Connect with us

Seperti Para Penyair

Sajak Malam

mm

Published

on

I

Kumatikan lampu; gelap jadi gulita
Kututup pintu, aku menuju pilu
Kutatap cahya, jadi bongkahan putih salju;
Dan irama ditalukan dari balik pudar cahaya

Terang benderang dalam kelam
Melesat jadi kilauan

Dalam diam kalbuku mencari
Tanda dari deru nasib

yang memancangkan kengerian
Kenangan-kenangan bagai ribuan diam
Dari riuhnya suara yang tertahan

Lama sekali, lamanya waktu buat menunggu
Kenapa hanya menunggu?

Pada lengkungan serupa senja di punggungmu
Kususuri sunyimu
Yang purba dari berlalunya waktu
Dan sehelai nafas dari lelap tidurmu
Membimbingku menyusuri sunyi yang lain
Kutemukan impian, di sana bayangan-bayangan
Seorang  perempuan

Dengan gaun jingga bertudung sutra putih
Berjalan dari keriaan ke keriaan
Dari jalan sunyi sembunyi sedalam sepi
Lagu-lagu yang kau cipta

melandakan kegamangan;
terus mendesak menekanku
Pada rindu akan perjumpaan.

II

Di lautan… di lautan…
Sekali malam ini hanya debur deru memburu
Ombak berserak di antara kapal tua dan rembulan
Sepasang bintang muram
Langit bersenda kehilangan

Pagi kan juga kembali menarikan hidup sehari-hari
Kita mencari jemari malam itu, jarimu dan jariku
Mau mengucup mimpi
Bergandeng bertalu

Seiring bunyi dari setiap sepi

Heningnya keheningan
Abadi dalam kehilangan

Sebelum waktu jadi penghabisan
Baik pejamkan matamu

Di antara derai hujan
Kan kujumput kau dari kerinduan
Walau ribuan jalan menikung

dan aku tersesat lagi..

Dalam keterasingan aku terbuang
Tapi ada sehelai rambutmu di sisi senyummu
Tertinggal di sini;
menjadi malam, jadi nyanyian,

menjadi tari-tarian
apa ini dendang samsara?

asmaradana tanpa senggama;
dari kucup bibir nasib yang menalukan masa

III

Aduh
Dingin menjalari tubuhku
Dari waktu menuju waktu
Kedinginan menjelmakan jalan
Menuju terang cahaya

Kurebahkan kepalaku, di punggungmu;
Keluasan lautan abadi; selalu
Kususuri dengan sampan kecil
Dari kertas dengan barisan sajak kecil
Tentang sebuah malam yang dilanda kehilangan
Sewaktu hujan dan kita saling menemukan
Sebelum senja akhirnya menjelmakan kepiluan

Sudah… sudah…

jangan ucapkan
bahwa kita kan juga menempuh jalan

“Sekarang kemari kukucup bibirmu;
Dan selamat jalan….”

 

Sabiq Carebesth | Jakarta, 4 Maret 2012 

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seperti Para Penyair

Surat Yang Tak Kunjung Jadi

mm

Published

on

; susan gui

Pipimu rembulan merah
Aku rentang jarak meruah
Kelopak matamu gundukan waktu
Aku sajak pilu
Rambutmu alunan komedi Romeo
Aku sajak Suto

Telapak kakimu pasir sehalus kabut
Aku gemuruh ombak merenggut
Alismu pucuk sunyi
Aku jalan mendaki
Payudaramu bebatuan suci
Aku perahu kertas di deras sungai

Jemarimu puisi
Aku kelam di malam sepi
Bibirmu sayap merpati
Aku surat yang tak kunjung jadi

Engkau waktu yang berhembus
Aku peziarah yang terbius;

Pada kalbumu kutuntun pilu rinduku
Peluklah tangisku atau tawa kelamku

Malam tambah biru
Kututup jendela kamarku
Barangkali di luar rembulan berpendar
kian membiru…

Sabiq Carebesth | 16 Maret 2014

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Pelukis Senja

mm

Published

on

Office in a Small City by Edward Hopper

Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta di atas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup
Kita tak lagi bertanya…
Barangkali hidup memang bukan tanya, yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama

Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut pada gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
atau dalam kolam jiwanya
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu;
yang dahulu.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Juni 2012

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Senja Terakhir di Bulan Mei

mm

Published

on

Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia

Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

Sabiq Carebesth | Jakarta, 27 Mei 2012

Continue Reading

Trending