Connect with us

Seperti Para Penyair

Sebab Aku Perempuanmu

mm

Published

on

Punggungku telah menjadi bejana matahari

Terukir untuk terik dan senja yang hanya milikmu

Senja dalam segaris matamu—senja kita

Waktu itu

 

Aku terpekur dalam masa yang beku

Menatapmu yang rapuh dan muram

Aku mengakar dalam diam

Punggungku mungkin tak sanggup lagi

Menanggung senjamu—senja kita dahulu

 

Tapi telah berdiri kerajaan dari mataku

Juga dari rambutku yang berwarna kilau merah

Kerajaan yang jauh dan tak akan berpaling padamu

Meski dindingnya terbuat dari ratapmu

*

Sebab aku perempuanmu

Meski cintaku abadi, dendamku serupa taman

Kusiram dengan rindu—menjalar darinya cinta

Hanya tak mungkin untukmu lagi

Maka durja dipipimu abadi

Dari itulah kubuat kerajaan kalbuku

Penuh bunga indah dan dendam menyala

Bukankah kita hanya manusia rapuh

Tak pernah kuasa pada cinta

Yang selalu meminta kehilangan?

 

Tapi aku perempuanmu

Denyut cintaku takkan binasa

Hanya sebab kau lukai punggungku

Tapi cintaku tak lagi hidup untukmu

Cintakku telah jadi milik dunia purba

Di mana dulu kita bahagaia

 

Kekasihku

Aku tengah menatap wajahmu di mataku

Aku tahu penderitaanmu

Tapi cintaku tak kubuat untuk mengobati

Luka yang kau buat sendiri

 

Cintaku adalah kembang yang dulu kau tanam

Air mataku menyuburkan cintamu

Dan kau tahu?

Kini rambutku berwarna senja kemerahan

Rambut kegemaranmu—di mana dahulu

Hanya di antara rambutku kau lelap

Dan memimpikan taman bunga

Dengan kembang-kembang

berwarna merah senja—seperti rambutku sekarang;

Mimpimu yang kini telah jadi abadi.

 

5 Maret 2018 | Sabiq Carebesth

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seperti Para Penyair

Surat Yang Tak Kunjung Jadi

mm

Published

on

; susan gui

Pipimu rembulan merah
Aku rentang jarak meruah
Kelopak matamu gundukan waktu
Aku sajak pilu
Rambutmu alunan komedi Romeo
Aku sajak Suto

Telapak kakimu pasir sehalus kabut
Aku gemuruh ombak merenggut
Alismu pucuk sunyi
Aku jalan mendaki
Payudaramu bebatuan suci
Aku perahu kertas di deras sungai

Jemarimu puisi
Aku kelam di malam sepi
Bibirmu sayap merpati
Aku surat yang tak kunjung jadi

Engkau waktu yang berhembus
Aku peziarah yang terbius;

Pada kalbumu kutuntun pilu rinduku
Peluklah tangisku atau tawa kelamku

Malam tambah biru
Kututup jendela kamarku
Barangkali di luar rembulan berpendar
kian membiru…

Sabiq Carebesth | 16 Maret 2014

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Pelukis Senja

mm

Published

on

Office in a Small City by Edward Hopper

Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta di atas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup
Kita tak lagi bertanya…
Barangkali hidup memang bukan tanya, yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama

Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut pada gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
atau dalam kolam jiwanya
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu;
yang dahulu.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Juni 2012

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Senja Terakhir di Bulan Mei

mm

Published

on

Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia

Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

Sabiq Carebesth | Jakarta, 27 Mei 2012

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: