Connect with us

Seperti Para Penyair

Tentang Kenangan Di Buku Harian

mm

Published

on

Kutemukan kenangan di buku harian, tentang malam dan kesunyian: tentang penantian tanpa musim dan angin, hanya sebuah waktu, yang terlalu pendek untuk akhirnya tahu sepucuk surat cintamu urung terkirim; melapuk dan menua, sepertiku sekarang, sepertimu sekarang. Kamu di mana, sekarang?

Kelam menengadah muka di ujung malam; menjadi halaman-halaman kosong dari buku harian yang gagal membangunkan rumah bagi waktu kita yang enggan menjelmakan kuda pacu agar bisa kita melaju ke dalam waktu; di mana kita akan duduk, sambil menganyam kerudungmu agar bila nanti turun hujan bisa kusembunyikan wajahmu dari kebekuan yang menarikmu ke dalam masa silam sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu.

Di gurun yang tiada terik, hujan tiba sepanjang senja, akankah pada kalbumu merentang kelambu dari benang paling halus kerudung kalbumu? Kerudung kenangan terbuat dari sehelai bulu matamu yang telah jadi kaku sebab dingin dari hujan; kau resapi dengan pandangan penuh duka di antara suara-suara malam yang mengabarkan keberangkatan? bahwa hari itu kita berpisah. Pada hujan sewaktu kita gagal melukis nama kita di kaca jendela. Kita lalu sama beringsut dalam dingin kaku, ingatkah kau?

Aku mencarimu di antara hujan yang merobohkan pohon-pohon, merobohkan pula jembatan-jembatan waktu—itu yang kutakutkan; dadaku menyesak luruh lunglai, terhuyung menembus kabut mencari sepanjang batas gapai, alangkah rindu kalbuku. “Ada apa?”

Oh di mana jalan agar petang mengantarkan kelam dan bisa lagi kutempuh jalan ketika puisi menjelma hujan sewaktu wajah kita memadahkan asmara di kabut kelam kota saat sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu usai membaca surat terakhir yang urung mengatakan aku cinta padamu.

Sabiq Carebesth | Di Kamar, Kalibata, Desember 2012

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seperti Para Penyair

Surat Yang Tak Kunjung Jadi

mm

Published

on

; susan gui

Pipimu rembulan merah
Aku rentang jarak meruah
Kelopak matamu gundukan waktu
Aku sajak pilu
Rambutmu alunan komedi Romeo
Aku sajak Suto

Telapak kakimu pasir sehalus kabut
Aku gemuruh ombak merenggut
Alismu pucuk sunyi
Aku jalan mendaki
Payudaramu bebatuan suci
Aku perahu kertas di deras sungai

Jemarimu puisi
Aku kelam di malam sepi
Bibirmu sayap merpati
Aku surat yang tak kunjung jadi

Engkau waktu yang berhembus
Aku peziarah yang terbius;

Pada kalbumu kutuntun pilu rinduku
Peluklah tangisku atau tawa kelamku

Malam tambah biru
Kututup jendela kamarku
Barangkali di luar rembulan berpendar
kian membiru…

Sabiq Carebesth | 16 Maret 2014

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Pelukis Senja

mm

Published

on

Office in a Small City by Edward Hopper

Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta di atas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup
Kita tak lagi bertanya…
Barangkali hidup memang bukan tanya, yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama

Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut pada gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
atau dalam kolam jiwanya
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu;
yang dahulu.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Juni 2012

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Senja Terakhir di Bulan Mei

mm

Published

on

Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia

Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

Sabiq Carebesth | Jakarta, 27 Mei 2012

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: