Connect with us

Books

Thomas Malthus: Essay On The Principle Of Populatiion

mm

Published

on

(Essay mengenai prinsip pertumbuhan penduduk)

Suatu keasyikan penghibur hati yang amat digemari diakhir abad ke-XVIII ialah mengangan-angankan utopia-utopia. Idealisme yang sejalan dengan gerakan revolusioner di Amerika dan Perancis memberikan ilham kepada para pengasyik angan-angan itu untuk mengambil kesimpulan, bahwa fajar kesempurnaan manusia telah kelihatan ditepi langit dan bahwa terciptanya sebuah sorga dunia sudah dekat betul masanya.

Diantara pengasyik angan-angan ini, dua orang, William Godwin di Inggris dan Marquis de Condorcet di Perancis, mempunyai pengikut-pengikut yang paling khusuk yang telah menyampaikan kepada orang banyak harapan-harapan dan pandangan-pandangan dari suatu jaman baru. Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Godwin dalam bukunya Keadilan Politik (Political Justice) adalah sangat tipis bagi optimis-optimis yang gigih ini. Godwin percaya, bahwa akan datang masa dimana kita menjadi begitu padat oleh hidup sehingga kita tak memerlukan tidur, — begitu penuh oleh kehidupan sehingga kita tak perlu mati dan kebutuhan pada perkawinan akan didesak oleh kebutuhan untuk mengemukakan intelek. Pendeknya, manusia akan seperti malaikat layaknya, “Perbaikan-perbaikan lainnya,” demikian ia bersenandung, “dapat diharapkan terlaksana sejalan dengan perbaikan-perbaikan kesehatan dan kepanjangan hidup. Tidak akan ada lagi peperangan, tidak ada kejahatan dan tidak akan ada lagi apa yang orang sebutkan administrasi peradilan dan pemerintah. Disamping itu juga tidak akan ada lagi penyakit, ketakutan, kesenduan ataupun dendam. Setiap manusia akan mencari kebaikan bersama dengan semangat yang tak dapat dilukiskan.”

Untuk meniadakan rasa takut, bahwa jumlah manusia akan jadi terlalu banyak sedangkan makanan tidak akan mencukupi, Godwin menulis. “Bumi akan tetap menghasilkan cukup untuk menghidupi penghuninya, biarpun manusia berkembang selama berjuta tahun lagi.” Lagi pula, demikian ia berpikir, keberahian berkelamin mungkin akan berkurang, Condorcet mengusulkan, bahwa keberahian ini bisa dipenuhi dengan tidak mengakibatkan angka kelahiran yang tinggi.

Gelembung-gelembung yang indah ini seolah-olah meminta-minta untuk ditusuk. Dan jarum penusuknya telah disediakan oleh seorang rahib muda yang tak segan-segan, bernama Thomas Robert Malthus; seorang Fellow dari Jesus College, Cambridge, Inggris yang berumur tigapuluh dua tahun. Jawabannya kepada perfeksionis-perfeksionis sosial ini ialah, Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk. (An essay on the Principle of Population) yang diterbitkan dalam tahun 1798. Karangan ini kemudian dianggap orang sebagai salah sebuah karya klasik tentang ekonomi politik.

Malthus, anak kedua dari Daniel Malthus adalah kawan sejaman, biarpun usianya jauh lebih muda dari Adam Smith dan Thomas Paine, Ayahnya, seorang gentleman pedalaman yang hidup dalam keadaan berkecukupan, adalah seorang sahabat Rousseau dan pelaksanaan dari peninggalan-peninggalannya, dan dapat disebut seorang pengangum Godwin yang paling bersemangat. Baik ayah maupun anak gemar sekali berdebat. Thomas menyerang sedangkan ayahnya membela pendirian-pendirian utopia. Akhirnya, atas anjuran ayahnya, Thomas memutuskan untuk menyatakan pendapatnya dalam sebuah tulisan. Hasilnya ialah essay yang termasyur itu – sebuah essay yang telah berpengaruh besar atas pikiran dan kegiatan manusia selama seratus lima puluh enam tahun yang lewat, dan yang barangkali belum pernah begitu nyata seperti dalam kurun jaman sekarang ini. Apa yang telah dilakukan oleh Adam Smith duapuluh dua tahun sebelumnya dalam penyelidikannya mengenai fitri dan sebab dari kekayaan, telah dilengkapkan oleh Malthus dengan analisanya yang menyigi fitri dan sebab-sebab dari kemelaratan.

Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk sebagaimana ia mepengaruhi perbaikan masyarakat dimasa datang, dengan catatan-catatan tentang spekulasi-spekulasi tuan-tuan Godwin, Condorcet dan pengarang-pengarang lain, yang diterbitkan secara anonim, dalam versinya dari tahun 1798 lebih kurang adalah sebuah pamflet (50.000 kata) dan rupanya dicetak dalam jumlah yang kecil, karena kopy penerbitan itu susah sekali diperoleh sekarang. “Buku ini ditulis,” demikian laporan pengarangnya kemudian, “karena didorong oleh keadaan dan dengan mempergunakan sumber-sumber yang sangat terbatas yang dapat dapat saya peroleh dalam kehidupan dipedalaman.” Thema essay ini tidak baru, karena berbagai pengarang abad ke-XVIII, termasuk juga Benjamin Franklin, pernah membicarakan masalah pertumbuhan penduduk, tapi tidak seorangpun diantara mereka ini yang telah menyajikannya begitu tegas, begitu bersemangat atau dengan ketajaman yang begitu  jernih seperti yang telah dilakukan oleh Malthus.

Di awal karangannya Malthus telah mengemukakan dua pendirian dasar:

Pertama, bahwa makanan perlu untuk kehidupan manusia. Kedua, bahwa gairah yang terdapat diantara sex adalah perlu dan keadaannya boleh dikatakan akan tetap seperti keadaan sekarang.

Bahkan mereka yang mengangan-angankan utopia juga tidak mengemukakan pendirian, bahwa manusia bisa hidup tanpa makanan.

Tapi tuan Godwin mengira api kegairahan berkelamin suatu masa akan padam .. Bukti-bukti yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa manusia ini dapat disempurnakan dapat diambil dari sebuah renungan tentang kemajuan-kemajuan besar yang dicapai manusia semenjak mereka masih berada ditingkatan biadab …. Tapi dalam soal pemadaman api sex, sampai sekarang belum ada kemajuan diperoleh. Rupa-rupanya api ini berwujud dengan kekuatan yang sama seperti 2000 atau 4000 tahun yang lalu.

Karena ia sangat yakin, bahwa “postulata”-nya ini tidak dapat ditolak, maka Malthus meneruskan memaparkan prinsipnya yang termasyur:

… bahwa kekuatan pertumbuhan penduduk nyata sekali lebih besar dari kekuatan dunia untuk menghasilkan nafkah bagi manusia. Jumlah penduduk jika tidak dikendalikan akan berlipat-ganda menurut perbandingan geometri. Jika kita perhatikan angka-angka yang ada mengenai ini maka akan nyatalah, bahwa kekuatan yang pertama jauh lebih besar dari kekuatan yang kedua.

Dalam menjelaskan dalilnya selanjutnya. Malthus menguatkan persoalannya dengan cara berikut:

Melalui dunia hewan dan tetumbuhan, alam menyebarkan benih kehidupan keseantero dengan tangan royal dan pemurah. Jika dibandingkan dengan cara ini, maka ia – alam – lebih hemat dalam soal tempat dan makanan yang diperlukan untuk menumbuhkan benih-benih yang …. Bangsa tanaman-tanaman dan bangsa hewan-hewan berkurang disebabkan hukum pembatas yang besar ini. Dan bangsa manusia tidak bisa dengan cara bagaimanapun juga mengelakkan diri dari padanya. Pada tanaman dan hewan akibatnya ialah penyia-nyiaan benih, penyakit dan mati muda. Pada manusia, penderitaan dan kejahatan.

Fakta-fakta yang keras tapi benar ini, menurut pengiraan Malthus, akan menimbulkan kesulitan-kesulitan yang tak dapat diatasi dalam usaha untuk menyempurnakan masyarakat. Tidak ada perobahan-perobahan yang dapat diadakan yang akan dapat meniadakan tekanan hukum-hukum alam yang merupakan halangan-halangan sehingga mustahillah “terwujudnya sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya dapat hidup dengan mudah, berbahagia, dengan kesenangan yang patut dan yang tidak usah khawatir dalam soal mencari makan bagi mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka”.

Sebagai ilustrasi dari pelaksanaan pebandingan geometrinya, ia memilih pertumbuhan jumlah penduduk di Amerika Serika “dimana alat-alat untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih banyak, kebiasaan orang lebih murni dan dengan demikian pembatasan terhadap kawin muda lebih kurang”. Malthus menemui, bahwa penduduk disini, tidak termasuk imigrasi, telah bertambah dua kali lipat dalam masa duapuluh lima tahun. Dari bukti ini ia menarik kesimpulan, bahwa dimana tidak ada pengawasan dan keseimbangan dan dimana tidak ada pembatasan diberikan kepada alam, kecepatan pertumbuhan disetiap negeri akan menggandakan jumlah penduduk setiap angkatan. Pembangkang-pembangkangnya seringkali menunjukkan cacat dalam dalil malthus dan mengatakan, bahwa keadaan yang terdapat di Ameria Serikat dimasa kurun jamann itu, adalah keadaan yang tidak dapat dikatakan typis jika dibandingkan dengan keadaan-keadaan dimasa lain dalam sejarah Amerika ataupun negara lain.

Dalam mencobakan kayu-pengukurnya buat pertumbuhan penduduk yang wajar di Inggris, yaitu suatu ukuran dari perlipat-gandaan dua kali yang potentiel dalam jangka waktu dua puluh lima tahun. Malthus mengarahkan perhatiannya kepada masalah kebutuhan. Kesimpulannya ialah, bahwa “dengan pertolongan cara-cara yang terbaik yang bisa dijalankan, misalnya dengan jalan membuka tanah lebih banyak dan dengan menganjurkan pertanian sebesar-besarnya, hasil kepulauan ini mungkin didua-kalikan dalam masa duapuluh lima tahun pertama”.

Tapi kesulitan akan mulai bertumpuk dengan datangnya angkatan berikutnya. Sedangkan jumlah penduduk sekali lagi bertambah dua kali, jadi empat kali dalam masa limapuluh tahun, dalam soal makanan “tidaklah mungkin diharapkan, bahwa makanan akan bertambah pula empat kali”. Tambahan paling tinggi yang dapat diharapkan, ialah pergandaan jumlah makanan sebanyak-banyaknya tiga kali jumlah asal. Jika diutarakan dengan angka-angka, rumus Malthus akan menunjukkan bagi pertumbuhan jumlah penduduk: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 dan seterusnya sedangkan buat persediaan makanan: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya.

Suatu konsekuensi yang wajar dari jalan pikiran Malthus, ialah bahwa orang harus mengadakan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk yang dijalankan terus. Alat pengendali yang terkeras ialah kurangnya makanan. Disamping itu ia menyebut cara-cara “pengendalian langsung” yang ia golongkan kepada golongan-golongan “positif” seperti misalnya pekerjaan-pekerjaan yang tak sehat, kerja yang berat, kemelaratan yang teramat sangat, penyakit, perawatan anak-anak yang tak baik, kota-kota besar, pes, epidemi; dan suatu golongan “preventif”, yaitu pengekangan moral dan adanya cacat jasmani.

Dalam pandangan Malthus, beberapa kesimpulan praktis yang tak dapat dielakkan akan datang dengan sendirinya. Sekiranya manusia ingin menikmati kebahagiaan yang sebesar-besarnya, maka ia tidak boleh menerima kewajiban-kewajiban berkeluarga sekiranya ia tidak mampu untuk menanggungnya. Mereka yang tak mempunyai kesanggupan cukup untuk menghidupi sebuah keluarga harus tetap tinggal membujang. Selanjutnya, dalam politik umum, seperti misalnya undang-undang kemiskinan harus dirumuskan begitu rupa sehingga menghilangkan dorongan bagi klas buruh atau klas-klas lain untuk melahirkan kedunia anak-anak yang tidak dapat mereka penuhi kebutuhannya.

Seorang manusia yang lahir kesuatu dunia yang sudah dimiliki orang, sekiranya ia tak dapat memperoleh kebutuhannya dari kedua orang tuanya, sesuatu harapan yagn layak sekali, sekiranya masyarakat tidak menginginkan kerjanya, tidak punya hak baik atas bagian terkecil sekalipun dari makanan yang ada dan sebenarnya tidak perlu sama sekali berada di tempat itu.

Yang diatas ini ia tulis sebagai jawaban atas Hak-hak manusia karangan Paine (Rights of Man).

Bantuan baik bersifat partikelir maupun pemerintah, tidaklah diingini karena ini berarti memberikan uang kepada orang miskin dengan tiada menambah banyak makanan yang bisa diperoleh dan dengan begitu menaikkan harga dan menimbulkan kekurangan. Juga tidak dapat diterima rumah-rumah pertemuan karena ia menimbulkan pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat. Gaji yang besar juga memberikan akibat buruk yang serupa. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari masalah yang sulit ini ialah dengan memperlambat perkawinan dan dengan “pengekangan moral” jadi dengan jalan “berpuasa”.

Sebetulnya, dalam mata Malthus setiap usaha kearah masyarakat yang lebih baik dan hilangnya kemiskinan sangat boleh jadi hanya akan berakhir dengan bertambahnya penyakit yang hendak diberantas. Rahib yang berpikir gigih dan yang kelihatannya bersikap anti-sosial ini menyebabkan kaum filantrop-filantrop yang idealistis memisahkan diri dari angkatannya dan angkatan yang berikutnya. Tapi sebaliknya doktrin Malthus ini diterima dengan penuh gembira oleh golongan-golongan yang kaya dan yang memegang kekuasaan dalam jamannya. Dengan itu mereka dapat menyalahkan kawin terlalu muda dan jumlah anak yang terlalu banyak sebagai sebab dari kemelaratan umum dan adanya keburukan-keburukan sosial lainnya.

Sikap Malthus terhadap rencana bantuan pemerintah dapat diperlihatkan dengan kutipan-kutipan dibawah ini:

Undang-undang kemelaratan Inggris yang bermaksud memperbaiki keadaan orang-orang miskin memberikan kecondongan kedua arah. Pertama, yaitu kecondongan dari pertambahan jumlah penduduk dengan tidak disertai pertambahan jumlah makanan untuk kebutuhan mereka. Seorang miskin mungkin kawin biarpun ia sedikit sekali bahkan tidak ada sama sekali memiliki kesanggupan untuk mengongkosi keluarganya dengan tidak bergantung pada orang lain. Karena itu dalam pengertian tertentu dapat dikatakan, bahwa orang telah berusaha menciptakan orang-orang miskin yang adanya tetap dipertahankan. Karena persediaan makanan negeri harus dibagikan kepada setiap orang dalam jumlah yang lebih sedikit, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah penduduk, maka nyatalah bahwa mereka yang tidak mendapat sokongan dari gereja hanya akan sanggup membeli persediaan yang lebih sedikit dari sebelumnya dan karena itu maka akan lebih banyaklah orang yang terpaksa meminta bantuan. Kedua, jumlah makanan yang dihabiskan dirumah-rumah miskin oleh sebagian dari masyarakat yang umumnya tidak dapat diangap sebagai bagian yang paling berharga, akan mengurangkan bagian yang sepatutnya diperoleh oleh anggota-anggota masyarakat yang lebih berharga; dan dengan demikian dengan cara yang sama telah dipaksa lebih banyak orang untuk bantuan.

Diakhir essaynya ini Malthus memberikan sebuah ringkasan dari pandangan-pandangannya.

Karena keadaan-keadaan yang lain serupa sifatnya, maka dapatlah dipastikan, bahwa pertumbuhan jumlah penduduk sebuah negara harus sesuai dengan jumlah makanan yang ia hasilkan atau ia peroleh. Penduduk ini akan berbahagia sesuai dengan berlimpahnya pembagian makanan, atau berapa banyak makanan yang dapat diperoleh dengan hasil kerja satu hari. Negara-negara gandum akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara padang rumput dan negara-negara beras akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara gandum. Tetapi kebahagiaan mereka tidak akan tergantung pada rapat jarangnya penduduk, pada kemiskinan atau kekayaan mereka, kebeliaan atau kebayaan mereka, tapi pada perbandingan yang terdapat antara jumlah penduduk dan makanan yang cukup.

Munculnya essay Malthus ini telah menghembuskan suatu topan kritik, protes dan makian, terutama dari dua golongan; golongan agama konservatif dan golongan sosialis radikal. “Selama tigapuluh tahun”, demikian Bonar, penulis riwayat hidupnya yang terpenting, mengatakan, “telah jatuh hujan pembahasan”. Malthus adalah seorang penghasil teori yang paling banyak disalahgunakan dalam jamannya dan yang telah dinyatakan sebagai “seorang pembela penyakit cacar, perbudakan dan pembunuhan kanak-kanak, sebagai seorang yang mengutuki dapur umum, perkawinan cepat dan sumbangan gereja; seseorang yang tak malu untuk kawin setelah mengkhotbahkan bagaimana jahatnya hidup berkeluarga; yang mengira, bahwa dunia ini diperintah dengan cara yang begitu buruk sehingga apapun juga perbuatan baik yang dilakukan hasilnya hanyalah kerusakan yang lebih besar; seseorang yang singkatnya, telah melucuti hidup ini dari segala keindahannya”.

Beberapa pengeritik telah menolak thesis Malthus dengan begitu saja. Hazlitt misalnya “tidak dapat mengerti apa lagi yang harus ditemui setelah kita membaca surat-surat keturunan nabi Nuh dan mengetahui, bahwa bumi ini bundar”, Goleridge mengulas, “Apakah kita sekarang memerlukan sebuah quarto untuk mengajar kita, bahwa penderitaan besar dan kejahatan besar adalah anak dari kemiskinan, dan bahwa dimana terdapat lebih banyak perut dari pada makanan disana akan ditemui kemiskinan dalam bentuk yang paling berat dan bahwa lebih banyak jumlah kepala dari pada otak?”

Pengulas-pengulas yang lain memperdengarkan suara yang getir. Seperti William Thompson, pemimpin sosialisme Inggris yang mula-mula menulis: Janganlah hinakan bagian terbesar manusia yang menderita dengan kepalsuan yang menyilaukan, bahwa dengan jalan membatasi jumlah penduduk atau dengan tiada memakan kentang, kebahagiaan mereka akan berada di tangan mereka, baik moril ataupun fisik, untuk hidup tanpa kentang dan peradaban yang jauh dari kesusahan, masih saja ada.

Ucapan lain yang tajam datang dari William Cobbett yang mengatakan: “Bagaimana Malthus dengan murid-muridnya yang edan dan menyusahkan orang – bagaimana mereka ini, yang ingin meniadakan kemiskinan, dengan jalan melarang orang miskin kawin; bagaimana golongan begini dungu dan pongah menghadapi para pekerja bermuka-muka, sedangkan mereka menyuruh pekerja-pekerja ini mengangkat senjata dan menghadangkan nyawa untuk membela negara”.

Cobbettlah yang secara kebetulan menemui pemeo “domine” bagi Malthus. Cobbett sedang berbicara kepada seorang petani muda:

“Nah”, kataku, “jadi berapa jumlah anak yang kau ingini?”

“Aku tak perduli berapa”, sahut orang itu, “Tuhan tak pernah mengirimkan perut tidak dengan pengisinya sekali.”

“Belum pernahkah kau mendengar”, kataku, “tentang seorang domine bernama Malthus?”

“Tidak tuan”.

“Kalau kedengaran olehnya ucapan kau itu, ia akan marah sekali, karena ia menginginkan undang-undang parlemen yang melarang orang kawin muda dan beroleh banyak anak.”

“Oh, iblis,” sembur isterinya, sedangkan suaminya tertawa, karena ia mengira, aku berolok-olok.

Suatu kritik yang seringkali dikemukakan dalam menentang doktrin Malthus waktu ia mula-mula terbit, ialah bahwa doktrin ini bertentangan dengan kemurahan Ilahi. Malthus dituduh telah menyiarkan sebuah buku yang bersifat anti-agama – suatu tuduhan yang sangat berat terhadap seorang pendeta sebuah gereja yang sudah berkedudukan. Karena adanya kritik ini, Malthus dalam penerbitan kedua dari essaynya menekankan “pengekangan moral” sebagai cara untuk membatasi jumlah penduduk sambil meniadakan derita dan kejahatan, dan disamping itu menghilangkan “segala tuduhan yang masih terasa terhadap kebaikan Yang Maha pemurah”.

Dalam sebuah program untuk memperingati seratus tahun kematian Malthus, dalam tahun 1935, Bonar mengadakan pembelaan terhadap orang-orang yang menurut sangkaan Bonar telah salah mengemukakan, salah membaca dan salah memahami Malthus. Menurut hematnya Malthus dalam mengemukakan masalahnya adalah tegas dan tidak negatif sama sekali. Bonar mengemukakan, bahwa dalam hakikatnya Malthus “menaruh keinginan hati untuk kebaikan ummat manusia” dalam mana tersimpul:

  1. Angka kematian yang rendah bagi semuanya
  2. Tingkat hidup dan pendapatan lebih tinggi bagi orang miskin
  3. Pengakhiran dari pemubajiran hidup manusia muda.

Malthus melihat dengan jelas, bahwa pembatasan terhadap kenaikan angka kelahiran yang cepat makin banyak dipergunakan oleh negara-negara dengan makin tingginya peradaban dan pendidikan mereka dan makin tingginya tingkat hidup yang mereka capai. Karena itu, pandangannya terhadap masa depan masyarakat manusia adalah suatu pandangan yang mengandung optimisme yang hati-hati. Di Inggris sendiri Malthus melihat, bahwa “pandangan yang biarpun hanya sekilas ke arah masyarakat akan meyakinkan kita, bahwa diseluruh golongan, pengawasan preventif terhadap kenaikan angka penduduk telah diadakan disemua tingkat penduduk”. Secara realistis ia telah memperlakukan berbagai kalangan-kalangan – kaum ningrat, saudagar dan petani, buruh dan pelayan rumah tangga – terpisah-pisah, karena perbedaan keadaan ekonomi mereka. Suatu keinginan untuk mempertahankan suatu kedudukan sosial, menurut hematnya akan menghindarkan kawin cepat.

Misalnya:

Seorang laki-laki yang berpendidikan liberal tapi dengan pendapatan yang nyaris cukup untuk memungkinkan ia menyamakan diri dengan tingkatan ningrat, akan merasa yakin, bahwa jika ia kawin dan mempunyai keluarga, dan jika ia bergaul ditengah masyarakat, ia akan terpaksa menggolongkan dirinya dalam golongan petani menengah atau golongan tukang-tukang. Kejatuhan dua atau tiga tingkat dalam masyarakat pada golongan ini, dimana pendidikan terakhir dan ketidak-tahuan mulai, dalam anggapan rakyat umumnya bukanlah bencana yang hanya ada dalam angan-angan saja, tapi adalah suatu bencana yang hakiki dan nyata.

Seperti dapat dibaca dari pengutipan-pengutipan yang dilakukan orang dari karangannya. Malthus tidak dapat dikatakan tak diperdulikan orang dalam masa hidupnya. Akibat langsung dari terbitnya cetakan pertama essay tersebut ialah diadakannya sensus penduduk oleh pemerintah Inggris dalam tahun 1801, satu-satunya tindakan yang mempunyai arti besar semenjak datangnya Armada Spanyol. Usul-usul untuk mengadakan sensus yang dimajukan sebelum itu telah ditolak sebagai sesuatu yang tak bersifat Inggris dan anti skriptual. Hasil lain dari essay itu ialah perobahan undang-undang orang miskin untuk mengelakkan beberapa kesalahan yang ditunjukkan oleh Malthus.

Pengaruh pikiran-pikiran Malthus atas ilmu pengetahuan alam boleh dikatakan sama dengan pengaruhnya atas ilmu-ilmu pengetahuan sosial.Baik Charles Darwin maupun Alfred Russel Wallace mengakui dengan terus terang, bahwa dalam mengembangkan teori “evolusi dengan seleksi alam” mereka harus berterima kasih kepada Malthus. Darwin menulis:

Dalam bulan Oktober tahun 1938, yaitu limabelas bulan setelah aku mulai dengan penyelidikan yang sistematis, kebetulan aku, semata untuk hiburan, membaca Pertumbuhan Penduduk karangan Malthus. Dan karena diriku telah sedia untuk menerima perjuangan untuk hidup (suatu ucapan yang dipergunakan oleh Malthus) yang berdasarkan suatu pengamatan yang lama dan terus menerus dari hewan dan tanaman yang berlaku dimana-mana, maka karangan ini dengan segera meyakinkan aku, bahwa dalam keadaan seperti ini jenis-jenis (variasi) yang serasi akan selamat sedangkan jenis yang tak serasi akan hancur. Hasil dari pada ini ialah suatu spesi baru. Dengan ini akhirnya aku peroleh juga sebuah teori yang dapat kupakai untuk bekerja.

Dalam nada yang sama Wallace menulis:

Buku ini adalah buku pertama yang pernah kubaca yang mempersoalkan masalah-masalah filsafat ilmu hayat. Dan prinsip-prinsip utamanya kusimpan dalam diriku sebagai milik yang tetap, yang duapuluh tahun kemudian memberikan kepadaku kunci, perangsang yang efektif dalam evolusi spesi-spesi organik yang begitu lama dicari.

Proses-proses yang berisi kemarahan yang dilancarkan oleh golongan gereja dan pemberontakan-pemberontakan sosial sebagai sambutan atas edisi tahun 1798 dari Essay itu, tidak dihiraukan oleh Malthus; ia malahan begitu asyik dengan persoalan tersebut sehingga ia bermaksud untuk menyelidikinya selanjutnya. Untuk memperkuat alasan-alasnanya ia menjelajah Eropa tahun 1799 untuk mencari bahan “melewati Swedia, Norwegia, Finlandia dan sebagian dari Rusia, karena inilah negeri-negeri yang kala itu terbuka bagi musafir-musfir Inggris”. Kemudian semasa perdamaian pendek dalam tahun 1802 ia melakukan perjalanan lagi ke Perancis dan Swis. Dalam masa ini ia menyiarkan sebuah pamflet yang berkepala. Sebuah penyelidikan mengenai sebab dari kenaikan harga makanan saat ini; dalam pamflet ini ia berpendirian, bahwa harga-harga dan keuntungan-keuntungan ditentukan terutama oleh apa yang ia sebutkan “permintaan effektif”.

Lima tahun setelah edisi pertama Essay terbit, maka diterbitkanlah versi kedua yang telah ditambah – sebuah volume quarto setebal 610 halaman. Edisi ini kehilangan kekasaran-kekasarannya, gayanya yang lincah, kepastian kebeliaan yang ditemui dalam karya yang asli dan telah mengambil bentuk sebuah pembicaraan masalah ekonomi menurut cara kesarjanaan, penuh dengan dokumentasi-dokumentasi dan catatan-catatan bawah, biarpun prinsip pangkal tidak berubah sama sekali kecuali mengenai perkembangan ide “pengekangan moral”. Selama hidup pengarangnya telah diterbitkan empat edisi lagi. Pada edisi kelima Essay ini telah menjadi tiga jilid yang kesemuanya memenuhi seribu halaman. Ia begitu asyik dengan merubah Essay ini berturut-turut sehingga satu-satunya karya besar yang lain yang dihasilkan oleh Malthus ialah Prinsip-prinsip ekonomi politik dilihat dari sudut kemungkinan pelaksanaannya, diterbitkan dalam tahun 1820.

Riwayat hidup Malthus boleh dikatakan tenang dan penuh kedamaian. Ia bebas melakukan telaah-telaah dan penulisan-penulisan ekonominya dengan tak diganggu-ganggu oleh tanggung jawab lain, sampai tahun 1804 tatkala mana ia menikah, sewaktu ia berumur tigapuluh delapan tahun. Tahun berikutnya ia diangkat menjadi guru besar sejarah modern dan ekonomi politik di East India Company’s Collage yang baru saja didirikan di Haileybury, sebuah lembaga pendidikan dimana diberikan pendidikan umum pada pegawai-pegawai kompeni India Timur. Pengangkatan ini adalah pengangkatan kursi guru besar ekonomi politik yang pertama yang menetap di Haileybury selama tigapuluh tahun, sampai ia meninggal dalam tahun 1834. Ia mempunyai tiga orang anak; dua diantaranya, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi besar sampai meningkat kemasa dewasa.

Api yang ditimbulkan oleh Malthus tidak pernah mati seluruhnya. Pertentangan-pertentangan pro dan kontra masih saja berlaga dengan hebatnya. Penerbitan-penerbitan baru yang menyokong thesis Malthus seperti Tantangan masa depan manusia. Jalan kepenyelamatan. Batas-batas dunia dan Bumi kita yang digarong telah memancing reaksi-reaksi yang tajam seperti yang terdapat dalam karangan-karangan yang berkepala “Si penakut Malthusian”, “Makanlah dengan puas”, “Kejahatan Melthusian” dan “Manusia tak perlu mati”. Pandangan yang manakah yang dapat disebut pandangan yang sama berat mengenai teori Malthus dalam jaman kita ini?

Suatu faktor besar dalam pertumbuhan jumlah penduduk semenjak pertengahan abad ke-XIX ialah bertambah umumnya diterima teknik kontrasepsi yang telah memungkinkan diadakannya batas keluarga yang berencana, kecuali diantara kalangan yang tidak mengetahui dan kalangan yang merasa dihalangi oleh perasaan keagamaan. Gerakan ini beroleh nama bermacam-macam. Neo-Malthusianisme, pembatasan kelahiran, keluarga berencana dan dapat disebut “suatu gerakan demografik yang terpenting dalam dunia modern”. Malthus terutama menolak dan mengutuki kontrasepsi, dan praktek ini dalam jamannya dianggap orang sebagai suatu “kegiatan, asing dan bertentangan dengan alam”.

Sungguhpun begitu kenyataan ini telah menjadi salah sebuah cara untuk mengendalikan jumlah penduduk dalam masyarakat modern dan dengan demikian menambah faktor keempat kepada trio Malthus “kejahatan, derita dan pengekangan moral”.

Dalam tahun 1800, waktu Malthus menulis bukunya, jumlah penduduk dunia ditaksir sebanyak satu billiun. Dalam masa seratus limapuluh tahun jumlah ini telah berkembang menjadi duasetengah billiun. Perkembangan dalam bandingan yang begitu besar ini tidaklah disebabkan oleh naiknya angka kelahiran yang luar biasa, tapi karena bertambah panjangnya umur manusia. Di negeri-negeri yang telah maju didunia ini tak terhitung jumlah nyawa yang diselamatkan berkat perubahan dalam praktek-praktek pengobatan, kebersihan dan praktek-praktek sosial. Revolusi Industri telah menghasilkan bagi Inggris kenaikan jumlah produksi barang-barang buatan yang tak tepermanai dan hasil ini ditukarkan dengan makanan dan bahan mentah negeri-negeri yang belum berindustri. Segala macam bentuk alat pengangkutan diperbaiki sehingga dengan demikian makin bertambahlah mobilitet. Penduduk yang berlebih dialirkan dengan jalan imigrasi kebenua-benua yang baru dibuka. Ramalan yang mengerikan yang diberikan oleh Malthus dengan cara begini setidak-tidaknya telah diperlambat terjadinya, bahkan bukan mustahil bahwa ia telah dapat dijauhkan untuk selama-lamanya – setidak-tidaknya untuk dunia Barat.

Tapi masih ada sisa bagian-bagian dunia ini yang dapat dipakai sebagai contoh yang baik dari teori-teori Malthus. Timur Tengah, sebagian besar dari Asia dan kebanyakan negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan ditandai oleh kesuburan pertumbuhan penduduk yang besar, tapi bersamaan dengan itu terdapat tingkat kematian yang tinggi. Dibagian-bagian itu nyawa yang diselamatkan oleh obat dan kebersihan rupa-rupanya tak berarti jadinya karena adanya kemiskinan dan epidemi.

Sebagai kebalikan dari situasi ini, beberapa dari negara yang paling maju peradabannya dan kebudayaannya, terutama Perancis, Swedia, Pulau Es, Ustria, Inggris, Wales dan Irlandia telah memasuki masa stabilisasi atau penurunan jumlah penduduknya. Stabilisasi ini terjadi karena rendahnya martabat kesuburan, penurunan jumlah orang-orang yang berusia muda dan bertambah panjangnya umur.

Semenjak jaman Malthus produksi bahan makanan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan para ahli sependapat bahwa kita dapat mencapai lebih banyak lagi kemajuan-kemajuan pokok dengan jalan menyempurnakan metodos produksi sehingga menjadi lebih effisien, dengan jalan mengadakan perbaikan irigasi, dengan jalan mempergunakan tanah-tanah baru, penggantian makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan makanan berasal dari hewan dan dengan jalan penjagaan lebih baik terhadap serangan-serangan penyakit. Kelebihan hasil tanaman di Kanada dan Amerika Serikat dapat ditunjukkan sebagai suatu bukti dari kekhilafan yang terdapat dalam prinsip Malthus. Tapi biar bagaimana cepatnyapun produksi makanan di Amerika beroleh kemajuan, masih saja beratus-ratus juta manusia di Timur dan ditempat lain yang hidup dipinggir jurang kelaparan atau atas dasar kebutuhan yang sangat minimum. Jadi gambaran yang diperlihatkan oleh barangkali duapertiga penduduk dunia yang menderita kekurangan makan, epidemi penyakit, taraf kesehatan yang rendah dan mengidapkan pelbagai penyakit, memberikan kepada kita kesan seolah-olah masalah yang dimajukan oleh Malthus satu-setengah abad yang lalu sama nyata dan mendesaknya sekarang seperti pada masa itu.

Bahkan para pengeritik yang merasa puas dengan lumpuhnya thesis Malthus dalam segi-segi tertentu yang diakibatkan oleh perkembangan yang tidak atau tidak mungkin dilihat oleh Malthus, mengakui bahwa konsekuensi-konsekuensi besar telah lahir dari buah pikirannya itu. Sebagai dinyatakan oleh Hobbouse, “Teori Malthus adalah salah satu sebab dari lumpuhnya ramalannya sendiri. Karena kepercayaan kepada kebenaran dari pertumbuhan penduduk yang terlalu cepatlah maka orang mulai mengadakan pengendalian.

            Diantara begitu banyak pembahas yang telah menulis tentang Essay mengenai prinsip pertumbuhan penduduk karangan Malthus, barangkali tidak ada yang telah mebmerikan pujian yang lebih patut dan lebih tajam dari pada yang telah diberikan oleh John Maynard Keynes, yang percaya, bahwa:

Buku ini berhak untuk beroleh tempat diantara buku-buku yang berpengaruh, besar atas kemajuan berpikir. Ia ditulis menurut tradisi yang asli dalam soal-soal ilmu kemanusiaan – menurut tradisi pemikiran Inggris dan Skot, dimana menurut hematku, terdapat suatu kelanjutan yang luar biasa dari perasaan, jika ia boleh kusebutkan begitu, mulai dari abad ke-XVIII sampai masa kini – suatu tradisi yang disarankan oleh nama-nama seperti Locke. Hume, Adam Smith, Paley, Bentham, Darwin dan Mill. Suatu tradisi yang ditandai oleh suatu kecintaan kepada kebenaran dan kejernihan yang mulia, oleh hygiene yang prosais, bebas dari sentimen atau metafisika, oleh suatu kebebasan dari kepentingan-diri-sendiri yang kuat dan oleh semangat kepentingan bersama. Dalam penulisan seperti ini terdapat suatu kelanjutan, bukan saja dalam soal perasaan tapi juga dalam hal-hal yang nyata. Kedalam kumpulan inilah Malthus bisa digolongkan. (*)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Books

Seperti Para Penyair Seperti Juru Kunci Sepi di Jantung Keramaian

mm

Published

on

Nama Bagi Kesenyapan*)

Dalam keramaian abad digital yang mustahil dihindari, dengan apa sebaiknya kesepian dinamai? Inilah pertanyaan pembuka yang hendak saya ajukan setelah membaca 64 sajak karya Sabiq Carebesth yang dibuhulnya dengan tajuk Seperti Para Penyair. Adapun yang sebut “keramaian” dalam hal ini adalah lalu-lalang kelisanan yang terus merajalela di dunia maya sejak fajar mulai menyingsing, siang, petang, malam, hingga subuh datang menjelang. Doa-doa, himbauan, maklumat, nasihat, petuah, wejangan, tausiyah, berhamburan di sana sini. Kabar gembira, berita kematian, puja-puji, umpatan, makian, sumpah-serapah, hasutan, hujatan, fitnah, adu-domba, beranak-pinak dan membelah diri sepanjang hari. Saya membayangkan betapa letihnya makhluk bernama “bahasa.” Betapa terkuras tenaganya, betapa sibuk aktivitasnya, betapa minim waktu tidurnya. Keramaian yang tak mungkin disangkal itulah yang telah menghisap segenap jiwa bahasa, merenggut sekujur sukma kata, hingga ia hampir-hampir tak mungkin punya waktu untuk menjenguk kesepian. Begitu sukar bagi bahasa untuk hadir, apalagi pasang-badan di tengah-tengah padang kerontang bernama; kesepian. Bahasa tidak sanggup lagi memberi nama bagi kesepian. Mata bahasa dilanda semacam rabun senja setiap kali berhadapan dengan realitas keheningan.

Menurut hemat saya, ketercampakan bahasa dari realitas kesepian itulah yang sedang diratapi oleh sajak-sajak Sabiq dalam buku ini. Kalau penyair penggila kopi ini saya kiaskan dengan personalitas seorang penggembala, maka ia adalah penggembala yang sedang membujuk kembali ternak-ternak piaran yang lepas masuk ke dalam kerumunan ramai, sementara di sana rumput amatlah terbatas. Dengan berbagai cara ia menghalau dan menghela hewan-hewan itu untuk kembali mencari makan di padang-padang rumput yang lapang dan lengang. Dengan begitu, maka alam yang pantas dihuni oleh puisi bukanlah alam ramai yang sibuk, melainkan alam kesendirian yang hening. Tapi sungguh aku ingin pergi/menyusuri sungai dalam belantara sepi/seolah di sana kita telah pergi begitu jauh/seolah kita kelana dalam dunia kabut/di mana batu-batu berlumut/Dan harimau paling ganas—sama mengadu tentang kesunyiannya (Dalam Tungku Waktu, Sajak-sajak Membakarku).

Bahasa, bagi Sabiq, tampaknya hanya bisa lega bernapas dalam semesta sunyi, bukan di keramaian yang menyesakkan¾atau barangkali sudah menyesakkan. Perkenankan saya mengandaikan frasa “tungku waktu” dalam sajak di atas, sebagai durasi waktu sepi yang tidak seberapa lama itu. Tapi di sanalah, sajak-sajak memercikkan api, dan membakar apa saja. Sementara dalam arus keramaian, ia terkutuk sebagai daun-daun mati yang beterbangan dihembus kesiur angin dari utara. Maka, lewat sajak di atas, penyair merindukan rimba raya kesenyapan, yang dipenuhi kabut dan batu-batu berlumut.

Dalam sajak Seperti Para Penyair yang dipilih sebagai judul antologi ini, Sabiq membangun sebuah karakter yang ia sebut dengan “tuan bagi kesepian sendiri.” Sekali lagi saya ingin mengandaikan kalimat itu sebagai kerinduan penyair pada kesendirian yang diringkus oleh rupa-rupa keramaian realitas dunia mutakhir. Bila dalam keramaian bahasa menjadi budak yang senantiasa diperdaya, maka di ruang-ruang kesendirian ia hendak dikembalikan menjadi tuan dan majikan. Di sinilah barangkali tugas berat puisi dalam rimba raya keramaian kontemporer.Dengan segenap daya upaya, penyair membebaskannya, menyelamatkannya dari etos ketertindasan yang tak kasat.  Ikhtiar semacam itu saya jumpai dalam sajak-sajak seperti Elegi Sepi, Elegi Hening, Rajawali Musim Sepi, Kursi-kursi Mati Sunyi, dan beberapa sajak lainnya.

Tapi, apakah dengan demikian bahasa yang meringkuk sebagai terpidana dalam penjara keramaian itu sungguh-sungguh telah terselamatkan? Saya kira belum. Menimbang-nimbang upaya Sabiq dalam buku ini, sekali perkenankan saya mengumpamakan kepenyairannya. Kali ini ia adalah sipir penjara yang nakal, di mana pada waktu-waktu petugas lain sedang lengah, ia menyeludupkan seorang napi untuk bebas berkeliaran menghirup udara luar. Tapi, napi itu, yang tidak lain adalah bahasa, harus tetap bersetia pada penjara. Mesti kembali pada waktunya, menyerahkan diri dan kembali meringkuk di balik jeruji besi. Dengan begitu, di tangan Sabiq, bahasa hanya dibuat sekadar bersandiwara. Seolah-olah bebas, seakan-akan merdeka dari kuasa keramaian, padahal statusnya masih narapidana. Tidak ada puisi di siang terik/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan/jadi badut atau politisi/jadi tukang pulung atau tukang tipu/apa bedanya?/sajak-sajak dijual di pasar loak/atau di sosial media, sebagai hiburan/tapi siang ini tak ada sajak Tuan/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan (Siang Ini Tak Ada Sajak,Tuan)

Bait “membangun mimpi di dekat kuburan” sepintas lalu mungkin kedengarannya sebagai kesendirian dalam kesenyapan, tapi sekali lagi saya mengandaikannya sebagai laku yang sebenarnya juga berlangsung dalam lalu-lalang keramaian. Frasa sibuk bekerja, pasar loak, dan sosial media, adalah pertanda bagi medan ramai tempat bahasa terperangkap. Maka, “membangun mimpi di dekat kuburan” adalah semacam ziarah yang diselenggarakan dalam keramaian. “Kuburan” yang dibayangkan penyair mungkin saja pusara bagi tubuh-tubuh kesepian yang dipancangkan di jantung metropolitanisme kota-kota yang sibuk.

Piknik ke Masa Lalu

Di masa ketika doa-doa hanya dilafalkan untuk kebahagiaan di masa datang, masih adakah khutbah yang berisi nasihat dan himbauan untuk sesekali piknik ke masa lalu? Inilah pertanyaan kedua yang hendak saya munculkan bagi segenap sajak-sajak Sabiq di buku ini. Aduh sayangku/mana sempat kita melalui malam/sambil berbelanja kenangan di pojok-pojok toko sepatu, kedai kopi atau segala yang ingin kita singgahi. Demikian saya kutipkan beberapa bait dari sajak berjudul “Kota dalam 5 Paragraf Tanpa Jeda dan Dialog.” Sajak itu seolah-olah hendak menegaskan betapa masa silam telah menjadi barang rongsokan yang hanya dapat dibeli¾itupun kalau berminat¾di pojok-pojok toko sepatu atau di kedai-kedai kopi. Masa lalu tidak akan pernah dijumpai dalam etalase-etalase kaca Pondok Indah Mall, Senayan City, atau Pacific Place. Bagi sajak itu, kenangan yang bermukim di masa silam sudah lama jatuh sebagai residu perabadan kontemporer dengan kegemilangan masa depan sebagai kiblat dan berhalanya.

Oleh karena itu, kalau masih ada–sekali lagi kalau ada–manusia urban yang diklaim tekun merawat koleksi kenangan, lelaku semacam itu tiada lebih dari kegiatan piknik akhir pekan, untuk sekadar melarikan diri dari kebosanan berlibur di gedung-gedung mentereng dengan lantai yang licin, dan ruang-ruang berpendingin. Bukankah sudah lazim dalam keinginan orang-orang kota, bahwa sekali waktu kita perlu bertamasya di alam terbuka, dengan suasana yang digarap seperti perkampungan, tempat kita bermain di masa kanak-kanak. Demikian kira-kira pengandaian saya.

Sampul buku kumpulan sajak “Seperti Para Penyair”. Buku ini akan terbit dipasarkan pada pekan pertama Juni 2017. “Seperti Para Penyair” adalah buku sajak kedua Sabiq Carebesth setelah buku sebelmunya “Memoar Kehilangan” (2012). Pembaca yang berminat bisa memesan buku ini melalui WhatsApp; 08211145077.

Tapi persoalannya adalah, masa lalu yang dikunjungi dalam piknik sehari itu, hanya untuk semakin jauh dilupakan. Banyak orang gemar menapaktilasi kenangan hanya untuk semakin dalam menguburkannya. Maka ia tuangkan ke dalam gelas kopinya debu-debu kenangan/seperti debu-debu ia adalah waktu-waktu yang menempel di dinding-dinding kota/sebelum akhirnya malam merenggut kotanya dan hujan membersihkan debu-debu kenangannya; ia kedinginan, membeku dalam sendirian/seolah telah ditakdirkan demikian. Tengoklah, betapa masa lalu dalam kutipan itu, tiada lebih dari residu di masa kini. “Debu-debu,”¾demikian Sabiq menyebutnya¾yang tentu saja mengotori, atau bahkan menajisi tubuh-tubuh mentereng abad ini, dan oleh karena itu ia perlu dibersihkan dengan perkakas vacum-cleaner, paling tidak seminggu sekali.

Selepas itu, pertanyaan yang hendak saya ajukan kemudian adalah, apakah sajak-sajak Sabiq mengandung semacam ajakan untuk bersetia pada kenangan? Atau sebaliknya, penyair yang gemar sekali dengan kata “kopi” ini justru mengampanyekan agar kita segera berbenah membersihkan tubuh-tubuh modern ini dari remah-remah masa lalu?  Untuk apa bersetia pada kenangan bila kenangan itu hanyalah timbunan luka yang bila diungkit-ungkit kembali tentu akan menjadi beban yang menyakitkan? Tapi, tanpa kenangan apalah artinya hidup yang terus-menerus dibuat lelah oleh tahyul kemajuan ini? Begitulah sikap saya yang terombang-ambing saat membaca sajak-sajak Sabiq dalam buku ini.

Ekspektasi saya sesungguhnya lebih jauh. Sajak semestinya tidak hanya memperlakukan kenangan sebagai “destinasi” piknik sehari, melainkan sebagai padang mahsar tempat semua yang bernama “kekinian” dan “ke-disini-an” akan berpulang dan tidak akan kembali lagi sebagai masa kini, apalagi masa datang. Dengan rupa-rupa kenangan, sajak semestinya sanggup mengunci masa kini dan masa datang, hingga putaran waktu berhenti, dan buku-buku sejarah tak ditulis lagi. Sajak seharusnya mampu menghisap semua ruang, menghisap laju kencang waktu, dan mengunci putaran roda-roda zaman.

Puisi yang Lenyap di Belantara yang Bising

Saya mengenal Sabiq bukan sekadar pribadi yang menggemari puisi, tapi juga personalitas yang hendak menghadirkan realitas puitik dalam kesehariannya. Betapa tidak? Ia bahkan memberi nama anaknya dengan Puisi, dan beberapa sajak dalam buku ini ia garap sebagai perbincangan imajiner dengan Puisi, putri kecilnya yang menggemaskan itu.

Sabiq adalah pribadi yang gemar bersembunyi. Meskipun pada akhirnya saya berkesempatan memotret prosesi pernikahannya beberapa tahun lalu, tapi hingga kini saya tak pernah tahu di mana kampung halamannya, siapa bapak-ibunya, dan apa pekerjaannya. Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu datang lagi dengan membawa sekian banyak rencana, tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Ia selalu mengaku belum ada satu pun rencana yang pernah ia bincangkan itu terwujud, meskipun kegiatan menulis puisi tak kunjung berhenti. Pendeknya, Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini.

Sabiq pasti tahu  bahwa di belantara kelisanan yang sedemkian nyinyir dan bising ini, puisi adalah dunia yang sama sekali tidak seksi. Menulis puisi bukanlah perkara gampang, sementara mendapatkan pembaca yang tajam¾apalagi pembaca yang mendambakan kedalaman¾jauh lebih tidak mudah lagi. Mungkin sebagian orang masih giat merayakan puisi dengan berteriak-teriak di atas mimbar, sembari mendabik-dada sebagai penyair besar, lalu para hadirin bertepuk bersorak-sorai, tapi masih adakah orang yang sungguh-sungguh menyelam guna mengapai kedalaman puisi?

Hari-hari ini puisi hanya diperlakukan sebagai hiburan alternatif dalam dunia keramaian yang menyuguhkan macam-macam kesenangan. Bila ada yang jenuh, bolehlah sesekali menonton upacara pembacaan puisi, atau sekadar mengoleksi buku-buku puisi, supaya tampak sebagai makhluk berbudaya. Puisi tidak lagi menjadi laku dalam kedalaman, tapi sekadar lipstik yang dioleskan bilamana seorang perempuan hendak menghadiri sebuah pesta. Di rumah, di dapur, atau bahkan di hadapan suami, lipstik tidaklah diperlukan. Biarlah tampak kusut, dan awut-awutan, toh kita tidak sedang berada di tengah keramaian. Sabiq, saya kira menyadari betapa tak mujurnya nasib puisi di masa kini. Tapi alih-alih mengabaikannya, saban hari ia justru semakin asyik bercengkrama dengan Puisi, putri kecilnya, senantiasa melibatkan diri dalam kesadaran puitik. Semoga Puisi (dengan huru p besar) dan puisi (dengan huruf p kecil) juga memaklumi betapa besarnya cinta Sabiq kepada mereka… (*)

_________________

Damhuri Muhammad

Kolektor kenangan

Continue Reading

Books

Sir Isaac Newton: Principia Mathematica (Prinsip matematika)

mm

Published

on

Diantara semua buku yang mempengaruhi soal-soal manusia dengan alam, hanya sedikit yang lebih dipuji-puji dan tidak ada yang telah dibaca oleh jumlah orang yang lebih sedikit, seperti buku Sir issac Newton Philosophiae Naturalis principia Mathematica, “Prinsip Matematika dari filsafat alam”. Dengan sengaja ditulis dalam bahasa Latin yang paling sukar dan teknis, dan dihiasi banyak gambar-gambar diagram-diagram geometris yang ruwet, maka  golongan pembaca yang langsung dari buku ini terbatas pada ahli-ahli astronomi, ahli-ahli matematika dan ahli-ahli tabii yang paling terpelajar.

Salah Seorang dari penulis riwayat hidup Newton menyatakan, bahwa jika Principia diterbitkan dimasa perempatan terakhir abad ke-17 maka tidak akan lebih dari tiga atau empat orang yang masih hidup yang akan dapat memahaminya. Yang lain memperluas jumlah ini menjadi sepuluh atau selusin. Pengarangnya sendiri mengakui bahwa buku ini adalah “buku yang sulit”, tapi ia tidak punya alasan untuk minta maaf, karena ia telah merencanakannya serupa itu, dengan tiada memberikan konsesi sedikit juapun kepada mereka yang buta huruf dalam soal matematika.

Tapi, ahli-ahli ilmu pengetahuan yang terpandang menganggap Newton sebagai salah seorang tokoh intelektuil dari segala jaman. Laplace, seorang ahli astronomi Perancis yang gemilang, menyebut Principia “lebih tinggi dari setiap hasil kepintaran pikiran manusia”. Lagrange, seorang ahli matematika yang termasyur, menyatakan bahwa Newton adalah seorang genie terbesar yang pernah hidup. Boltzmann, orang pionir fisika matematika, menyebut Principia buku pertama dan terbesar yang pernah ditulis mengenai teori fisika. Seorang ahli astronomi Amerika W.W. Campbell, mencatat. “Bagi saya jelas sudah bahwa Sir Isaac Newton, yang dengan mudah dapat disebut orang besar ilmu fisika dalam masa tarichi, secara unik adalah pelopor besar dari astro-fisika.” Ucapan-ucapan dari ahli-ahli ilmu pengetahuan terkemukayanglain telah diucapkan dalam superlatif-superlatif yang seperti itu. Oranb biasa harus menerima pendapat-pendapat ini dengan berdasarkan kepercayaan dan atas dasar hasil.

            Newton dilahirkan hampir-hampir tepat seabad setelah Copernicus meninggal, dan dalam tahun kematian Galileo. Raksasa-raksasa dalam dunia astronomi ini, bersama dengan Johannes Kepler, telah menyediakan sendi-sendi diatas mana Newton meneruskan pembangunan.

Newton adalah seorang sihir matematika dalam suatu jaman dari ahli-ahli matematika yang paling berbakat. Sebagai matematika dinyatakan oleh Marvin, “abad ke-17 adalah abad perkembangan, seperti abad ke-18 adalah jaman perkembangan ilmu kimia, abad ke-19 abad perkembangan ilmu hayat; bagian empatpuluhan tahun terakhir dari abad ke-17 lebih banyak membuat langkah-langkah maju dari masa-masa lain dalam sejarah.” Newton menyatukan dalam dirinya ilmu-ilmu tabii yang terpenting – kima, tabii,dan astronomi – karena diabad ke-17 sebelum jaman spesialisasi yang jauh, seorang sarjana dapat melingkupi semua lapangan.

Newton, yang lahir dalam tahun 1642, pada Hari Natal, dalam masa permulaan hidupnya telah melihat naik dan jatuhnya pemerintah Kemakmuran Bersama Oliver Cromwell. Kebakaran Besar yang hampir saja memusnahkan Londok seluruhnya, dan Pes Besar yang menyapu bersih sepertiga dari penduduk kota itu. Setelah tinggal selama 18 tahun dikampung kecil Woolsthorpe, Newton dikirim ke Universitas Cambridge. Ia beruntung beroleh bimbingan dari seorang guru yang cakap dan dapat memberi semangat, yaitu Isaac Barrow yang disebut juga “bapak intelektuil” Newton. Barrow melihat lalu mendorong dan menganjurkan genie yang makin tumbuh dari Newton yang muda itu. Semasa masih dibangku pelajaran Newton menemui theorema binomial.

Karena berjangkitnya pes, maka Cambridge ditutup dalam tahun 1665, dan Newton kembali kepedalaman. Untuk selama empat tahun berikutnya, jauh terpisah dari dunia luar, ia memusatkan pikirannya pada eksperimen-eksperimen dan meditasi-meditasi ilmiah. Hasil-hasilnya adalah menakjubkan. Sebelumnya mencapai umur duapuluh lima tahun. Newton telah menemui tiga penemuan yang memberi ia hak untuk dimasukkan kedalam golongan pikiran-pikiran ilmiah tertinggi dari segala jaman. Pertama adalah penemuan dari perhitungan differensial, yang disebut “fluxions” oleh Newtonk, karena ia mengenai jumlah-jumlah bermacam-macam atau yang “mengalir”. Perhitungan ini meliputi segala masalah aliran, gerakan benda-benda, dan gelombang, dan sifat pokok bagi pemecahan masalah fisika yang berhubungan dengan segala macam gerak. “Kelihatannya ia seolah-olah membuka kunci pintu yang menyimpan gudang kekayaan matematik; ia meletakkan dunia matematik dibawah cerpu Newton dan pengikut-pengikutnya.”

Penemuan besar Newton yang kedua ialah hukum komposisi cahaya, dari mana ia selanjutnya menguraikan fitri warna dan cahaya putih. Diperlihatkannya, bahwa cahaya putih matahari terdiri dari sinar-sinar dari semua warna bianglala. Karena itu warna adalah suatu hal yang khas dari cahaya, dan adanya cahaya putih – seperti telah diperlihatkan oleh eksperimen-eksperimen Newton dengan prisma – berasal dari percampuran warna spectrum. Dengan pertolongan pengetahuan yang ia peroleh dari penemuan ini. Newton berhasil membuat teleskop reflektif pertama yang memuaskan.

Bahkan lebih penting lagi adalah penyingkapan Newton yang ketiga; hukum gaya atau gaya-berat universil, yang dianggap orang sebagai sesuatu yang merangsang pikiran ahli-ahli ilmu pengetahuan lebih lagi dari penemuan teoretis dari jaman modern. Menurut sebuah anekdot yang terkenal, kilatan intuisi yang datang pada Newton yang mengamati jatuhnya sebuah appel telah membawa ia pada perumusan hukum ini. Sebetulnya tidak ada yang baru dalam idee dari penarikan bumi terhadap benda-benda yang ada dekat permukaannya. Sumbangan besar Newton, ialah dalam menjelaskan bahwa hukum gravitasinya dalam kegunaannya adalah bersifat universil – suatu daya yang tidak kurang kuatnya dalam hubungan dengan benda-benda langit, dari dengan bumi – dan kemudian memberikan bukti-bukti matematik dari teorinya ini.

Yang mengherankan ialah, bahwa Newton selama masa ketiga penemuan yang teramat penting ini, calculus, warna dan gravitasi, tidak ada menyiarkan apa-apa. Karena dikuasai oleh suatu sifat yang sangat pendiam dan tak mau terkemuka, bahkan sifat yang tertutup, ia mempunyai suatu kebencian yang hampir-hampir bersifat suatu penyakit terhadap perhatian dan kontroversi publik. Karena itu, ia cenderung untuk menyimpan hasil dari eksperimen-eksperimennya. Apa jugapun yang kemudian ia siarkan semuanya terjadi karena terkanan sahabat-sahabatnya. Sesudah itu hampir boleh dikatakan selalu ia menyesal karena telah menyerah kepada bujukan-bujukan mereka. Penerbitan membawa pengeritikan dan pembicaraan oleh sesama ahli, suatu hal yang oleh Newton dengan sifatnya yang perasa tidak disukai dan dibenci sama sekali.

Setelah penyendirian yang terpaksa ini, Newton kembali ke Cambridge dimana ia menerima ijasah Masternya, lalu ia diangkat menjadi pengajar di Trinity College.  Tidak lama sesudah itu gurunyayang lama, Barrow, mengundurkan diri, lalu Newton dalam usia 27 tahun diangkat menjadi gurubesar ilmu matematika. Jabatan ini ia pegang selama 27 tahun selanjutnya. Selama sepuluh atau duapuluh tahun berikutnya tak banyak kedengaran tetnang Newton. Orang tahu bahwa ia melanjutkan penyelidikannya mengenai cahaya, dan kemudian menerbitkan sebuah karangan tentang penemuannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai masalah cahaya bertentangan dengan pendapat yang kala itu berkuasa; kedua, karena ia telah memasukkan kedalam karangannya itu suatu pernyataan dari filsafatnya mengenai ilmu pengetahuan. Dibagian terakhir iniia menyatakan pandangannya, bahwa fungsi pertama dari ilmu, ialah melaksanakan eksperimen-eksperimen yang direncanakan dengan hati-hati, mencatat pengamatan dari eksperimen-eksperimen tersebut, dan akhirnya menyiapkan hukum-hukum matematika yang berdasarkan hasil yang diperoleh. Seperti dilisankan oleh Newton, “cara yang sebaik-baiknya untukmemeriksa sifat-sifat benda adalah dengan mengambil kesimpuland ari eksperimen-eksperimen.” Biarpun pendirian-pendirian ini bersesuaian sekalid engan penyelidikan ilmu modern, ia tidak diterima seluruhnya dalam masa Newton. Kepercayaan yagn berdasarkan pegangan, akal dan sifat lahir benda, yang biasanya diwarisi dari ahli-ahli filsafat purba, lebih disukai dari bukti-bukti eksperimentil.

Serangan-serangan terhadap karangannya oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan yang sudah diakui seperti Hygens dan Hooke begitu memarahkan Newton sehingga ia memilih untuk mengelakkan kemengkalan-kemengkalan dimasa depan dengan tidak menyiarkan apa-apa lagi. “Saya begitu diganggu,” katanya, “oleh pembicaraan-pembicaraan yang timbul dari penyiaran teori saya mengenai cahaya, sehingga saya menyatakan ketidak-tahu-maluan saya untuk melepaskan rakhmat yang begitu besar, seperti ketenangan saya, untuk berlari mengejar bayangan.” Ia bahkan menyatakan suatu kebencian yang keras pada ilmu sendiri, dan bersikeras mengatakan, ia telah kehilangan “sayangnya” yang lama padanya. Kemudian, ia harus “didorong, dibujuk-bujuk dan dikeroyok” supaya menulis karyanya yang terbesar, Principia. Pendeknya, penciptaan Principia kelihatan terjadi lebih kurang karena kebetulan.

Dalam tahun 1684, berkat perhitungan yang dibuat olehPicard, untukpertama kalinya keliling lingkaran bumi dapat ditentukan dengan eksak. Dengan memakai angka-angka yang diberikan oleh ahli astronomi Perancis ini, Newton mencobakan prinsip gravitasi untuk membuktikan bahwa daya yang membimbing bulan keliling bumi dan planit-planit sekeliling matahari, adalah daya gaya-berat. Kekuatan ini berbeda menurut massa dari benda-benda yang ditarik dan kebalikan kwadrat jaraknya. Newton selanjutnya memperlihatkan, bahwa hal ini berlaku bagi orbit ellips dari planit-planit. Tarikan gaya-berat menyebabkan bulan dan planit-planit tetap berada dijalan mereka, sambil mengimbangi kekuatan-kekuatan centrifugal dari gerakan-gerakan mereka.

Lagi-lagi, Newton lalai menyingkapkan penemuan raksasanya atas rahasia alam terbesar. Tapi sebagaimana jadinya, ahli-ahli yang lain sibuk mencari jawaban dari masalah yang sama. Beberapa ahli astronomi menyarankan, bahwa planit-planit itu terikat pada matahari berkat kekuatan gaya berat. Diantara mereka Robert Hooke, pengeritik Newton yang paling keras dan yang paling gigih, tapi tak seorangpun dari ahli-ahli teori itu yang berhasil memberikan bukti matematika. Pada saat itu Newton sudah mempunyai nama sbagai seorang ahli matematika dan ia dikunjungi oleh ahli astronomi Edmund Halley di Cambridge yang datang meminta pertolongannya. Waktu Halley menyatakan masalahnya, maka ia mengetahui bahwa hal tersebut telah dipecahkan oleh Newton dua tahun yang lampau. Disamping itu Newton telah menyelesaikan hukum-hukum dasar gerak dari benda-benda yang bergerak atas kekuatan gaya-berat. Anehnya ia tidak mempunyai maksud untuk menyiarkan penemuan-penemuannya itu.

Halley dengan segera melihat kepentingan hasil yang diperoleh Newton, lalu ia mempergunakan segala daya pembujuknya untuk menyakinkan Newton yang keras kepala itu supaya mengembangkan dan meng-exploitir penemuan-penemuannya. Karena terpengaruh oleh kegembiraan Halley dan karena perhatiannya sendiri hidup kembali Newton mulai menulis karya besarnya, Principia, yang disebut oleh Langer “sebuah lumbung yang sebenarnya dari filsafat mekanistik, salah sebuah karya yang paling asli yagn pernah dibuat orang”.

Satu hal, yang juga tidak kurang menarik hati dari Principia ini, ialah bahwa penyusunannya telah diselesaikan dalam masa 18 bulan. Selama itu dikatakan orang, Newton begitu asyik sehingga sering-sering ia lupa makan dan ia tidur sedikit sekali. Hanya suatu pemusatan pikiran yang paling khusyuk dan lama yang akan dapat menghasilkan perolehan kecedekiaan yang monumental seperti itu dalam waktu yang begitu singkat. Buku ini telah menghisap Newton, baik rohani maupun jasmani.

            Lagi pula, selama menulis buku ini, ketenangan pikiran Newton sangat terganggu oleh pertentangan-pertentangan yang biasa ada, terutama dengan Hooke, yang bersikeras, bahwa ia berhak menerima pengakuan sebagai seseorang yang menemui teori, bahwa gerakan-gerakan planit-planit dapat diterangkan dari hukum penarikan kebalikan kuadrat. Newton yang telah selesai dengan duapertiga dari Principia begitu marah oleh permintaan hak yang tidak benar itu, sehingga ia mengancam untuk mengenyampingkan bagian ketiga dan yang terpenting dari karangannya. Lagi-lagi Halley mempergunakan pengaruhnya dan berhasil mempengaruhi Newton untuk menyelesaikan buku itu seperti direncanakan semula.

Peranan yang dimainkan oleh Edmund Halley dalam seluruh sejarah buku Principia patut sekali dipuji. Tidak saja ia pertama-tama bertanggung jawab dalam meyakinkan Newton, untuk memulai pekerjaan tersebut, tapi ia juga memperoleh janji Royal Society untuk menerbitkannya dan dengan rela-hati ia mengesampingkan pekerjaan yang ia kerjakan sendiri untuk mengawasi pencetakan itu. Akhirnya, waktu Royal Society kandas memenuhi janjinya untuk mengongkosi pencetakan buku tersebut. Halley campur tangan lalu membayar seluruh ongkos penerbitan itu dari kantongnya sendiri, biarpun ia bukanlah seorang yang kaya dan masih mempunyai keluarga yang nafkahnya harus ia carikan.

Setelah mengatasi segala kesulitan, maka dalam tahun 1687 Principia keluarlah dari percetakan, dalam bentuk edisi kecil, seharga 10 atau 12 shilling sejilid. Halaman depannya dibubuhi imprimatur Samuel Pepys, yang waktu itu menjadi presiden Royal Society, “biarpun sangat disangsikan”, ulas seorang komentator, “penulis catatan harian yang terpelajar ini dapat mengerti bahkan satu kalimatpun dari yang terdapat dalam buku ini.”

Setiap ringkasan dari Principia dalam bahasa yang tidak teknis adalah sulit, jika akan dikatakan mustahil untuk dikerjakan, tetapi beberapa puncak-puncaknya dapat ditunjukkan. Buku ini sebagai suatu keseluruhan mempersoalkan gerakan benda-benda dikemukakan secara matematika, terutama penggunaan dinamika dan gayaberat kepada sistim matahari. Buku ini dimulai dengan hitungan differensial atau “fluxion” yang ditemui oleh Newton dan yang ia pakai sebagai alat kalkulasi dalam seluruh Principia ini. Kemudian diikuti oleh perumusan arti ruang dan waktu, dan sebuah pernyataan dari hukum gerak, sebagai dirumuskan oleh Newton dengan contoh-contoh penggunaannya. Prinsip fundamentil dinyatakan, bahwa setiap partikel benda ditarik oleh partikel-partikel lain dengan kekuatan kebalikan kuadrat dari jarak yang terdapat antara mereka. Juga diberikan hukum-hukum yang menguasai masalah dari benda-benda yang saling berlanggaran. Semuanya diutarakan dalam bentuk-bentuk geometri klassik.

Buku pertama dari Principia membicarakan gerakan benda-benda dalam ruang bebas, sedangkan yang kedua membicarakan “gerak dalam medium yang menahan”, seperti air misalnya. Dibagian yang terakhir, masalah yang ruwet dari gerakan zat cair dibicarakan dan dipecahkan, kemudian dibicarakan cara-cara untuk menentukan kecepatan suara, dan gerakan-gerakan gelombang yang dinyatakan dengan secara matematis. Disini diletakkan sendi-dasar bagi ilmu modern seperti fisika matematika, hydrostatika, dan hydrodinamika.

Dalam buku kedua dengan berhasil Newton telah mengungkai sistim dunia Descartes yang waktu itu sedang populer. Menurut teori Descartes, gerakan benda-benda langit disebabkan oleh pusaran-air. Semua ruang berisi suatu cairan encer, dan pada suatu saat tertentu maka zat-zat cair ini membuat pusaran-air. Misalnya sistim matahari mempunyai 14 pusaran, yang terbesar diantaranya berisikan matahari. Planit-planit berputar seperti sebuah cakram dalam pusaran angin. Pusaran-pusaran ini adalah penjelasan dari Descartes bagi phenomena gaya-berat. Newton memperlihatkan secara eksperimentil dan matematika bahwa “Teori Pusaran ini bertentangan seluruhnya dengan fakta-fakta astronomi, dan jauh daripada menerangkan gerakan dilangit, ia malah lebih mengacaukannya”.

Dalam buku-buku sebelum ini telah saya letakkan prinsip-prinsip dari filsafat (ilmu); prinsip-prinsip yang tidak bersifat filsafat tapi bersifat matematika ……….. Prinsip-prinsip ini adalah hukum dan syarat-syarat dari gerak-gerak tertentu, daya atau kekuatan ……….. Saya telah memberikan contoh disana-sini ……… dengan mengemukakan benda-benda yang lebih bersifat umum ………… seperti densitet (kepadatan) dan daya-tahan benda-benda, ruang-ruang yang bebas dari benda-benda dan gerakan cahaya dan suara. Tinggal kewajiban saya sekarang untuk menjelaskan bingkai sistim Dunia berdasarkan prinsip yang sama.

Kala menerangkan mengapa ia tidak menulis bukunya dengan cara populer Newton menyatakan:

Mengenai pokok persoalan ini, saya memang telah menyusun buku ketiga dengan cara yang populer supaya ia dapat dibaca oleh banyak orang, tapi kemudian mengingat bahwa mereka yang belum mendalami prinsip-prinsipnya tidak akan mudah melihat kekuatan dari konsekuensi-konsekuensinya dan sukar mengesampingkan prasangka-prasangka yang telah mereka anggap biasa selama ini. Karena itu untuk menghindarkan perdebatan-perdebatan yang mungkin timbul karena hal-hal tersebut, maka saya memilih untuk mengurangi substansi dari Buku ini dalam bentuk Dalil-dalil (dalam pengertian metematik), yang harus dibaca oleh mereka yang telah menguasai prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Buku-buku tersebut; karena telaah ini memerlukan waktu yang sangat banyak, bahkan juga bagi pembaca-pembaca yang pengetahuan matematikanya lebih dari memadai.

Karena itulah, maka gaya Principia dilukiskan orang sebagai suatu “kejauhan bening, yang ditulis dengan cara memisahkan diri dari seorang pawang yang tinggi.”

Pada permulaannya, Newton mengadakan suatu pemisahan fundamentil dengan kelampauan dengan mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan phenomena dunia dan phenomena langit. “Effek yang serupa dalam alam harus disebabkan oleh sebab yang sama,” demikian ia menjelaskan, “seperti pernafasan pada manusia dan hewan, jatuhnya batu dari Eropa dan di Amerika, cahaya api dapur dan matahari, pembalikan cahaya pada bumi dan pada planit-planit.” Dengan demikian ditiadakanlah kepercayaan kuno, bahwa dunia-dunia yang lain adalah sempurna dan hanya dunia kita yang tidak sempurna. Kini semuanya dikendalikan oleh hukum-hukum rasionil yang sama, dan “dengan demikian didirikan susunan dan sistim disuatu daerah”, seperti dikatakan oleh MacMurray, “dimana selama ini kerahasiaan dan kekacauan berkuasa.”

Suatu daftar dari pokok-pokok penting yang dibicarakan dibuku ketiga saja sudah mengangumkan. Dalam Buku ini ditentukan gerakan planit-planit dan satelit-satelit sekitar planit-planit, metodos untuk mengukur massa matahari dan planit-planit diperlihatkan; dan kepadatan bumi, perjalanan siang dan malam, teori pasang, orbit komet, gerakan bulan, dan soal-soal yang bersangkutan dengan itu dibicarakan dan dipecahkan.

            Dengan teori “gangguan” Newton membuktikan bahwa bulan ditarik baik oleh bumi maupun oleh matahari dan karena itu orbit bulan jadi terganggu oleh tarikan matahari, biarpun bumi telah menyediakan tarikan yang lebih besar. Seperti itu juga, planit-planit berada dalam kekuasaan gangguan. Matahari bukanlah pusat yang stasioner dari unviersum, seperti diyakini orang sebelumnya, tapi ia ditarik oleh planit-planit; planit-planit ini ditarik oleh matahari, dan bergerak dengan cara yang sama. Diabad-abad kemudian, penggunaan teori gangguan itu telah menghasilkan penemuan planit-planit Neptunus dan Pluto.

Massa berbagai planit dan massa-massa matahari ditentukan oleh Newton dengan memperbandingkannya dengan massa bumi. Menurut taksirannya kepadatan bumi adalah antara 5 dan 6 kali kepadatan air (angka yang dipakai ahli-ahli ilmu pengetahuan sekarang ialah 5,5). Atas dasar ini Newton menghitung massa matahari dan massa planit-planit dan dengan satelit-satelitnya, suatu hasil yang disebut Adam Smith “melampaui apa yang dapat dicapai oleh pikiran dan pengalaman manusia”.

Selanjutnya, diterangkan kenyataan, bahwa bumi bukanlah sphera yang murni, tapi agak pecak dikutub-kutubnya disebabkan oleh putaran. Tingkat kepicakan ini dihitung. Karena kutub-kutub yang agak picak dan kemeledutan kecil dikhatulistiwa, maka Newton menarik kesimpulan bahwa kekuatan gayaberat dikutub-kutub akan lebih kurang dari dikhatulistiwa – suatu phenomena yang menyebabkan adanya siang dan malam, ialah gerakan conical dari sumbu bumi, yang menyerupai sebuah gyroskop. Dengan jalan menelaah bentuk planit selanjutnya, kemungkinann untuk menaksir panjangnya siang dan malam dipanit diperlihatkan. Penggunaan lain dari hukum gaya-berat universil adalah dalam pemeriksaan masalah pasang oleh Newton. Jika bulan sedang penuh, air dibumi mengalami penarikan maximum lalu terjadilah pasang naik. Juga matahari mempunyai pengaruh atas pasang, dan jika matahari dan bulan sebaris, maka pasang berada ditingkat paling tinggi.

Soal lain yang disorot oleh Newton yang menarik perhatian umum ialah soal komet. Teorinya mengatakan bahwa komet-komet yang bergerak karena tarikan matahari, menempuh suatu jalan berbentuk ellips dengan kebesaran yang luar biasa sekali, sehingga diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Dengan demikian komet-komet yang selama ini dipandang oleh mereka yang percaya takhayul sebagai tanda-tanda bala, sekarang mendapat tempat yang wajar sebagai suatu phenomena langit yang indah dan tidak merusak. Dengan mempergunakan teori-teori Newton mengenai komet (bintang-bintang beredar) Edmund Halley berhasil untuk menentukan dan meramalkan dengan tepat munculnya kembali Komet Halley yang terjadi kira-kira sekali 75 tahun. Jika sebuah komet sekali sudah dikenal, maka tempuhannya selanjutnya dapat ditentukan dengan pasti.

Salah sebuah dari penemuan-penemuan yang telah diperbuat oleh Newton yang sangat menakjubkan adalah metodos penaksiran jauhnya sebuah bintang tetapk, berdasarkan jumlah cahaya yang diterima bumi demi pembalikan sinar matahari dari sebuah planit.

Kitab Principia tidak mencoba menjelaskan masalah “mengapa” dan hanya masaalah “bagaimana” dari universum. Kemudian, sebagai jawaban atas tuduhan bahwa skema yang ia perbuat adalah suatu skema yang seluruhnya mekanistik, dan tiada memberikan lowongan bagi sebab-sebab yang essentiel atau bagi Maha Pencipta, Newton menambahkan suatu pengakuan kepercayaan pada edisi kedua dari hasil kerjanya.

Sistim matahari, planit-planit dan komet-komet yang begitu indah hanya bisa berjalan berkat rencana dan penguasaan dari suatu kecendekiaan, suatu zat yang maha berkuasa ….. Sebagaimana seorang buta tidak arif sama sekali mengenai warna, demikian juta kita tidak arif bagaimana caranya Tuhan yang Maha Tahu memahami dan memandang segala-segalanya.

Menurut kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun Principia adalah suatu hasil yang gemilang, pengagum-pengagum Newton yang paling setia mengakui, bahwa ia tidak ditulis dalam suatu keadaan hampa. Seperti dinyatakan oleh Cohen:

Sintesis besar Newton didasarkan atas karya-karya ahli-ahli sebelum dia. Kelampauan terdekat telah menghasilkan geometri analitika Descartes dan Fermat, aljabar Oughtred, Harriot dan Wallis, hukum gerak kepler, hukum benda-benda jatuh Galileo. Juga jaman ini telah menghasilkan hukum komposisi-komposisi kecepatan Galileo – suatu hukum yang menyatakan, bahwa gerak dapat dipecah menjadi bagian-bagian komponennya, setiapnya bebas dari yang lain (misalnya gerakan sebuah peluru terdiri dari suatu kecepatan kedepan yang seragam dan kecepatan  dipercepat kebawah seperti yang terdapat pada benda yang jatuh dengan bebas). Faktor-faktor yang telah dikemukakan diatas adalah beberapa dari ramuan-ramuan yang menunggu suatu sintesis Newton. Tapi kecemerlangan Newtonlah yang memberikan suatu sintuhan yang gemilang; untuk akhirnya memperlihatkan, sekali dan untuk selamanya, cara bagaimana unversum tersusun serta dikendalikan oleh hukum-hukum matematika.

Jelas bahwa dunia membutuhkan, seperti digambarkan oleh jeans, “seorang yang sanggup membuat sistim, mengadakan sintesis dan meluaskan keseluruhannya ini; dunia telah menjumpai kebutuhannya dengan keluarbiasaan yang tak ada taranya pada diri Newton”.

Newton sendiri mengakui, bahwa “Sistim dunia”-nya mekanika universumnya, telah dibangunkan atas usaha-usaha yang dimulai oleh Copernicus dan yang dilanjutkan oleh Tycho Brabe, Kepler, dan Galileo. “Saya dapat memandang lebih jauh dari orang-orang lain,” kata Newton, “karena saya berdiri atas bahu raksasa-raksasa.”

Sebetulnya sebab dari pertentangan-pertentangan yang telah mengganggu kehidupan Newton adalah gelora intelektuil yang terdapat dalam masa Newton. Udara penuh dengan teori-teori baru dan berjumlah-jumlah ahli ilmu pengetahuan asyik menyelidikinya. Jadi tidaklah mengherankan jika dua orang yang bekerja dengan tiada hubungan dan pada waktu yang sama menemui penemuan yang sama. Hal ini telah terjadi pada kedua penentang-penentang Newton yang utama, Leibniz dan Hooke. Leibniz menemui perhitungan differential dan Hooke mengemukakan teori gayaberat universil, keduanya agak kemudian dari Newton. Tapi mereka telah mengumumkan hasil mereka terlebih dahulu, karena Newton tak menghiraukan untuk menyiarkan hasil pekerjaannya.

Penerimaan jamannya terhadap Principia lebih baik lagi di Inggris dan Skotlandia daripada di Benua Eropa. Umumnya boleh dikatakan lambat. Seperti telah disadari oleh Newton, pengarifan kerja ini menghendaki suatu pengetahuan ilmu matematika yang besar. Sifat luar biasa dari karya ini diakui, bahkan oleh mereka yang hanya mengerti sedikit sekali dari sumbangan yang diberikan oleh Newton. Lambat-laun, ahli-ahli ilmu pengetahuan dimana-mana menerima sistim Newton, dan diabad ke-18 sistim ini telah beroleh kedudukan yang kukuh dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sehabis Principia, Newton kelihatannya seolah-olah kehilangan perhatian yang aktif terhadap penyelidikan ilmu pengetahuan, biarpun sesudah penerbitan kitab tersebut ia masih hidup selama 40 tahun. Selama masa ini ia menerima lerbagai kehormatan; diangkat jadi “Master of the Mint”, diangkat jadi bangsawan oleh Queen Anne, dipilih jadi presiden Royal Society mulai tahun 1703 sampai ia meninggal dalam tahun 1727, mengalami penerbitan edisi kedua dan ketiga dari Principia, dan umumnya terpandang dan dimuliakan.

Penemuan-penemuan ilmiah dalam abad ke-20 telah merubah atau memperlihatkan kekurangan-kekurangan dalam karya Newton, terutama yang berkenaan dengan astronomi. Teori kenisbian Einstein, misalnya menyatakan, bahwa waktu dan ruang tidaklah mutlak sifatnya, seperti diajarkan oleh Newton. Sungguhpun begitu, seperti telah dinyatakan oleh berbagai ahli ilmu pengetahuan dan teknologi struktur sebuah pencakar langit, keamanan sebuah jembatan kereta api, gerakan sebuah mobil, penerbangan sebuah pesawat udara, navigasi kapal menyeberangi samudera, pengukuran waktu, dan bukti-bukti lain dari peradaban kita sekarang pada hakikatnya masih tergantung pada hukum-hukum Newton. Seperti ditulis oleh Sir James Jeans, prinsip-prinsip Newton “tidak mencukupi hanya jika ia dibandingkan dengan kesempurnaan luar biasa dari ilmu pengetahuan modern. Jika seorang ahli astronomi ingin menyiapkan “almanak nautika”nya atau membicarakan gerakan-gerakan planit, boleh dikatakan ia cukup mempergunakan skema Newton saja. Seorang insinyur yang sedang membangun sebuah jembatan atau sebuah kapal atau sebuah lokomotip akan berbuat seperti apa yang ia lakukan sekarang sekiranya skema Newton tidak pernah dibuktikan ketidak-cukupannya. Hal yang sama ditemui juga pada seorang insinyur listrik, apakah ia sedang memperbaiki sebuah telpon atau membuat rencana sebuah stasiun tenaga. Ilmu pengetahuan hari ini masih bersifat Newtonia seluruhnya; dan hampir tak mungkinlah untuk menaksir berapa banyak hutang ilmu kepada pikiran Newton yang jernih dan menukik yang telah menempatkannya dijalan yang benar, begitu kukuh dan meyakinkan sehingga tidak ada orang yang paham metodos-metodosnya akan menyangsikan kebenarannya”.

Penghormatan yang dilakukan oleh Einstein kepada Newton akan meniadakan setiap kesangisan dari ahli-ahli filsafat yang bersaingan. “Baginya alam adalah sebuah buku terbuka, yang huruf-hurufnya dapat ia baca dengan tiada susah payah. Dalam satu pribadi ia kumpulkan ahli eksperimen, ahli teori, ahli mekanik dan tidak kurang dari itu seorang seniman dalam pengucapannya”.

Penilaian Newton sendiri terhadap kehidupannya yang ia perbuat pada masa akhir dari suatu hidup yang panjang, adalah sangat khas bagi sifatnya yang rendah hati; “Saya tidak tahu bagaimana saya dalam mata dunia, tapi bagi diri saya sendiri, saya hanya seolah-olah seorang budak kecil tegak ditepi pantai, yang menghibur dirinya sendiri dengan sekali-sekali menemui sebuah karang yang lebih halus atau sebuah lokan yang lebih bagus dari yang biasa, sedangkan samudera kebenaran terbentang didepannya dengan tidak terselami sama sekali”. (*)

Continue Reading

Books

Sigmund Freud; Die Traumdeutung (Tafsir mimpi-mimpi)

mm

Published

on

Dari segala cabang ilmu, umumnya diakui bahwa psykologi adalah yang paling gelap dan mystik, yang paling tidak peka terhadap bukti-bukti ilmiah dari ilmu yang manapun juga. Seyogiyanya keruwetan dan hal-hal tak disangka-sangka memang tak bisa dielakkan, karena ahli-ahli psikologi berurusan dengan suatu phenomena alam yang paling misterius; jiwa manusia. Sebuah teori kimia fisika dapat diperiksa atau disalahkan dengan pertolongan teknik laboratorium, tapi berlakunya satu teori psykologi adalah suatu hal yang tak bisa diperlihatkan. Itulah sebab adanya keributan pertentangan pendapat yang berkecamuk sekitar Sigmund Freud dan psykoanalisis selama lebih dari 60 tahun.

Tapi biar bisa diperlihatkan atau tidak, teori-teori Freud telah mendjalankan pengaruh yang tak ada toloknya pada pemikiran modern. Bahkan Einstein tak dapat menggamit khayal atau memasuki hidup orang-orang sejamannya seperti telah diperbuat oleh Freud. Dalam menjelajah daerah jiwa yagn tak dikenal, Freud telah merumuskan cita dan istilah yang sekarang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sebetulnya setiap lapangan – kesusasteraan, seni, agama, anthropologi, pendidikan, hukum, sosiologi, kriminologi, sejarah, biografi dan telaah-telaah lain mengenai masyarakat dan individu – merasai akibat ajarannya.

Tapi sebenarnya dalam ajarannya sedikit sekali kemanisan dan penjelasan. Seorang pembahas yang agak lucu mencatar:

Bagi seorang yang tak mengetahui, dengan tersebarnya  teori Freud, ia kelihatannya seorang penggaduh terbesar dalam sejarah pikiran manusia, yang telah merubah telucon manusia dan kenikmatan-kenikmatan mesra menjadi tekanan-tekanan yang kering dan misterius, yang menemui kebencian diakar cinta, kebusukan dijantung kesayangan, noda dalam kesayangan kekanak-kanakan, dosa dalam kebaikan hati, dan kebencian yang ditekan terhadap ayah seseorang sebagai suatu warisan manusia yang normal.

Sungguhpun begitu, oleh karena Freud, manusia sekarang berpikri lain sekali tentang dirinya. Mereka terima sebagai hal yang biasa konsep-konsep Freud seperti: pengaruh bawah-sadar pada sadar, dasar kelamin dari neurosis, adanya dan pentingnya sexualitet infantil, fungsi mimpi, komplex oedipus, pengendalian, pengengkaran dan transferensi (pemidahan). Segi-segi kelemahan manusia, seperti salah sebut, lupa nama dan tak ingat janji beroleh arti baru jika dilihat dari sudut pandangan Freud.

Pada saat ini sulit untuk membayangkan bahwa prasangka-prasangka yang harus diatasi Freud untuk menyebarkan ajarannya bahkan lebih keras lagi dari yang ditemui oleh Copernicus dan Darwin.

Waktu Freud dilahirkan di Freiberg, Moravia, kitab Asal-usul spesi-spesi belum lagi terbit. Tahun itu ialah tahun 1856. Seperti Karl Marx, dalam silsilah moyang Freud termasuk beberapa orang rabbi; tapi berbeda dengan marx, Freud berkata; “Saya tetap tinggal Yahudi.” Ia dibawa ke Wina waktu ia berumur 4 tahun dan ia tinggal diasana boleh dikatakan selama kehidupan dewasanya. Ayahnyalah, seorang saudagar wol, menurut penulis riwayat hidupnya yang utama, Ernest Jones; yang menjadi sebab makanya ia menaruh “sikap skeptis yang getir terhadap gonta-ganti tak tentu dari kehidupan, biasa untuk menunjukkan suatu moral dengan mengutip sebuah anekdote Yahudi, murtad dalam soal-soal agama”. Ibu Freud, seorang pribadi yang ramah dan lincah hidup sampai umur 95 tahun. Sigmund adalah anaknya yang pertama dan yang paling ia sayangi. Frend kemudian menulis, “Seorang laki-laki yang selalu menjadi kesayangan ibunya untuk selamanya dalam hidupnya akan menyimpan perasaan seorang penakluk, dan menaruh kepercayaan kepada sukses yang sering sekali menghasilkan sukses yang nyata.”

Dimasa mduanya Freud sangat sekali tertarik pada teori-teori Darwin, karena ia merasa, bahwa “teori-teori ini memberikan harapan kemanjuan yang luar biasa dalam pengertian kita tentang dunia”. Setelah memutuskan untuk menjadi dokter Freud belajar di universitas Wina untuk mempelajari ilmu kedokteran dimana ia dalamt ahun 1881 memperoleh ijasah dokternya. Sebagai seorang dokter mdua yang tetap dirumah sakit umum, ia melanjutkan pelajarannya mengenai neurologi dan anatomi otak. Beberapa tahun kemudian datanglah titik perkisaran nasibnya yang kelak akan membangunkan kemasyurannya diseluruh dunia. Sebuah beasiswa untuk berkunjung membawa ia ke Paris dimana ia bekerja dibawah Jean Charcot – waktu itu seoran ahli patologi dan meurologi Perancis yang terkenal. Disini ia beroleh kontak langsung dengan pekerjaan-pekerjaan Charcot mengenai hysteria dan pengobatannya dengan jalan sugesti hypnotis. Charcot membuktikan demi kepuasan Freud “kesungguhan phenomena hysteria, timbulnya yang sering pada manusia, penyebab paralyse (kelumpuhan) hysteria dan kemengkeretan-kemengkeretan disebabkan sugesti hypnotis”, dan kesamaan-lahirnya yang dekat dengan serangan-serangan yang sebenarnya.

Tapi setelah kembali ke Wina, Freud tidak berhasil meyakinkan dokter-dokter sejawatnya perihal dasar ilmiah pengobatan gangguan saraf dengan metodos hypnotis. Bahkan ia dihukum karena pendapat-pendapatnya yang radikal dengan menjauhkannya dari laboratorium anatomi otak. Semenjak itu, ia adalah seorang yang sunyi, jauh dari kehidupan akademi dan ia tak lagi mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan perhimpunan-perhimpunan kesarjanaan. Dalam praktek kedokteran partikelirnya, ia melakukan eksperimen dengan hypnotis selama beberapa tahun, tapi lambat-laun cara ini ia buang karena sedikit sekali orang yang dapat dijadikan subyek yang baikd an hypnosis kadang-kadang mempunyai akibat yang tak baik atas kepribadian. Sebagai gantinya, Freud mulai mengembangkan teknik yang disebut “assosiasi bebas”, yang semenjak itu menjadi standard praktek psykologi.

Dengan tiada sangsi lagi Freud adalah pendiri dari psikhiatri modern. Sebelum Freud, psikhiatri telah mempersoalkan simtom kegilaan seperti schizophrenia, dan psykosis maniac-depressif yang menghendaki pengawasan didalam suatu rumah sakit. Setelah memulai kerja kliniknya dengan pengobatan repressi dan konflik orang neurotis Freud segera sampai pada kesimpulan bahwa konflik-konflik seperti itu tidak terbatas hanya pada seorang neurotis, tapi juga khas bagi orang-orang yang sehat jiwanya. Selanjutnya, meurosis bukanlah penyakit dalam pengertian baisa, tapi adalah keadaan psykologis jiwa. Soal besarnya disini ialah bagaimana caranya mengobat gangguan pikiran ini yang begitu banyak ditemui. Berdasarkan pengamatan eksperimen, dan pengalaman-pengalaman dengan pasien-pasien Wina, sekitar akhir abad ke-19, Freud meletakkan dasar dari psykoanalisis.

Freud adalah penulis ilmu jaman kita yang paling subur, dan keragaman dari konsep-konsep baru dan sumbangan-sumbangan psykologi yang lahir dari penanya tidak mungkin ditemuid alam satu buku atau satu pidato. Dalam pandangannya sendiri, karya besarnya yang mungkin paling ia sukai, ialah Tafsir Mimpi yang terbit dalam tahun 1900, yang memuat hampri semua dari pengamatan-pengamatannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya, bahwa gangguan kelamin adalah faktor ajasi dalam etiologi, baik neurosis maupun psykoneurosis” – salah sebuah tiang-pokok dari teori psykhoanalisis. Dalam beberapa tahun kemudian. Freud juga telah mengerjakan konsepsi mengenai resistansi (penahanan), transferensi, sexualitet mada kanak-kanak, hubungan antara kenangan-kenangan yang tidak enak dengan fantasi, mekanisme pembelaan dan penekanan.

Sebuah ringkasan singkat dari ajaran-ajaran pokoknya akan menyingkapkan sedikit kerumitan psykoanalisis. Pertama-tama, psykhiatri dan psikoanalisis tidaklah sama. Psykoanalisis dapat dianggap sebagai bagian dari psykhiatri, dan biasanya digunakan hanya pada keadaan-keadaan gangguan kepribadian yang paling susah. Psykoanalisis dapat dirumuskan sebagai therapid alam pengobatan gangguan syaraf dan psykis. Menurut suatu lapuran yang baru, 300 dari 4000 orang ahli psykiatri yang diakui di Amerika adalah ahli-ahli psikoanalisis.

            Freud hanya kadang-kadang menaruh perhatian apda therapi individuil. Keadaan individu-individu yang tak seimbang ia anggap sebagai gejala-gejala penyelewengan ekonomi, sosial dan kebudayaan dari dunia jaman sekarang. Tujuannya ialah untuk menyerang penyakit itu pada akarnya.

Kebanyakan pengeritik sepakat bahwa hak Freud atas kemasyuran yang lama berdasar pada penemuannya dan penyelidikannya mengenai jiwa tak sadar. Dengan membandingkan pikiran manusia dengan sebuah gunung es, yang 8/9 bagiannya berada dibawah air, ia beranggapan bahwa pikiran itu sebagian besar tersembunyi  dalam tak-sadar. Dibawah permukaan terdapat motif-motif, perasaan-perasaan dan maksud-maksud yang disembunyikan oleh seorang individu bukan saja bagi orang lain tapi juga bagi dirinya sendiri. Dalam psykologi Freud, tak-sadar itulah yang berkuasa dan kegiatan-kegiatan sadar tidak  lebih dari kegiatan yang bersifat mengikut (lebih rendah). Dengan jalan memahami kedalaman-kedalaman dari tak sadar yang jauh dan yang tidak dikenal, kita dapat mengenal fitri batin manusia. Kebanyakan pemikiran kita menurut Freud, adalah tak sadar dan hanya kadang-kadang menjadi sadar.l pikrian tak-sadar ini adalah submer dari neurosis, karena individu itu mencoba membuang kedaerah itu kenangan-kenangannya yang tak ia sukai dan harapan-harapannya yang berakhir dengan kekecewaan. Tapi ia hanya berhasil menimbunnya jadi kesulitan-kesulitan dimasa depan.

Freud menganggap kegiatan mental satu individu sebagai sesuatu yang berlangsung pada tiga tingakt, yang dia namai Id, Ego dan Superego. Yang palign penting ialah Id. “Daerah Id,” kata Freud adalah bagian dari pribadi kita yang gelap yang tak dapat dimasukkan pengetahuan yang ada pada kita; sedikit tentangnya kita pelajari dari telaah mimpi dan dari pembentukan gejala-gejala neurotis.” Id adalah pusat dari naluri-naluri dan impuls-impuls primitif, yang menjangkau kebelakang sampai kekelampauan hewani manusia, dan ia bersifat hewani dan sexuil. Ia tak  sadar. “Id” itu, kata Freud “mengandung segala yang diwarisi, yang ada waktu dilahrikan, yang telah terpateri apda susunan diri”. Id itu buta dan tak kenal kasihan. Satu-satunya kehendaknya ialah memuaskan keinginan dan kenikmatan, dengan tiada memperdulikan akibat-akibatnya. Seperti dikatakan oleh Thomas Mann, “Ia tak mengenal nilai, tak mengenal buruk baik, tak punya moral.”

Bayi yang baru lahir adalah perwujudan dari Id. Lambat-laun Ego berkembang dari id ini dengan bertambah besarnya bayi itu. Ego itu tidak dibimbing seluruhnya oleh prinsip kesenangan, tapi ia dikuasai oleh prinsip kenyataan. Ego ini sadar akan dunia kelilingnya, dan mengakui bahwa kecondongan tak kenal aturan dari Id itu harus  ditahan untuk mengelakkan suatu bentrokan dengan masyarakat. Sebagai dilukiskan oleh Freud, Ego itu adalah medator, “antara kehendak-kehendak Id yang liar dan kendali-kendali dunia luar”. Karena dalam kenyataannya, Ego itu berlaku sebagai sensor terhadap keinginan-keinginan Id, dengan jalan menyesuaikannya kepada keadaan-keadaan yang realistis, dengan jalan menyadari bahwa pengelakan hukuman,bahkan kepentingan keselamatan diri sendiri, mungkin tergantung dari penekanan Id itu. Tapi dari konflik antara Ego dan Id ini mungkin timbul neurosis yagn sangat mengganggu kepribadian seseorang.

Akhirnya ada unsur ketiga dalam proses mental, yaitu Superego, yang secara umum dapat dirumuskan sebagai sanubari. Pengikut ajaran Freud di Amerika yang terkemuka, A.A. Brill, menulis:

Superego ini adalah evolusi mental tertinggi yang dicapai oleh manusia, dan terdiri dari endapan-endapan segala larangan-larangan, segala tatakrama yang diajarkan kepada seorang anak oleh orang tuanya dan pengganti-pengganti orang tua. Perasaan kesadaran batin semuanya tergantung dari perkembangan Superego.

Seperti Id, Superego adalaht ak-sadar sifatnya, dan keduanya selalu berada dalam konflik yang tak putus-putus, sedangkan Ego bertindak sebagai wasit. Superego adalah kampung halaman dari cita-cita akhlak dan peraturan-peraturan tingkah-laku.

Jika Id,Ego, Superego berada dalam keadaan rada selaras, maka individu itu akan seimbang dan berbahagia. Tapi jika Ego mengijinkan Id untuk melanggar aturan, maka Superego akan menyebabkan kesusahan, perasaan dosa dan pelaksanaan-pelaksanaan lain dari kesadaran batin.

Suatu konsep yang dekat sekali ikatannya dengan Id, ialah konsep yang dilahirkan oleh Freud; teorinya tentang libido. Ia mengajarkan bahwa semua impuls-impuls Id, dibebani oleh suatu bentuk dari “energi psykhis”, disebut libido yang terutama bersifat sexuil. Teori libido ini disebut orang “inti dari doktrin psikoanalisis”. Semua kerja-kreatif manusia, baik seni, hukum, agama dan sebagainya, dianggap sebagai perkembangan dari libido. Dalam penamaan energi sexuil, sebetulnya kata “sexuil” disini mempunyai arti yang luas. Pada kanak-kanak, termasuk kebiasaan-kebiasaan, seperti mengisap jari, mengisap botol, dan buang air. Ditahun-tahun kemudian, libido ini mungkin dipindahkan kepadea orang laind engan perkawinan, lalu beroleh bentuk gangguan sex, atau diutarakan dengan pertolongan ciptaan-ciptaan artistik, sastra atau musik – suatu proses yang disebut “penggeseran”. Menurut Freud, naluri sex itu adalah submer terbesar dari kerja kreatif.

Di bawah pengaruh libido, demikian Freud membela dalam suatu teori psykoanalisis yang barangkali paling kontroversial, kanak-kanak itu mengembangkan perasaan sexuil terhadap orang tuanya. Dimulai dengan kenikmatan indera pertama yang diperoleh dari minum dari susu ibu, budak itu kemudianmulai memperoleh suatu rasa ikatan cinta pada ibunya. Makin matang ia, pada suatu usia yang muda, budak laki-laki itu mulai merasakan sautu penarikan sexuil yang besar terhadap ibunya, sedangkan ayahnya ia benci dan ia takuti sebagai seorang saingan. Sebaliknya, anak perempuan, akan berkisar dari hubungan yang d ekat dengan ibunya dan jatuh cinta pada ayahnya, sedangkan ibunya menjadi pokok dari kebencian dan persaingan. Pada laki-laki teori ini disebut komplex Oedipus, diberi nama menurut suatu tokoh dongeng Yunani kuno yang telah membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Komplex Oedipus ini, menurut Freud, adalah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita yang primitif, yang telah membunuh ayah mereka dalam suatu topan kecemburuan. Jika ia telah dewasa maka seorang individu yang normal akan dapat mengatasi impuls-impuls Oedipus ini. Tapi individu-individu yang lemah, sebaliknya mungkin tidak pernah berhasil memutuskan ikatan pada orang tua ini dan dengan demikian jatuh kedalam rentetan neurosis.

Sebetulnya, demikian Freud menjelaskan, “Neurosis-neurosis itu dengan tiada kecualinya adalah gangguan-gangguan dari fungsi sexuil”. Selanjutnya, neurosis tidak bisa disebabkan oleh perkawainan yang tidak berhasil atau hubungan percintaan orang dewasa yang malang, tapi semuanya dapat dikembalikan kepada komplex-komplex sex dari masa kanak-kanak. Dalam mencobakan teorinya pada lapangan antropologi, dalam bukunya Totem dan tabu, Preud berkesimpulan bahwa mythe alam adan keagamaan dari manusia primitif adalah hasil dari komplex-komplex ayanh dan ibu. Bahkan agama, menurut kepercayaannya, adalah suatu pengutaraan dari komplex ayah. Setelah memberikan analisa-analisa yang sampai keperincian terkecil dari beratus kejadian yang dibawa kepadanya untuk diobati, Freud mengangkat naluri sexuil menjadi peranan yang terpenting dalam pembentukan suatu kepribadian, dan sebagai sebab utama dari neurosis. Pandangan ini adalah suatu pandangan yang telah ditolak oleh beberapa ahli psikoanalisis terkemuka, seperti nanti akan diperlihatkan.

Karena ia dipaksa oleh masyrakat untuk menekan sebagian besar dari keinginan-keinginannya, individu itu dengan tak sadar menumpuk banyak “tekanan-tekanan” – begitulah ia dinamakan oleh Freud. Biasanya, kesadaran seseorang berhasil untuk menghindarkan “kekuatan kelam dari tak-sadar” yang telah ditekan untuk muncul kembali. Tapi orang-orang yang neurotis, mungkin harus melewati suatu masa gangguan emosionil yang sangat dalam disebabkan oleh penyensoran tersebut. Adalah kewajiban terapi psikoanalitis, kata Freud untuk “menyingkapkan tekanan-tekanan ini dan menggantinya dengan tindakan-tindakan pertimbangan yang mungkin lahir  dari penerimaan atau penolakan dari apa yang selama ini telah diengkari”. Karena sifat yang perih dari bahan-bahan yang ditekan ini, maka sipenderita akan mencoba menghindarkan pengungkapan tekanan-tekanannya. Freud menyebut usaha ini “tahanan”, yang harus dijadikan tujuan oleh dokter untuk diatasi.

Teknik yang ditemui oleh Freud mengenai tekanan-tekanan dan tahanan-tahanan adalah metodos yang kini terkenal sebagai “asosiasi bebas” – pembicaraan arus-kesadaran oleh seorang penderita yang berbaring disofa seorang ahli psykoanalisis, dalam sebuah ruang yang diterangi samar-sama muka. Penderita dianjurkan untuk “mengatakan apa saja yang datang kedalam pikirannya dan berhenti memberikan arah dengan sadar pada pikirannya”. Dinyatakan oleh Freudk, bahwa metodos asosiasi bebas ini adalah satu-satunya cara untuk mengobati neurosis, dan bahwa ia telah “mencapai apa yang diharapkan dari padanya, yaitu penyadarkankembali bahan-bahan yang ditahan-tahan oleh tahanan”. Seperti Brill melukiskan prosedur  Freud dengan penderita-penderitanya, “Diyakinkannya mereka supaya meninggalkan setiap refleksi sadar, kemudian menyerahkan diri mereka pada konsentrasi yang tenang, dan mengikuti kejadian-kejadian mental mereka yang spontan, dan menyampingkannya semuanya kepadanya. Dengan cara begini, akhirnya ia memperoleh asosiasi bebas yang  membawanya kepada asal dari gejala-gejala itu”. Hal-hal yang telah dilupakan, yang kemudian disauk kembali oleh subyek dari tak sadarnya, setelah barangkali pengobatan psikoanalitis yang berbulan-bulan, biasanya menggambarkan sesuatu yang sangat menyakitkank, tak disukai, menakutkan, atau hal-hal yang tak enak dari jaman lampau, hal-hal yang tak ingin ia ingati dengan sadar. Taklah dapat dielakkan dalam proses seperti itu, bahwa kenangan yang kacau itu akan mengeluarkan suatu masa kejadian-kejadian yang samar, tak ada hubungannya dengan persoalan dan mungkin tidak berguna sama sekali. Karena itu semuanya tergantung pada kesanggupan dokterlah untuk mempsikoanalisa bahan-bahannya  yang, seperti ditunjukkan oleh pelbagai pengeritik, dan dapat ditafsirkan dengan cara yang tak terhitung jumlahnya. Jadi intelegensi dan kecakapan dari ahli psikoanalis itu adalah sesuatu yang bersifat sangat penting.

Selama ini ia mengadakan pengobatan psikoanalitis pada penderita-penderita, Freud menemui apa yang ia sebut “suatu faktor yang luar biasa pentingnya”, suatu hubungan emosionil yang akrab sekali antara subyek dan analisnya. Inilah yang disebut “pemidnahan” (transferensi).

Penderita itu tidak puas dengan pandangan terhadap analis dalam arti yang realistis yaitu seorang penolong dan penasehat …… sebaliknya, penderita pemandangnya sebagai kembalinya – reinkarnasi – suatu tokoh yang penting dari masa kenak-kanaknya atau dari masa lampaunya, dan dengan demikian memindahkan kepadanya peraaan-perasaan dan reaksi-reaksi yang tak sangsi lagi disangkakan ada pada model ini.

Pemindahan ini “mungkin berkisar antara ujung-ujung suatu percintaan sexuil yang penuh gariah dan lengkap, dan ucapan yang terkekang dari tantangan dan kebencian yang getir”. Dalam  situasi ini, analis, “biasanya, ditempatkan ditempat salah seorang dari orang uta penderita, ayahnya atau ibunya”. Kata pemindahan ini, dianggap oleh Freud sebagai “alat terbaikd alam pengotan analitis”, tapi “sungguhpun begitu cara mempergunakannya tetap paling sulit dan dapat diangggap bagian yang paling penting dari teknik analisa”. Masalah “dipercahkan” kata Freud, “dengan meyakinkan penderita bahwa ia sedang mengalami kembali hubungan emosionil yang berasal dari masa kanak-kanaknya dulu”.

Alat yang lain yang berhasil untuk masuk kedalam konflik dan emosi batin, yang dikembangkan oleh Freud ialah analisa mimpi. Juga disini Freud adalah seorang pelopor. Sebelum dia, mimpi dianggap sebagai sesuatu yang tak punya arti atau maksud. Bukunya Tafsir Mimpi adalah percobaan pertama dari telah ilmiah yang sungguh-sungguh mengenai phenomena ini. Tigapuluh satu tahun setelah buku ini diterbitkan, Freud mengatakan bahwa “ia berisi, bahkan dalam ukuran saya sekarang ini, pokok-pokok  yang paling berharga dari segala penemuan yang telah saya perbuat demi kebaikan nasib”. Menurut Freud, “Dapat dibenarkan jika kita mengatakan bahwa sebuah mimpi adalah pengabulan yang menyamar dari keinginan yang ditekan”. Setiap mimpi menggambarkan sebuah drama dalam dunia bathin. “Mimpi adalah hasil dari suatu konflik.” Demikian Freud menjelaskan, dan “Mimpi adalah pengawal tidur,” Fungsinya lebih lagi untuk menolong tidur dari pada mengganggunya, dengan mengendurkan ketegangan-ketegangan yang datang dari kehendak-kehendak yang tak terkabul.

Dunia mimpi dalam pandangan Freud, dikuasai oleh tak-sadar, oleh Id, dan mimpi adalah penting sekali bagi seorang psikoanalis, karena mimpi ini dapat mengantarkan dia kedunia tak-sadar penderita. Dalam tak-sadar ini terdapat semua keinginan-keinginan primitif dan kehendak emosionil yang dijauhkand ari kehidupan sadar oleh Ego dan Supergo. Nafsu hewani selalu berada dibawah permukaan dan mendorong dirinya sendiri kedalam mimpi. Tapi bahkan dalam tidur, Ego dan Superego berjaga sebagai sensor. Oleh sebab itu, arti mimpi tidak selamanya jelas; mereka dinyatakan dengan lambang-lambag, dan memerlukan penafsiran seorang ahli. Sebagai lambang mereka tak dapat diterima begitu saja, kecuali barangkali dalam mimpi-mimpi anak yang bersahaja. Tafsir Mimpi menjanjikan berjumlah-jumlah contoh mimpi, yang sudah dipsikoanalisa oleh Freud.

Juga suatu petunjuk bagi kerja tak-sadar ialahs alah ucap, terlanjur lidah, dan kejadian-kejadian kecil yang dilahirkan kelanaan pikiran. “Seperti psykoanalisis telah mempergunakan tafsir mimpi” kata Freud, “ia juga dapat menarik keuntungan dari kesalahan dan kekhilafan yang begitu banyak diperbuat oleh manusia – tindakan-tindakan simptomatis, begitulah ia disebut.” Soal ini telah diselediki oleh Freud dalamt ahun 1904 dalam bukunya “Psykopathologi dari Kehidupan Sehari-hari”. Dalam buku ini ia jelaskan, bahwa “phenomena ini tidaklah bersifat kebetulan …. mereka punya arti dan dapat ditafsirkan, dan kita boleh mengambil kesimpulan tentang adanya impuls-impuls dan kehendak-kehendak yang menegang atau diterkan”. Lupa suatu nama mungkin berarti, bahwa kita tak menyukai api karena kacau dalam jam berangkat kereta api, maka inimungkin berarti bahwa ia tak beringin mengejarnya. Seorang suami yang kehilangan atau lupa kunci rumahnya mungkin tak bahagia dirumah dan tak ingin kembali. Suatu telaah mengenai kesalahan-kesalahan seperti itu dapat mengantarkan seorang psykoanalis kejaring pikiran tak-sadar.

            Kebebasan yang sama diperoleh dengan jalan lelucon, yang disebut Freud “keselamatan yang paling baik yang diperoleh manusia modern” karena melalui lelucon-lelucon ini kita untuk sebenat dibebaskan dari tekanan-tekanan yang biasanya diminta oleh masyarakat sopan supaya kita sembunyikan.

Barangkali karena peringatan-peringatan, kekecewaan bertambah atau pessimisme yang kelewat, pda dekat akhir kehidupannya Freud mulai mengasyiki “naluri mati”. Akhirnya ia menganggap konsepsi ini hampir sama pengtingnya dengan naluri sexuil. Freud beranggapan bahwa ada suatu naluri mati yang mendorong segala mahluk untuk kiembali kekeadaan organik dari mana ia berasal. Menurut pandangan ini, manusia selalu ditarik-tarik oleh keinginan pada hidup, yaitu naluri sexuil, dan oleh suatu kekuatan yang bertentangan, keinginan untuk menghancurkan,atau naluri kematian. Pada akhirnya tentu saja naluri kematian ini yang menang. Naluri ini menjadi sebab dari peperangan, dan contoh-contoh sadisme, seperti prasangka terhadap ras dan kelas, kenikmatan menghadiri pengadilan-pengadilan kriminil, adu sapi dan pemasungan.

Diatas ini secara singkat dilukiskan faset-faset pokok dari teori Freud. Ahli-ahli psykiatri sekarang ini terpisah jadi dua perkampungan yang lebih kurang bertentangan, yang pro dan yang anti Freud. Bahkan murid-muridnya telah merubah penerimaan bulat dari teori-teorinya selama limapuluh tahun ini. Salah seorang dari pengikut yang termula, Alfred Adler, memisahkan diri dari pihak Freud karena ia percaya bahwa Freud terlalu melebih-lebihkan naluri sexuil. Sebagai suatu doktrin alternatif, Adler mengajarkan bahwa keinginan setiap orang untuk membuktikan keagungannya adalah sumber dari tingkah laku manusia. Ia kembangkan pikiran dari “komplex rendah diri” yang mendorong seorang individu untuk berusaha beroleh pengakuan dalam suatu lapangan kegiatan. Pembelot yang lain yang terkenal ialah Karl Jung dari Zurich, yang juga mencoba mengurangi peranan sex. Jung membagi manusia menjadi dua type psykologis; type extrovert dan type introvert, biarpun ia membenarkan bahwa setiap individu adalah campuran dari keduanya. Berbeda dari Freud, Jung mementingkan faktor-faktor keturunan dalam perkembangan kepribadian. Umumnya, para pengeritik Freud memisahkan diri dari dia mengenai soal-soal seperti kepercayaannya yang ia kemukakan tentang pentingnya neurosis masa kanak-kanak, keyakinannya bahwa manusia dikendalikan naluri yang asal dan kaku, dan angkatan yang dbierikannya kepada libido atau energi sexuil sehingga beroleh tempat sentral dalam pembentukan kepribadian. Beberapa orang tak sependapat dengan Freud mengenai kepercayaannya bahwa assosiasi bebas adalah suatu teknik yang tak dapat diganti untuk menyelidiki tak-sadar, dengan menunjukkan terutama kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan kejadian-kejadian yang dihasilkan oleh metodos ini.

Sungguhpun begitu seperti dikatakan oleh seorang psykiatris:

Perubahan dan perkembangan selama 60 tahun tak sedikitpun mengurangi kebesaran atau pengaruh Freud. Ia terlalu membukakan dunia tak-sadar. Ia telah memperlihatkan bagaimana tak-sadar ini bekerja menjadikan kita seperti adanya kita sekarang dan ia telah memperlihatkan bagaimana cara untuk mencapainya. Banyak dari idee dan konsepnya harus dirubah oleh orang-orang yang datang sesudahnya berkat pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman lebih jauh. Kita boleh mengatakan bahwa mereka telah menulis sebuah Wasiat Baru bagi psykiatri. Tapi Sigmund Freud telah menulis Wasiat Lama. Karyanya selalu akan mempunyai arti besar.

Sebagian besar dari sikap kita terhadap kegilaan adalah disebabkan oleh Freud. Sekarang ini terdapat kecondongan yang main keras untuk menyatakan bahwa orang “neurotis dan psykotis sebetulnya sama saja seperti kita, Cuma lebih neurotis dan lebih psykotis”. Alexander Reid Martin menegaskan, bahwa “baik diakui atau tidak, semua rumah-rumah sakit psykotherapeutis sekarang ini mempergunakan unsur-unsur dan dasar-dasar dari psykologi Freud. Apa yang dulu dianggap suatu dunia yang tak dikenal, terlarang, dan grotesque, tak punyai arti dan gun, berkat Freud menjadi cerah dan penuh berisi arti, yang telah menarik perhatian dan pengakuan bukan saja dari ilmu kedokteran tapi dari segala ilmu pengetahuan sosial”.

Pengaruh pikiran Freud atas kesusasteraan dan seni dapat dilihat dengan sama jelasnya. Dalam roman, puisi, drama, dan bentuk-bentuk sastera yang lain, motif-motif  Freudian berkembang dalam tahun-tahun ini. Benard de Voto telah menguntarakan pendapat bahwa “tidak ada ahli ilmu pengetahuan lain yang mempunyai pengaruh begitu kuat dan meluas pada kesusasteraan”. Pengaruhnya atas seni lukis, seni pahat dan dunia seni umumnya tidak kurang dalamnya.

            Adalah suatu kewajiban yang sulit untuk menjumlahkan sumbangan yang bermacam-macam dari kecemerlangan Freud, karena kelebaran perhatiannya dan karenasifat yang kontroversial dari penemuan-penemuannya. Salah satu percobaan telah dilakukan oleh seorang pengarang Inggris, Reboert Hamilton. Dan kesimpulannya adalah seperti berikut:

Freud telah memetakan psykologi. Ia adalah seorang pelopor besar dan sebagian besar dari suksesnya adalah disebabkan oleh keasliannya dan gaya penulisnya. Sungguhpun sifanya nihilistis, tidak ada diluar sastera murni sistim yang begitu menarik, yang mempunyai gaya yang lebih bagus. Ia telah membuat dunia berpikir secara psykologis – suatu kebutuhan pokok bagi jaman kita dan ia memaksa manusia menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bersifat vital bagi kesejahteraan manusia. Dari thesis psykologi akademi yang steril dari abad ke-19 ia membawa anti-thesis psykoanalisis dengan pengengkaran-pengengkarannya yang kelam.

Seorang psykiatris Amerika yang tekemuka, Frederic Wertham, menuliskan soal itu dari sudut pandangan yang lain:

Orang harus menjelaskan, bahwa disamping kumpulan fakta-fakta klinik tentang penderita-penderita yang ia amati, Freud telah membawa tiga perubahan dasar dalam cara penelaahan kepribadian dan pathologi jiwa. Yang pertama ialah, bahwa orang mengira bahwa kita tak dapat bicara tentang proses psykologi sama sekali dan memikrikannya dengan logika pengetahuan alam. Ini baru mungkin tatkala Freud mengemukakan konsnep realistis dari tak-sadar dan memperkenalkan metodos-metodos praktis untuk menyelidikinya. Kedua, adalah pengemukaan suatu dimensi baru dalam psykopathologi; masa kanak-kanak. Sebelum Freud, psykiatri dipraktekkan seolah-olah setiap penderita adalah seorang Adam – yang belum pernah jadi budak kecil. Ketiga ialah pembukaannya terhadap penghargaan genetik dari naluri sexuil. Penemuannya yang sebenarnya disini terutama bukan bahwa kanak-kanak mempunyai kehidupan sex, tapi bahwa naluri sex itu mempunyai masa kanak-kanak.

Suatu penghargaan yang sama telah diutarakan oleh A.G. Tansley pada suatu “peringatan kematian” yang dipersiapkannya untuk Royal Society di London:

Sifat revolusioner dari kesimpulan-kesimpulan Freud jadi dapat dimengerti jika kita ingat, bahwa ia telah menyelidiki suatu lapangan yang belum digarap sama sekali, sautu daerah dari pikiran manusia kedalam mana belum ada orangpernah masuk sebelumnya, dan yang perbuatan-perbuatannya yang terbuka dianggap sebagai sesuatu yang tgakd apat diterangkan atau sebagai penyimpangan kehancuran, atau disia-siakan sama sekali karena ia berada dibawah tabu manusia yang paling keras. Adanya lapangan ini tidak diketahui. Freud dipaksa untuk menerima realitet suatu daerah tak-sadar dari pikiran manusia, dan kemudian mencoba memeriksanya dengan pertolongan diskontinuitet yang jelas dari rantai kejadian-kejadian jiwa yang sadar.

Akhirnya Winfred Overholser menyarankan, “Cukup alasan untuk percaya bahwa dalam masa seratus tahun yang akan datang Freud akan digolongkans atu kelas dengan Copernicus dan Newton sebagai salah seorang dari mereka yang membuka tepi-tepi langit baru dari pemikiran. Yang pasti sudah, ialah bahwa dalam masa kita tidak ada orang yang telah menyorotkan begitu banyak penerangan atas cara bekerja pikiran manusia seperti yang telah dilakukan oleh Freud.

Bulan-bulan terakhir dari kehidupan Freud yang panjang dialami dalam pembuangan. Setelah Austria diduduki oleh Naz ia terpaksa meninggalkan Wina dalam tahun 1938. Inggris memberikan asylum padanya, tapi kanker mulut telah menyebabkan kematiannya dalam bulan September tahun 1938. (*)

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: