Connect with us

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Puisi Untuk Puisi

mm

Published

on

Dimana puisi yang itu
Yang dulu kau tulis disenja hari
Saat sepi
Dengan harapan yang meninggi
Usai menggambar jendela
Dalam tembok pengap nan hampa

Puisi yang melihat kemungkinan
Tentang kehidupan yang bermahkota kebebasan
Seolah surga pertama dihadapan
Dan kenyataan bertampik
Tidak lebih dalam dari puisi yang itu
Yang dulu bermahkota kematian
Namun menunjukan jalan panjang
Yang kau bebasa menyusur
Walau sepanjang jalan dalam kegelapan

Puisi tidak punya mata
Untuk memilih kata-kata

Puisi tidak punya telinga
Untuk mendengar bisikan kelana

Puisi tidak punya kekuatan
Untuk menerjemahkan sabda langit

Puisi tidak punya kuas dan kanvas
Untuk melukis keindahan

Puisi adalah kekosongan
Dalam beratnya kefanaan
Gambar dari luka peradaban
Yang urung menghilang
Tanpa sebaris pun kenangan

Puisi adalah musim waktu
Memoria agar hidup tak jadi gila
Sebab bertaruh masa depan
Dalam kekosongan tanpa ingatan

Puisi adalah zaman
Puisi adalah ingatan
Museum bagi jiwa yang kehilangan
Waktu yang menjelma kenangan
Agar tak musnah dalam kegilaan
Dari zaman yang gemar lupa

Puisi adalah senandung
Dari kidung keheningan
Paling sunyi dan rahasia

Puisi adalah tarian
Dari kelelahan
Usai rindu dan kehilangan

Puisi adalah persembunyian
Dari kebermaknaan yang terancam
Oleh omong kosong dan rayuan
Dari pemuja kesombongan
Dan kedangkalan

Puisi adalah doa
Yang urung terlafaldzkan
Oleh ketidakberdayaan

Puisi adalah kebohongan
Dari kemerdekaan yang terpasung
Oleh kebodohan dan ketakutan

Puisi adalah suara-suara
Yang teredam
Oleh bising kota
Dalam riuhnya lagu disko
Dalam gemuruhnya seruan
Dan kebohongan

Puisi adalah jendela kecil
Dalam kehampaan tembok
Yang memenjaramu dalam kebimbangan
Dari rasa hampa yang menimpa
Oleh puisimu sendiri
Yang begitu sunyi

Puisi adalah puisi
Kawan bagi kematian
Yang begitu sunyi

Esok hari masihkan kau menulis puisi?
Atau senja nanti ingkar janji
Sembunyi dalam puisi-puisi….

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending