Connect with us

Uncategorized

Pelukis dan Gadisnya

mm

Published

on

I

Pelukis itu kehilangan sosoknya petang tadi. Sosok seorang gadis yang ingin dilukisnya, untuk yang terakhir.

O, hendak kemana kiranya sang pelukis?

“Tak hendak kemana-mana, tapi adakah jelita yang serupa Ia? Bagiku tidak ada! Ah, aku pun tak dapat menggambarkannya, jangan tanyakan apa-apa, jangan Tanya bagaimana mungil bibirnya, sendu wajah bila rambut berwarna senjanya tergerai di keningnya, bagaimana tatapan matanya lurus kaku tapi teduh, bagaimana ia menggerenyitkan dahi dan pada alis hitamnya seperti kuncup petang di sore hari, jangan Tanya apa-apa lagi bagaimana payudararanya seperti pualam dari buah kasmaran yang menggetarkan sampai engkau tak ingin menatapnya. Jangan Tanya apa-apa lagi…”

Gadis yang lugu—bagi si pelukis—menyelinap dari balik bayangan waktu, hendak mengambil sisa rindunya, rindu miliknya, yang tertinggal di tepi hati sang pelukis:

”Bahkan aku tak sanggup jadi permata yang kau tempatkan ditempat tertinggi dan kau taburi puja dan angan. Aku tak sanggup sungguh menampung cintamu yang menjadikanku kekal dalam bayangan. Bahkan aku takkan pernah bisa jadi gambar yang kau bingkai dengan taburan kembang, dan ketika purnama cermin kaca di wajahku memantulkan padamu kemurnian cahaya.

Aku takkan sanggup kekasihku, melihatmu yang dalam lelah memuja bayangan, aku takkan sanggup menjadi suci seperti dewi kayangan yang rebah dalam gelisahmu; aku tak bisa, menjadi engkau yang mati rasa bersama peristiwa-peristiwa kelabu yang membeku dari taman masa lalumu.

Tatap lah mataku, pandang pada wajahku rindumu yang menjadikanku tak jelita lagi. Sebab ini lah wajahku yang hanya bayangan kelammu! Aku tak sangggup menjadi dewi imajimu, maka aku pamit padamu, dan serta kucuri rindu darimu sebab aku pun cinta padamu; tapi biarlah rindu padamu menajdi kenangan dalam kalbuku.

Selamat jalan…..”

II

Tangis tak mengembalikan waktu langkah gadis terus melaju walau pilu tertinggal di kalbu ia mau tetap berlalu.”Aku takkan sanggup jadi bayangan bagi kelammu!”

III

Anggur takkan memabukkanmu. Rintih dan manja pelacur di sudut ranjang pun hanya buatmu tambah gersang. “Dalam hatimu kau hanya rindu pada sosok itu” yang hilang pada sebuah petang yang lalu.

Tidakkah kau ingin berhenti mencari? Tidak lelah kah kau gapai bayang-bayang? Tidak cukup kah pilu semenjak dulu?

Cinta adalah kesalahan paling purba yang ingin digambar pelukis sepi.

Cinta adalah cahaya paling tua yang ingin rebah menjadi kemolekan tubuh telanjang di hadapan penyair mabuk: agar tercatat dan terkenang sebelum penghabisan di persimpangan.

“Aku hanya ingin menemukannya agar bisa kutinggalkan diriku. Melebur jadi debu, yang menempel di dinding tubuhnya! Menyatu bagai tembok tua di kota purba dengan debu-debu waktu yang merangkai pilu.”

IV

Maka Ia temukan gadisnya dalam sebotol wiski malam ini di sudut bar sebuah kota tua. Dan tarinya tak juga henti dalam dentuman nasib waktu yang begitu maha kuasa.

Tangisnya menggigilkan kalbu, butiran air matanya bagai permata yang dahulu.

“Lukislah aku sekarang, dalam kanvas jiwamu, bingkailah tubuhku dengan rindu purbamu, pujalah di dinding sepimu, masih adakah tempat itu di hatimu kekasihku?”

“Aku tak tahu lagi caranya melukis, kanvasku sudah hancur, lusuh di gilas waktu yang maha pilu: dan rinduku padamu telah menjadi batu !!

Jakarta, 05 Aguatus 2010 | Sabiq Carebesth

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Uncategorized

Penyair Zaman Kita

mm

Published

on

Para penyair kehilangan lagunya
Para penyair kehilangan bahasa
Para penyair terkapar
Di belantara malam
Di pintu-pintu pagi
Benar-benar tak berdaya

Penyair zaman kita
Benar-benar tak berdaya
Terkutuk oleh hayalannya sendiri
Tak tahu rasanya kebebasan
Menari dalam kesepian
Bercinta dengan bayangan

Penyair zaman kita
Menua dan sia-sia
Benar-benar tak berdaya
Siapa hendak dihiburnya
Setiap orang tenggelam
Dalam keterasingan sendiri-sendiri
Dan penyair tahu nasibnya
Di belantara malam
Dipintu-pintu pagi
Benar-benar tak berdaya

Kita adalah lelucon
Bagi zaman yang semu.

Sabiq Carebesth | 2017

Continue Reading

Trending