Connect with us

Memoar Kehilangan

Kabut Putih Subuh Kini

mm

Published

on

Duka disemaikan pagi sekali ini, diantara ramai dan nyanyian kemenangan. Bumi dijatuhi air mata dihati bagai badai daun yang lembut menghhempaskan angin; meluruhkan pohon-pohon rindu yang kutanam; sampai waktu membuat oleng setubuh jiwa yang kita pertaruhkan.

Aku mencintaimu sebagaimana hatiku menginginkanmu di sini, tapi pagi ini aku bicara dengan diriku sendiri di subuh yang berkabut putih; aku rasanya seperti tak di bumi, entah dikolong langit mana tapi aku butuh beberapa saat untuk sekedar mengerti tempatku berpijak kini, dan tanpamu.

Aku tak sanggup berjanji pada diriku sendiri bahwa semua ini nyata dan aku akan bertahan dalam pijakan yang makin oleng oleh samarnya hidup. Kenapa kita mesti bertemu dan menjadikan kedinginan ini didekap sehingga menyelimuti kenangan yang mungkin takkan kita sanggup menanggung sendirian.

Pada pijakan berdiri tanpa kata, tanpa mengerti apa-apa, apa keyakinan ini akan bertahan? Aku merelakan semuanya yang akan segera dijelmakan oleh hidup menjadi kenyataan tentang asmara kita, tapi sekali pagi ini aku menghawatirkan bahwa jiwaku mungkin hancur; tak kepalang sunyinya, aku seperti kuda yang terluka dan harus menunggui malam sementara sang kekasih dalam tali temali dari waktu yang begitu maha kuasa. Dahaga yang menjelmakan lubang-lubang dalam jiwaku entah mesti kusulam dengan jarum apa sebelum mungkin akhirnya malam hanya berarti kesia-siaan seperti segala yang kita pertahankan di kabut dingin subuh ini. (*)

Sabiq Carebesth | 01 September 2011

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: