Connect with us

Memoar Kehilangan

Malam di Mata Lembutmu

mm

Published

on

Malam sekarang bukan malam kemarin, tapi malam memanglah malam pada malamnya yang kelam; dihujam-hujamnya segala yang tajam ke dalam dirinya seperti sebuah ritual kehampaan; malam muram bagi jiwa yang menyunggingkan hasrat kebebasan.

Tumpah ruah pada malam kini, kesepian pada tempatnya sendiri, sesunyi-sunyinya, disandarkan kepada hening yang nyaris tak dapat dikenangnya.

O, ke mana ramai lampu kota dan canda kepiluan dari cinta yang ditaruh di bibir nasib? Pada malam kini tak ada yang mencari malam. Malam pada malamnya sendiri, berjajar seperti barisan waktu yang berdetak lirih-lirih pamit berlalu.

Bahasa tiba-tiba menjadi berat, bobotnya seperti mendung meluluh lantahkan bunyi dari setiap kidung yang dibunyikan dengan bahasa berat seperti suara jazz; tak pernah ingin berhenti dalam jeda-jeda yang mematah-matahkan rasa menjadi gelombang rasa serupa tubuh telanjang di etalase toko yang memajang kenangan ketaktergapaian, duh aduhai… pada tangismu yang tak bisa kudengar lah bahasa kerap kurebahkan; tapi apa kau tahu?

Sebuah tatapan menyelinap, kupandang jelas pada bola mata yang terpelanting dalam kolam jiwa yang mahameragu, pandanganmu yang biasanya, tatapan mata lembutmu…

Sabiq Carebesth | 2012

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending