kacau-balau ini, diantara pendapat dan dorongan yang paling bertentangan,d itengah renggutan dan tarikan, seorang laki-laki telah dapat melihat dengan jernih arah dari jalannya kejadian dan akibat-akibat yang mungkin timbul dari padanya. Sejak semula. Thomas Paine beranggapan, bahwa pemisahan dengan Inggris adalah hal yang tak dapat dielakkan. Dan selama musim gugur tahun 1775 ia bekerja menuliskan buah-pikirannya. Sebelum hasil-kerja ini diterbitkan, maka terlebih dulu ia diperlihatkan oleh Paine kepada beberapa orang kawan, diantaranya Dr Benjamin rush yang mengusulkan supaya buku itu diberi nama Pikiran Sehat (Common Sense). Rush menolong Paine mencari seorang penerbit, Robert Bell, seorang pedagang buku dan pencetak berbangsa Scot di Philadelphia.

Pikiran Sehat, sebuah pamflet setelah 47 halaman yang “dituliss oleh seorang Inggris” telah diterbitkan pada tanggal 10 Januari 1776 dengan seharga dua shilling. Dalam waktu tiga bulan saja sudah terjual habis 120.000 jilid. Pengiriman penjualan seluruhnyayang mendekati jumlah setengah juta, adalah suatu jumlah yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada masa itu, sama bersarnya dengan penjualan sejumlah tigapuluh juta di Amerika Serikat masa sekarang. Pendeknya bolehlah dianggap bahwa setiap orang yang pandai membaca diketigabelas koloni itu telah membaca buku ini. Biarpun penjualan begitu luar-biasa besarnya, Paine tidak bersedia untuk menerima uang honorarium biar sesenpun juga.

Tidak ada buku dalam sejarah kesusasteraan yang mempunyai pengaruh begitu cepat seperti buku Pikiran Sehat. Buku ini adalah seperti serunai sangkakala yang memanggil kolonis-kolonis Amerika untuk bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka – tanpa kompromi dan tiada sangsi-sangsi. Paine telah menjelaskan kepada mereka, bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persengketaan mereka dengan Inggris dan raja George III. “karena tidak ada cara lain yang mencapai tujuan kecuali ledakan-ledakan,” demikian Paine menjelaskan, “maka oleh sebab itu demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian-perjanjian itu – sekiranya hanya itu yang mau kita perjuangkan ………. alangkah dungunya k ita, jika kita memandang kejadian di Bunker Hill sebagai pembayaran untuk kepentingan hukum atau tanah …… Hal ini bukanlah masalah satu kota, satu daerah, satu propinsi ataupun satu kerajaan, tapi masalah ini adalah amsalah satu benua …. Hal ini bukan soal hari sehari, atau setahun ataupun sejaman, tapi keturunan kita terlibat dalam perjuangan ini ……… Sekarang inilah waktunya untuk menabur benih bagi kesatuan sebenua, kesetiaan dan kehormatan …. Emban Benua telah ditarik terlalu longgar ….. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mengikat dan mempersatukan kita.”

Sebuah bait yang agak lembut dan merapuhkan hati mengantarkan kita kedalam Pikiran Sehat:

Barangkali, gelora perasaan yang tertulis dihalaman-halaman buku ini belum lagi cukup luas dianut orang sehingga ia dapat memperoleh dukungan umum; suatu kebiasaan yang terlalu lama ada, yang tidak mau mengingat bahwa sesuatu adalah salah telah menimbulkan suatau gambaran dangkal yang memperlihatkan, bahwa sesuatu itu adalah benar adanya. Dan ia pertama-tama akan mengakibatkan suatu teriakan yang hendak mempertahankan kebiasaan. Tapi keramaian akan sergera surut. Waktu ternyata lebih banyak menyebabkan perubahan dari pada pikiran.

Bagian pertama pamflet ini membicarakan masalah asal dan sifat pemerintahan dengan Undang-undang Dasar Inggris sebagai contoh utama. Filsafat pemerintahan paine terkandung dalam kalimat-kalimat seperti berikut:

Pemerintahan, biarpun dalam keadaan yang sebaik-baiknya, sebetulnya adalah sebuah cacat yang keperluannya tak dapat dihindarkan. Dan dalam keadaannya yang paling buruk ia adalah sesuatu yang tak boleh dibiarkan …… pemerintah seperti halnya dengan pakaian adalah sautu kesucian yang telah hilang. Istana raja-raja didirikan atas puing lindungan-lindungan surga… Makin sempurna peradaban, makin kurang perlunya pemerintahan.

Asal dan berkembangnya pemerintahan, demikian Paine mencoba meyakinkan pembacanya, “menjadi amat perlu, karena ketinggian moral tidak berkesanggupan untuk memerintah dunia ini; dalam hal inipun juga pola dan tujuan pemerintahan adalah: kebebasan dan keamanan”.

Ia memperlihatkan suatu perbedaan yang jelas antara masyarakat dan pemerintah. Manusia tertarik pada masyarakat, karena berkat bantuan kerjassama yang terjadi dalam masyarakat berbagai kebutuhan tertentu dapat dipenuhi. Dalam keadaan seperti ini manusia memiliki sejumlah hak-hak azasi, seperti kebebasan dan persamaan. Semestinya, manusia harus sanggup hidup dalam damai dan bahagia tanpa pemerintah, sekiranya “dorongan-dorongan hati sanubari manusia” adalah “bersih, serba serupa dan ditaati dengan tiada engkarnya”. Tapi karena manusia menurut sifatnya lemah dan karena dalam soal akhlak ia tidak sempurna, maka diperlukanlah daya-daya untuk mengendalikan. Dan daya-daya ini diberikan oleh pemerintah. Tapi, lebih lagi dari pada dari pemerintah, dan kesenangan rakyat. Adat-istiadat dan kebiasaan sosial, hubungan bersama dan kepentingan bersama manusia, umumnya lebih lagi berpengaruh dari pada lembaga-lembaga politik.

Paine kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan “menyajikan beberapa ulasan mengenai undang-undang dasar Inggris yang begitu dibanggakan orang”. Ia mengulas, “Bahwa undang-undang dasar ini adalah sangat agung jika dibandingkan dengan jaman gelap dan perbudakan, tatkala m ana ia dirumuskan, adalah sesuatu yang harus diakui. Waktu dunia dilanda oleh kelaliman, maka dari apdanya setidak-tidaknya telahd apat dipetik penyelamatan yang gemilang. Tapi bahwa ia tidak sempurna, mudah goncang dan tak sanggup memberikan apa yang elah ia janjikan, mudah sekali dibuktikan.” Apa yang ia anggap syarat ajasi bagi satu pemerintahan, yaitu tanggung jawab, menurut hematnya tidak ada sama s ekali dalam undang-undang dasar Inggris. Ia begitu ruwet sehingga mustahil untuk menentukan siapa yang harus bertanggung-jawab mengenai sesuatu. Satu-satunya bagian dari undang-undang ini yang ia puji, ialah bagian dimana undang-undang ini setidak-tidaknya secara teoritis, mengakui hak rakyat untuk memilih anggota House of Commons. Paine mengusulkan satu majelis legislatif tunggal yang anggotanya dipilih secara demokratis untuk pelbagai koloni, seorang presiden, kabunet, dengan cabang-cabang eksekutif yang bertanggung-jawab pada kongres.

Tapi kata-kata yang paling tajam dan hinaan yang paling pahit telah diberikan oleh Paine untuk bentuk kerajaan yang turun-temurun. Ia serang seluruh prinsip monarchi, terutama sebagaimana yang terdapat di Inggris.

Pemerintahan raja pertama-tama diperkenalkan kepada dunia oleh bangsa-bangsa biadab. Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh kturunan-keturunan Israel. Inilah suatu pendapatan yang paling subur yang pernah ditanamkan oleh iblis untuk menganjurkan pemujaan. Bangsa-bangsa biadab mempersatukan hormat dan puja mereka kepada raja-raja mereka yang sudah mangkat. Dunia Nasrani kemudian memajukan kebiasaan ini dengan melakukan perbuatan yang serupa terhadap raja-raja mereka yang masih hdiup … Kemudian disamping keburukan sistim kerajaan ditambahkan orang pula keburukan dari hak turun-temurun. Jika yang pertama dapat dianggap sebagai penurunan-martabat dan perendahan bagi diri kita sendiri, maka yang kedua yang dinyatakan sebagai saoal hak,dapat dianggap sebagai penghidupan dan beban yang berat bagi keturunan kita … Bukti yang wajar dari kegilaan hak turun-temurun itu, ialah perbuatan alam sendiri yang menunjukkan tidak setujunya jika sekiranya ia setuju, maka ia tidak akan begitu sering menjadikan hak ini menjadi sebuah olok-olok dengan memberikan kepada manusia. Keledai yang belagak Singa.

Menurut pandangan Paine, sahnya keturunan raja Inggris sebegitu jauh sampai kesemenjak jaman Penaklukkan, adalah kebenaran yang dapat disangsikan. Seperti ia katakan, “Seorang belasteran Perancis mendarat dengan sekumpulan garong bersenjata dan menobatkan dirinya sendiri menjadi raja Inggris, tanpa kehendak atau persetujuan rakyat pribumi sendiri; jika diukur dengan kata-kata biasa, maka asal-usul yang rendah dan jahat. – Tak pelak lagi, yang seperti ini tidak mungkin menaruh sifat kedewaan dalam dirinya”. Sekiranya monarchi dapat menjamin suatu pengumpulan dari contoh-contoh manusia yang baik dan cendekia, maka tidaklah ia menimbulkan keberatan benar. “Tetapi ia membuka pintu bagi kaum yang gila, licik dan tak cakap ……….. Manusia yang memandang dirinya sendiri sebagai makhluk yang sengaja dilahirkan untuk memerintah, sedangkan manusia lain hanya untuk mematuhi perintah. Golongan ini dengan segera akan menjadi golongan yang tak tahu malu. Dan sebagai mahluk pilihan dan kemanusiaan seanteronya jiwa mereka mudah sekali diracuni oleh rasa diri penting … dan tatkala maereka memasuki pemerintahan maka golongan pemerintah ini menjadi golongan orang-orang paling bodoh dan paling tidak cakap diseluruh dominion.” Dengan mengijinkan raja-raja yang masih dibawah umur atau terlalu tua menduduki singgasana, orang juga akan beroleh rentetan keburukan; disatu pihak pemerintahan langsung atas negara akan berada dalam tangan wali raja, sedangkan dipihak l ain negara akan tergantung dari tingkah seorang raja yang telah lusuh dan tua-bangka.

Sebagai sanggahan terhadap mereka yang berpendirian, bahwa pemerintahan turun-temurun dapat menghindarkan perang-saudara. Paine mengemukakan, bahwa semenjak jaman Penaklukan Inggris telah mengalami “tidak kurang dari delapan kali peperangan-saudara dan sembilanbelas kali pemberontakan”. Keseimpulannya ialah:

Di Inggris kerja seorang raja hanya mengumumkan perang dan menghadiahkan istana. Dengan kata-kata biasa, ini berarti membuat negara jadi miskin dan menimbulkan rasa pecah-belah dalam tubuh negara itu sendiri. Memang enak rasanya diberi uang sebanyak delapan ratus ribu sterling setahun dan disamping itu disembah lagi. Tapi dalam mata Tuhan, seseorang yang jujur terhadap masyarakat, jauh lebih mulia adanya, dari semua perampok-perampok yang berhiaskan mahkota yang pernah hidup diatas dunia ini.

Paine telah menunjukkan hormatnya kepada George III dalam berbagai bagian dari bukunya. Tetapi setelah penyembelihan di Lexington terjadi, Paine menulis, “Aku menolak Firaun Inggeris yang keras dan sempit hari ini untuk selama-lamanya; dan kutuk laknat ini, yang telah beroleh sebutan “Bapak Rakyat”, tapi yang telah mendengarkan penyembelihan rakyat dengan tiada terharu sedikitpun, dan yang tetap bisa tidur pula biarpun darah rakyat melumuri ruhnya.” Dalam bait yang ia tulis kemudian ia tambahkan; “Tapi dimana, demikian seseorang bertanya, raja Amerika bertahta? Dengarkanlah kawan, ia bertahta diatas, dan ia tidak merusakkan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan adikara bermahkota seperti yang terdapat di Inggris itu.

Setelah ia meruntuhkan pednapat-pendapat mengenai pemerintahan monarchi yang kebenarannnya diakui orang, lalu Paine melanjutkan pembicaraannya dengan mengemukakan “Beberapa pikiran tentang duduk persoalan Amerika sekarang ini”. Dibagian ini ia menitik beratkan pada alasan-alasan ekonomi dari pemisahan dengan Inggris. Sebagai sanggahan terhadap rasa-puas yang terdapat pada kaum Tory, yang berpendirian, bahwa Amerika maju berkat hubungannya dengan Inggris, Paine mengatakan:

Amerika akan sama kembangnya, bahkan mungkin lebih kembang lagi sekiranya tak ada suatu kekuasaan Eropa yang ikut mencampuri urusannya. Barang dagangan yang gtelah membuat ia kaya, adalah barang-barang yang diperlukan buat hidup dan selalu akanb eroleh pasaran, karena bersantap adalah salah satu istiadat Eropa …… Gandum kita akan diharagai disetiap pasar Eropa, sedangkan barang impor-impor dapat kita bayar dan kita beli dimana saja kita  mau.

Kenyataan, bahwa Britania telah memberikan perlindungan bagi koloni-koloni ini terhadap Spanyol, perancis dan bangsa Indian, diremehkan oleh Paine dengan komentar, bahwa, “Ia akan membela Turki dengan alasan-alasan yang sama, yaitu kepentingan dagang dan dominan”, dan lagi pula ongkos pertahanan ini “bukan mereka saja yang membayar, tapi kitapun ikut juga”.

Salah satu ikatan terkuat yang menyebabkan koloni-koloni ini enggan memisahkan diri, menurut Paine, ialah adanya suatu rasa sentimentil yang memandang negeri Inggris sebagai negeri ibu. Jika ini benar, “Maka Inggris sebetulnya harus merasa lebih malu lagi karena tingkah-laku yang telah ia perbuat. Karena, bahkan hewan tidak akan suka memakan anak-anaknya sedangkan orang biadab tidak pernah berperang dengan keluarganya sendiri ………… Sebutan Orang Tua atau ibu telah dipergunakan dengan cara Jezuitis oleh raja-raja dan parasit yang berada sekelilingnya dalam rangka semacam “bapak-isme” yang rendah untuk memperoleh suatu keuntungan yang tidak pada tempatnya atas jiwa mudah-percaya kita yang lemah. Eropalah, dan bukan Inggris yang boleh disebut negeri ibu Amerika”. Dunia Baru ini, demikian ia nyatakan, telah menjadi “pelindungan bagi pencinta-pencita kemerdekaan agama dan sipil yang telah diburu-buru, dari setiap pelosok Eropa … Tidak sampai sepertiga dari seluruh jumlah penduduk, bahkan dari propinsi inipun tidak, yang berasal dari keturunan Inggris. Karena itu saja tolak pendirian yang menganggap negeri Inggris sebagai negeri ibu atau negeri leluhur, sebagai suatu pendirian yang salah, sempit, egoistis dan jauh dari pada mulia”.

Ia tekah mendahului suatu peringatan yang kemudian akan diucapkan oleh George Washington dan yang berbunyi “membersihkan diri dari persekutuan-persekutuan abadi dengan bagian yang manapun juga dari dunia luar”, dan ucapan Thomas Jefferson “Berdamai, berdagang dan bersahabat dengan jujur dengan setiap negera – tidak mengikatkan diri dalam suatu persekutuan dengan negara yang manapun juga”, dengan menggambarkan bagaimana besarnya kerugian yang akan dialami jika hubungan dengan Inggris tetap dilanjutkan.

….. karena, setiap kepatuhan atau perserikatan dengan Britania Raya, akan menyebabkan terseretnya benua ini dengan langsung kedalam peperangan dan percekcokan Eropa; kita akan diadu dengan negara-negara yang sebenarnya mencari persahabatan kita dan terhadap siapa kita tidak pernah menaruk dendam ataupun keberatan-keberatan. Karena pasaran bagi perdagangan kita terdapat di Eropah, maka kita tidak boleh mengadakan hubungan sama-sepihak dengan salah satu dari bagian-bagiannya. Buah Amerika adalah penting sekali untuk menjauhkan diri dari pada sengketa-sengketa Eropa. Tapi sikap ini tidak akan dapat dilaksakan oleh Amerika, berhubung dengan ikatannya dengan Inggris, dalam ikatan mana ia menjadi batu-pemberat dalam timbangan politik Britania. Eropa begitu rapat ditumbuhi kerajaan-kerajaan sehingga tidaklah mungkin untuk mempertahankan perdamaian disana dalam jangka waktu yang lama. Dan setiap kali pecah peran antara Inggris dan suatu negara asing, maka perdagangan Amerika akan ikut hancur, semata-mata karena Amerika mempunyai ikatan dengan Inggris.

Bermacam-macam kenyataan yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh pemerintah Inggris, kemudian dipaparkan oleh Paine. Dan ia menyimpulkan, bahwa:

Inggris tidaklah mampu untuk memperlakukan benua ini dengan adil; pekerjaan segera akan menjadi begitu berat dan ruwet sehingga ia tidak akan dapat diselesaikan dengan memberikan kepuasan yang layak, oleh sesuatu negara yang jauh letaknya dari kita dan yang tidak mengerti sama sekali hal ikhwal kita. Telah ternyata, bahwa mereka tidak kuasa untuk menaklukkan kita, dan karena itu mereka juga tidak akan kuasa untuk memerintah kita. Kebiasaan untuk pergi pulang-balik sejauh tiga atau empat ribu  mil dengan sebuah lapuran atau petisi, k emudian menunggu jawaban selama tiga atau empat bulan dan kemudian ditambah lagi waktu lima atau enam bulan untuk memberikan penjelasan, tidak berapa lagi akan kita sadari sebagai suatu kebiasaan yang gila dan kekanak-kanakan …. Suatu pendirian yang beranggapan, bahwa sebuah benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya adalah sebuah pendirian yang edan. Belum lagi pernah terjadi alam membuat satelit lebih besar dari planet ibunya.

Untuk mereka yang bimbang dan berhati lemah yang masih percaya pada kemungkinan perseuaian dan rujuk, Paine mengajukan suatu sanggahan yang bersemangat:

Dapatkah tuan-tuan menegakkan kembali jaman yang telah lalu? Sanggupkah tuan-tuan memberikan kepada seorang perempuan lacur kemurnian kedaraannya kembali? Demikianlah juga, tuan-tuan tidak akan dapat mempersatukan Inggris dan Amerika kembali. Tambatan terakhir telah putus, rakyat Inggris telah mengeluarkan ucapan-ucapan yang menentang kita. Banyak cedera-cedera yang tan gmungkin dimaafkan alam, karena alam sendiri akan berhenti jadi alam, jika cedera itu ia maafkan. Seperti seorang kasmaran tak akand apat memaafkan perkosaan atas kekasihnya, begitu juga sebuah benua tidak mungkin memaafkan pembegal-pembegal dari Britania.

Sedang seantero dunia diinjak-injak olehpenindasan-penindasan, Amerika harus membuka pintunya seluas-luasnya bagi kemerdekaan dan mempersiapkan tempat menyelamatkan diri bagi kemanusiaan yang diburu-buru.

Paine mengisi bab penutupnya dengan beberapa pandangan praktis tentang “kesanggupan Amerika  hari ini”, dimaksudkan sebagai pengukuh kepercayaan terhadap diri sendiri orang Amerika dan untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka mempunyai cukup tenaga manusia, pengalaman-pengalaman berusaha dan sumber-sumber alam, tidak saja cukup untuk memenangnkan suatu peperangan dengan Inggris,  tapi, jika perlu, bahkan untuk mengalahkan dunia yang bersikap bermusuhan. Koloni-koloni ini memiliki sejumlah besar perajurit-perajurit bersenjata dan berdisiplin baik. Sebuah armada yang dapat ditandingkan denan armada Inggris dapat dibangunkan dalam waktu singkat, karean ter-papan, besi dan tali-temali tersedia dengan cukup, sedangkan “Pembangunan kapal adalah kebangaan Amerika terbesar dan dalam usaha ini ia akan lebih majud ari seluruh dunia”. Pendeknya sebuah angkatan laut untuk kepentingan pertahanan dan perlindungan adalah perlu, sebab angkatan laut Inggris “tiga atau empatribu mil jauhnya dari kita tidak seberapa besar pertolongannya; dalam keadaan mendesak angkatan laut ini tidak bisa diharapkan sama sekali”.

Dalam suasana pertentangan keagamaan dalam mana ia sering terlibat, pandangan-pandangan keagamaan Paine dalam masa hidupnya saat itu, adalah sangat menarik untuk diperhatikan:

Dalam soal agama, saya berpendapat bahwa pemerintah mempunyai kewajiban mutlak untuk melindungi semua penganut-penganut yang beriman dari setiap agama. Dalam soal ini pemerintah tidak boleh campur tangan sama sekali (Rupanya ucapan ini dikeluarkan terhadap gereja yang sudah kukuh kedudukannya dan untuk membela pemisahan gereja dan negara) ….. Sedangkan mengenai diriku sendiri, dengan penuh dan sungguh-sunggu aku percaya, bahwa Yang Mahakuasa berkehendak supaya diantara kita terdapat beragam-ragam perndapat keagamaan dan dengan demikian memberikan kesempatan lebih luas bagi rasa cinta-kasih ke-Nasranian kita. Sekiranya serupalah cara kita semua berpikir, maka kecondongan-kecondongan keagamaan kita akan menginginkan hal-hal untuk diuji. Berdasarkan prinsip ini, aku memandang beragam mazhab yang terdapat antara kita sebagai anak-anak dari suatu keluarga, hanya berbeda dalam apa yang orang sebutkan nama Nasraninya.

Sambil meringkaskan kembali sendi keyakinannya, bahwa “tidak ada cara yang dapat menyelesaikan persoalan kita begitu tepat kecuali dengan jalan mengumumkan kemerdekaan dengan terus terang dan tegas”. Paine mengakhiri Pikiran Sehat-nya dengan mengemukakan empat faktor: (1) selama Amerika masih dianggap jajahan Inggris, maka tidak ada negara lain yang akan mau mencoba menajdi pengantara dalam pertikaian kedua negeri ini; (2) dari Perancis atau Spanyol tidak bisa diharapkan bantuan untuk memulihkan dan mempersatukan Amerika dan Inggris kembali karena perbuatan ini akan bertentangan dengan kepentingan mereka; (3) Jika rakyat Amerika menyatakan, bahwa mereka berada dibawah kekuasaan Inggris, maka rakyat Amerika akan dianggap pemberontak oleh negeri-negeri asing dan dengan demikian tidak akan banyak beroleh simpati; (4) sebaiknya rakyat Amerika menyusun sebuah manifesto dan menjelaskan keberatan-keberatan mereka terhadap Inggris serta maksud untuk memutuskan segala ikatan dengannya. Naskah pernyataan ini dalam mana juga dijelaskan maksud-maksud damai serta keinginan untuk mengadakan hubungan dagang, dikirimkan keluar negeri. Dengan cara demikian hasil yang akan diperoleh tentu besar sekali.

Paine meakhiri pembicaraannya dengan menyatakan:

… sampai kemerdekaan dinyatakan, benua ini akan merasa dirinya seperti seseorang yang selalu mengundurkan saja suatu pekerjaan yang tak enak sedangkan ia tahu betul, bahwa pekerjaan itu tidak boleh tidak harus ia lakukan; ia segan memulainya, ia memimpikan bahwa pekerjaan ini telah selesai, dan ia tak kunjung-kunjungnya dimomoki oleh perasaan bahwa pekerjaan ini betul-betul tak bisa ia elakkan.

Karena itu, dari pada saling pandang-memandang dengan penuh kecurigaan dan ras ingin tahu yang berisi kebimbangan, marilah kita saling mengulurkan tangan yang tulus dan penuh rasa persahabatan dan bersatu membentuksuatu barisan sebagai lambang dari pemberian maaf dan dapat menghilangkan perselisihan yang selama ini ada. Marilah kita hilangkan nama-nama seperti “tory” dan “whig” dan janganlah hendaknya ada sebutan lain yang kedengaran kecuali sebutan warganegara yang baik; seorang sahabat yang lapang hati dan berpendidrian tegas; seorang penyokong yang jujur dari HAK-HAK MANUSIA dan suatu NEGERA AMEREKA SERIKAT YANG MERDEKA.

Inilah pesan revolusioner yang disampaikan oleh Pikiran Sehat kepada rakyat Amerika, pesan yang berisikan suatu lingkupan nada suara mulai dari alasan-alasan yang terhentak ektanah,  realistis, praktis, sampai keseru-seruan yang dibebani emosi, pejuang yang garang, ajakan-ajakan yang mendorong yang dikeluarkan seoran gagitator yang ulung.

Akibat langsung dan menggegerkan dari kitab Pikiran Sehat ini dapat diperlihatkan dengan jalan mengutuip ucapan-ucapan pemimpin yang ada kala itu. Kebimbangan George Washington hilang sama sekali tatkala ia menulis kepada Joseph Reed di Norfolk.

“Jika ditambahkan kepada ajaran-ajaran sehat dan alasan-alasan yang tak dapat diengkari seperti yang terdapat dalam pamflet Pikiran Sehat, beberapa lagi dari pendirian-pendirian yang bernyala-nyala seperti yang telah diperlihatkan di Falmounth dan Norfolk, maka tidak banyak lagi orang yang tidak sanggup memutuskan untuk berpihak kepada kebenaran dari pemisahan”; dan beberapa minggu kemudian ia menulis lagi, juga kepada Reed “Berdasarkan surat-surat pribadi yang baru-baru ini saya terima dari Virginia, saya melihat, bahwa disana Pikiran Sehat karangan Paine telah menimbulkan perobahan pikiran pada banyak orang”.  Dan John Adams menulis kepada isterinya. “Bersama ini saya kirimkan sebuah pamflet berkepala Pikiran Sehat yang ditulis sebagai pembelaan bagi kebenaran, bahwa pembendungan perbutan kelaliman dimasa datang dan penghancuran penindasan akan segera diyakini oleh rakyat banyak – berdasarkan alasan-alasan yang banyak harapan ini mungkin sekali terlaksana”. Agigail, setelah membacanya menjawab. “adalah sebagai sinar Pembaruan yang telah datang pada waktunya benar untuk menghilangkan kebimbangan kita dan menentukan pilihan kita”. Benjamin Rush berkata tentang tulisan Paine. “Mereka menyembur dari percetakan dengan suatu akibat yang sampai sekarang belum pernah dicapai oleh kertas dan mesin cetak di negeri manapun juga dan dalam masa kapanpun juga”; Jenderal Charles Lee menambahkan, “Kuakuilah, ia telah meyakinkan aku”; dan Franklin mencatat, “Akibatnya menakjubkan”; dan William Henry Drayton melaporkan, bahwa “Penyiaran ini jatuh sebagai ledakan guntur atas anggota-anggota Kongres Benua”.

Dalam kitabnya Sejarah Revolusi Amerika Sir George Trevelyan mengulas:

Tidaklah mudah untuk meyebutkan sebuah ciptaan manusia yang mempunyai akibat yang sekaligus begitu langsung, begitu luas dan begitu lama … Buku ini “digarong,” dari setiap negara dimana sepublik baru ini mempunyai penyokong-penyokong ….. Menurut koran-koran kala itu Pikiran Sehat telah membalikkan beribu orang kepada mekerdekaan; orang-orang yang sebelumnya tak menyukai pikiran itu sama sekali. Akibatnya tak kurang dari akibat suatu keajaiban dan ia telah merubah kaum Tory menjadi Whiq.

Dalam masa beberapa bulan setelah Pikiran Sehat ini terbit kebanyakan negara-bagian telah memerintahkan wakil-wakil mereka untuk memberikan suara setuju pada kemerdekaan. Hanya Maryland yang masih sangsi dan New York menolak. Pada tanggal empat bulan Juli tahun 1776, kurang dari enam bulan setelah pamflet Paine yang termasyur ini keluar dari percetakan, Kongres Benua yang mengadakan pertemuan di State House Philadelphia memproklamirkan kemerdekaan negara Amerika Serikat. Sesungguhnya Paine tidak menulis permyataan kemerdekaan itu, ia bekerja rapat sekali dengan Thomas Jefferson waktu pernyataan itu disusun. Kecuali bagian yang menyatakan peniadaan perubdakan yang diperjuangkan oleh Paine, semua dasar-dasar yang ia kemukakan dalam Pikiran Sehat dimasukkan kedalam manifesto yang jaya ini.

Perjalanan hidup Paine selanjutnya menunjukkan hubungan yang tak langsung dengan riwayat Pikiran Sehat. Hal-hal yang pokok dengan secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Segera setelah Kemerdekaan diumumkan, ia masuk kedalam tentara revolusi. Sebagai seorang jurubicara yang bijak buat perjuangan Amerika ia telah memberikan sumbangan yang besar untuk kepentingan kesatuan dan semangat nasinal dengan serentetan paflet-pamflet yang setiapnya berkepala Krisis. Pamflet yang pertama mulai dengan kalimat yang begitu sering dikutip orang; “ada masa yang menguji jiwa manusia. Perajurit musim panas dan patriot-pagriot dalam sinar terang akan mengundurkan diri dari pengabdian kepada tanah airnya dalam krisis ini; tapi ia yang kini berdiri tegak dan bertahan berhak atas cinta dan terima kasih baik dari laki-laki maupun perempuan.” Beberapa bulan kemudian setelah melihat kesanggupan Paine sebagai seorang propagandis dan pembangunan semangat, Kongres menarik Paine dari tentara dan mengangkatknya sebagai Sekretaris Panitia Urusan Luar Negeri – pada hakekatnya Menteri Luar Negeri. Secretary of State, Amerika yang pertama. Pelbagai pertentangan faham memaksa ia untuk mengundurkan diri dari jabatan itu. Sesuah itu ia diangkat menjadi Pegawai Dewan Pennsylvania. Dalam tahun 1781 ia dikirim ke perancis bersama John Laurens untuk meminta bantuan keuangan bagi pemerintah Amerika yang lagi kekurangan uang. Dalam tahun itu juga ia kembali dengan uang dan pelbagai persediaan kebutuhan.

Setelah dalam tahun 1783 revolusi berakhir, paine memusatkan pikiran pada penemuan-penemuan mekanis. Ia menciptakan jembatan gantung dari besai yang pertama dan ia mengadakan percobaan-percobaan dengan tenaga uap. Berhubung dengan adanya beberapa masalah teknis, maka diputuskanlah untuk meminta pertolongan insinyur-insinyur Inggris dan Perancis dan dalam tahun 1787 Paine berangkat ke Eropa dimana ia bermukim selama limabelas tahun.

Segera setelah ia sampai, Revolunsi Perancis pecah dan Paine menyokong kejadian ini dengan penuh semangat sebagai pembelaan selanjutnya bagi pikiran-pikiran demokratisnya. Sebagai pembelaan bagi revolusi dan tangkisan atas serangan Edmund Burke ia menulis Hak-hak Manusia (The Rights of Man) yang termasyur. Untuk menghindarkan tangkapan atas tuduhan penghianatan – sebagai hasil dari koktrin-doktrik yang terdapat dalam buku ini – ia terpaksa dengan cepat meninggalkan Inggris dan melarikan diri ke Perancis, dimana ia dipilih untuk duduk dalam Konvensi sebagai anggota yang mewakili Calais. Dalam suatu percobaan untuk menyelamatkan raja Louis XVI dari tangan Roberspierre dan Marat. Sehingga, waktu tokoh-tokoh ini menduduki kursi pemerintah, Paien lalu; ditangkap, dilucuti dari kedudukannya sebagai warga negara kehormatan Perancis, dipenjarakan selama sepuluh bulan dan untung saja masih bisa diselamatkan dari guillotine. Setelah ia dibebaskan dengan perantaraan duta besar Amerika James Monroe, ia beristirahat dikediaman Monroe sampai sehat kembali.

Kerja besarnya dari jaman ini ialah Jaman Akal (The Age of Reason) yang kadang-kadang disebut juga “injil kaum atheis”. Sebetulnya Paine adalah seorang theis yang alim, yang percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Jaman Akal, biarpun bersikap sangat kritis terahadap Perjanjian Lama, sebetulnya ia tulis untuk membendung gelombang dari atheisme yang memukul di perancis selama jaman revolusi itu. Sungguhpun begitu para ahli agama dan golongan-golongan agama kuno keras mengutuk Paine sebagai seroang radikal yang berbahaya dan seorang murtad.

Waktu Paine kembali ke Amerika dalam tahun 1802, ia tidak disambut sebagai pahlawan revolusi, malahan pemimpin-pemimpin politik dan anggota-anggota gereja dengan sungguh-sungguh menutuk dia, karena ia telah mengarang Jaman Akal dan karena teori-teori politiknya yang radikal. Di New Rochelle, New York, dimana kemudian ia berdiam, ia tidak diberi ijin ikut pemilihan umum, dengan alasan, bahwa ia bukan warganegara Amerika lagi. Bahkan orang telah mencoba untuk membunuhnya. Setelah ia selama tujuh tahun yang pahit mengalami penghinaan, kebencian, ketak-pedulian, kemelaratan dan kesehatan yang buruk, ia meninggal dalam tahun 1809, sewaktu ia berumur tujuhpuluh dua tahun. Baginya tak diberikan ijin untuk berkubur diperkuburan kaum Quaker.

Tapi kepalsuan, kepahitan dan prasangka yang kuat dari tahun-tahun terakhir kehidupan Paine, masih saja berlarut-larut sampai jaman kini. Theodore Roosevelt menyebutnya “seorang atheis kecil yang busuk”, sungguhpun, seperti Kerajaan Suci Roma, yang bukan suci, bukan Roma dan bukan pula kerajaan, demikian juga Paine bukan seorang atheis, bukan seorang kecil dan bukan pula busuk. Sampai-sampai tahun 1933, sebuah acara radio mengenai Paine telah disingkirkan dari sebuah pemancar radio New York. Baru dalam tahun 1945, empatpuluh lima tahun setelah Ruang Kemasyuran dari Orang-orang Besar Amerika didirikan, ia terpilih untuk dimasukkan kedalamnya. Dalam tahun ini juga kota New Roschelle memulihkan hak kewarganegaraan pahlawan revolusi ini yang tidak ia miliki lagi semenjak tahun 1806.

Dialah orang, yang barangkali lebih lagi dari yang lain-lain berhak untuk beroleh gelaran “Penegak Kemerdekaan”, orang yang mula-mulai memakai ucapan “Negara Amerika Serikat’, yang meramalkan, bahwa “Amerika Serikat dalam sejarah sama besar kedengarannya seperti kerajaan Britania Raja”, dan yagn menyatakan, bahwa “Perjuangan Amerika ini, dalam ukuran besar, adalah perjuangan kemanusiaan”. Tidak ada kenyataan yang dapa menggambarkan watak paine lebih terang dari pada jawaban yang ia berikan pada ucapan Franklin yang berbunyi: “Dimana kemerdekaan berada disitulah negeriku”. Paine membalas; “dimana kemerdekaan tidak ada, disitulah negeriku.”

Tapi dalam jamannya sendiri lagu kebencian dan salah sangka terhadapnya tidaklah begitu merata mendalamnya. Andrew Jackson berani mengatakan. “Thomas Paine tidak memerlukan monumen yang diperbuat dengan tangan: ia telah mendirikan sebuah monumen dalam setiap ahti pencinta kemerdekaan”. (*)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Books

Seperti Para Penyair Seperti Juru Kunci Sepi di Jantung Keramaian

mm

Published

on

Nama Bagi Kesenyapan*)

Dalam keramaian abad digital yang mustahil dihindari, dengan apa sebaiknya kesepian dinamai? Inilah pertanyaan pembuka yang hendak saya ajukan setelah membaca 64 sajak karya Sabiq Carebesth yang dibuhulnya dengan tajuk Seperti Para Penyair. Adapun yang sebut “keramaian” dalam hal ini adalah lalu-lalang kelisanan yang terus merajalela di dunia maya sejak fajar mulai menyingsing, siang, petang, malam, hingga subuh datang menjelang. Doa-doa, himbauan, maklumat, nasihat, petuah, wejangan, tausiyah, berhamburan di sana sini. Kabar gembira, berita kematian, puja-puji, umpatan, makian, sumpah-serapah, hasutan, hujatan, fitnah, adu-domba, beranak-pinak dan membelah diri sepanjang hari. Saya membayangkan betapa letihnya makhluk bernama “bahasa.” Betapa terkuras tenaganya, betapa sibuk aktivitasnya, betapa minim waktu tidurnya. Keramaian yang tak mungkin disangkal itulah yang telah menghisap segenap jiwa bahasa, merenggut sekujur sukma kata, hingga ia hampir-hampir tak mungkin punya waktu untuk menjenguk kesepian. Begitu sukar bagi bahasa untuk hadir, apalagi pasang-badan di tengah-tengah padang kerontang bernama; kesepian. Bahasa tidak sanggup lagi memberi nama bagi kesepian. Mata bahasa dilanda semacam rabun senja setiap kali berhadapan dengan realitas keheningan.

Menurut hemat saya, ketercampakan bahasa dari realitas kesepian itulah yang sedang diratapi oleh sajak-sajak Sabiq dalam buku ini. Kalau penyair penggila kopi ini saya kiaskan dengan personalitas seorang penggembala, maka ia adalah penggembala yang sedang membujuk kembali ternak-ternak piaran yang lepas masuk ke dalam kerumunan ramai, sementara di sana rumput amatlah terbatas. Dengan berbagai cara ia menghalau dan menghela hewan-hewan itu untuk kembali mencari makan di padang-padang rumput yang lapang dan lengang. Dengan begitu, maka alam yang pantas dihuni oleh puisi bukanlah alam ramai yang sibuk, melainkan alam kesendirian yang hening. Tapi sungguh aku ingin pergi/menyusuri sungai dalam belantara sepi/seolah di sana kita telah pergi begitu jauh/seolah kita kelana dalam dunia kabut/di mana batu-batu berlumut/Dan harimau paling ganas—sama mengadu tentang kesunyiannya (Dalam Tungku Waktu, Sajak-sajak Membakarku).

Bahasa, bagi Sabiq, tampaknya hanya bisa lega bernapas dalam semesta sunyi, bukan di keramaian yang menyesakkan¾atau barangkali sudah menyesakkan. Perkenankan saya mengandaikan frasa “tungku waktu” dalam sajak di atas, sebagai durasi waktu sepi yang tidak seberapa lama itu. Tapi di sanalah, sajak-sajak memercikkan api, dan membakar apa saja. Sementara dalam arus keramaian, ia terkutuk sebagai daun-daun mati yang beterbangan dihembus kesiur angin dari utara. Maka, lewat sajak di atas, penyair merindukan rimba raya kesenyapan, yang dipenuhi kabut dan batu-batu berlumut.

Dalam sajak Seperti Para Penyair yang dipilih sebagai judul antologi ini, Sabiq membangun sebuah karakter yang ia sebut dengan “tuan bagi kesepian sendiri.” Sekali lagi saya ingin mengandaikan kalimat itu sebagai kerinduan penyair pada kesendirian yang diringkus oleh rupa-rupa keramaian realitas dunia mutakhir. Bila dalam keramaian bahasa menjadi budak yang senantiasa diperdaya, maka di ruang-ruang kesendirian ia hendak dikembalikan menjadi tuan dan majikan. Di sinilah barangkali tugas berat puisi dalam rimba raya keramaian kontemporer.Dengan segenap daya upaya, penyair membebaskannya, menyelamatkannya dari etos ketertindasan yang tak kasat.  Ikhtiar semacam itu saya jumpai dalam sajak-sajak seperti Elegi Sepi, Elegi Hening, Rajawali Musim Sepi, Kursi-kursi Mati Sunyi, dan beberapa sajak lainnya.

Tapi, apakah dengan demikian bahasa yang meringkuk sebagai terpidana dalam penjara keramaian itu sungguh-sungguh telah terselamatkan? Saya kira belum. Menimbang-nimbang upaya Sabiq dalam buku ini, sekali perkenankan saya mengumpamakan kepenyairannya. Kali ini ia adalah sipir penjara yang nakal, di mana pada waktu-waktu petugas lain sedang lengah, ia menyeludupkan seorang napi untuk bebas berkeliaran menghirup udara luar. Tapi, napi itu, yang tidak lain adalah bahasa, harus tetap bersetia pada penjara. Mesti kembali pada waktunya, menyerahkan diri dan kembali meringkuk di balik jeruji besi. Dengan begitu, di tangan Sabiq, bahasa hanya dibuat sekadar bersandiwara. Seolah-olah bebas, seakan-akan merdeka dari kuasa keramaian, padahal statusnya masih narapidana. Tidak ada puisi di siang terik/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan/jadi badut atau politisi/jadi tukang pulung atau tukang tipu/apa bedanya?/sajak-sajak dijual di pasar loak/atau di sosial media, sebagai hiburan/tapi siang ini tak ada sajak Tuan/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan (Siang Ini Tak Ada Sajak,Tuan)

Bait “membangun mimpi di dekat kuburan” sepintas lalu mungkin kedengarannya sebagai kesendirian dalam kesenyapan, tapi sekali lagi saya mengandaikannya sebagai laku yang sebenarnya juga berlangsung dalam lalu-lalang keramaian. Frasa sibuk bekerja, pasar loak, dan sosial media, adalah pertanda bagi medan ramai tempat bahasa terperangkap. Maka, “membangun mimpi di dekat kuburan” adalah semacam ziarah yang diselenggarakan dalam keramaian. “Kuburan” yang dibayangkan penyair mungkin saja pusara bagi tubuh-tubuh kesepian yang dipancangkan di jantung metropolitanisme kota-kota yang sibuk.

Piknik ke Masa Lalu

Di masa ketika doa-doa hanya dilafalkan untuk kebahagiaan di masa datang, masih adakah khutbah yang berisi nasihat dan himbauan untuk sesekali piknik ke masa lalu? Inilah pertanyaan kedua yang hendak saya munculkan bagi segenap sajak-sajak Sabiq di buku ini. Aduh sayangku/mana sempat kita melalui malam/sambil berbelanja kenangan di pojok-pojok toko sepatu, kedai kopi atau segala yang ingin kita singgahi. Demikian saya kutipkan beberapa bait dari sajak berjudul “Kota dalam 5 Paragraf Tanpa Jeda dan Dialog.” Sajak itu seolah-olah hendak menegaskan betapa masa silam telah menjadi barang rongsokan yang hanya dapat dibeli¾itupun kalau berminat¾di pojok-pojok toko sepatu atau di kedai-kedai kopi. Masa lalu tidak akan pernah dijumpai dalam etalase-etalase kaca Pondok Indah Mall, Senayan City, atau Pacific Place. Bagi sajak itu, kenangan yang bermukim di masa silam sudah lama jatuh sebagai residu perabadan kontemporer dengan kegemilangan masa depan sebagai kiblat dan berhalanya.

Oleh karena itu, kalau masih ada–sekali lagi kalau ada–manusia urban yang diklaim tekun merawat koleksi kenangan, lelaku semacam itu tiada lebih dari kegiatan piknik akhir pekan, untuk sekadar melarikan diri dari kebosanan berlibur di gedung-gedung mentereng dengan lantai yang licin, dan ruang-ruang berpendingin. Bukankah sudah lazim dalam keinginan orang-orang kota, bahwa sekali waktu kita perlu bertamasya di alam terbuka, dengan suasana yang digarap seperti perkampungan, tempat kita bermain di masa kanak-kanak. Demikian kira-kira pengandaian saya.

Sampul buku kumpulan sajak “Seperti Para Penyair”. Buku ini akan terbit dipasarkan pada pekan pertama Juni 2017. “Seperti Para Penyair” adalah buku sajak kedua Sabiq Carebesth setelah buku sebelmunya “Memoar Kehilangan” (2012). Pembaca yang berminat bisa memesan buku ini melalui WhatsApp; 08211145077.

Tapi persoalannya adalah, masa lalu yang dikunjungi dalam piknik sehari itu, hanya untuk semakin jauh dilupakan. Banyak orang gemar menapaktilasi kenangan hanya untuk semakin dalam menguburkannya. Maka ia tuangkan ke dalam gelas kopinya debu-debu kenangan/seperti debu-debu ia adalah waktu-waktu yang menempel di dinding-dinding kota/sebelum akhirnya malam merenggut kotanya dan hujan membersihkan debu-debu kenangannya; ia kedinginan, membeku dalam sendirian/seolah telah ditakdirkan demikian. Tengoklah, betapa masa lalu dalam kutipan itu, tiada lebih dari residu di masa kini. “Debu-debu,”¾demikian Sabiq menyebutnya¾yang tentu saja mengotori, atau bahkan menajisi tubuh-tubuh mentereng abad ini, dan oleh karena itu ia perlu dibersihkan dengan perkakas vacum-cleaner, paling tidak seminggu sekali.

Selepas itu, pertanyaan yang hendak saya ajukan kemudian adalah, apakah sajak-sajak Sabiq mengandung semacam ajakan untuk bersetia pada kenangan? Atau sebaliknya, penyair yang gemar sekali dengan kata “kopi” ini justru mengampanyekan agar kita segera berbenah membersihkan tubuh-tubuh modern ini dari remah-remah masa lalu?  Untuk apa bersetia pada kenangan bila kenangan itu hanyalah timbunan luka yang bila diungkit-ungkit kembali tentu akan menjadi beban yang menyakitkan? Tapi, tanpa kenangan apalah artinya hidup yang terus-menerus dibuat lelah oleh tahyul kemajuan ini? Begitulah sikap saya yang terombang-ambing saat membaca sajak-sajak Sabiq dalam buku ini.

Ekspektasi saya sesungguhnya lebih jauh. Sajak semestinya tidak hanya memperlakukan kenangan sebagai “destinasi” piknik sehari, melainkan sebagai padang mahsar tempat semua yang bernama “kekinian” dan “ke-disini-an” akan berpulang dan tidak akan kembali lagi sebagai masa kini, apalagi masa datang. Dengan rupa-rupa kenangan, sajak semestinya sanggup mengunci masa kini dan masa datang, hingga putaran waktu berhenti, dan buku-buku sejarah tak ditulis lagi. Sajak seharusnya mampu menghisap semua ruang, menghisap laju kencang waktu, dan mengunci putaran roda-roda zaman.

Puisi yang Lenyap di Belantara yang Bising

Saya mengenal Sabiq bukan sekadar pribadi yang menggemari puisi, tapi juga personalitas yang hendak menghadirkan realitas puitik dalam kesehariannya. Betapa tidak? Ia bahkan memberi nama anaknya dengan Puisi, dan beberapa sajak dalam buku ini ia garap sebagai perbincangan imajiner dengan Puisi, putri kecilnya yang menggemaskan itu.

Sabiq adalah pribadi yang gemar bersembunyi. Meskipun pada akhirnya saya berkesempatan memotret prosesi pernikahannya beberapa tahun lalu, tapi hingga kini saya tak pernah tahu di mana kampung halamannya, siapa bapak-ibunya, dan apa pekerjaannya. Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu datang lagi dengan membawa sekian banyak rencana, tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Ia selalu mengaku belum ada satu pun rencana yang pernah ia bincangkan itu terwujud, meskipun kegiatan menulis puisi tak kunjung berhenti. Pendeknya, Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini.

Sabiq pasti tahu  bahwa di belantara kelisanan yang sedemkian nyinyir dan bising ini, puisi adalah dunia yang sama sekali tidak seksi. Menulis puisi bukanlah perkara gampang, sementara mendapatkan pembaca yang tajam¾apalagi pembaca yang mendambakan kedalaman¾jauh lebih tidak mudah lagi. Mungkin sebagian orang masih giat merayakan puisi dengan berteriak-teriak di atas mimbar, sembari mendabik-dada sebagai penyair besar, lalu para hadirin bertepuk bersorak-sorai, tapi masih adakah orang yang sungguh-sungguh menyelam guna mengapai kedalaman puisi?

Hari-hari ini puisi hanya diperlakukan sebagai hiburan alternatif dalam dunia keramaian yang menyuguhkan macam-macam kesenangan. Bila ada yang jenuh, bolehlah sesekali menonton upacara pembacaan puisi, atau sekadar mengoleksi buku-buku puisi, supaya tampak sebagai makhluk berbudaya. Puisi tidak lagi menjadi laku dalam kedalaman, tapi sekadar lipstik yang dioleskan bilamana seorang perempuan hendak menghadiri sebuah pesta. Di rumah, di dapur, atau bahkan di hadapan suami, lipstik tidaklah diperlukan. Biarlah tampak kusut, dan awut-awutan, toh kita tidak sedang berada di tengah keramaian. Sabiq, saya kira menyadari betapa tak mujurnya nasib puisi di masa kini. Tapi alih-alih mengabaikannya, saban hari ia justru semakin asyik bercengkrama dengan Puisi, putri kecilnya, senantiasa melibatkan diri dalam kesadaran puitik. Semoga Puisi (dengan huru p besar) dan puisi (dengan huruf p kecil) juga memaklumi betapa besarnya cinta Sabiq kepada mereka… (*)

_________________

Damhuri Muhammad

Kolektor kenangan

Continue Reading

Books

Sir Isaac Newton: Principia Mathematica (Prinsip matematika)

mm

Published

on

Diantara semua buku yang mempengaruhi soal-soal manusia dengan alam, hanya sedikit yang lebih dipuji-puji dan tidak ada yang telah dibaca oleh jumlah orang yang lebih sedikit, seperti buku Sir issac Newton Philosophiae Naturalis principia Mathematica, “Prinsip Matematika dari filsafat alam”. Dengan sengaja ditulis dalam bahasa Latin yang paling sukar dan teknis, dan dihiasi banyak gambar-gambar diagram-diagram geometris yang ruwet, maka  golongan pembaca yang langsung dari buku ini terbatas pada ahli-ahli astronomi, ahli-ahli matematika dan ahli-ahli tabii yang paling terpelajar.

Salah Seorang dari penulis riwayat hidup Newton menyatakan, bahwa jika Principia diterbitkan dimasa perempatan terakhir abad ke-17 maka tidak akan lebih dari tiga atau empat orang yang masih hidup yang akan dapat memahaminya. Yang lain memperluas jumlah ini menjadi sepuluh atau selusin. Pengarangnya sendiri mengakui bahwa buku ini adalah “buku yang sulit”, tapi ia tidak punya alasan untuk minta maaf, karena ia telah merencanakannya serupa itu, dengan tiada memberikan konsesi sedikit juapun kepada mereka yang buta huruf dalam soal matematika.

Tapi, ahli-ahli ilmu pengetahuan yang terpandang menganggap Newton sebagai salah seorang tokoh intelektuil dari segala jaman. Laplace, seorang ahli astronomi Perancis yang gemilang, menyebut Principia “lebih tinggi dari setiap hasil kepintaran pikiran manusia”. Lagrange, seorang ahli matematika yang termasyur, menyatakan bahwa Newton adalah seorang genie terbesar yang pernah hidup. Boltzmann, orang pionir fisika matematika, menyebut Principia buku pertama dan terbesar yang pernah ditulis mengenai teori fisika. Seorang ahli astronomi Amerika W.W. Campbell, mencatat. “Bagi saya jelas sudah bahwa Sir Isaac Newton, yang dengan mudah dapat disebut orang besar ilmu fisika dalam masa tarichi, secara unik adalah pelopor besar dari astro-fisika.” Ucapan-ucapan dari ahli-ahli ilmu pengetahuan terkemukayanglain telah diucapkan dalam superlatif-superlatif yang seperti itu. Oranb biasa harus menerima pendapat-pendapat ini dengan berdasarkan kepercayaan dan atas dasar hasil.

            Newton dilahirkan hampir-hampir tepat seabad setelah Copernicus meninggal, dan dalam tahun kematian Galileo. Raksasa-raksasa dalam dunia astronomi ini, bersama dengan Johannes Kepler, telah menyediakan sendi-sendi diatas mana Newton meneruskan pembangunan.

Newton adalah seorang sihir matematika dalam suatu jaman dari ahli-ahli matematika yang paling berbakat. Sebagai matematika dinyatakan oleh Marvin, “abad ke-17 adalah abad perkembangan, seperti abad ke-18 adalah jaman perkembangan ilmu kimia, abad ke-19 abad perkembangan ilmu hayat; bagian empatpuluhan tahun terakhir dari abad ke-17 lebih banyak membuat langkah-langkah maju dari masa-masa lain dalam sejarah.” Newton menyatukan dalam dirinya ilmu-ilmu tabii yang terpenting – kima, tabii,dan astronomi – karena diabad ke-17 sebelum jaman spesialisasi yang jauh, seorang sarjana dapat melingkupi semua lapangan.

Newton, yang lahir dalam tahun 1642, pada Hari Natal, dalam masa permulaan hidupnya telah melihat naik dan jatuhnya pemerintah Kemakmuran Bersama Oliver Cromwell. Kebakaran Besar yang hampir saja memusnahkan Londok seluruhnya, dan Pes Besar yang menyapu bersih sepertiga dari penduduk kota itu. Setelah tinggal selama 18 tahun dikampung kecil Woolsthorpe, Newton dikirim ke Universitas Cambridge. Ia beruntung beroleh bimbingan dari seorang guru yang cakap dan dapat memberi semangat, yaitu Isaac Barrow yang disebut juga “bapak intelektuil” Newton. Barrow melihat lalu mendorong dan menganjurkan genie yang makin tumbuh dari Newton yang muda itu. Semasa masih dibangku pelajaran Newton menemui theorema binomial.

Karena berjangkitnya pes, maka Cambridge ditutup dalam tahun 1665, dan Newton kembali kepedalaman. Untuk selama empat tahun berikutnya, jauh terpisah dari dunia luar, ia memusatkan pikirannya pada eksperimen-eksperimen dan meditasi-meditasi ilmiah. Hasil-hasilnya adalah menakjubkan. Sebelumnya mencapai umur duapuluh lima tahun. Newton telah menemui tiga penemuan yang memberi ia hak untuk dimasukkan kedalam golongan pikiran-pikiran ilmiah tertinggi dari segala jaman. Pertama adalah penemuan dari perhitungan differensial, yang disebut “fluxions” oleh Newtonk, karena ia mengenai jumlah-jumlah bermacam-macam atau yang “mengalir”. Perhitungan ini meliputi segala masalah aliran, gerakan benda-benda, dan gelombang, dan sifat pokok bagi pemecahan masalah fisika yang berhubungan dengan segala macam gerak. “Kelihatannya ia seolah-olah membuka kunci pintu yang menyimpan gudang kekayaan matematik; ia meletakkan dunia matematik dibawah cerpu Newton dan pengikut-pengikutnya.”

Penemuan besar Newton yang kedua ialah hukum komposisi cahaya, dari mana ia selanjutnya menguraikan fitri warna dan cahaya putih. Diperlihatkannya, bahwa cahaya putih matahari terdiri dari sinar-sinar dari semua warna bianglala. Karena itu warna adalah suatu hal yang khas dari cahaya, dan adanya cahaya putih – seperti telah diperlihatkan oleh eksperimen-eksperimen Newton dengan prisma – berasal dari percampuran warna spectrum. Dengan pertolongan pengetahuan yang ia peroleh dari penemuan ini. Newton berhasil membuat teleskop reflektif pertama yang memuaskan.

Bahkan lebih penting lagi adalah penyingkapan Newton yang ketiga; hukum gaya atau gaya-berat universil, yang dianggap orang sebagai sesuatu yang merangsang pikiran ahli-ahli ilmu pengetahuan lebih lagi dari penemuan teoretis dari jaman modern. Menurut sebuah anekdot yang terkenal, kilatan intuisi yang datang pada Newton yang mengamati jatuhnya sebuah appel telah membawa ia pada perumusan hukum ini. Sebetulnya tidak ada yang baru dalam idee dari penarikan bumi terhadap benda-benda yang ada dekat permukaannya. Sumbangan besar Newton, ialah dalam menjelaskan bahwa hukum gravitasinya dalam kegunaannya adalah bersifat universil – suatu daya yang tidak kurang kuatnya dalam hubungan dengan benda-benda langit, dari dengan bumi – dan kemudian memberikan bukti-bukti matematik dari teorinya ini.

Yang mengherankan ialah, bahwa Newton selama masa ketiga penemuan yang teramat penting ini, calculus, warna dan gravitasi, tidak ada menyiarkan apa-apa. Karena dikuasai oleh suatu sifat yang sangat pendiam dan tak mau terkemuka, bahkan sifat yang tertutup, ia mempunyai suatu kebencian yang hampir-hampir bersifat suatu penyakit terhadap perhatian dan kontroversi publik. Karena itu, ia cenderung untuk menyimpan hasil dari eksperimen-eksperimennya. Apa jugapun yang kemudian ia siarkan semuanya terjadi karena terkanan sahabat-sahabatnya. Sesudah itu hampir boleh dikatakan selalu ia menyesal karena telah menyerah kepada bujukan-bujukan mereka. Penerbitan membawa pengeritikan dan pembicaraan oleh sesama ahli, suatu hal yang oleh Newton dengan sifatnya yang perasa tidak disukai dan dibenci sama sekali.

Setelah penyendirian yang terpaksa ini, Newton kembali ke Cambridge dimana ia menerima ijasah Masternya, lalu ia diangkat menjadi pengajar di Trinity College.  Tidak lama sesudah itu gurunyayang lama, Barrow, mengundurkan diri, lalu Newton dalam usia 27 tahun diangkat menjadi gurubesar ilmu matematika. Jabatan ini ia pegang selama 27 tahun selanjutnya. Selama sepuluh atau duapuluh tahun berikutnya tak banyak kedengaran tetnang Newton. Orang tahu bahwa ia melanjutkan penyelidikannya mengenai cahaya, dan kemudian menerbitkan sebuah karangan tentang penemuannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai masalah cahaya bertentangan dengan pendapat yang kala itu berkuasa; kedua, karena ia telah memasukkan kedalam karangannya itu suatu pernyataan dari filsafatnya mengenai ilmu pengetahuan. Dibagian terakhir iniia menyatakan pandangannya, bahwa fungsi pertama dari ilmu, ialah melaksanakan eksperimen-eksperimen yang direncanakan dengan hati-hati, mencatat pengamatan dari eksperimen-eksperimen tersebut, dan akhirnya menyiapkan hukum-hukum matematika yang berdasarkan hasil yang diperoleh. Seperti dilisankan oleh Newton, “cara yang sebaik-baiknya untukmemeriksa sifat-sifat benda adalah dengan mengambil kesimpuland ari eksperimen-eksperimen.” Biarpun pendirian-pendirian ini bersesuaian sekalid engan penyelidikan ilmu modern, ia tidak diterima seluruhnya dalam masa Newton. Kepercayaan yagn berdasarkan pegangan, akal dan sifat lahir benda, yang biasanya diwarisi dari ahli-ahli filsafat purba, lebih disukai dari bukti-bukti eksperimentil.

Serangan-serangan terhadap karangannya oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan yang sudah diakui seperti Hygens dan Hooke begitu memarahkan Newton sehingga ia memilih untuk mengelakkan kemengkalan-kemengkalan dimasa depan dengan tidak menyiarkan apa-apa lagi. “Saya begitu diganggu,” katanya, “oleh pembicaraan-pembicaraan yang timbul dari penyiaran teori saya mengenai cahaya, sehingga saya menyatakan ketidak-tahu-maluan saya untuk melepaskan rakhmat yang begitu besar, seperti ketenangan saya, untuk berlari mengejar bayangan.” Ia bahkan menyatakan suatu kebencian yang keras pada ilmu sendiri, dan bersikeras mengatakan, ia telah kehilangan “sayangnya” yang lama padanya. Kemudian, ia harus “didorong, dibujuk-bujuk dan dikeroyok” supaya menulis karyanya yang terbesar, Principia. Pendeknya, penciptaan Principia kelihatan terjadi lebih kurang karena kebetulan.

Dalam tahun 1684, berkat perhitungan yang dibuat olehPicard, untukpertama kalinya keliling lingkaran bumi dapat ditentukan dengan eksak. Dengan memakai angka-angka yang diberikan oleh ahli astronomi Perancis ini, Newton mencobakan prinsip gravitasi untuk membuktikan bahwa daya yang membimbing bulan keliling bumi dan planit-planit sekeliling matahari, adalah daya gaya-berat. Kekuatan ini berbeda menurut massa dari benda-benda yang ditarik dan kebalikan kwadrat jaraknya. Newton selanjutnya memperlihatkan, bahwa hal ini berlaku bagi orbit ellips dari planit-planit. Tarikan gaya-berat menyebabkan bulan dan planit-planit tetap berada dijalan mereka, sambil mengimbangi kekuatan-kekuatan centrifugal dari gerakan-gerakan mereka.

Lagi-lagi, Newton lalai menyingkapkan penemuan raksasanya atas rahasia alam terbesar. Tapi sebagaimana jadinya, ahli-ahli yang lain sibuk mencari jawaban dari masalah yang sama. Beberapa ahli astronomi menyarankan, bahwa planit-planit itu terikat pada matahari berkat kekuatan gaya berat. Diantara mereka Robert Hooke, pengeritik Newton yang paling keras dan yang paling gigih, tapi tak seorangpun dari ahli-ahli teori itu yang berhasil memberikan bukti matematika. Pada saat itu Newton sudah mempunyai nama sbagai seorang ahli matematika dan ia dikunjungi oleh ahli astronomi Edmund Halley di Cambridge yang datang meminta pertolongannya. Waktu Halley menyatakan masalahnya, maka ia mengetahui bahwa hal tersebut telah dipecahkan oleh Newton dua tahun yang lampau. Disamping itu Newton telah menyelesaikan hukum-hukum dasar gerak dari benda-benda yang bergerak atas kekuatan gaya-berat. Anehnya ia tidak mempunyai maksud untuk menyiarkan penemuan-penemuannya itu.

Halley dengan segera melihat kepentingan hasil yang diperoleh Newton, lalu ia mempergunakan segala daya pembujuknya untuk menyakinkan Newton yang keras kepala itu supaya mengembangkan dan meng-exploitir penemuan-penemuannya. Karena terpengaruh oleh kegembiraan Halley dan karena perhatiannya sendiri hidup kembali Newton mulai menulis karya besarnya, Principia, yang disebut oleh Langer “sebuah lumbung yang sebenarnya dari filsafat mekanistik, salah sebuah karya yang paling asli yagn pernah dibuat orang”.

Satu hal, yang juga tidak kurang menarik hati dari Principia ini, ialah bahwa penyusunannya telah diselesaikan dalam masa 18 bulan. Selama itu dikatakan orang, Newton begitu asyik sehingga sering-sering ia lupa makan dan ia tidur sedikit sekali. Hanya suatu pemusatan pikiran yang paling khusyuk dan lama yang akan dapat menghasilkan perolehan kecedekiaan yang monumental seperti itu dalam waktu yang begitu singkat. Buku ini telah menghisap Newton, baik rohani maupun jasmani.

            Lagi pula, selama menulis buku ini, ketenangan pikiran Newton sangat terganggu oleh pertentangan-pertentangan yang biasa ada, terutama dengan Hooke, yang bersikeras, bahwa ia berhak menerima pengakuan sebagai seseorang yang menemui teori, bahwa gerakan-gerakan planit-planit dapat diterangkan dari hukum penarikan kebalikan kuadrat. Newton yang telah selesai dengan duapertiga dari Principia begitu marah oleh permintaan hak yang tidak benar itu, sehingga ia mengancam untuk mengenyampingkan bagian ketiga dan yang terpenting dari karangannya. Lagi-lagi Halley mempergunakan pengaruhnya dan berhasil mempengaruhi Newton untuk menyelesaikan buku itu seperti direncanakan semula.

Peranan yang dimainkan oleh Edmund Halley dalam seluruh sejarah buku Principia patut sekali dipuji. Tidak saja ia pertama-tama bertanggung jawab dalam meyakinkan Newton, untuk memulai pekerjaan tersebut, tapi ia juga memperoleh janji Royal Society untuk menerbitkannya dan dengan rela-hati ia mengesampingkan pekerjaan yang ia kerjakan sendiri untuk mengawasi pencetakan itu. Akhirnya, waktu Royal Society kandas memenuhi janjinya untuk mengongkosi pencetakan buku tersebut. Halley campur tangan lalu membayar seluruh ongkos penerbitan itu dari kantongnya sendiri, biarpun ia bukanlah seorang yang kaya dan masih mempunyai keluarga yang nafkahnya harus ia carikan.

Setelah mengatasi segala kesulitan, maka dalam tahun 1687 Principia keluarlah dari percetakan, dalam bentuk edisi kecil, seharga 10 atau 12 shilling sejilid. Halaman depannya dibubuhi imprimatur Samuel Pepys, yang waktu itu menjadi presiden Royal Society, “biarpun sangat disangsikan”, ulas seorang komentator, “penulis catatan harian yang terpelajar ini dapat mengerti bahkan satu kalimatpun dari yang terdapat dalam buku ini.”

Setiap ringkasan dari Principia dalam bahasa yang tidak teknis adalah sulit, jika akan dikatakan mustahil untuk dikerjakan, tetapi beberapa puncak-puncaknya dapat ditunjukkan. Buku ini sebagai suatu keseluruhan mempersoalkan gerakan benda-benda dikemukakan secara matematika, terutama penggunaan dinamika dan gayaberat kepada sistim matahari. Buku ini dimulai dengan hitungan differensial atau “fluxion” yang ditemui oleh Newton dan yang ia pakai sebagai alat kalkulasi dalam seluruh Principia ini. Kemudian diikuti oleh perumusan arti ruang dan waktu, dan sebuah pernyataan dari hukum gerak, sebagai dirumuskan oleh Newton dengan contoh-contoh penggunaannya. Prinsip fundamentil dinyatakan, bahwa setiap partikel benda ditarik oleh partikel-partikel lain dengan kekuatan kebalikan kuadrat dari jarak yang terdapat antara mereka. Juga diberikan hukum-hukum yang menguasai masalah dari benda-benda yang saling berlanggaran. Semuanya diutarakan dalam bentuk-bentuk geometri klassik.

Buku pertama dari Principia membicarakan gerakan benda-benda dalam ruang bebas, sedangkan yang kedua membicarakan “gerak dalam medium yang menahan”, seperti air misalnya. Dibagian yang terakhir, masalah yang ruwet dari gerakan zat cair dibicarakan dan dipecahkan, kemudian dibicarakan cara-cara untuk menentukan kecepatan suara, dan gerakan-gerakan gelombang yang dinyatakan dengan secara matematis. Disini diletakkan sendi-dasar bagi ilmu modern seperti fisika matematika, hydrostatika, dan hydrodinamika.

Dalam buku kedua dengan berhasil Newton telah mengungkai sistim dunia Descartes yang waktu itu sedang populer. Menurut teori Descartes, gerakan benda-benda langit disebabkan oleh pusaran-air. Semua ruang berisi suatu cairan encer, dan pada suatu saat tertentu maka zat-zat cair ini membuat pusaran-air. Misalnya sistim matahari mempunyai 14 pusaran, yang terbesar diantaranya berisikan matahari. Planit-planit berputar seperti sebuah cakram dalam pusaran angin. Pusaran-pusaran ini adalah penjelasan dari Descartes bagi phenomena gaya-berat. Newton memperlihatkan secara eksperimentil dan matematika bahwa “Teori Pusaran ini bertentangan seluruhnya dengan fakta-fakta astronomi, dan jauh daripada menerangkan gerakan dilangit, ia malah lebih mengacaukannya”.

Dalam buku-buku sebelum ini telah saya letakkan prinsip-prinsip dari filsafat (ilmu); prinsip-prinsip yang tidak bersifat filsafat tapi bersifat matematika ……….. Prinsip-prinsip ini adalah hukum dan syarat-syarat dari gerak-gerak tertentu, daya atau kekuatan ……….. Saya telah memberikan contoh disana-sini ……… dengan mengemukakan benda-benda yang lebih bersifat umum ………… seperti densitet (kepadatan) dan daya-tahan benda-benda, ruang-ruang yang bebas dari benda-benda dan gerakan cahaya dan suara. Tinggal kewajiban saya sekarang untuk menjelaskan bingkai sistim Dunia berdasarkan prinsip yang sama.

Kala menerangkan mengapa ia tidak menulis bukunya dengan cara populer Newton menyatakan:

Mengenai pokok persoalan ini, saya memang telah menyusun buku ketiga dengan cara yang populer supaya ia dapat dibaca oleh banyak orang, tapi kemudian mengingat bahwa mereka yang belum mendalami prinsip-prinsipnya tidak akan mudah melihat kekuatan dari konsekuensi-konsekuensinya dan sukar mengesampingkan prasangka-prasangka yang telah mereka anggap biasa selama ini. Karena itu untuk menghindarkan perdebatan-perdebatan yang mungkin timbul karena hal-hal tersebut, maka saya memilih untuk mengurangi substansi dari Buku ini dalam bentuk Dalil-dalil (dalam pengertian metematik), yang harus dibaca oleh mereka yang telah menguasai prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Buku-buku tersebut; karena telaah ini memerlukan waktu yang sangat banyak, bahkan juga bagi pembaca-pembaca yang pengetahuan matematikanya lebih dari memadai.

Karena itulah, maka gaya Principia dilukiskan orang sebagai suatu “kejauhan bening, yang ditulis dengan cara memisahkan diri dari seorang pawang yang tinggi.”

Pada permulaannya, Newton mengadakan suatu pemisahan fundamentil dengan kelampauan dengan mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan phenomena dunia dan phenomena langit. “Effek yang serupa dalam alam harus disebabkan oleh sebab yang sama,” demikian ia menjelaskan, “seperti pernafasan pada manusia dan hewan, jatuhnya batu dari Eropa dan di Amerika, cahaya api dapur dan matahari, pembalikan cahaya pada bumi dan pada planit-planit.” Dengan demikian ditiadakanlah kepercayaan kuno, bahwa dunia-dunia yang lain adalah sempurna dan hanya dunia kita yang tidak sempurna. Kini semuanya dikendalikan oleh hukum-hukum rasionil yang sama, dan “dengan demikian didirikan susunan dan sistim disuatu daerah”, seperti dikatakan oleh MacMurray, “dimana selama ini kerahasiaan dan kekacauan berkuasa.”

Suatu daftar dari pokok-pokok penting yang dibicarakan dibuku ketiga saja sudah mengangumkan. Dalam Buku ini ditentukan gerakan planit-planit dan satelit-satelit sekitar planit-planit, metodos untuk mengukur massa matahari dan planit-planit diperlihatkan; dan kepadatan bumi, perjalanan siang dan malam, teori pasang, orbit komet, gerakan bulan, dan soal-soal yang bersangkutan dengan itu dibicarakan dan dipecahkan.

            Dengan teori “gangguan” Newton membuktikan bahwa bulan ditarik baik oleh bumi maupun oleh matahari dan karena itu orbit bulan jadi terganggu oleh tarikan matahari, biarpun bumi telah menyediakan tarikan yang lebih besar. Seperti itu juga, planit-planit berada dalam kekuasaan gangguan. Matahari bukanlah pusat yang stasioner dari unviersum, seperti diyakini orang sebelumnya, tapi ia ditarik oleh planit-planit; planit-planit ini ditarik oleh matahari, dan bergerak dengan cara yang sama. Diabad-abad kemudian, penggunaan teori gangguan itu telah menghasilkan penemuan planit-planit Neptunus dan Pluto.

Massa berbagai planit dan massa-massa matahari ditentukan oleh Newton dengan memperbandingkannya dengan massa bumi. Menurut taksirannya kepadatan bumi adalah antara 5 dan 6 kali kepadatan air (angka yang dipakai ahli-ahli ilmu pengetahuan sekarang ialah 5,5). Atas dasar ini Newton menghitung massa matahari dan massa planit-planit dan dengan satelit-satelitnya, suatu hasil yang disebut Adam Smith “melampaui apa yang dapat dicapai oleh pikiran dan pengalaman manusia”.

Selanjutnya, diterangkan kenyataan, bahwa bumi bukanlah sphera yang murni, tapi agak pecak dikutub-kutubnya disebabkan oleh putaran. Tingkat kepicakan ini dihitung. Karena kutub-kutub yang agak picak dan kemeledutan kecil dikhatulistiwa, maka Newton menarik kesimpulan bahwa kekuatan gayaberat dikutub-kutub akan lebih kurang dari dikhatulistiwa – suatu phenomena yang menyebabkan adanya siang dan malam, ialah gerakan conical dari sumbu bumi, yang menyerupai sebuah gyroskop. Dengan jalan menelaah bentuk planit selanjutnya, kemungkinann untuk menaksir panjangnya siang dan malam dipanit diperlihatkan. Penggunaan lain dari hukum gaya-berat universil adalah dalam pemeriksaan masalah pasang oleh Newton. Jika bulan sedang penuh, air dibumi mengalami penarikan maximum lalu terjadilah pasang naik. Juga matahari mempunyai pengaruh atas pasang, dan jika matahari dan bulan sebaris, maka pasang berada ditingkat paling tinggi.

Soal lain yang disorot oleh Newton yang menarik perhatian umum ialah soal komet. Teorinya mengatakan bahwa komet-komet yang bergerak karena tarikan matahari, menempuh suatu jalan berbentuk ellips dengan kebesaran yang luar biasa sekali, sehingga diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Dengan demikian komet-komet yang selama ini dipandang oleh mereka yang percaya takhayul sebagai tanda-tanda bala, sekarang mendapat tempat yang wajar sebagai suatu phenomena langit yang indah dan tidak merusak. Dengan mempergunakan teori-teori Newton mengenai komet (bintang-bintang beredar) Edmund Halley berhasil untuk menentukan dan meramalkan dengan tepat munculnya kembali Komet Halley yang terjadi kira-kira sekali 75 tahun. Jika sebuah komet sekali sudah dikenal, maka tempuhannya selanjutnya dapat ditentukan dengan pasti.

Salah sebuah dari penemuan-penemuan yang telah diperbuat oleh Newton yang sangat menakjubkan adalah metodos penaksiran jauhnya sebuah bintang tetapk, berdasarkan jumlah cahaya yang diterima bumi demi pembalikan sinar matahari dari sebuah planit.

Kitab Principia tidak mencoba menjelaskan masalah “mengapa” dan hanya masaalah “bagaimana” dari universum. Kemudian, sebagai jawaban atas tuduhan bahwa skema yang ia perbuat adalah suatu skema yang seluruhnya mekanistik, dan tiada memberikan lowongan bagi sebab-sebab yang essentiel atau bagi Maha Pencipta, Newton menambahkan suatu pengakuan kepercayaan pada edisi kedua dari hasil kerjanya.

Sistim matahari, planit-planit dan komet-komet yang begitu indah hanya bisa berjalan berkat rencana dan penguasaan dari suatu kecendekiaan, suatu zat yang maha berkuasa ….. Sebagaimana seorang buta tidak arif sama sekali mengenai warna, demikian juta kita tidak arif bagaimana caranya Tuhan yang Maha Tahu memahami dan memandang segala-segalanya.

Menurut kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun Principia adalah suatu hasil yang gemilang, pengagum-pengagum Newton yang paling setia mengakui, bahwa ia tidak ditulis dalam suatu keadaan hampa. Seperti dinyatakan oleh Cohen:

Sintesis besar Newton didasarkan atas karya-karya ahli-ahli sebelum dia. Kelampauan terdekat telah menghasilkan geometri analitika Descartes dan Fermat, aljabar Oughtred, Harriot dan Wallis, hukum gerak kepler, hukum benda-benda jatuh Galileo. Juga jaman ini telah menghasilkan hukum komposisi-komposisi kecepatan Galileo – suatu hukum yang menyatakan, bahwa gerak dapat dipecah menjadi bagian-bagian komponennya, setiapnya bebas dari yang lain (misalnya gerakan sebuah peluru terdiri dari suatu kecepatan kedepan yang seragam dan kecepatan  dipercepat kebawah seperti yang terdapat pada benda yang jatuh dengan bebas). Faktor-faktor yang telah dikemukakan diatas adalah beberapa dari ramuan-ramuan yang menunggu suatu sintesis Newton. Tapi kecemerlangan Newtonlah yang memberikan suatu sintuhan yang gemilang; untuk akhirnya memperlihatkan, sekali dan untuk selamanya, cara bagaimana unversum tersusun serta dikendalikan oleh hukum-hukum matematika.

Jelas bahwa dunia membutuhkan, seperti digambarkan oleh jeans, “seorang yang sanggup membuat sistim, mengadakan sintesis dan meluaskan keseluruhannya ini; dunia telah menjumpai kebutuhannya dengan keluarbiasaan yang tak ada taranya pada diri Newton”.

Newton sendiri mengakui, bahwa “Sistim dunia”-nya mekanika universumnya, telah dibangunkan atas usaha-usaha yang dimulai oleh Copernicus dan yang dilanjutkan oleh Tycho Brabe, Kepler, dan Galileo. “Saya dapat memandang lebih jauh dari orang-orang lain,” kata Newton, “karena saya berdiri atas bahu raksasa-raksasa.”

Sebetulnya sebab dari pertentangan-pertentangan yang telah mengganggu kehidupan Newton adalah gelora intelektuil yang terdapat dalam masa Newton. Udara penuh dengan teori-teori baru dan berjumlah-jumlah ahli ilmu pengetahuan asyik menyelidikinya. Jadi tidaklah mengherankan jika dua orang yang bekerja dengan tiada hubungan dan pada waktu yang sama menemui penemuan yang sama. Hal ini telah terjadi pada kedua penentang-penentang Newton yang utama, Leibniz dan Hooke. Leibniz menemui perhitungan differential dan Hooke mengemukakan teori gayaberat universil, keduanya agak kemudian dari Newton. Tapi mereka telah mengumumkan hasil mereka terlebih dahulu, karena Newton tak menghiraukan untuk menyiarkan hasil pekerjaannya.

Penerimaan jamannya terhadap Principia lebih baik lagi di Inggris dan Skotlandia daripada di Benua Eropa. Umumnya boleh dikatakan lambat. Seperti telah disadari oleh Newton, pengarifan kerja ini menghendaki suatu pengetahuan ilmu matematika yang besar. Sifat luar biasa dari karya ini diakui, bahkan oleh mereka yang hanya mengerti sedikit sekali dari sumbangan yang diberikan oleh Newton. Lambat-laun, ahli-ahli ilmu pengetahuan dimana-mana menerima sistim Newton, dan diabad ke-18 sistim ini telah beroleh kedudukan yang kukuh dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sehabis Principia, Newton kelihatannya seolah-olah kehilangan perhatian yang aktif terhadap penyelidikan ilmu pengetahuan, biarpun sesudah penerbitan kitab tersebut ia masih hidup selama 40 tahun. Selama masa ini ia menerima lerbagai kehormatan; diangkat jadi “Master of the Mint”, diangkat jadi bangsawan oleh Queen Anne, dipilih jadi presiden Royal Society mulai tahun 1703 sampai ia meninggal dalam tahun 1727, mengalami penerbitan edisi kedua dan ketiga dari Principia, dan umumnya terpandang dan dimuliakan.

Penemuan-penemuan ilmiah dalam abad ke-20 telah merubah atau memperlihatkan kekurangan-kekurangan dalam karya Newton, terutama yang berkenaan dengan astronomi. Teori kenisbian Einstein, misalnya menyatakan, bahwa waktu dan ruang tidaklah mutlak sifatnya, seperti diajarkan oleh Newton. Sungguhpun begitu, seperti telah dinyatakan oleh berbagai ahli ilmu pengetahuan dan teknologi struktur sebuah pencakar langit, keamanan sebuah jembatan kereta api, gerakan sebuah mobil, penerbangan sebuah pesawat udara, navigasi kapal menyeberangi samudera, pengukuran waktu, dan bukti-bukti lain dari peradaban kita sekarang pada hakikatnya masih tergantung pada hukum-hukum Newton. Seperti ditulis oleh Sir James Jeans, prinsip-prinsip Newton “tidak mencukupi hanya jika ia dibandingkan dengan kesempurnaan luar biasa dari ilmu pengetahuan modern. Jika seorang ahli astronomi ingin menyiapkan “almanak nautika”nya atau membicarakan gerakan-gerakan planit, boleh dikatakan ia cukup mempergunakan skema Newton saja. Seorang insinyur yang sedang membangun sebuah jembatan atau sebuah kapal atau sebuah lokomotip akan berbuat seperti apa yang ia lakukan sekarang sekiranya skema Newton tidak pernah dibuktikan ketidak-cukupannya. Hal yang sama ditemui juga pada seorang insinyur listrik, apakah ia sedang memperbaiki sebuah telpon atau membuat rencana sebuah stasiun tenaga. Ilmu pengetahuan hari ini masih bersifat Newtonia seluruhnya; dan hampir tak mungkinlah untuk menaksir berapa banyak hutang ilmu kepada pikiran Newton yang jernih dan menukik yang telah menempatkannya dijalan yang benar, begitu kukuh dan meyakinkan sehingga tidak ada orang yang paham metodos-metodosnya akan menyangsikan kebenarannya”.

Penghormatan yang dilakukan oleh Einstein kepada Newton akan meniadakan setiap kesangisan dari ahli-ahli filsafat yang bersaingan. “Baginya alam adalah sebuah buku terbuka, yang huruf-hurufnya dapat ia baca dengan tiada susah payah. Dalam satu pribadi ia kumpulkan ahli eksperimen, ahli teori, ahli mekanik dan tidak kurang dari itu seorang seniman dalam pengucapannya”.

Penilaian Newton sendiri terhadap kehidupannya yang ia perbuat pada masa akhir dari suatu hidup yang panjang, adalah sangat khas bagi sifatnya yang rendah hati; “Saya tidak tahu bagaimana saya dalam mata dunia, tapi bagi diri saya sendiri, saya hanya seolah-olah seorang budak kecil tegak ditepi pantai, yang menghibur dirinya sendiri dengan sekali-sekali menemui sebuah karang yang lebih halus atau sebuah lokan yang lebih bagus dari yang biasa, sedangkan samudera kebenaran terbentang didepannya dengan tidak terselami sama sekali”. (*)

Continue Reading

Books

Sigmund Freud; Die Traumdeutung (Tafsir mimpi-mimpi)

mm

Published

on

Dari segala cabang ilmu, umumnya diakui bahwa psykologi adalah yang paling gelap dan mystik, yang paling tidak peka terhadap bukti-bukti ilmiah dari ilmu yang manapun juga. Seyogiyanya keruwetan dan hal-hal tak disangka-sangka memang tak bisa dielakkan, karena ahli-ahli psikologi berurusan dengan suatu phenomena alam yang paling misterius; jiwa manusia. Sebuah teori kimia fisika dapat diperiksa atau disalahkan dengan pertolongan teknik laboratorium, tapi berlakunya satu teori psykologi adalah suatu hal yang tak bisa diperlihatkan. Itulah sebab adanya keributan pertentangan pendapat yang berkecamuk sekitar Sigmund Freud dan psykoanalisis selama lebih dari 60 tahun.

Tapi biar bisa diperlihatkan atau tidak, teori-teori Freud telah mendjalankan pengaruh yang tak ada toloknya pada pemikiran modern. Bahkan Einstein tak dapat menggamit khayal atau memasuki hidup orang-orang sejamannya seperti telah diperbuat oleh Freud. Dalam menjelajah daerah jiwa yagn tak dikenal, Freud telah merumuskan cita dan istilah yang sekarang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sebetulnya setiap lapangan – kesusasteraan, seni, agama, anthropologi, pendidikan, hukum, sosiologi, kriminologi, sejarah, biografi dan telaah-telaah lain mengenai masyarakat dan individu – merasai akibat ajarannya.

Tapi sebenarnya dalam ajarannya sedikit sekali kemanisan dan penjelasan. Seorang pembahas yang agak lucu mencatar:

Bagi seorang yang tak mengetahui, dengan tersebarnya  teori Freud, ia kelihatannya seorang penggaduh terbesar dalam sejarah pikiran manusia, yang telah merubah telucon manusia dan kenikmatan-kenikmatan mesra menjadi tekanan-tekanan yang kering dan misterius, yang menemui kebencian diakar cinta, kebusukan dijantung kesayangan, noda dalam kesayangan kekanak-kanakan, dosa dalam kebaikan hati, dan kebencian yang ditekan terhadap ayah seseorang sebagai suatu warisan manusia yang normal.

Sungguhpun begitu, oleh karena Freud, manusia sekarang berpikri lain sekali tentang dirinya. Mereka terima sebagai hal yang biasa konsep-konsep Freud seperti: pengaruh bawah-sadar pada sadar, dasar kelamin dari neurosis, adanya dan pentingnya sexualitet infantil, fungsi mimpi, komplex oedipus, pengendalian, pengengkaran dan transferensi (pemidahan). Segi-segi kelemahan manusia, seperti salah sebut, lupa nama dan tak ingat janji beroleh arti baru jika dilihat dari sudut pandangan Freud.

Pada saat ini sulit untuk membayangkan bahwa prasangka-prasangka yang harus diatasi Freud untuk menyebarkan ajarannya bahkan lebih keras lagi dari yang ditemui oleh Copernicus dan Darwin.

Waktu Freud dilahirkan di Freiberg, Moravia, kitab Asal-usul spesi-spesi belum lagi terbit. Tahun itu ialah tahun 1856. Seperti Karl Marx, dalam silsilah moyang Freud termasuk beberapa orang rabbi; tapi berbeda dengan marx, Freud berkata; “Saya tetap tinggal Yahudi.” Ia dibawa ke Wina waktu ia berumur 4 tahun dan ia tinggal diasana boleh dikatakan selama kehidupan dewasanya. Ayahnyalah, seorang saudagar wol, menurut penulis riwayat hidupnya yang utama, Ernest Jones; yang menjadi sebab makanya ia menaruh “sikap skeptis yang getir terhadap gonta-ganti tak tentu dari kehidupan, biasa untuk menunjukkan suatu moral dengan mengutip sebuah anekdote Yahudi, murtad dalam soal-soal agama”. Ibu Freud, seorang pribadi yang ramah dan lincah hidup sampai umur 95 tahun. Sigmund adalah anaknya yang pertama dan yang paling ia sayangi. Frend kemudian menulis, “Seorang laki-laki yang selalu menjadi kesayangan ibunya untuk selamanya dalam hidupnya akan menyimpan perasaan seorang penakluk, dan menaruh kepercayaan kepada sukses yang sering sekali menghasilkan sukses yang nyata.”

Dimasa mduanya Freud sangat sekali tertarik pada teori-teori Darwin, karena ia merasa, bahwa “teori-teori ini memberikan harapan kemanjuan yang luar biasa dalam pengertian kita tentang dunia”. Setelah memutuskan untuk menjadi dokter Freud belajar di universitas Wina untuk mempelajari ilmu kedokteran dimana ia dalamt ahun 1881 memperoleh ijasah dokternya. Sebagai seorang dokter mdua yang tetap dirumah sakit umum, ia melanjutkan pelajarannya mengenai neurologi dan anatomi otak. Beberapa tahun kemudian datanglah titik perkisaran nasibnya yang kelak akan membangunkan kemasyurannya diseluruh dunia. Sebuah beasiswa untuk berkunjung membawa ia ke Paris dimana ia bekerja dibawah Jean Charcot – waktu itu seoran ahli patologi dan meurologi Perancis yang terkenal. Disini ia beroleh kontak langsung dengan pekerjaan-pekerjaan Charcot mengenai hysteria dan pengobatannya dengan jalan sugesti hypnotis. Charcot membuktikan demi kepuasan Freud “kesungguhan phenomena hysteria, timbulnya yang sering pada manusia, penyebab paralyse (kelumpuhan) hysteria dan kemengkeretan-kemengkeretan disebabkan sugesti hypnotis”, dan kesamaan-lahirnya yang dekat dengan serangan-serangan yang sebenarnya.

Tapi setelah kembali ke Wina, Freud tidak berhasil meyakinkan dokter-dokter sejawatnya perihal dasar ilmiah pengobatan gangguan saraf dengan metodos hypnotis. Bahkan ia dihukum karena pendapat-pendapatnya yang radikal dengan menjauhkannya dari laboratorium anatomi otak. Semenjak itu, ia adalah seorang yang sunyi, jauh dari kehidupan akademi dan ia tak lagi mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan perhimpunan-perhimpunan kesarjanaan. Dalam praktek kedokteran partikelirnya, ia melakukan eksperimen dengan hypnotis selama beberapa tahun, tapi lambat-laun cara ini ia buang karena sedikit sekali orang yang dapat dijadikan subyek yang baikd an hypnosis kadang-kadang mempunyai akibat yang tak baik atas kepribadian. Sebagai gantinya, Freud mulai mengembangkan teknik yang disebut “assosiasi bebas”, yang semenjak itu menjadi standard praktek psykologi.

Dengan tiada sangsi lagi Freud adalah pendiri dari psikhiatri modern. Sebelum Freud, psikhiatri telah mempersoalkan simtom kegilaan seperti schizophrenia, dan psykosis maniac-depressif yang menghendaki pengawasan didalam suatu rumah sakit. Setelah memulai kerja kliniknya dengan pengobatan repressi dan konflik orang neurotis Freud segera sampai pada kesimpulan bahwa konflik-konflik seperti itu tidak terbatas hanya pada seorang neurotis, tapi juga khas bagi orang-orang yang sehat jiwanya. Selanjutnya, meurosis bukanlah penyakit dalam pengertian baisa, tapi adalah keadaan psykologis jiwa. Soal besarnya disini ialah bagaimana caranya mengobat gangguan pikiran ini yang begitu banyak ditemui. Berdasarkan pengamatan eksperimen, dan pengalaman-pengalaman dengan pasien-pasien Wina, sekitar akhir abad ke-19, Freud meletakkan dasar dari psykoanalisis.

Freud adalah penulis ilmu jaman kita yang paling subur, dan keragaman dari konsep-konsep baru dan sumbangan-sumbangan psykologi yang lahir dari penanya tidak mungkin ditemuid alam satu buku atau satu pidato. Dalam pandangannya sendiri, karya besarnya yang mungkin paling ia sukai, ialah Tafsir Mimpi yang terbit dalam tahun 1900, yang memuat hampri semua dari pengamatan-pengamatannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya, bahwa gangguan kelamin adalah faktor ajasi dalam etiologi, baik neurosis maupun psykoneurosis” – salah sebuah tiang-pokok dari teori psykhoanalisis. Dalam beberapa tahun kemudian. Freud juga telah mengerjakan konsepsi mengenai resistansi (penahanan), transferensi, sexualitet mada kanak-kanak, hubungan antara kenangan-kenangan yang tidak enak dengan fantasi, mekanisme pembelaan dan penekanan.

Sebuah ringkasan singkat dari ajaran-ajaran pokoknya akan menyingkapkan sedikit kerumitan psykoanalisis. Pertama-tama, psykhiatri dan psikoanalisis tidaklah sama. Psykoanalisis dapat dianggap sebagai bagian dari psykhiatri, dan biasanya digunakan hanya pada keadaan-keadaan gangguan kepribadian yang paling susah. Psykoanalisis dapat dirumuskan sebagai therapid alam pengobatan gangguan syaraf dan psykis. Menurut suatu lapuran yang baru, 300 dari 4000 orang ahli psykiatri yang diakui di Amerika adalah ahli-ahli psikoanalisis.

            Freud hanya kadang-kadang menaruh perhatian apda therapi individuil. Keadaan individu-individu yang tak seimbang ia anggap sebagai gejala-gejala penyelewengan ekonomi, sosial dan kebudayaan dari dunia jaman sekarang. Tujuannya ialah untuk menyerang penyakit itu pada akarnya.

Kebanyakan pengeritik sepakat bahwa hak Freud atas kemasyuran yang lama berdasar pada penemuannya dan penyelidikannya mengenai jiwa tak sadar. Dengan membandingkan pikiran manusia dengan sebuah gunung es, yang 8/9 bagiannya berada dibawah air, ia beranggapan bahwa pikiran itu sebagian besar tersembunyi  dalam tak-sadar. Dibawah permukaan terdapat motif-motif, perasaan-perasaan dan maksud-maksud yang disembunyikan oleh seorang individu bukan saja bagi orang lain tapi juga bagi dirinya sendiri. Dalam psykologi Freud, tak-sadar itulah yang berkuasa dan kegiatan-kegiatan sadar tidak  lebih dari kegiatan yang bersifat mengikut (lebih rendah). Dengan jalan memahami kedalaman-kedalaman dari tak sadar yang jauh dan yang tidak dikenal, kita dapat mengenal fitri batin manusia. Kebanyakan pemikiran kita menurut Freud, adalah tak sadar dan hanya kadang-kadang menjadi sadar.l pikrian tak-sadar ini adalah submer dari neurosis, karena individu itu mencoba membuang kedaerah itu kenangan-kenangannya yang tak ia sukai dan harapan-harapannya yang berakhir dengan kekecewaan. Tapi ia hanya berhasil menimbunnya jadi kesulitan-kesulitan dimasa depan.

Freud menganggap kegiatan mental satu individu sebagai sesuatu yang berlangsung pada tiga tingakt, yang dia namai Id, Ego dan Superego. Yang palign penting ialah Id. “Daerah Id,” kata Freud adalah bagian dari pribadi kita yang gelap yang tak dapat dimasukkan pengetahuan yang ada pada kita; sedikit tentangnya kita pelajari dari telaah mimpi dan dari pembentukan gejala-gejala neurotis.” Id adalah pusat dari naluri-naluri dan impuls-impuls primitif, yang menjangkau kebelakang sampai kekelampauan hewani manusia, dan ia bersifat hewani dan sexuil. Ia tak  sadar. “Id” itu, kata Freud “mengandung segala yang diwarisi, yang ada waktu dilahrikan, yang telah terpateri apda susunan diri”. Id itu buta dan tak kenal kasihan. Satu-satunya kehendaknya ialah memuaskan keinginan dan kenikmatan, dengan tiada memperdulikan akibat-akibatnya. Seperti dikatakan oleh Thomas Mann, “Ia tak mengenal nilai, tak mengenal buruk baik, tak punya moral.”

Bayi yang baru lahir adalah perwujudan dari Id. Lambat-laun Ego berkembang dari id ini dengan bertambah besarnya bayi itu. Ego itu tidak dibimbing seluruhnya oleh prinsip kesenangan, tapi ia dikuasai oleh prinsip kenyataan. Ego ini sadar akan dunia kelilingnya, dan mengakui bahwa kecondongan tak kenal aturan dari Id itu harus  ditahan untuk mengelakkan suatu bentrokan dengan masyarakat. Sebagai dilukiskan oleh Freud, Ego itu adalah medator, “antara kehendak-kehendak Id yang liar dan kendali-kendali dunia luar”. Karena dalam kenyataannya, Ego itu berlaku sebagai sensor terhadap keinginan-keinginan Id, dengan jalan menyesuaikannya kepada keadaan-keadaan yang realistis, dengan jalan menyadari bahwa pengelakan hukuman,bahkan kepentingan keselamatan diri sendiri, mungkin tergantung dari penekanan Id itu. Tapi dari konflik antara Ego dan Id ini mungkin timbul neurosis yagn sangat mengganggu kepribadian seseorang.

Akhirnya ada unsur ketiga dalam proses mental, yaitu Superego, yang secara umum dapat dirumuskan sebagai sanubari. Pengikut ajaran Freud di Amerika yang terkemuka, A.A. Brill, menulis:

Superego ini adalah evolusi mental tertinggi yang dicapai oleh manusia, dan terdiri dari endapan-endapan segala larangan-larangan, segala tatakrama yang diajarkan kepada seorang anak oleh orang tuanya dan pengganti-pengganti orang tua. Perasaan kesadaran batin semuanya tergantung dari perkembangan Superego.

Seperti Id, Superego adalaht ak-sadar sifatnya, dan keduanya selalu berada dalam konflik yang tak putus-putus, sedangkan Ego bertindak sebagai wasit. Superego adalah kampung halaman dari cita-cita akhlak dan peraturan-peraturan tingkah-laku.

Jika Id,Ego, Superego berada dalam keadaan rada selaras, maka individu itu akan seimbang dan berbahagia. Tapi jika Ego mengijinkan Id untuk melanggar aturan, maka Superego akan menyebabkan kesusahan, perasaan dosa dan pelaksanaan-pelaksanaan lain dari kesadaran batin.

Suatu konsep yang dekat sekali ikatannya dengan Id, ialah konsep yang dilahirkan oleh Freud; teorinya tentang libido. Ia mengajarkan bahwa semua impuls-impuls Id, dibebani oleh suatu bentuk dari “energi psykhis”, disebut libido yang terutama bersifat sexuil. Teori libido ini disebut orang “inti dari doktrin psikoanalisis”. Semua kerja-kreatif manusia, baik seni, hukum, agama dan sebagainya, dianggap sebagai perkembangan dari libido. Dalam penamaan energi sexuil, sebetulnya kata “sexuil” disini mempunyai arti yang luas. Pada kanak-kanak, termasuk kebiasaan-kebiasaan, seperti mengisap jari, mengisap botol, dan buang air. Ditahun-tahun kemudian, libido ini mungkin dipindahkan kepadea orang laind engan perkawinan, lalu beroleh bentuk gangguan sex, atau diutarakan dengan pertolongan ciptaan-ciptaan artistik, sastra atau musik – suatu proses yang disebut “penggeseran”. Menurut Freud, naluri sex itu adalah submer terbesar dari kerja kreatif.

Di bawah pengaruh libido, demikian Freud membela dalam suatu teori psykoanalisis yang barangkali paling kontroversial, kanak-kanak itu mengembangkan perasaan sexuil terhadap orang tuanya. Dimulai dengan kenikmatan indera pertama yang diperoleh dari minum dari susu ibu, budak itu kemudianmulai memperoleh suatu rasa ikatan cinta pada ibunya. Makin matang ia, pada suatu usia yang muda, budak laki-laki itu mulai merasakan sautu penarikan sexuil yang besar terhadap ibunya, sedangkan ayahnya ia benci dan ia takuti sebagai seorang saingan. Sebaliknya, anak perempuan, akan berkisar dari hubungan yang d ekat dengan ibunya dan jatuh cinta pada ayahnya, sedangkan ibunya menjadi pokok dari kebencian dan persaingan. Pada laki-laki teori ini disebut komplex Oedipus, diberi nama menurut suatu tokoh dongeng Yunani kuno yang telah membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Komplex Oedipus ini, menurut Freud, adalah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita yang primitif, yang telah membunuh ayah mereka dalam suatu topan kecemburuan. Jika ia telah dewasa maka seorang individu yang normal akan dapat mengatasi impuls-impuls Oedipus ini. Tapi individu-individu yang lemah, sebaliknya mungkin tidak pernah berhasil memutuskan ikatan pada orang tua ini dan dengan demikian jatuh kedalam rentetan neurosis.

Sebetulnya, demikian Freud menjelaskan, “Neurosis-neurosis itu dengan tiada kecualinya adalah gangguan-gangguan dari fungsi sexuil”. Selanjutnya, neurosis tidak bisa disebabkan oleh perkawainan yang tidak berhasil atau hubungan percintaan orang dewasa yang malang, tapi semuanya dapat dikembalikan kepada komplex-komplex sex dari masa kanak-kanak. Dalam mencobakan teorinya pada lapangan antropologi, dalam bukunya Totem dan tabu, Preud berkesimpulan bahwa mythe alam adan keagamaan dari manusia primitif adalah hasil dari komplex-komplex ayanh dan ibu. Bahkan agama, menurut kepercayaannya, adalah suatu pengutaraan dari komplex ayah. Setelah memberikan analisa-analisa yang sampai keperincian terkecil dari beratus kejadian yang dibawa kepadanya untuk diobati, Freud mengangkat naluri sexuil menjadi peranan yang terpenting dalam pembentukan suatu kepribadian, dan sebagai sebab utama dari neurosis. Pandangan ini adalah suatu pandangan yang telah ditolak oleh beberapa ahli psikoanalisis terkemuka, seperti nanti akan diperlihatkan.

Karena ia dipaksa oleh masyrakat untuk menekan sebagian besar dari keinginan-keinginannya, individu itu dengan tak sadar menumpuk banyak “tekanan-tekanan” – begitulah ia dinamakan oleh Freud. Biasanya, kesadaran seseorang berhasil untuk menghindarkan “kekuatan kelam dari tak-sadar” yang telah ditekan untuk muncul kembali. Tapi orang-orang yang neurotis, mungkin harus melewati suatu masa gangguan emosionil yang sangat dalam disebabkan oleh penyensoran tersebut. Adalah kewajiban terapi psikoanalitis, kata Freud untuk “menyingkapkan tekanan-tekanan ini dan menggantinya dengan tindakan-tindakan pertimbangan yang mungkin lahir  dari penerimaan atau penolakan dari apa yang selama ini telah diengkari”. Karena sifat yang perih dari bahan-bahan yang ditekan ini, maka sipenderita akan mencoba menghindarkan pengungkapan tekanan-tekanannya. Freud menyebut usaha ini “tahanan”, yang harus dijadikan tujuan oleh dokter untuk diatasi.

Teknik yang ditemui oleh Freud mengenai tekanan-tekanan dan tahanan-tahanan adalah metodos yang kini terkenal sebagai “asosiasi bebas” – pembicaraan arus-kesadaran oleh seorang penderita yang berbaring disofa seorang ahli psykoanalisis, dalam sebuah ruang yang diterangi samar-sama muka. Penderita dianjurkan untuk “mengatakan apa saja yang datang kedalam pikirannya dan berhenti memberikan arah dengan sadar pada pikirannya”. Dinyatakan oleh Freudk, bahwa metodos asosiasi bebas ini adalah satu-satunya cara untuk mengobati neurosis, dan bahwa ia telah “mencapai apa yang diharapkan dari padanya, yaitu penyadarkankembali bahan-bahan yang ditahan-tahan oleh tahanan”. Seperti Brill melukiskan prosedur  Freud dengan penderita-penderitanya, “Diyakinkannya mereka supaya meninggalkan setiap refleksi sadar, kemudian menyerahkan diri mereka pada konsentrasi yang tenang, dan mengikuti kejadian-kejadian mental mereka yang spontan, dan menyampingkannya semuanya kepadanya. Dengan cara begini, akhirnya ia memperoleh asosiasi bebas yang  membawanya kepada asal dari gejala-gejala itu”. Hal-hal yang telah dilupakan, yang kemudian disauk kembali oleh subyek dari tak sadarnya, setelah barangkali pengobatan psikoanalitis yang berbulan-bulan, biasanya menggambarkan sesuatu yang sangat menyakitkank, tak disukai, menakutkan, atau hal-hal yang tak enak dari jaman lampau, hal-hal yang tak ingin ia ingati dengan sadar. Taklah dapat dielakkan dalam proses seperti itu, bahwa kenangan yang kacau itu akan mengeluarkan suatu masa kejadian-kejadian yang samar, tak ada hubungannya dengan persoalan dan mungkin tidak berguna sama sekali. Karena itu semuanya tergantung pada kesanggupan dokterlah untuk mempsikoanalisa bahan-bahannya  yang, seperti ditunjukkan oleh pelbagai pengeritik, dan dapat ditafsirkan dengan cara yang tak terhitung jumlahnya. Jadi intelegensi dan kecakapan dari ahli psikoanalis itu adalah sesuatu yang bersifat sangat penting.

Selama ini ia mengadakan pengobatan psikoanalitis pada penderita-penderita, Freud menemui apa yang ia sebut “suatu faktor yang luar biasa pentingnya”, suatu hubungan emosionil yang akrab sekali antara subyek dan analisnya. Inilah yang disebut “pemidnahan” (transferensi).

Penderita itu tidak puas dengan pandangan terhadap analis dalam arti yang realistis yaitu seorang penolong dan penasehat …… sebaliknya, penderita pemandangnya sebagai kembalinya – reinkarnasi – suatu tokoh yang penting dari masa kenak-kanaknya atau dari masa lampaunya, dan dengan demikian memindahkan kepadanya peraaan-perasaan dan reaksi-reaksi yang tak sangsi lagi disangkakan ada pada model ini.

Pemindahan ini “mungkin berkisar antara ujung-ujung suatu percintaan sexuil yang penuh gariah dan lengkap, dan ucapan yang terkekang dari tantangan dan kebencian yang getir”. Dalam  situasi ini, analis, “biasanya, ditempatkan ditempat salah seorang dari orang uta penderita, ayahnya atau ibunya”. Kata pemindahan ini, dianggap oleh Freud sebagai “alat terbaikd alam pengotan analitis”, tapi “sungguhpun begitu cara mempergunakannya tetap paling sulit dan dapat diangggap bagian yang paling penting dari teknik analisa”. Masalah “dipercahkan” kata Freud, “dengan meyakinkan penderita bahwa ia sedang mengalami kembali hubungan emosionil yang berasal dari masa kanak-kanaknya dulu”.

Alat yang lain yang berhasil untuk masuk kedalam konflik dan emosi batin, yang dikembangkan oleh Freud ialah analisa mimpi. Juga disini Freud adalah seorang pelopor. Sebelum dia, mimpi dianggap sebagai sesuatu yang tak punya arti atau maksud. Bukunya Tafsir Mimpi adalah percobaan pertama dari telah ilmiah yang sungguh-sungguh mengenai phenomena ini. Tigapuluh satu tahun setelah buku ini diterbitkan, Freud mengatakan bahwa “ia berisi, bahkan dalam ukuran saya sekarang ini, pokok-pokok  yang paling berharga dari segala penemuan yang telah saya perbuat demi kebaikan nasib”. Menurut Freud, “Dapat dibenarkan jika kita mengatakan bahwa sebuah mimpi adalah pengabulan yang menyamar dari keinginan yang ditekan”. Setiap mimpi menggambarkan sebuah drama dalam dunia bathin. “Mimpi adalah hasil dari suatu konflik.” Demikian Freud menjelaskan, dan “Mimpi adalah pengawal tidur,” Fungsinya lebih lagi untuk menolong tidur dari pada mengganggunya, dengan mengendurkan ketegangan-ketegangan yang datang dari kehendak-kehendak yang tak terkabul.

Dunia mimpi dalam pandangan Freud, dikuasai oleh tak-sadar, oleh Id, dan mimpi adalah penting sekali bagi seorang psikoanalis, karena mimpi ini dapat mengantarkan dia kedunia tak-sadar penderita. Dalam tak-sadar ini terdapat semua keinginan-keinginan primitif dan kehendak emosionil yang dijauhkand ari kehidupan sadar oleh Ego dan Supergo. Nafsu hewani selalu berada dibawah permukaan dan mendorong dirinya sendiri kedalam mimpi. Tapi bahkan dalam tidur, Ego dan Superego berjaga sebagai sensor. Oleh sebab itu, arti mimpi tidak selamanya jelas; mereka dinyatakan dengan lambang-lambag, dan memerlukan penafsiran seorang ahli. Sebagai lambang mereka tak dapat diterima begitu saja, kecuali barangkali dalam mimpi-mimpi anak yang bersahaja. Tafsir Mimpi menjanjikan berjumlah-jumlah contoh mimpi, yang sudah dipsikoanalisa oleh Freud.

Juga suatu petunjuk bagi kerja tak-sadar ialahs alah ucap, terlanjur lidah, dan kejadian-kejadian kecil yang dilahirkan kelanaan pikiran. “Seperti psykoanalisis telah mempergunakan tafsir mimpi” kata Freud, “ia juga dapat menarik keuntungan dari kesalahan dan kekhilafan yang begitu banyak diperbuat oleh manusia – tindakan-tindakan simptomatis, begitulah ia disebut.” Soal ini telah diselediki oleh Freud dalamt ahun 1904 dalam bukunya “Psykopathologi dari Kehidupan Sehari-hari”. Dalam buku ini ia jelaskan, bahwa “phenomena ini tidaklah bersifat kebetulan …. mereka punya arti dan dapat ditafsirkan, dan kita boleh mengambil kesimpulan tentang adanya impuls-impuls dan kehendak-kehendak yang menegang atau diterkan”. Lupa suatu nama mungkin berarti, bahwa kita tak menyukai api karena kacau dalam jam berangkat kereta api, maka inimungkin berarti bahwa ia tak beringin mengejarnya. Seorang suami yang kehilangan atau lupa kunci rumahnya mungkin tak bahagia dirumah dan tak ingin kembali. Suatu telaah mengenai kesalahan-kesalahan seperti itu dapat mengantarkan seorang psykoanalis kejaring pikiran tak-sadar.

            Kebebasan yang sama diperoleh dengan jalan lelucon, yang disebut Freud “keselamatan yang paling baik yang diperoleh manusia modern” karena melalui lelucon-lelucon ini kita untuk sebenat dibebaskan dari tekanan-tekanan yang biasanya diminta oleh masyarakat sopan supaya kita sembunyikan.

Barangkali karena peringatan-peringatan, kekecewaan bertambah atau pessimisme yang kelewat, pda dekat akhir kehidupannya Freud mulai mengasyiki “naluri mati”. Akhirnya ia menganggap konsepsi ini hampir sama pengtingnya dengan naluri sexuil. Freud beranggapan bahwa ada suatu naluri mati yang mendorong segala mahluk untuk kiembali kekeadaan organik dari mana ia berasal. Menurut pandangan ini, manusia selalu ditarik-tarik oleh keinginan pada hidup, yaitu naluri sexuil, dan oleh suatu kekuatan yang bertentangan, keinginan untuk menghancurkan,atau naluri kematian. Pada akhirnya tentu saja naluri kematian ini yang menang. Naluri ini menjadi sebab dari peperangan, dan contoh-contoh sadisme, seperti prasangka terhadap ras dan kelas, kenikmatan menghadiri pengadilan-pengadilan kriminil, adu sapi dan pemasungan.

Diatas ini secara singkat dilukiskan faset-faset pokok dari teori Freud. Ahli-ahli psykiatri sekarang ini terpisah jadi dua perkampungan yang lebih kurang bertentangan, yang pro dan yang anti Freud. Bahkan murid-muridnya telah merubah penerimaan bulat dari teori-teorinya selama limapuluh tahun ini. Salah seorang dari pengikut yang termula, Alfred Adler, memisahkan diri dari pihak Freud karena ia percaya bahwa Freud terlalu melebih-lebihkan naluri sexuil. Sebagai suatu doktrin alternatif, Adler mengajarkan bahwa keinginan setiap orang untuk membuktikan keagungannya adalah sumber dari tingkah laku manusia. Ia kembangkan pikiran dari “komplex rendah diri” yang mendorong seorang individu untuk berusaha beroleh pengakuan dalam suatu lapangan kegiatan. Pembelot yang lain yang terkenal ialah Karl Jung dari Zurich, yang juga mencoba mengurangi peranan sex. Jung membagi manusia menjadi dua type psykologis; type extrovert dan type introvert, biarpun ia membenarkan bahwa setiap individu adalah campuran dari keduanya. Berbeda dari Freud, Jung mementingkan faktor-faktor keturunan dalam perkembangan kepribadian. Umumnya, para pengeritik Freud memisahkan diri dari dia mengenai soal-soal seperti kepercayaannya yang ia kemukakan tentang pentingnya neurosis masa kanak-kanak, keyakinannya bahwa manusia dikendalikan naluri yang asal dan kaku, dan angkatan yang dbierikannya kepada libido atau energi sexuil sehingga beroleh tempat sentral dalam pembentukan kepribadian. Beberapa orang tak sependapat dengan Freud mengenai kepercayaannya bahwa assosiasi bebas adalah suatu teknik yang tak dapat diganti untuk menyelidiki tak-sadar, dengan menunjukkan terutama kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan kejadian-kejadian yang dihasilkan oleh metodos ini.

Sungguhpun begitu seperti dikatakan oleh seorang psykiatris:

Perubahan dan perkembangan selama 60 tahun tak sedikitpun mengurangi kebesaran atau pengaruh Freud. Ia terlalu membukakan dunia tak-sadar. Ia telah memperlihatkan bagaimana tak-sadar ini bekerja menjadikan kita seperti adanya kita sekarang dan ia telah memperlihatkan bagaimana cara untuk mencapainya. Banyak dari idee dan konsepnya harus dirubah oleh orang-orang yang datang sesudahnya berkat pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman lebih jauh. Kita boleh mengatakan bahwa mereka telah menulis sebuah Wasiat Baru bagi psykiatri. Tapi Sigmund Freud telah menulis Wasiat Lama. Karyanya selalu akan mempunyai arti besar.

Sebagian besar dari sikap kita terhadap kegilaan adalah disebabkan oleh Freud. Sekarang ini terdapat kecondongan yang main keras untuk menyatakan bahwa orang “neurotis dan psykotis sebetulnya sama saja seperti kita, Cuma lebih neurotis dan lebih psykotis”. Alexander Reid Martin menegaskan, bahwa “baik diakui atau tidak, semua rumah-rumah sakit psykotherapeutis sekarang ini mempergunakan unsur-unsur dan dasar-dasar dari psykologi Freud. Apa yang dulu dianggap suatu dunia yang tak dikenal, terlarang, dan grotesque, tak punyai arti dan gun, berkat Freud menjadi cerah dan penuh berisi arti, yang telah menarik perhatian dan pengakuan bukan saja dari ilmu kedokteran tapi dari segala ilmu pengetahuan sosial”.

Pengaruh pikiran Freud atas kesusasteraan dan seni dapat dilihat dengan sama jelasnya. Dalam roman, puisi, drama, dan bentuk-bentuk sastera yang lain, motif-motif  Freudian berkembang dalam tahun-tahun ini. Benard de Voto telah menguntarakan pendapat bahwa “tidak ada ahli ilmu pengetahuan lain yang mempunyai pengaruh begitu kuat dan meluas pada kesusasteraan”. Pengaruhnya atas seni lukis, seni pahat dan dunia seni umumnya tidak kurang dalamnya.

            Adalah suatu kewajiban yang sulit untuk menjumlahkan sumbangan yang bermacam-macam dari kecemerlangan Freud, karena kelebaran perhatiannya dan karenasifat yang kontroversial dari penemuan-penemuannya. Salah satu percobaan telah dilakukan oleh seorang pengarang Inggris, Reboert Hamilton. Dan kesimpulannya adalah seperti berikut:

Freud telah memetakan psykologi. Ia adalah seorang pelopor besar dan sebagian besar dari suksesnya adalah disebabkan oleh keasliannya dan gaya penulisnya. Sungguhpun sifanya nihilistis, tidak ada diluar sastera murni sistim yang begitu menarik, yang mempunyai gaya yang lebih bagus. Ia telah membuat dunia berpikir secara psykologis – suatu kebutuhan pokok bagi jaman kita dan ia memaksa manusia menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bersifat vital bagi kesejahteraan manusia. Dari thesis psykologi akademi yang steril dari abad ke-19 ia membawa anti-thesis psykoanalisis dengan pengengkaran-pengengkarannya yang kelam.

Seorang psykiatris Amerika yang tekemuka, Frederic Wertham, menuliskan soal itu dari sudut pandangan yang lain:

Orang harus menjelaskan, bahwa disamping kumpulan fakta-fakta klinik tentang penderita-penderita yang ia amati, Freud telah membawa tiga perubahan dasar dalam cara penelaahan kepribadian dan pathologi jiwa. Yang pertama ialah, bahwa orang mengira bahwa kita tak dapat bicara tentang proses psykologi sama sekali dan memikrikannya dengan logika pengetahuan alam. Ini baru mungkin tatkala Freud mengemukakan konsnep realistis dari tak-sadar dan memperkenalkan metodos-metodos praktis untuk menyelidikinya. Kedua, adalah pengemukaan suatu dimensi baru dalam psykopathologi; masa kanak-kanak. Sebelum Freud, psykiatri dipraktekkan seolah-olah setiap penderita adalah seorang Adam – yang belum pernah jadi budak kecil. Ketiga ialah pembukaannya terhadap penghargaan genetik dari naluri sexuil. Penemuannya yang sebenarnya disini terutama bukan bahwa kanak-kanak mempunyai kehidupan sex, tapi bahwa naluri sex itu mempunyai masa kanak-kanak.

Suatu penghargaan yang sama telah diutarakan oleh A.G. Tansley pada suatu “peringatan kematian” yang dipersiapkannya untuk Royal Society di London:

Sifat revolusioner dari kesimpulan-kesimpulan Freud jadi dapat dimengerti jika kita ingat, bahwa ia telah menyelidiki suatu lapangan yang belum digarap sama sekali, sautu daerah dari pikiran manusia kedalam mana belum ada orangpernah masuk sebelumnya, dan yang perbuatan-perbuatannya yang terbuka dianggap sebagai sesuatu yang tgakd apat diterangkan atau sebagai penyimpangan kehancuran, atau disia-siakan sama sekali karena ia berada dibawah tabu manusia yang paling keras. Adanya lapangan ini tidak diketahui. Freud dipaksa untuk menerima realitet suatu daerah tak-sadar dari pikiran manusia, dan kemudian mencoba memeriksanya dengan pertolongan diskontinuitet yang jelas dari rantai kejadian-kejadian jiwa yang sadar.

Akhirnya Winfred Overholser menyarankan, “Cukup alasan untuk percaya bahwa dalam masa seratus tahun yang akan datang Freud akan digolongkans atu kelas dengan Copernicus dan Newton sebagai salah seorang dari mereka yang membuka tepi-tepi langit baru dari pemikiran. Yang pasti sudah, ialah bahwa dalam masa kita tidak ada orang yang telah menyorotkan begitu banyak penerangan atas cara bekerja pikiran manusia seperti yang telah dilakukan oleh Freud.

Bulan-bulan terakhir dari kehidupan Freud yang panjang dialami dalam pembuangan. Setelah Austria diduduki oleh Naz ia terpaksa meninggalkan Wina dalam tahun 1938. Inggris memberikan asylum padanya, tapi kanker mulut telah menyebabkan kematiannya dalam bulan September tahun 1938. (*)

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: