Connect with us

The Culture

Suatu Tempat dan Suatu Waktu di Daerah Bahasa

mm

Published

on

“Sajakku
Sajakku sajak
Aku bersajak bukan untuk membeli tuak
Dari candu jiwa hingga mabuk tergeletak
Sajakku bukan sajak
Aku mabuk untuk merengkuh utuh isyarat
Candu jiwamu kutenggak hingga tergeletak
Sajakku sajak mabuk
Sajakku bukan sajak
Sajakku sajak
Bukan aku; juga bukan kau
Sajakku hanya sajak
Sajak…Sajak…”

(Ciawi, Juli 2011)

| Pengantar Afrizal Malna Untuk Kumpulan Sajak “Memoir Kehiangan” |

Bahasa menjadi sebuah wilayah, sebuah daerah. Ia terjaga. Seperti entitas yang selamanya tidak berubah lagi. Di sana, bahasa menandakan suatu waktu, suatu masa, keadaan. Di sana, bahasa menyatakan penggunanya, pemakainya. Penggunanya kali ini seorang penyair, Sabiq Carebesth. Pilihan katanya, diksi dalam puisi-puisinya, menandakan bahasa sebagai sebuah waktu.

Puisi-puisi Sabiq dalam kumpulan ini, rata-rata ditulis tahun 2010 dan 2011. Tetapi 2010 dan 2011 bukan lagi menandakan realitas bahasa. Dalam bahasa yang digunakan Sabiq, 2010 dan 2011 hanya sebagai dokumen waktu. Bukan waktu sebagai kehidupan yang menahan kita di dalamnya. Realitas ini sama seperti seseorang yang kehidupan internalnya ditandai oleh produk-produk, ungkapan, rasa bahasa maupun perspektif-perspektifnya yang semuanya datang dari masa yang sama. Namun realitas internal ini berada dalam realitas ekstenal yang seluruhnya datang dari masa yang lain. Sebuah gerhana realitas dan gerhana waktu sekaligus.

Ia seperti pesawat telfon yang masih menggunakan kabel. Namun dunia di luarnya tidak lagi menggunakan kabel, melainkan sudah menggunakan sinyal. Sebuah gambaran yang mirip dengan salah satu puisi Sabiq (Pelukis dan Gadisnya). Puisi yang menggambarkan pelukis yang akan melukis gadis yang dipujanya. Tetapi gadis itu telah tiada. Dan sang pelukis juga kehilangan gambaran sosok gadis itu: aku tak sanggup jadi bayangan bagi kelammu.

Gerhana waktu yang membuat puisi-puisi Sabiq seperti sebuah perjalanan tidak untuk menempuh perjalanan itu sendiri, tetapi justru untuk berada dalam kendaraan yang mengangkutnya, yaitu bahasa: pujalah di dinding sepimu. Dalam kendaraan ini (dinding sepimu), kita kemudian bertemu dengan banyak hal dari berbagai perjalanan yang sudah berlangsung, pertemuan-pertemuan maupun perpisahan-perpisahan yang sudah sudah terjadi. Tetapi dalam kendaraan ini pula kita bertemu dengan kehilangan yang terus berlangsung, terus-menerus, di tengah banyak hal yang sudah terjadi. Dia yang kemudian melepaskan batas-batas ontologis untuk menghadirkan tatanan waktu yang dibawa oleh puisi.

Beberapa pilihan kata dalam puisi Sabiq seperti: kanvas jiwaku, semesta, kalbu, mahkota, senandung, seruling, nun muram, di bibir nasib, sulam kelambu merupakan diksi yang membuat bahasa berhenti di suatu waktu atau suatu masa. Ungkapan kanvas jiwaku mengandaikan sebuah masa dimana seniman pelukis masih menempatkan roh sebagai pencitraan terhadap seni lukis yang hidup, “jiwa yang terlihat” dalam pengertian S. Sudjojono (jiwa ketok). Hubungan antara manusia atau seorang seniman dengan media dan peralatan masih berada dalam hubungan langsung, berada dalam pesona yang memenuhi dirinya. Hubungan ini di masa kini kian menjadi hubungan materialistis atau fungsional. Perubahan ini berlangsung besama dengan menghilangnya diksi kalbu yang hampir tak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dunia kalbu, suara hati yang pernah romantik itu, tenggelam bersama berbagai perubahan yang melandanya.

 

Munculnya kembali diksi kalbu dalam puisi Sabiq, mengingatkan kembali tradisi puitik maupun komunitas semiotik yang membuat diksi ini pernah penting sebagai konsep yang menjelaskan nilai-nilai yang hidup dalam komunitas semiotik itu.

Hal yang sama dengan ungkapan di bibir nasib, mahkota, tudung sutra biru atau sulam kelambu. Komunitas semiotik di mana tubuh dengan objek yang digunakan tubuh masih berlangsung sebagai hubungan langsung yang prosesnya bisa diikuti. Bukan proses instan dalam pabrik. Komunitas semiotik di mana kemerdekaan masih merupakan tema bersama: Yang meronta meminta tanda. Bahwa hidup kita merdeka (“Masa untuk idaku”). Kemerdekaan dalam konsep komunitas semiotik ini telah kian bergeser dengan realitas masa kini dimana materialisme dalam budaya uang kian menjadi penanda utama.

Visi yang sama senilai dengan konsep kemerdekaan, kembali bisa ditemukan dalam puisi Sabiq: engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan… Judul puisi ini “Memoar Kehilangan”, sekaligus digunakan Sabiq sebagai judul untuk buku kumpulan puisinya ini. Judul yang memang mewakili visi tentang “waktu yang hilang yang mewarnai hampir seluruh puisi-puisi Sabiq. Penggunaan diksi Sabiq, yang menahan bahasa berhenti di wilayah pengguna maupun di wilayah waktu tertentu, membuat puisi-puisi Sabiq dalam kumpulannya ini melahirkan kembali alam dengan malam sebagai malam, langit luas, angin laut, tanda kepergian dengan menggunakan pantai maupun kapal, manusia dan alam yang masih bisa menari bersama di ruang terbuka.

Menari dan bernyanyi masih merupakan ekspresi penting dalam puisi Sabiq. Dalam beberapa strategi puisi yang ditulis Sabiq, unsur rima masih memainkan peran dengan permainan vokal a, I maupun u yang umum digunakan dalam penulisan sanjak, seperti sajak “Babak Asmaradana” ini:

____________________

Memilih kuda pacu
Niat hati mau melaju
Tapi tunggu dulu;
Bawalah serta masalalu

______________________________

Hal yang sama juga berlangsung dalam interior puisinya “Tetap di sini; Jangan kemana-mana”. Judul yang juga bisa dibaca sebagai “puisi pernyataan” tentang bahasa yang harus tetap di sini, tidak berubah bersama dengan perubahan politik maupun ekonomi. Atau dalam puisi di atas: Tapi tunggu dulu; bawalah serta masalalu. Bahasa harus terus mengandaikan kontinyuitas waktu, dan bukan mengukuhkan terbelahnya waktu antara masalalu dengan masakini.

Salah satu puisinya, Cermin Retak, mempertanyakan gadis-gadis desa yang pergi meninggalkan desanya, bekerja di kota sebagai buruh dengan gaji rendah dan tinggal dalam rumah kos murah. Tarikan kota kepada perempuan desa, walau kualitas hidup di kota jauh lebih buruk daripada di desa, memperlihatkan ambruknya desa dalam imajinasi sosial kita. Perempuan-perempuan desa pergi bersama dengan bahasa dan gaya hidup desa. Ungkapan gadis juga kian hilang dalam pergaulan bahasa di kota, di mana ungkapan ini mewakili komunitas semiotik sebelumnya untuk perempuan yang masih lajang atau perawan. Menahan bahasa untuk berhenti pada batas waktu tertentu, dalam hal ini signifikan untuk melawan perubahan yang kian menghancurkan kualitas hidup maupun imajinasi sosoial kita bersama:

_____________

Kemana perginya gadis desa
Kemana larinya ibu dan adik-adik
Mereka tidak ada di sekolah
Tidak di sawah
Pergi dari rumah
Jadi perempuan perkotaan
Ya jadi buruh
Tidur dikontrakan kumuh
Harus menipu diri sendiri
Setiap hari
Sebab gaji rendah

_____________________

Interior puisi seperti yang dilakukan Sabiq ini, pada satu sisi seperti melawan proses destabilisasi bahasa yang berlangsung terus-menerus sejak pemerintahan Orde Baru. Bahasa menjadi bagian dari mode yang terus berubah bersama dengan perubahan kekuasaan, pergeseran modal dan pasar, maupun perubahan gaya hidup. Sabiq menyebutnya sebagai “metafora waktu”, sebagaimana dengan salah satu judul puisinya: Aku terlempar pada bayangan hampa. Dari metafora kecantikan setubuh masa. Bayangan disandingkan lebih dekat dengan kecantikan, tubuh dan masa.

Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai memori. Memori yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas memori yang terlempar itu. Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Dan memori diperlakukan sebagai ibu kandung dari kepercayaan maupun sejarah identitas ini. Memori tertinggal dan selalu bersama dengan konteksnya sendiri.

Posisi memori dalam konteksnya, tidak tersentuh oleh konstruksi sejarah apa pun yang memprovokasinya, bahkan oleh konstruksi sejarah yang sistematis dan kontinyu terus berusaha menguasai waktu dan memperspektifkan realitas:

____________________

Ziarah Malam
….
Jika kami terlambat
adakah kami harus menebus dengan ribuan waktu?
Sedang bagimu betapa tak bergunanya menghitung waktu:
Waktu berlalu
Waktu bergerak maju
Mengitari kekinian mencari kemarin

_____________________

Memori, bahasa, puisi dan waktu merupakan personifikasi dari seseorang sebagai dia dari mereka yang berusaha menyelamatkan memori, ingatan, kenangan dari agresi sejarah. Walau memori ini hidup dalam sebuah perjalanan kehilangan terus-menerus. Memori seperti tidak mendapatkan waktunya untuk memasuki prosesnya sendiri, sekaligus tidak mendapatkan bahasanya untuk menjadi bagian dari para penghuni bahasa masa kini. Tetapi dengan cara ini pula personifikasi dari “dia-yang-kehilangan” itu mengingatkan kita kembali tentang waktu, bahasa sebagai tanda-tanda untuk membaca diri kita sendiri. Puisi di sini menjadi sebuah “gerhana waktu” dan “gerhana bahasa” sekaligus. Dia ditutupi oleh bayangannya sendiri sebagai wujud dari “dia-yang-kehilangan”. Visi dari “dia-yang-kehilangan” ini adalah mencari “yang-kemarin”, seperti dalam puisinya Ziarah Malam di atas.

Hampir seluruh puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam kumpulannya ini lahir sebagai gerhana bahasa dan gerhana waktu dari “dia-yang-kehilangan” itu. Saya degan sadar berusaha tidak menyertakan biodata mengenai Sabiq Carebesth untuk membaca kumpulan puisinya ini, hanya karena saya tidak ingin justru kehilangan “gerhana waktu” dan “gerhana bahasa” dalam puisi-puisinya.

Kesadaran yang sekaligus membuat saya menemukan pantulan puisi yang berlangsung terus-menerus antara waktu sebagai dokumen dan waktu sebagai kehidupan. Di antara keduanya adalah kehilangan: ditabur dipemakaman cinta yang kita matikan sendiri, merupakan pantulan puisi yang saya kira merupakan inti dari negosiasi waktu yang kemudian dilakukan Sabiq antara kenangan dengan masakini. Ungkapan ini berlangsung dalam puisinya Asmara Tanpa Senggama.

Negosiasi waktu seperti itu, antara kenangan dan sejarah, melahirkan semacam persuasi terhadap sesuatu yang tidak berhenti, walau kenangan telah berhenti. Persuasi sebagai hasil dari perjalanan pencarian di luar sejarah masakini. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah. Karena, pada kenyataannya, sejarah juga dikonstruksi dengan “permainan bahasa”:

___________________

Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu

Ia menatap padaku:
Seorang gila dalam segelas kopiku

Ia, serupa aku.
(Kepada segelas kopiku)

_______________________________

Dalam puisi di atas, negosiasi dan persuasi itu berlangsung sebagai tarian; janji pencarian sebagai tinta hitam. Keduanya adalah kegilaan, seperti kopi yang diteguk setiap hari. Dalam prosedur waktu puisi Indonesia modern di mana kesepian merupakan nyanyian bersama para penyair modernis umumnya, maka kesepian pada puisi-puisi Sabiq Carebesth merupakan keterkecualian: Kesepian diterima bukan sebagai terbelahnya waktu oleh perubahan. Melainkan, karena berhentinya kenangan pada periode tertentu bersama dengan bahasa, visi, hubungan-hubungan antara manusia dengan alam, maupun dalam pergaulan gender. Kesepian bukan dalam perspektif modernisme yang mencari masadepan sebagai harapan, melainkan justru mencari masa kemarin sebagai cara melihat sejarah dari dalam kenangan.

*

Lalu apakah puisi bagi Sabiq dalam perspektif waktu kehilangan itu? Di awal tulisan ini, saya mengutip salah satu puisi Sabiq yang berjudul “Sajakku”. Puisi ini melibatkan tuak, candu jiwa, mabuk dan isyarat sebagai material interiornya. Dalam interior ini terjadi penyangkalan dan penerimaan secara bersamaan antara “sajakku bukan sajak” dengan “sajakku hanya sajak”. Kata hanya merupakan toleransi yang khas antara penyangkalan dan penerimaan.
Pada puisi dengan judul Puisi Untuk Puisi, Sabiq memberi rincian lebih memantulkan puisi sebagai kejadian yang berawal dari kenyataan-kenyataan dalam perspektif tubuh dan media. Puisi dimetaforkan sebagai “bahasa-yang-tak-bisa-memilih-kata”, sebagai “suara-yang-tak-bisa-memilih-bunyi”, dan sebagai “pembaca-yang-tak-bisa-menafsirkan”:

________________________

Puisi tidak punya mata
Untuk memilih kata-kata

Puisi tidak punya telinga
Untuk mendengar bisikan kelana

Puisi tidak punya kekuatan
Untuk menerjemahkan sabda langit

Puisi tidak punya kuas dan kanvas
Untuk melukis keindahan

________________________

Tamsil yang digunakan Sabiq untuk menyatakan bagaimana puisi diposisikan, dalam kutipan puisinya di atas,

merupakan cara yang paling sia-sia untuk mensejajarkan puisi dengan media lainnya dalam mempersepsikan dirinya sendiri. Tamsil itu bukan konsep negatif dalam melihat puisi. Tetapi puisi memang ditempatkan sebagai media yang tak terbakukan. Puisi seperti sebuah penggaris yang berada di luar ukuran.
Puisi tidak berhubungan langsung dengan dialetika sejarah, karena ia bertopang pada kenangan. Konstruksi sejarah kadang dibuat untuk orang lupa kepada kebenaran, ketika sejarah seakan-akan digulirkan sebagai peristiwa publik. Menghidupkan kenangan menjadi cara untuk melawan lupa: Puisi adalah ingatan/ Museum bagi jiwa yang kehilangan/ Waktu yang menjelma kenangan/ Agar tak musnah dalam kegilaan/ Dari zaman yang gemar lupa. Puisi juga menjadi ukuran untuk melihat kualitas kehidupan publik dalam rejim politik yang menindas: Puisi adalah kebohongan/ Dari kemerdekaan yang terpasung/ Oleh kebodohan dan ketakutan.

Puisinya “Kepada Penyair”, merupakan cara yang sama dalam melihat hubungan antara puisi dan penyair sebagai hubungan yang non-representatif: Adakah yang lebih tak seirama seperti antara penyair dan puisi?/ Tak pernah sepaham tak perah kan bersekutu/ Dibentangnya jarak sejauh-jauhnya batas jarak/ Setiap jeda adalah jalan pulang ketitik mula/ Setiap mula adalah jarak sejauhnya.

Cara memisahkan antara puisi dan penyair melalui ekstrim seperti dilakukan Sabiq tersebut, merupakan pembacaan yang diposisikan sebagai peristiwa dimana penulis atau penyair telah mati lebih dahulu sebelum sampai ke tangan pembacanya. Pembaca dilahirkan dari penyair yang terlebih dahulu “dimatikan” di dalam teksnya sendiri. Karena itu penyair merupakan kehadiran yang non-representatif dari puisi yang ditulisnya sendiri.

Penyair telah dimatikan terlebih dahulu, sebelum pembaca melakukan hal yang sama berdasarkan berbagai strategi pembacaan. Dengan cara seperti ini pula “jarak” dibaca sebagai “optik”: titik yang menentukan penghadiran jarak dan segaligus titik yang menentukan bagaimana jarak itu dilihat atau diproyeksikan.

Hubungan optik dan titik, dalam hal ini bisa dibaca sama sebagai hubungan antara penyair dan puisi; juga optik dan titik sebagai bahasa dan kata. Maka, ketika optik dilihat sama sebagai titik, pembacaan pada moment ini terjatuh menjadi peristiwa kecelakaan narasi. Dan bahasa yang juga terjungkal ketika ia dipaksa dibaca oleh bentukan-bentukan baru pada bahasa akibat perubahan politik maupun ekonomi.

Kecelakaan pembacaan itu merupakan bagian dari adanya dinding yang dibiarkan kosong pada puisi-puisi Sabiq yang bergantung pada kenangan sebagai dinding utamanya, dan metafor Gadis sebagai bayangan ruang dari dinding tersebut. Kritik terutama datang dari adanya dinding yang dibiarkan kosong itu. Kekosongan yang membutuhkan detil lebih banyak lagi untuk mewujudkan kesaksian kenangan menjadi perayaan kenangan atas waktu yang hilang. Dalam puisinya yang saya kutip sebelumnya di atas (Puisi untuk Puisi), memang dihadirkan subyek dinding sebagai dinding yang tidak berjendela.

Dinding kusam dimana jendela dihadirkan tidak dalam bentuk fisiknya, melainkan sebagai lukisan pada dinding kusam itu. Ini merupakan visualitas yang provokatif untuk menghadirkan realitas dari waktu kehilangan, mata yang tak bisa memilih kata, dan telinga yang tak bisa mendengar bisikan. Visualitas yang sekali lagi menjelaskan sebuah masa dimana puisi dan senilukis masih berjalan sebagai kembaran bahasa antara kata dan titik, kalimat dan garis.

*
Gadis yang sosoknya tak tergambarkan lagi, yang sering dijadikan subjek metaforik untuk waktu kehilangan dalam puisi-puisi Sabiq, merupakan subjek yang berada dalam pergulatan terus-menerus untuk menempatkan kenangan dalam romantiknya. Kenangan yang dibuat menggunakan pakaian berlapis-lapis dari kesunyian, kehilangan, kematian, kerinduan, kesedihan, kemabukan, kegeliaan hingga kemarahan. Lapisan-lapisan ini membuat pantulannya sendiri untuk menggemakan kenangan. Dan rupanya hanya puisi yang bisa menggemakan kenangan seperti ini.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan mengembalikannya kepada salah satu puisi Sabiq yang ditulis dengan strategi prosa (Sublim).

Begini: Seperti setiap sunyi dan kesepian yang mengajarimu berlari lebih jauh; kedalam dirimu sendiri. (*)

*) Afrizal Malna , 2011

 

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Culture

Meniti Jalan Tengah Keindonesiaan

mm

Published

on

Pancasila sejatinya adalah jalan tengah bagi indonesia di tengah pergulatan dunia yang terbelah dalam kutub-kutub kepentingan dan ideologi. Sebagai jalan tengah pancasila merupakan kesadaran (ideologis) keindonesiaan kontemporer—yang akar sejarahnya justeru telah menancap lama, membumi dalam benak tiap founding father bangsa indonesia tak terkecuali segenap komponen rakyat pada tahun-tahun menentukan 1926-1945.

Mengalami kembali “jalan tengah” keindonesiaan kita—setelah pergulatan setengah abad lebih merdeka, mungkin bisa memberi jalan lapang untuk bangsa ini dalam menempuh kembali jalan benar lagi sesuai dengan karakter indonesia sebagai suatu bangsa dan kesatuan organisme negara kesatuan.

“Jalan tengah” yang dimaksud penulis dalam hal ini adalah karakter “monodualis” dalam menjalankan indonesia sebagai suatu organisme negara. Karakter “monodualis” berarti bahwa negara indonesia tidak menganut fanatisme paham ideologis baik sumbernya dari yang “kanan” mau pun yang “kiri”.

Maka konsekuensinya jelas dan tegas: fundamentalisme, radikalisme dan anasir totalitarianisme tidak akan pernah cocok apalagi menolong bangsa dan negara ini dalam menempuh takdir sejarahnya sebagaimana tercatat dalam Pancasila.

Dengan demikian Pancasila sebagai bentuk genuine dari persatuan dan gotong royong semua entitas pendiri negara indonesia, telah setuju menjadikan bangsa dan negara bernama Indonesia sebagai bangsa merdeka tidak hanya secara kedaulatan (wilayah), tetapi juga dalam ihwal ideologi atau cara pandang. Ideologi indonesia merdeka adalah pancasila. Sebagai ideologi maka ia berfungsi sebagai mata-baca dan rujukan “model” bagi pemerintah dan entitas rakyat dalam menghadapi tantangan perubahan tiap zamannya.

Dalam pancasila dan UUD 1945 itulah terdapat sikap dan pilihan “monodualis”, suatu jalan tengah di mana secara praksis terwujud misalnya dalam cara pandang indonesia yang “bebas aktif”, non-blok dalam hubungan internasional. Sementara dalam penataan urusan ekonomi politik dalam negeri, seperti tercermin misalnya dalam UUPA 1960 bahwa sistem agraria indonesia tidak menganut kapitalisme (dengan adanya batas maksimum pemilikan), tidak juga menganut sosialisme-komunisme (dengan tetap diakuinya hak milik pribadi). Sementara dalam soal sosio kultural (religiusitas) agama dan adat dalam posisi menerima pemerintah yang sah dan hukum nasional yang berlaku di negara indonesia. Hubungan di antaranya adalah berdasar hukum dan demokrasi yang terwujud dalam pancasila dan UUD 1945 itu sendiri.

“Jalan Tengah” Sebagai Paradigma

Jalan tengah dengan demikian adalah paradigma, suatu model guna mendekati perkembangan dan tantangan zaman bagi negara dan komunitas masyarakat indonesia. Sebagai “paradigma” bagi kehidupan sosial kemasyarakatan, kemajuan modelnya tidak ditentukan oleh kemampuan mengganti paradigma indonesia (pancasila) melainkan bagaimana terjadi pencapain yang terus membaik dalam bentuk dan isi dari mana indonesia memulainya dahulu. Kemajuannya ditentukan dari seberapa terus meningkat kesejahteraan masyarakatnya, membaiknya rasa keadilan sosial, terawatnya kebhinekaan, dan terus terpelihararanya gotong royong dan persatuan nasional.

Setiap kemunduran dan pelemahan atas hal itu berarti merupakan bentuk ujian bagi kemajuan pancasila dengan “jalan tengah”nya sebagai suatu model atau paradigma berbangsa dan bernegara serta pendekatan penyelenggaraan keduanya.

Dengan kesadaran demikian, wacana mengganti pancasila atau menuntut kemajuan dengan ukuran adanya bentuk baru model selain pancasila adalah tidak relevan.  Sebab ukuran kemajuannya yang tepat adalah the pursuit of excellence berupa taraf pencapain lebih maksimal yang diterima oleh komunitas masyarakat indonesia yang bhineka baik secara horizontal mau pun bhineka dalam konteks vertikal (tingkat ekonomi-kesejahteraan).

Tahun politik yang mulai menjelang sekarang ini sampai 2019 nanti, tidak selayaknya dan tidak pantas berjalan diluar jalan tengah keindonesiaan. Kemajuan politik hanya berarti meningkatnya kecerdasan politik masyarakat yang terekspresikan dengan makin berbudayanya masyarakat dalam politik.

Politik yang mendegradasi makna kebudayaan manusia hanya akan menghasilkan masyarakat politik yang dekaden, absurd dan pada dasarnya tidak memiliki cita-cita politik (kebudayaan) yang merupakan ukuran harkat dan kesejahteraan paling genuine. Karenanya penting untuk mengingatkan khususnya pada pemerintah Jokowi-JK agar tidak melupakan pembangunan kebudayaan manusia di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur. (*)

*) Sabiq Carebesth: Penyair, Founder of Galeri Buku Jakarta (GBJ)

Continue Reading

The Culture

Mengingat Gus Dur dan Soedjatmoko untuk Islam dan Indonesia

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth*

Anomali sosial dan demokrasi yang kita alami hari ini berkait erat dengan krisis pemikiran, krisis keterkaitan dan cenderung abaianya negara dalam memfasilitasi keadilan dan kesejahteraan sosial. Realitas tersebut berlangsung bersamaan dengan makin melemahnya bangunan civil society sebagai akibat dari krisis demokratisasi secara umum. Gejala-gejala demoralisasi terhadap agama, negara dan demokrasi serta politik itu sendiri, justeru berlangsung disebabkan oleh ulah sebagian besar kita sendiri karena kedangkalan pemikiran, minimnya pemahaman kebangsaan dan hilangnya tanggung jawab sosial.

Dalam kondisi serba prihatin semacam itu, kekosongan kepemimpinan pada level politik kebudayaan berlangsung masif sebagai wujud tiadanya panutan bangsa yang bisa dijadikan tempat bermusyawarah dan memberikan kita pandangan-pandangan serta harapan kemajuan politik dan kemungkinan terwujudnya keadilan sosial.

Di satu sisi kepemimpinan moral dalam paham kebudayaan politik kita terbukti telah menopang dan menolong kita dari kondisi krisis pada masa lalu yang pernah mendera kita. Para tokoh dan anutan bangsa seperti Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, dan Prof. Dr. Soedjatmoko, keduanya mewakili kepemimpinan dalam hal kebudayaan politik dan intelektual. Dua sosok yang sulit dicarikan padanannya pada figur tokoh publik di zaman kita sekarang.

Gus Dur penting sebagai tokoh bangsa dengan visi politik kebudayaanya yang terbukti telah mampu menyelamatkan lebih banyak umat dan bangsa indonesia dari kemungkinan jatuhnya lebih banyak korban serta terperosoknya bangsa dalam krisis yang lebih akut.

Dalam masa hidupnya baik sebagai Ketua PBNU mau pun sebagai Presiden Keempat Indonesia, dan juga sebagai Kiai, Gus Dur melewati begitu banyak ujian kebangsaan sebagai akibat dari berlangsungnya upaya pelanggengan oligarki politik lama dan beban liberalisasi ekonomi dari agenda politik global-kapitalisme. Tetapi Gus Dur mengajarkan bahwa kehadirannya dalam politik membawa visi politik umat yang berarti keselamatan sebanyak-banyaknya umat dan tegakanya bangunanan kebangsaan penting melampaui semua logika politik kekuasaan yang disandarkan pada kalkulasi kelompok atau hanya kepentingan personal belaka.

Bagi Gus Dur seperti seringkali diungkapkannya dalam banyak pidatonya “Kekuasaan bukan apa-apa!”. Kekuasaan bukan hajat pribadi yang harus dipertahankan dan dipertaruhkan dengan akibat jatuhnya korban dari rakyat dan kemungkinan terjadinya krisis kebangsaan. Justeru politik harus dalam rangka gotong royong menguatkan rakyat dan menjamin bergerak majunya proses kebangsaan. Suatu tauladan dari visi politik yang susah kita temukan penggantinya pada figur politik hari ini.

***

Sementara Prof. Dr. Soedjatmoko penting kehadirannya sebagai sosok inetelektual yang tegas dan jujur. Seorang kosmopolit intelektual yang pemikirannya berdiri kokoh di atas ketegasan asumsi-asumi inetelektualitas politik kebangsaan yang memihak pada kemanusiaan universal.

Soedjatmoko sebagaimana digambarkan Magnis-Suseno adalah pribadi intektual sejati. Ia rasional, tenang, cool, kritis, sedikit skeptis, mengambil jarak tetapi selalu optimis dan committed pada kejujuran intelektual. (Lihat pengantar Magnis-Suseno untuk buku pemikiran Soedjatmoko untuk kebebasan, Gramedia 1994). Darinya paling tidak kita mengambil beberapa pelajaran dan sikap seorang inetelektual yang mungkin bisa menjadi tauladan bagi kelompok inetelektual kita sekarang ini. (1) Soedjatmoko adalah pribadi inetelektual yang jauh dari sekat-sekat prasangka sektarian dan primordial, inti sikap dan pemikiran Soedjatmoko adalah menjunjung tinggi kebebasan. Bangsa indonesia akan maju menurutnya jika kerinduannya akan kebebasan terpenuhi dan beriring menjadi spirit dalam menyusun masa depan indonesia. Pandangan yang membuatnya terbuka bagi keragaman dan “liyan” tetapi dalam dirinya ia seorang pecinta tanah air sejati. (2) cita-cita inetelektual yang selalu dipangkunya adalah martabat manusia indonesia—dalam mana ia selalu berharap agar agama-agama dapat menjadi pembawa pola yang menjunjung tinggi martabat manusia. (3) Soedjatmoko adalah juga seorang inetelektual muslim, keturunan priyayi Jawa yang lahir dan besar di jantungnya tanah Minang, Sawahlunto. Maka ia tumbuh menjadi Jawa yang indonesia, muslim yang kosmopolit dan pluralis sejati. Tak heran pada masa-masa akhir hidupnya ia berkeyakinan bahwa perkembangan sehat bangsa indonesia dapat tercapai apabila agama-agama di tanah air berhasil menjalin hubungan positif.

***

Dalam satu kesempatan dialog bersama Gus Dur, Soedjatmoko mengungkapkan pemikirannya bahwa kebangkitan dan kemajuan dunia ke depan akan mengarah pada peradaban timur. Indikasi yang dimulai, menurut Soedjatmoko, dari telah memuncaknya negara-negara industri maju pada titik optimal perkembangan sejarahnya. Hal yang tidak bisa lagi dikejar oleh negara-negara berkembang sehingga negara berkembang di dunia ke tiga harus mengembangkan peradaban (sivilisasi) mereka sendiri.

Dalam catatan Gus Dur, Soedjatmoko pernah memperkirakan munculnya tiga peradaban dunia dari negara berkembang yaitu: yaitu peradaban Sinetik (bersumber pada daratan Cina), peradaban indik (bersumber pada ke-India-an) dan peradaban Islam yang membentang dari Asia tenggara hingga ke Maroko.

Perdaban pertama dan kedua sedang dalam tahapan yang mungkin membenarkan ramalan Soedjatmoko seperti kita lihat hari ini, tetapi peradaban Islam? Dan Islam Indonesia? Bukankah kita justeru melihat kehancuran di banyak mayoritas negara muslim akibat konflik dan perpecahan berkepanjangan? Pertanyaan sama juga pernah diajukan kepada Soedjatmoko waktu itu, dan atas serangan yang menganggap mustahil peradaban islam bisa dibangun kembali, ia menjawab justeru dinamika pertentangan itu sendiri yang akan membesarkan kebudayaan Islam menjadi hampir satu peradaban dunia. bukankah peradaban Eropa barat pada waktu itu mulai menjarahi dunia dahulu juga sering saling menyerang satu sama lain?

Gus Dur sendiri dalam tulisannya berjudul “Kebangkitan Kembali Peradaban Islam: Adakah Ia?” menggaris bawahi ramalan yang datanganya justeru dari seorang inetelektual dengan sikap hidup serba kosmopolitan seperti Soedjatmoko itu, dengan menyatakan bahwa yang penting justeru bagaimana berlangsung reaktualisasi dan reinterpretasi Islam untuk kemanusiaan secara universal. Hanya dengan cara itu peradaban Islam bisa kembali menjadi peradaban besar pada zaman kini, aktual dan bukan sekedar buaian glorifikasi. Islam indonesia bukan untuk kembali mewariskan arsitektur megah kaum muslim pada masa lalu atau formalisme islam di dalam konstitusi dan peradaban demokrasi kita, tetapi justeru Islam Indonesia diberikan kebebasan untuk mengembangkan diri dan berinovasi untuk membangun indonesia dan terdepan dalam memimpin kemajuan dan demokrasi indonesia.

Di indonesia, sebagai mayoritas agama dipeluk warga negara, Islam seharusnya memposisikan diri sebagai pengayom yang lain, ia harus memliki rasa lebih bertanggung jawab pada rasa aman dan terlindunginya kebebasan beragama oleh agama-agama lain. Dengan begitu keterkaitan antar agama akan melahirkan keterkaitan pemikiran yang padu untuk menopang kebebasan politik dan demokrasi indonesia dan pada akhirnya kemanusiaan secara universal di mana keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa ini dapat dilangsungkan.

Di sanalah letak kepemimpinan budaya dan politik yang harus diambil perannya oleh Islam Indonesia. Islam indonesia tidak boleh terjabak dalam hayalan glorifikasi semu dan terkotakkan dalam sekat sekterian mau pun primordial. Gus Dur dan Soedjatmoko telah memberikan tauladan sikap dan warisan visi pemikiran yang kita butuhkan untuk menjawab sebagian besar tantangan kebangsaan kita pada hari ini. Tinggal bagaimana kita mau jujur dan mengambil peran tanggung jawab baik sebagai warga negara mau pun sebagai umat beragama. Namun itu semua memang lebih mudah dalam tulisan ketimbang dalam praktiknya. (*)

_________________

*Sabiq Carebesth, Penyair. Pemimpin Redaksi Jurnal Budaya “Book Review & Culture” di Galeri Buku Jakarta.

Tulisan ini dimuat di kolom Opini harian Media Indonesia: http://mediaindonesia.com/news/read/82003/gus-dur-soedjatmoko-untuk-islam-dan-indonesia/2016-12-10

Continue Reading

The Culture

Mencintai dan Menjadi Diri Sendiri

mm

Published

on

Sabiq Carebesth*)

Dunia maya merenggut  hampir pada semua aspek kehidupan manusiawi  kita saat ini, membuat banyak dari kita perlahan mengalami krisis personal yang akut sebagai akibat dari rumitnya kehidupan paska-fakta (post truth). Semakin kita hidup dalam kemayaan semakin akut dan terancam eksistensi kepribadian kita.

Dunia maya dengan cara yang aneh merenggut kemayaannya sendiri dan bermetamorfosis menggantikan dunia kita yang nyata dan seharusnya. Lambat-lambat dunia nyata  bermigrasi dalam kemayaan dan kita menerima yang nyata sebagaimana yang maya. Bagi sebagaian orang tak ada lagi batas antara dunia nyata dan dunia maya, bahkan kerap dunia maya lebih penting eksistensinya daripada dunia riil sehari-hari.

Dunia nyata dalam zaman kita sekarang adalah dunia kecil di mana setiap hal buruk dan krisis di dalamnya kita abaikan. Kita bertahan bahkan meski sadar, memilih menjadi topeng-topeng dalam kemayaan.

Dalam dunia yang maya, dalam dunia yang tak menerima keluhan dan penderitaan, anonimitas tidak hanya berlaku pada sosok anonim tapi juga berlaku pada sifat dan cara kita menyembunyikan penderitaan dan krisis. Kita semua berkompetisi untuk menjadi eksis dengan segala hal baik yang menempel—sebab hal buruk dan penderitaan tidak pernah layak jadi pakaian eksistensial kita di dunia maya. Dengan demikian seakan tengah berlaku, bahwa dunia maya atau sebutlah alam digital, telah bertransformasi menjadi dunia yang ke-riil-annya kita akui dengan segala aspek rahasia yang kita ketahui—meski diam-diam.

Robohnya Personaitas

Dalam dunia maya kita hanya tahu bahwa seorang tengah menikmati kehidupannya, dengan jalan-jalan, berkumpul dalam pesta, makan enak dan kecenderungan pada kesan intelektualitas yang mengagumkan. Kita tak pernah benar-benar tahu bahwa seorang tengah dalam krisis pemikiran, krisis mentalitas dan personalitasnya tumbang karena hilanganya keberanian menampilkan sisi paling manusiawi dalam pengalaman hidupnya. Yang paling lazim adalah kita tak pernah benar-benar tahu bahwa di antara kita tengah terjebak dalam labirin kebingungan dalam memutuskan kebenaran pada fakta akibat serbuan hoaks sebagai hobi kolektif di era paska-kebenaran ini.

Dalam tulisan ini saya tidak mengarah untuk membahas dari aspek politik, melainkan bagaimana psikologi kebudayaan dalam personalitas kemanusiaan kita yang berubah. Robohnya personalitas membuat manusia kehilangan identitas dirinya yang asli. Lantas sederhananya, bagaimana menjadi diri sendiri dalam dunia semacam itu?

Menjadi diri sendiri adalah proses gradual yang hampir pasti dilewati dengan masa-masa suram, krisis, terbuang dan kehilangan sebelum pada akhirnya kita menemukan kebebasan jiwa dan pemikiran yang baik untuk diri kita dan kemampuan berkontribusi dalam membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik.

Merujuk ahli psikologi analitik Carl Gustav Jung, bahwa dalam proses “individuasi” (bukan individual) manusia dihadapkan pada masa-masa kering, krisis dan kesepian—meski itu adalah proses pemurnian dalam penemuan hakikat diri, yang sayangnya tiidak banyak orang bisa bertahan melewati fase menggelisahkan semacam itu.

Pertanyaan krusialnya adalah, di tengah gejalala robohnya personalitas karena manusia gagal dalam proses individuasinya, bagaimana jika gejala itu dihadapkan pada kenyataan objektif masyarakat  yang patologis? Masyarakat yang terdestruksi dan proses perkembangannya digagalkan oleh dunia maya dalam labirin paska fakta dan paska kebenaran? Diinterupsi oleh dunia inhuman?

Dalam sejaranya, fasisme kolektif atau kerumunan identitas yang membunuh eksistensi persona-persona pernah diprotes keras oleh para filsuf modern sebagai kritik atas dominasi ideologi yang menuntut hasil menyeluruh dan final. Filsuf seperti Soran Aabye Kierkegaard dan Albert Camus, menyuarakan protes krusial bahwa ideologi (apa pun ideologinya yang dilahirkan oleh modernitas dan pencerahan abad 19) telah sengaja mengabaikan eksistensi individu-individu. Kepribadian hanya diakui dalam tabir identitas keloktif yang mengelompokan individu dalam identitas-identas kolektif yang saling beradu kepentingan dan mendistrosi sisi manusiawi individu-individu—itu semua atas nama kepentingan utopis ideologi kekuasaan.

Mencari dalam Ambiguitas

Saat dunia inhuman memasuki jagad paska modern pada awal abad ke 20 lalu, pada saat sama dekonstruksi atas hal-hal besar dan bersifat menyeluruh mulai menggejala untuk mendesakkan kepentingan hal-hal kecil, keunikan dan parsialitas kecenderungan, abad yang kala itu dideklarasikan sebagai era matinya idologi (the end of ideology—Daniel Bell), meski tak lama kemudian—hari ini, era kita sekarang ini, “abad identitas” hadir menggantikan dan menjadi sama fasisnya terhadap individu-individu sebab ambisinya untuk menjadi tradisi baru yang langgeng. Itu lah ambiguitasnya yang mesti kita carikan bersama jalan keluarnya.

Saat ini kita hidup dalam era paska ideologi, paska, inhuman dan mungkin paskan transendental. Kita hidup dalam dunia yang bisa saja bukan paska itu semua, tetapi sedang mencari di antara kecenderungan masa lalu pada manusia, kita dalam dunia yang sedang mencari bentuk baru dengan kesadaran pengulangan atas dunia lama dengan menarik hal-hal baiknya.

Masalahnya adalah selalu ada kepentingan “bisnis” dalam semua proses itu sehingga seakan-akan dunia benar-benar tidak punya masalah sebab selagi manusia masih bisa memenuhi kebutuhan manusiawinya bukankan kemanusiaan berjalan baik? Masalahnya adalah tidak semua dalam kondisi baik dan tidak sedikit yang tidak bisa mengembangkan kemanusiaanya karena dikalahkan oleh dominasi dalam sifat dasar bisnis kalau tak boleh kita sebut kapiitalisme.

Inilah zaman paska hegemoni di mana tak satu individu atau institusi pun yang bisa mengontrol tatanan kehidupan. Bahkan sebaliknya semua entitas merasa memiliki hak dan kemampuan untuk menjadi hegemonik dan mengontrol dunia kita dengan kebenaran asumsi versinya sendiri—dan tentu saja rumusan kebenaran versinya.

Atau barangkali kecenderungan nihilistik dalam arti kecenderungan bersama untuk menilai ulang semua nilai akan segera menggejala atau mungkin telah berlangsung. Filsuf Friedrich Nietzsche yang dalam banyak karangannya telah lama merilis pandangan nihilis semacam itu seakan tengah menemukan momentum pembenaran bagi tesisnya. Dan jika kenyataan memang tengah memaksa kita menilai ulang semua nilai tak terkecuali falsafah dalam politik, agama dan juga ilmu pengetahuan-teknologi, apakah kemungkinan bahwa sebagaimana Nietzsche menyatakan “dunia adalah pengulangan abadi” akan menjadi tesis yang bisa dibenarkan?

Milan Kundera dalam novelnya “The unbreakable lightness” telah mengajukan jawaban negatif atas kemungkinan “pengulangan abadi sejarah” yang diajukan Nietzsche, bahwa bagaimana pun menurut Kundera, dunia selalu baru, pun peristiwanya terulang sebagaimana peristiwa sejarah pada masa lalu—di mana tetap saja derajat kefanaanya telah diredakan sehingga ia berlaku sebagai suatu kenangan saja atau dalam Bahasa Aristoteles disebut sebagai “memoir”.

Kekuatan Cinta

Namun meski kita bisa mengandaikan tesis Kundera benar, kita tetap harus mengakui bahwa jika kekejian dan sejarah pada masa lalu yang telah banyak mengorbankan manusia itu benar-benar terulang kembali bahkan secara abadi, kita tetap pantas khawatir bahwa ia dengan caranya yang baru pula akan memberikan pada dunia kita kekejian dan memoir kelam sejarah yang lebih parah.

Sehingga bijak untuk mengambil refleksi dari gagasan-gagasan kebudayaan semacam itu, bahwa bagaimana pun manusia adalah mahluk paling baik yang diciptakan Tuhan sehingga kesadaran itu mestinya melahirkan kemampuan “cinta” seperti disabdakan dalam “the art of loving” karangan Erich Fromm, di mana kehidupan ini akan menjadi baik jika manusia memiliki cinta dalam dirinya dan menempatkan kesadaran cintanya tidak dengan serampangan—sementara apa pun hajat politik kita, ia sama sekali tidak boleh menyebkan “pengkebiran” kepada manusia atau kelompok lain sehingga menjadikannya terasing dan memungkinkan reaksi di luar rasionalitas dan cinta manusia.

Lagi pula cinta yang serampangan dan tidak pada tempatnya, tentu saja adalah kesalahan. Dan kesalahan akan selalu meminta korban bahkan hukuman yang lebih berat untuk kehidupan bersama melampaui hukuman yang seharusnya hanya untuk individu-individu.

Anda ingat perkataan Obama beberapa waktu lalu dalam cuitannya di medis sosial Twitter? “No one is born hating another person because of the color of his skin or his background or his religion.” Begitu juga ujar Nelson Mandela: “People must learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite”.

Saya merasa inilah momen krusial untuk mengembangkan perasaan cinta,  kemampuan mencintai dan tentu saja, cinta pada dasarnya tumbuh pada individu-individu yang berhasil melewati proses historis kediriannya, bukan individu yang menyembunyikan kegagalannya dalam anonimitas dan persaudaraan semu kolektifitas berbasis identitas. (*)

*) Sabiq Carebesth, penikmat kopi dan Co Founder “Digital Culture Syndicate” (DCS), Jakarta.

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: