Connect with us

Memoar Kehilangan

Senja itu tinggal cerita saja

mm

Published

on

Luput kita dari mimpi lalu
Kini kembali dalam waktu
Yang kau dan aku tetap tidak tahu
Sekarang atau esok
Apa nasib waktu?
Lautan membadai
Tak apa bagi dua hati kita
Yang mau layari sebebas-bebasnya
Walau tahu pasti karam
Sebelum perahu menemu dermaga
Senja itu pun tinggal cerita saja.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 21 Mei 2010

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending