Connect with us

Seperti Para Penyair

Sajak Kenangan Untuk Ida

mm

Published

on

Waktu itu kita remaja riang kalbu alangkahnya
Di tepi kali dibelai lembut angin
dari waktu yang tak kita kira berlalu

Kini kutatap mega malam lembut suara
Bisikan dari kelana entah rupa yang mana
Wajah-wajah pesona

Matamu mengerling menimpa muara
Dari kalbunya jiwa menengadah jauh di penghujung
Biar sudah tahu waktu kan juga berlalu
Tapi kita nyanyikan lagu-lagu selalu

Idaku,
Beria kita seperti gemericik hujan
Di antara tanah liat
Kita tetap mengeja diri

Kepada masa kanak-kanak
Kembali ke sana; menangkap isyarat
Nyatanya waktu tak lagi sama
Antara kita tinggal jiwa-jiwa
Makin nganga ditimpa hampa
Makin hampa rindu yang dahulu

Kita sekarang bukan lagi wajah-wajah perjalanan
Kita tinggal di sini dalam sebuah ruang;

Tak lagi hayalkan kajauhan
Di luar hanya takdir,

Di hadapan menunggu kita menyaksikan,
Bahwa kadang kita bukan bagian;

Idaku,
Kita sekarang di sini didekap pekat
Segelas kopi tinggal dingin
kepekatan dari memoar waktu
yang baru saja berlalu
hai siapa itu memancangkan rembulan ?
dalam lengkung garis di antara payudara
yang melantunkan lagu-lagu keheningan?
Suara-suara menjadi deburan ombak
Jauh di sana batin kita retak; senja membenam
bagai pecahan-pecahan ingatan

O, Idaku,
Aku sekarang seonggok kemuraman
Yang bersemangat melantunkan tembang
kegairahan; dari waktu yang menunggu
seribu senja digelar menjadi pesta pora kehilangan

Idaku,
Nanti kita kan dipersatukan
Kita jadi kanak-kanak lagi
Seperti saat hidup adalah perjalanan-perjalanan
Tanpa penghujung;

Jalan selalu panjang menarikan masa
Selalu dalam keyakinan nanti
Kan ada juga jalan menjumput
Dan ketika malam kita habis tempuhi kenangan;
sendiri-sendiri.

Jadi mari nyanyikan lagu-lagu ;
dari kidungnya sunyi
sebagaimana dulu kita menari-narikan keriaan
menari-narikan tarian; kita terus ditari-tarikan

II

Hujan petang ini hanya berarti ingatan;
tuang lagi anggur dari senyuman paling manis
seperti setiap kali kau kelelahan dan bertanya;

apa ini hidup?
Lalu kusuguhkan padamu secawan kesegaran;
yang kucuri dari lembut bola matamu
dan kau tak pernah tahu.

 

Aduh rindu di malam kini
di atas tumpukan debu kenangan
Kita saksikan kepiluan-kepiluan
dari hidup yang tak lagi kanak-kanak;
tapi tariannya terpendam dalam kedalaman,
sesekali kalbu meniadakan batas,
kita lelap sekali lagi
di lengkung senja yang menimpa ladang ilalang;
kita serupa angin dan langit temaram;
rasanya mabuk tak kepalang,
setan di hadapan
malu-malu mau turut menjelmakan—

cahaya penghabisan.

Idaku,
Angin dari selatan membalut kalbu kita
Menuntun kepada jalan pulang akhirnya

Selamat jalan,
jangan larut dalam pilu membiru,
senantiasa menjadi baru,
tak sirna hawa dari tubuhmu;
Senantiasa menjelma wajahmu
yang tengah lelap dalam segelas kopiku
Idaku,
malam sudah penghabisan;
dingin di renggut oleh waktu
cahaya gulita jadi sehelai pelangi
jangan dulu cuci gelas kopiku
barangkali masih ada sisa pilu dari rindu padamu
sebagaimana selalu begitu
Oh idaku…

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Maret 2012

 

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seperti Para Penyair

Surat Yang Tak Kunjung Jadi

mm

Published

on

; susan gui

Pipimu rembulan merah
Aku rentang jarak meruah
Kelopak matamu gundukan waktu
Aku sajak pilu
Rambutmu alunan komedi Romeo
Aku sajak Suto

Telapak kakimu pasir sehalus kabut
Aku gemuruh ombak merenggut
Alismu pucuk sunyi
Aku jalan mendaki
Payudaramu bebatuan suci
Aku perahu kertas di deras sungai

Jemarimu puisi
Aku kelam di malam sepi
Bibirmu sayap merpati
Aku surat yang tak kunjung jadi

Engkau waktu yang berhembus
Aku peziarah yang terbius;

Pada kalbumu kutuntun pilu rinduku
Peluklah tangisku atau tawa kelamku

Malam tambah biru
Kututup jendela kamarku
Barangkali di luar rembulan berpendar
kian membiru…

Sabiq Carebesth | 16 Maret 2014

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Pelukis Senja

mm

Published

on

Office in a Small City by Edward Hopper

Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta di atas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup
Kita tak lagi bertanya…
Barangkali hidup memang bukan tanya, yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama

Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut pada gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
atau dalam kolam jiwanya
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu;
yang dahulu.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Juni 2012

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Senja Terakhir di Bulan Mei

mm

Published

on

Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia

Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

Sabiq Carebesth | Jakarta, 27 Mei 2012

Continue Reading

Trending