Connect with us

Ekonomi & Politik

Franz Magnis Suseno: Beberapa Catatan Mengenai Badak dan Seni

mm

Published

on

Kaum seniman modern suka membuat heboh. Biarpun mereka itu pencipta musik, pengukir, pelukis ataupun sastrawan, di dalam karya-karya mereka ada sesuatu yang merangsang batu-batu beterbangan menjatuhi mereka. Kami terdorong mengadakan refleksi tentang kenyataan yang aneh itu oleh suatu ucapan yang menarik perhatian oleh karena mengenai sesuatu kejadian yang jarang dapat kita saksikan: pencincangan pastor.

Kata “pencincangan pastor” sendiri kurang enak kedengaran, khususnya bagi para pastor sendiri. Kata ini kami temukan bukan dalam tulisan seorang komunis atau seorang fanatik, melainkan – di mana lagi – dalam sajak seorang penyair yang berambut gondrong (orang bilang: tentu saja) dan (menurut apa yang kami dengar) beragam Katolik. Seniman itu mengarang syair tentang khotbah yang membosankan, yang berakhir dengan pencincangan pastor itu oleh umatnya.

Penuh kemarahan kita mau berteriak: Penghinaan! Orang itu jahat, mau membunuh pastor-pastor! Dengan menghina pastor ia menghina 583.471.926 orang seagama di seluruh dunia. Ia bahkan menghujat Allah yang (dalam faham Katolik) telah menghendaki adanya pastor-pastor. Dia harus diganyang!

Tanggapan di atas ini kami sebut tanggapan badak. Badak itu mengesankan. Memang ada kekurangannya: badak hanya dapat lari lurus ke depan. Asal sudah mengambil arah, ia tak dapat dibelokkan lagi. Pilihannya hanya antara “menyerang” dan “belum menyerang”. Penglihatannya pun hanya beberapa meter ke depan. Tetapi kekurangan itu diimbangi oleh keganasannya. Kalau apa yang dilihat di depan hidungnya itu menimbulkan kemarahannya, ia tak melihat ke kiri-kanan. Tanpa terganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang lebih sophisticated ia terus menghantam dengan seluruh berat badannya, dengan mengikuti tanduk di atas hidungnya sendiri. Pohon pun dapat roboh! Dan si badak maju terus lurus ke depan, menghantam apa saja yang mengganggu jalannya (baru terhenti apabila menabrak tembok karang-padas).

            Kemarahan badak cepat dibangkitkan: ia hanya melihat sebagian kecil saja dari kekayaan realita, namun bagian kecil itu ditatapnya dengan penuh konsentrasi dan tanpa humor, dan kalau ada yang tidak dimengertinya, ia terus menghantam.

Seni adalah wilayah tertutup bagi badak. Karena badak hanya dapat melihat tiga meter lurus ke depan, maka horison-horison lebih luas yang dibuka oleh seni berada di luar perspektifnya. Mendengar kata seperti “mencincang pastor” ia tak usah berpikir panjang. Reaksinya pasti: ada penghinaan agama. Tanduknya turun, bukannya naik dan menyerahlah dia.

Badak tidak dapat membedakan antara statement dan ekspresi estetis. Andaikata Pak Menteri Agama misalnya menganjurkan pencincang terhadap para pastor, tentu saja Beliau dapat digugat. Bahkan siapa saja yang menganjurkannya tidak boleh dibiarkan. Tetapi apa yang tidak dilihat oleh badak adalah, bahwa seniman tidak menganjurkan apa-apa. Seniman itu bukan seorang ideolog yang mau menjual falsafahnya. Itu namanya bukan seni. Yang diungkapkan dalam seni adalah suatu campuran dari macam-macam perasaan, imajinasi, gambaran, khayalan, dorongan, naluri, fikiran yang semuanya berpusat pada nilai estetis yang diungkapkan di dalamnya. Seniman didorong oleh nilai keindahan. Keindahan bukan dalam arti dangkal, melainkan keindahan yang tercurahkan atas apa saja yang ada. Maka seni mengungkapkan keluhuran dan kehinaan manusia, kelucuan, keanehan, kegembiraan dan kekejaman hidup. Biar itu terjadi dalam suatu impian kombinasi warna dalam sebuah lagu yang mengharukan, dalam sajak-sajak yang grotesk ataupun dalam sandiwara absurd. Berhadapan dengan seni kita sendiri merasa menjadi lebih luas, lebih besar, kadang-kadang bahkan lebih baik.

            Karya seni harus diukur dengan ukurannya sendiri. Seni tidak merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan di luar seni itu sendiri. Seni mengandung artinya dalam dirinya sendiri dan hanya bicara dalam keseluruhannya. Menanyakan benar-tidaknya suatu sajak tidaklah pada tempatnya. Nilai estetis tidak dapat dibuktikan dengan jalan analisa melainkan hanya dapat dihayati.

Dalam pengalaman estetis terbukalah  realitas baru bagi kita. Atau lebih tepat: realita dunia dibuka dimensinya yang lebih mendalam. Kalau si filsuf memikirkan realitas, maka si seniman menghayatinya  sedalam-dalamnya dan – di sini terletak bakatnya – ia dapat mengungkapkan dimensi realita ini yang biasanya terpendam dan tidak terlihat pada permukaan gejala-gejala.

Dengan demikian menjadi jelas pula, bahwa seni yang sejati bersifat provokatif. Justru karena seniman menggali sesuatu yang biasanya terpendam, ia dapat mengejutkan. Seniman memaksa kita menghadapi suatu realita pada diri kita sendiri yang mungkin justru kita sisihkan dengan susah payah, jangan sampai kelihatan orang lain. Seni dapat membuka tabu. Tabu-tabu kemunafikan kita; kesucian yang pura-pura, kebaikan yang hanya menutup kerakusan, keagamaan yang menjadi topeng nafsu kuasa belaka. Memang, jangan kita ramai-ramai mencincang pastor-pastor. Tetapi mungkin kata kasar itu menghadapkan kita tanpa ampun kepada kebohongan-kebohongan kita sendiri dalam apa yang kita iklankan sebagai hidup agama.

Membuka tabu menimbulkan kemarahan. Badak tidak senang selubungnya dirobek sehingga mukanya yang jelek menjadi ketara. Dengan marah ia berteriak tangkap, hukum, pukul, bunuh dia! Mungkin ia sendiri mengira bahwa dengan demikian ia membela otoriter, atau agama atau Tuhan (seakan-akan Tuhan perlu pembelaan kita! Kiranya sudah lebih dari cukup kalau kita membela manusia saja), tetapi sebetulnya ia hanya membela kepicikannya. Itulah sebabnya kita merasa jijik mendengar orang berteriak “bunuhlah” atas nama Tuhan.

Maka masyarakat justru harus melindungi kebebasan seniman, dengan perlindungan hukum pun. Dalam proses perkembangan budi suatu bangsa fungsi provokatif seni amat dibutuhkan. Tidak kebetulanlah bahwa kaum diktator dan ideologi segala zaman membenci seni yang bebas. Kebebasan untuk mengejutkan kita-kita yang vested merupakan salah satu benteng keluhuran budi manusia ciptaan Tuhan. (*)

_________________

Franz Magnis-Soeseno lahir di Eckersdort, Jerman, pada 1936. Tinggal di Indonesia sejak 1961. Belajar filsafat, teologi dan teori politik di Pullach, Yogyakarta dan Muenchen. Gelar Doktor dalam bidang filsafat diraihnya dari Universitas Muenchen (1973). Rohaniawan ini adalah dosen tetap di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta dan juga dosen tidak tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Tulisan-tulisannya tersebar luas di berbagai media massa. Karya-karyanya yang sudah dipublikasikan (dalam bahasa Indonesia) antara lain: Etika Umum (1975); Kita dan Wayang (1982); Kuasa Moral (1986); Etika Politik (1987); Etika Jawa (1988); Berfilsafat dari Konteks (1991). Buku terbarunya terbit pada 2003, yaitu: Dalam Bayangan Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari Lenin Sampai Tan Malaka.

Sumber:  KOMPAS, 25 Mei 1970.

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi & Politik

Soedjatmoko: Sukma dan Masyarakat—Sebuah Tafsiran Timur tentang Counter Culture

mm

Published

on

Sebuah Tafsiran Timur tentang Counter Culture

SAYA akan mulai dengan sebuah cerita. Inilah cerita rakyat yang bersumberkan mistik Jawa. Agama Islam menurut dugaan orang dibawa ke pulau Jawa, pulau asal saya di Indonesia, oleh kesembilan orang wali. Bertolak dari daerah pantai, mereka menyebarkan agamanya lewat penobatan maupun penaklukan. Salah seorang dari antaranya, Siti Djenar, adalah, seorang sufi beraliran heterodoks. Dimaklumkannya bahwa Allah bukanlah di surga, akan tetapi di dalam hati manusia dan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik seorang tidak perlu melaksasnakan ibadah haji ke Mekkah atau memperhatikan bentuk-bentuk ibadah agama, asal saja dia dapat membuka dirinya bagi terang Allah di dalam hatinya.

Setelah beberapa lama menderita karena tingkah lakunya yang tidak patut, delapan wali lainnya berkumpul dan memutuskan bahwa Siti Djenar harus dibunuh, bukan saja karena yang diajarkannya tidak benar, akan tetapi ajarannya dan caranya mengajar menghancurkan ketertiban sosial. Mereka mengundangnya datang ke suatu pertemuan, di mana mereka mengumumkan keputusannya. Siti Djenar menerima keputusan mereka dan membiarkan dirinya ditikam; akan tetapi dari lukanya bukanlah darah yang menyembur melainkan suatu zat putih dan dia pun tidak meninggal. Akhirnya mereka mohon agar dia mati supaya ketertiban sosial bisa dipulihkan dan Siti Djenar pun mengikuti kehendak mereka; darahnya menjadi merah kembali dan dia pun wafat.

Tergantung dari sudut penglihatan, seseorang, sebagaimana kebanyakan legenda, legenda ini mengandung berbagai tingkat makna. Salah satu yang sangat erat hubungannya dengan tema pembicaraan saya ini adalah – bahwa kehidupan manusia, secara individual dan secara kolektif, berputar sekitar dan bergerak antara dua kutub kepentingan fundamental; di satu pihak mencari kebenaran, kebebasan batin, untuk kesempurnaan kepribadian seseorang atau untuk penebusan jiwa; pada pihak lain mencari suatu masyarakat yang lebih baik.

Kebanyakan keresahan dan pencarian (search) kaum muda sekarang bukan saja di Amerika, akan tetapi di kebanyakan negara, berkisar pada dua kepentingan ini. Bahwa pencarian diri sendiri telah merebut tempat yang penting, bisa dipahami. Ia merupakan reaksi terhadap kekakuan yang melumpuhkan dan konformitas, hampa yang menjadi bagian dari masyarakat moderen, dan masyarakat yang berlimpah ruah kekayaannya baik di Barat maupun di Timur;

Menantang depersonalisasi hubungan antara manusia, kesepian yang mendalam pada setiap orang, dan rasa-tak-berdaya sebagai akibat terkurungnya manusia oleh birokrasi raksasa, baik birokrasi negara maupun swasta, yang memang dibutuhkan untuk menjalankan struktur yang kompleks dan yang berpijak pada teknologi. Ia merupakan reaksi terhadap pemiskinan spiritual sebagai akibat sekularisasi, rasionalisasi sambil menghilangkan nilai-nilai dan makna kehidupan manusia, dan rasa relativitas yang mendalam yang melumpuhkan kemampuan-kemampuan moral. Dari situ timbullah pencarian yang mendesak untuk “menghubungkan” satu sama lain, mencari kebenaran absolut, spontanitas dan kebebasan batin, meluaskan kesadaran manusia, mencari cinta, belas kasih dan kegembiraan.

Walaupun agak berbeda konotasinya, konsep “jiwa” kini semakin sering dipergunakan secara terhormat, setelah ia mengalami penyusutan arti karena menjadi bahan ulasan ilmiah para psikolog. Kemurnian dan kerapuhan “kekuatan bunga’ (flower power), penceburan diri ke dalam, dunia mistik dari agama dan filosofi ketimuran lainnya, tekanan baru yang diberikan kepada emosi, perasaan dan kebangkitan kembali kemampuan-kemampuan manusiawi yang telah terlalu lama dilumpuhkan. Bagi seorang pengamat yang berasal dari daerah di mana kecenderungan-kecenderungan mistik masih tetap kuat, fenomena ini mengingatkan dia akan kaitan dengan meluasnya semangat agama secara massal, walaupun dalam kasus tersendiri, dengan karakter yang jelas-jelas sekuler, dengan ciri-ciri post-Freudian atau pra-Marcussian. Akan tetapi pengamat tersebut secara tegas diingatkan kepada perbedaan fundamental yang senantiasa diberikan oleh semua agama yang mempunyai kecenderungan mistik dan filosofis antara menyerahkan diri kepada emosi dan kelembutan perasaan pada satu pihak, dan disiplin baja dari pikiran dan jiwa yang dituntut dari para penganut pada pihak lain.

Juga, sebagaimana tersirat dalam kisah yang saya ceritakan, kedua kutub di mana kepentingan utama manusia berputar, walaupun tidak, eksklusif terhadap yang lainnya, jelas bekerja pada tingkatan eksistensial yang berbeda. Metode yang dipergunakan untuk mencari yang satu tidak mesti menghantarkan kita untuk mencari yang lainnya, dan juga visi dan kedalaman pandangan yang diperoleh sesaat (Instant utopia) bukanlah kemestian sosial dari suatu loncatan mistik menuju Allah; dan juga pandangan hidup mistik yang historis tentang kehidupan tidak memberikan kita pegangan untuk menangani masalah-masalah sosial tak terkendalikan yang dan hanya bisa ditaklukkan oleh, penyelesaian-penyelesaian yang mampu bertahan terhadap waktu. Sejarah telah tertimbun oleh contoh-contoh di mana sistem-sistem sosial yang paksakan kepada masyarakat atas nama Allah dan kebenaran hanyalah menjurus kepada sikap tidak toleran, tirani dan penindasan yang paling kejam.

Kedua, pengertian tentang kebenaran sebagai realitas trans-subyektif melalui pengalaman batin yang iluminatif secara fundamental amat penting bagi individu bersangkutan, dan ia dapat mempengaruhi kemampuannya untuk “menghubungkan” kepada manusia dalam lingkungannya yang terdekat, biarpun harus disadari juga bahwa pengalaman ini tidak begitu saja dapat menjadikannya seorang yang “lebih baik.” Juga pengalaman semacam ini secara substansial tidak menambah kemampuannya untuk menolong meringankan bebasan kesengsaraan sesamanya. Dengan kata lain: mencapai kebebsan batin atau kesempurnaan, meski yang sepenuh-penuhnya, tidak memberi jaminan adanya suatu masyarakat yang sempurna. Dalam kenyataannya, sejarah agama-agama tradisional di Asia yang sangat berkepentingan dengan mengajar kebenaran secara mistis dan penebusan diri, mengungkapkan kegagalan mereka dalam mengatasi stagnasi, kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat-masyarakatnya; dalam banyak kesempatan mereka menghalangi penyesuaian-penyesuaian kepada perubahan sosial. Karena itu jelas ada kebutuhan terhadap kesadaran akan keterbatasannya; di seberangnya kepercayaan yang terlalu kuat pada jalan keaslian pribadi dalam menghadapi masalah msayarakat pada umumnya merupakan usaha mengalahkan diri sendiri. Pandangan personalistik terhadap penyakit masyarakat menghambat komunikasi dan aksi secara umum mengatasi dan melebihi partikularisme generasi atau kelompok seseorang, ia menghalangi berkembangnya teori masyarakat tanpa makna takkan mungkin ada tindakan sosial yang berencana dan berjangka panjang. Jelas dalam melihat kedua kutub kepentingan manusia kita sedang berhadapan dengan dua realitas yang berbeda, masing-masing dengan jenis persepsi yang berlainan dan cara bertindak yang berbeda pula.

Untuk menanggulangi masalah masyarakat dan perubahan sosial secara efektif maka kita harus menanganinya dengan memandangnya sebagai masalah sosial dan bukan masalah lainnya, dan bukan pula sebagai masalah kebenaran terakhir; kita harus, menghadapinya secara historis dan bukan secara moral, walaupun sangat boleh jadi motivasi kita bersifat moral.

Di dorong oleh beberapa manifestasi tekanan psikedelik dalam counter culture kaum muda sekarang, renungan ini mengandalkan betapa pentingnya kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam dan mengalihkan pandangan ke luar kepada masalah yang dihadapi dunia sekarang, dari mana tak seorang pun dari kita akan luput.

Rupanya manusia sekali lagi berada pada titik-titik bersejarah artikulasi untuk memberikan, keputusan-keputusan penting bagi masa depannya, kalau masa depan itu memang ada.

Pada suatu pihak ia dihantui pembinasaan nuklir. Pada pihak lain, sebagaimana tidak pernah ada sebelumnya, ia merasa memiliki peluang terbatas untuk menata hidupnya di dunia ini atas peri yang lebih berbudaya dan secara moral lebih bisa diterima, karena, berkat langkah-langkah raksasa dalam ilmu dan teknologi, kini ia memiliki kemampuan mengendalikan sumber-sumber alam menuju tujuan tersebut.

Antara kedua ujung ini ada kebutuhan mendesak untuk mempertahankan kembali kontrol moral manusia terhadap teknologi yang tak terkendalikan dalam industri dan militer, agar sekali lagi ia melayani tujuan dan kebutuhan manusia.

Ada tekanan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah kehidupan kota, kantong-kantong (enclaves) terbelakang dan miskin. Masalah harmoni rasial dan bagaimana menghentikan pembinasaan ekolobi manusia. Ada masalah-masalah yang sama sekali tak terselesaikan yaitu penyesuaian pribadi dan kelembagaan secara terus-menerus kepada lingkungan teknologis, sosial dan kultural yang berubah cepat.

Kemajuan ilmu pengetahuan telah menampilkan gambaran manusia mengenai dirinya pada suatu tingkatan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak pemikiran tentang diri, tentang yang baik dan jahat, semakin menjadi kuno, atau tidak relevan. Dengan demikian dalam menghadapi pil, obat-obatan yang mampu mempengaruhi pikiran serta daya ingatan, menghadapi kemungkinan untuk memanipulir konfigurasi keturunan seseorang dan peluang yang semakin terbuka bagi tramplantasi organ manusiawi, manusia senantiasa dipaksa dihadapkan kepada persoalan bukan saja mengenai apakah, ia dapat melanjutkan kehidupannya tetapi menyangkut masalah manusia jenis manakah yang dikehendakinya untuk meneruskan hidup, secara individual maupun secara kolektif. Manusia masih harus merumuskan kembali kemanusiaannya, memberikan formalisasi baru mengenai apa yang dikiranya hakiki bagi kemanusiaannya.

Inilah beberapa masalah yang harus dihadapi pada suatu titik tertentu oleh semua bangsa, dalam tingkatan yang berbeda-beda, dan dari perspektif kultural masing-masing, namun tetap tak terhindarkan.

Akan tetapi, masalah yang paling utama, sekurang-kurangnya bilamana kita mampu menghindari pembinasaan nuklir – adalah ledakan penduduk. Bila kita melihat kemungkinan bahwa 30 tahun lagi sejak sekarang penduduk dunia akan menjadi dua kali lipat, maka pertanyaan yang timbul adalah apakah umat manusia secara keseluruhan mampu mengorganisir diri secukupnya untuk menghadapi tantangan dalam memberikan makanan dan pakaian kepada jutaan orang yang mengkhawatirkan dan dengan demikian sekurang-kurangnya bisa menjamin tingkatan yang ditolerir dari kehidupan berbudaya. Dalam hubungan ini, patut disebut masalah kemiskinan internasional, dan jurang yang senantiasa melebar antara bangsa yang kaya dan yang miskin, dengan ancaman-ancaman yang inheren terhadap perdamaian dunia.

Hal ini patut menuntut pengarahan kembali secara fundamental sumber-sumber dunia. Hal ini berarti melibatkan negara-negara berkembang dalam suatu cara yang sistematis, dan semakin intensif, dalam proses-proses produksi dunia, dalam suatu cara yang sesuai dengan kebebasan dan martabat. Untuk mengambil satu contoh, bilamana tidak diambil suatu usaha yag dipertimbangkan secara matang untuk menjalin hubungan antara kemampuan penelitian pada bangsa-bangsa yang kurang maju – kalau perlu membantu memperkembangkannya sampai kepada suatu tingkat di mana hal ini dimungkinkan – dengan penelitian garis depan (frontiers research) dan pembangunan pada bangsa-bangsa yang telah maju teknologinya, maka kemajuan baru dalam teknologi hanyalah akan memperluas jurang antara negara-negara yang kaya dan miskin, dan menutupi negara miskin dalam suatu posisi menjadi tukang-tadah abadi dan pasif dengan memakai hasil ciptaan orang lain.

Penelitian yang dilakukan masa kini tentang biologi laut dan eksploitasi mineral di dasar laut adalah contoh yang baik dalam hal ini. Dengan demikian jelas dituntut konsep baru tentang pembangunan peralatan baru dan tepat untuk arus modal, kemahiran teknis dan kerampilan organisatoris dalam suatu tata besaran (0rder of magnitude) yang jauh melebihi yang pernah ada sekarang. Hal ini mengandalkan kebutuhan untuk memperkembangkan kerangka internasional baik dalam bidang hukum dan politik di mana penyusunan kembali tata internasional semacam ini bisa berlangsung dalam suatu cara yang bisa memberikan arti kepada kehidupan, bukan saja dalam hubungan dengan arti menurut tatanan masa sekarang akan tetapi juga bagi dasawarsa mendatang, baik pada tingkat individual maupun secara kolektif.

Inilah, dalam pandangan saya, masalah besar yang dihadapi umat manusia sekarang dan yang akan menentukan corak kualitas kehidupan individual maupun kehidupan bangsa-bangsa dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang. Sejauh ini dunia tidak menunjukkan tanda-tanda atau kemampuan untuk mengatasinya. Kalaupun keadaan sekarang ditandai oleh stagnasi intelektual dan kekurangan ide-ide baru serta konsep-konsep baru, dunia harus memperkembangkan kemampuan kolektif untuk menanggulangi masalah ini. Tidak ada satu bangsa pun, betapapun berkuasanya, betapapun kayanya, maupun menyelesaikannya sendiri. Interdependensi baru yang fundamental, telah muncul, interdependensi kelangsungan hidup, interdependensi, kondisi minimum bagi peradaban.

Uraian ini hanya menekankan apa yang telah jelas untuk beberapa waktu sekarang, yaitu amat pentingnya institusi intelektual untuk membentuk masa depan. Seperti belum pernah terjadi sebelumnya ilmu pengetahuan, terlebih pengetahuan teoretis, penelitian dan pengembangan dan imajinasi yang berdisiplin dari para ilmuwan telah menjadi kunci ke arah masa depan.

Karena itu untuk mengukur kemampuan kolektif kita untuk menghadapi masa depan, kita harus berpaling kepada universitas-universitas kita dan lembaga-lembaga penelitian. Universitas-universitas negara kaya dan miskin sama-sama terlibat, karena hampir semua masalah dan pemecahan yang dituntutnya telah menjadi global ruang lingkupnya.

Sebagai contoh marilah kita ambil universitas-universitas di Amerika telah lama mereka bukan lagi lembaga latihan bagi elit Amerika. Beberapa waktu yang lalu universitas-universitas ini telah menjadi medan latihan bagi elit dari banyak bagian dunia lainnya juga. Jelas bahwa universitas-universitas ini belum menyesuaikan dirinya secara tepat kepada peranan yang baru ini. Akan tetapi tidaklah adil untuk mengatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah satu-satunya yang gagal menyesuaikan diri kepada tuntutan-tuntutan baru. Orang bisa mengatakan bahwa hampir semua lembaga di seluruh dunia telah digenggam secara tidak sadar oleh cepatnya, besarnya serta demikian dalamnya perubahan sosial dan kutlural yang telah berlangsung selama dua dasawarsa terakhir.

Bilamana untuk sementara kita melihat ke luar dari tiga faktor yang telah memberikan special case kepada kasus-kasus Amerika: perang Vietnam, rencana dan perjuangan hak-hak asasi manusia, dari mencoba memberikan definisi masalah yang dihadapi oleh universitas di seluruh dunia bersama-sama, maka akan muncullah dua pertanyaan dasar. Satu, dalam kaitannya dengan hubungan universitas dengan masyarakat yang lebih besar – perubahan sosial, menuju isyu-isyu dasar yang dihadapi masyarakat masa kini, yang membutuhkan definisi baru dari fungsi universitas. Pertanyaan lain berhubungan dengan tatanan ke dalam dari universitas sebagai suatu tatanan khusus, tidak perlu serupa dengan konsep tatanan masyarakat yang lebih besar; distribusi, hakekat otonominya, cara yang dipergunakan untuk melaksanakan otonominya, untuk sesuai dengan sifat khusus dan fungsi universitas, sehingga ia semakin menghasilkan jenis hubungan sosial yang akan memungkinkan persatuan disiplin sebagai suatu tuntutan inheren dalam belajar dengan tercapainya pertanggungjawaban dari generasi pendahulu yang matang.

Sebagaiamana semua proses perubahan struktur yang besar, beberapa tingkatan kekerasan yang diakibatkan oleh rasa putus asa dan ketakutan dan kemungkinan mereka untuk saling meningkatkan bisa terjadi. Akan tetapi apa yang lebih penting adalah sesuatu yang mengatasi riuh rendahnya, serta kekerasan retorik konfrontasi kampus, pencarian yang dilakukan oleh mahasiswa dan fakultas maupun administrasi untuk mengembangkan konsep yang dapat membantu mengatasi tantangan yang lebih luas dalam masa kita. Hanya dengan cara ini bisa kita harapkan mereka mempertanyakan asumsi masyarakat sekarang dalam hubungannya dengan tuntutan yang semakin mendesak agar kelanjutan hidup bersama bisa berlangsung secara kreatif dengan perpecah-belahan yang sekurang mungkin. Dengan memberikan batasan baru mengenai tugas dan tanggung jawabnya dalam hubungan ini maka universitas-universitas di seluruh dunia akan mampu memainkan fungsinya sebagai pesemaian masa depan yang lebih baik.

Karena adanya interdependensi bagi kelangsungan hidup, maka muncullah kebutuhan yang mendesak bagi suatu kerja sama internasional yang semakin intensif antara lembaga intelektual ini di seluruh dunia. Tanpa saling menyuburkan, tanpa penerangan lintas-kultural, tidaklah mungkin mengembangkan konsep-konsep dan pandangan ini agar bisa diterima di dunia pada umumnya. Yang dibutuhkan adalah sebuah jaringan, yang menghubungkan universitas dan memungkinkan komunikasi yang intensif, atau informasi yang bebas dan dikembangkan seluas mungkin, serta pengembangan cara kerja sama baru dalam suatu skala yang lebih besar sebagaimana sejauh ini telah berlangsung. Bilamana kerjasama yang erat ini bisa diperkembangkan jaringan internasional universitas-universitas ini dan lembaga-lembaga penelitian masih akan menjadi infrastruktur intelektual bagi suatu dunia baru dan suatu tata dunia yang baru. Atas peri itu, universitas akan memainkan peranan Republik Ketiga dalam Revolusi Perancis, dan istilah fifth estate tidaklah tepat dalam jaringan lembaga intelektual ini. Kaum muda adalah wahana bagi harapan-harapan dan kesempatan-kesempatan orang tua yang hilang. Munculnya setiap generasi baru karena itu, terlebih dalam masyarkat yang cepat berubah, membuka kesempatan dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk sebuah perjalanan baru.

Berdasarkan cita-rasanya yang baru tentang kehidupan dan situasinya yang khusus, setiap generasi memiliki tugas untuk menetapkan arti hidup yang dikehendakinya; untuk memberikan batasan baru yang dihadapinya serta cara-cara mengatasinya, untuk memberikan batasan baru tentang masyarkat macam manakah yang ingin dijadikan tempat hidupnya, dan yang akan diwariskan kepada generasi penerusnya. Karena itu tidaklah cukup bagi kaum muda untuk merumuskan identitas mereka dengan peroses-prosesnya. Juga mendirikan masyarakat utopi bagi manusia bahagia atau aktivitas tanpa berpikir panjang, tidak memberikan jawaban yang berarti bagi masalah dasar dari peradaban yang kini tengah dihadapi umat manusia dalam lingkungan global.

Memang bisa, dipersoalkan bahwa eksistensi tatanan monastik atau pusat-pusat kehidupan kelompok-kelompok manusia berdasarkan nilai-nilai transendental, penting bagi setiap masyarakat, dan setiap peradaban, karena memperingatkan manusia kepada dimensi kehidupan yang lain dan jenis hidup yang lain, akan tetapi tidak seorang pun dapat mendakwakan ketepatannya sebagai jawaban untuk masalah-masalah yang tengah kita perbincangkan.

Di ujung lain dari spektrum ini, pasti benar bahwa manusia tidak dan tidak bisa mengetahui hasil akhir dan setiap tindakan sosial. Akan tetapi ini pun bukanlah alasan untuk menghapus rasionalitasnya atau tanggung jawab moralnya sejauh dia dapat melihatnya.

Taktik-taktik yang dianjurkan oleh pengertian-pengertian  seperti kekacauan yang kreatif (creative chaos), atau sifat merusak yang kreatif (creative destructiveness), didasarkan atas pengingkaran dan penurunan martabat manusiawi. Pengertian semacam ini, maupun ide-ide tentang revolusi spontan dan kreatifnya aksi-aksi spontan massa, adalah sifat yang dikenal juga dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi dapat saya yakinkan saudara-saudara bahwa dengan itu tujuan tak pernah tercapai.

Perkembangan yang paling penting untuk keluar dari krisis kultural yang kini mencekam masyarakat kaya boleh jadi adalah penilaian kembali kaum muda atas moral yang berlaku; kristalisasi nilai yang didasarkan kepada solidaritas kemanusiaan yang baru yang melewati batas-batas nasionalisme dan identitas kelompok yang sempit; kerinduan kepada jenis hubungan sosial yang bukan hirarkis, yang lebih memberikan kemungkinan bagi spontanitas, belas kasih dari cinta. Akan tetapi impuls baru yang kreatif dan moral ini dilengkapi dan dihubungkan dengan realitas-realitas yang ada bilamana mereka akan membawa kita melawati perjuangan yang ada di depannya. Bila tidak, mereka akan terperosok ke dalam pembenaran diri yang tak bermakna atau kepada aktivisme yang tidak terkekang.

Untuk kembali kepada cerita yang telah saya ceritakan pada permulaan, dan kepada kedua kutub eksistensi manusia yang telah saya katakan; dalam perjuangan manusia yang tiada akhirnya untuk memperjuangkan masyarakat manusia yang lebih baik, sambil memperhitungkan keselamatan jiwanya, manusia tidak bisa luput dari ketegangan ini, yang menjadi dasar kreativitasnya dan atas kesadaran ini dia dibebaskan dari pilihan palsu antara cop-out dan Uncle Tom.

Sebagai kesimpulan, selama pencarian kesenangan pribadi, kepenuhan pribadi dan kebebasan batin merupakan unsur penting bagi setiap pemecahan yang harus dikerjakan, maka itu saja tidak cukup. Hanya dengan perjuangan intelektual yang maha besar dan penerangan moral bisalah diharapkan ancaman-ancaman dan masalah-masalah yang meliputi kita akan dapat diatasi. Idealisme, semangat tidak ingat diri dan pengabdian, memang penting, akan tetapi yang tak kurang pentingnya adalah kemauan, kemampuan dan stamina untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat dalam dirinya sendiri, untuk mengembangkan visi yang jelas tentang masa depannya – tentang jenis masyarakat dan dunia yang kita mau diami – dengan jiwa yang peka namun keras, kuat, akal yang relatih dan kreatif, yang juga rendah hati.

Kemampuan-kemampuan ini bisa diperkembangkan di universitas, yang bukan merupakan tempat yang salah untuk itu. (*)

__________________

Soedjatmoko lahir di Sawahlunto (1922) dan meninggal di Jakarta, 21 Desember, 1988. Ia dalah satu dari hanya sedikit cendekiawan Indonesia yang memiliki reputasi memperoleh pengakuan yang sangat luas secara mondial. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, di dalam dan luar negeri. Sebagian termaktub dalam buku yang disuntingnya bersama Robert N. Bellah, Religion and Progress in Modern Asia (1964), dan Introduction to Indonesian Historiography (1965). Dua bukunya terpenting yang merupakan pilihan karangan-karangannya tentang agama, kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan etika pembebasan, telah menjadi karya klasik yang menjadi bacaan wajib para pemerhati masalah-masalah sosial dan kebudayaan. Di samping berbagai pos diplomatik yang dijabatnya sejak 1974, ia pernah memimpin majalah Hot Inzicht (1946-47), pemimpin redaksi Siasat (1952-60), dan anggota redaksi harian Pedoman (1952-60). Ia pernah belajar di sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (1940, tidak selesai karena sikap kritisnya terhadap Jepang), memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Cedar Crest university (Doctor of Laws, 1969) dan Yale university (Doctor of Humanities, 1970), keduanya di Amerika Serikat, dan Doktor Honoris Causa dari University Sains di Penang (Doktor Persuratan, 1982). Selama hidupnya, Soedjatmoko juga pernah memperoleh pengakuan intelektual yang sangat tinggi dengan menjadi anggota Club or Rome dan anggota kehormatan American Academy of Arts and Science.

Sumber: Soedjatmoko, Etika Pembebasan, LP3ES, April, 1996.

Ambassador Soedjatmoko (above, with AFS students) will give keynote speech at the Anniversary Banquet. [photo—Stephen M. Toth]

“Confrontation and Understanding”

***

*) Diterjemahkan dari “Soul and Society: An Asian Commentery on Western Counter Culture,” pidato yang disampaikan pada pembukaan konvokasi Cedar Crest Colege, 1969.

Continue Reading

Ekonomi & Politik

Kh Wahid Hasjim: Fanatisme dan Fanatisme

mm

Published

on

FANATISME atau ta’asshub ialah kepercayaan membabi-buta terhadap sesuatu ajaran dan menolak segala pendapat lain dari yang dianutnya. Kita sering kali mendengar anjuran orang, janganlah fanatik atau ta’asshub, artinya: janganlah memegang kepercayaan sendiri dengan cara membabi-buta.

Sering kali kita dengar orang salah mengartikan ta’asshub itu. Dikiranya ta’asshub ialah memegang teguh pendirian dengan pengertian. Pendirian yang teguh dengan pengertian bukanlah fanatisme atau ta’asshub, tetapi yang demikian itu adalah kesatriaan dan perasaan tanggung jawab yang penuh.

Umat Islam zaman dulu tidak mengenal perkataan ta’asshub. Islam adalah demokratis, tidak takut pada pendapat orang lain yang berlainan dengannya. Tidak ada buku yang lebih demokratis selain al-Quran. Lihatlah di dalam al-Quran dimuat ayat yang berbunyi; Wa jaqulana innahu lamajnun (mereka, lawan Muhammad, mengatakan bahwa sesungguhnya Muhammad itu gila). Ayat itu dipertontonkan Al-Quran pada ummat Islam dengan pengharapan supaya dapatlah mereka melihat bahwa otak manusia itu ada juga yang demikian tololnya, setelah kehabisan hujjah (argumentasi) di dalam bertukar pikiran lalu memakai kata-kata kotor dan maki-makian.

            Timbulnya perkataan ta’asshub (fanatisme) di dalam kalangan Islam ialah setelah orang Barat, merasa tidak dapat menembus keteguhan pendirian umat Islam dengan cara hujjah, lalu mencari akal menuduh umat Islam dalam fanatik. Sungguh sangat disayangkan, di antara umat Islam ada yang tertipu dengan perkataan tadi. Dikiranya bahwa keteguhan mereka memegang pendirian yang didasarkan pada pengertian itu adalah fanatisme (ta’asshub). Lalu, mulai segan memegang pendiriannya menghadapi orang Barat.

Mereka ini tidak insaf bahwa tindakan fanatik yang dikenakan orang Barat pada Islam itu adalah akal-akalan dan tipuan semata-mata. Bukan mereka sendirikah (orang Barat) fanatiknya terhadap kebiasaan, kepercayaan, terutama untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka sungguh luar biasa sekali? Jadi tuduhan orang Barat melemparkan kata-kata fanatik pada ummat Islam semata-mata seperti siasat perang, mengadakan tembakan-tembakan pancingan, dan dengan demikian dapat diketahui mana-mana yang lemah.

Tetapi yang lebih celaka lagi adalah perpecahan yang ditimbulkan oleh racun yang dinamakan fanatisme (ta’asshub) tadi di kalangan kaum Muslimin sendiri. Oleh karena salah pengertian terhadap arti fanatisme dengan makna kepercayaan membabi-buta dan menolak pendapat-pendapat yang berlainan darinya, dengan makna yang salah satu yaitu, memegang teguh pendiriannya dengan pengertian.

Mereka ini oleh golongan lainya yang “modern” dicap fanatik. Sedangkan golongan “modern” ini makmum pada orang-orang Barat dengan pendirian yang teguh pula. Sebenarnya mereka ini juga fanatik, tetapi tidak pada Islam, hanya kepada orang barat. Akan tetapi mereka juga tidak suka dinamakan fanatik, dan menamakan dirinya “modern”, “progresif”. Padahal sebenarnya mereka adalah fanatik, lebih keras dari pada “fanatiknya” pihak yang pertama tadi. Jadi “fanatik” lawan timbul di kalangan umat Islam sendiri.

Dalam pada itu yang untung ialah orang-orang Barat yang mengemudikannya. Kalau kita pikirkan betul-betul, maka perumpamaannya tuduhan “fanatik” pada umat Islam itu adalah didasarkan pada teori vaccinatie (menyuntik) penyakit di dalam badan dengan kutu-kutu yang sama; maksudnya ialah supaya kutu-kutu penyakit yang masih tahan kuat, tidak fanatik atau “progressif”(?). Kasihan bangsa-bangsa jajahan yang dikomedikan (dijadikan bahan lawakan), sehingga berkelahi segolongan melawan segolongan lainnya! Walaupun begitu masih juga mereka suka direkomendasikan orang! Mudah-mudahan hal ini diinsyafi oleh kaum Muslim! (*)

_______________

KH Wahid Hasjim lahir pada 1913 dan meninggal pada bulan April 1953. Ia adalah putra Kiai Hasjim Asj’ari. Berpendidikan pesantren, terakhir belajar di Mekah (1923-33). Sekembalinya dari Mekah ia mendirikan sebuah madrasah bergaya modern yang digabungkan di pesantren ayahnya (1935), dengan demikian menjadikan Tebuireng sebagai model yang belakangan banyak diikuti pesantren-pesantren lain. Jabatan-jabatan resmi pertama di Nahdlatul Ulama (NU); sekretaris cabang Cukir (1937), Ketua Cabang Jombang (1938), Ketua Biro Pendidikan Pengurus Nasional (1939). Ketika Masjumi didirikan di bawah pengawasan Jepang pada 1943, ia menjadi wakil pimpinan yang tetap dipegangnya sampai NU keluar dari Masjumi pada 1952. Sejak Desember 1942 hingga April 1952 menjadi Menteri Agama dan sejak Agustus 1952 sampai akhir hayatnya menjabat sebagai Ketua Umum dengan pendiri NU lainnya; Istrinya, Solehah, adalah putri Kiai Bisri Syamsuri dan kemenakan langsung Kiai Wahab Chasbullah. Solehah yang berkemauan keras ini tetap merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam politik di belakang-layar NU hingga wafatnya.

Sumber: KH Wahid Hasyim, Gempita, Tahun I, No. 1, 15 Maret 1955.

Continue Reading

Ekonomi & Politik

Mohammad Hatta: Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira

mm

Published

on

HERBERT Spencer, ahli filsafat terkenal pada abad yang lalu mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya bersifat kuno. Hatinya sering terikat oleh kebiasaan, perasaannya, berat kepada yang lama. Itulah sebabnya maka orang tak mudah membuat yang lama dan menerima yang baru. Demikian juga dalam pergaulan, orang sangat terikat kepada tempatnya yang lama, bahkan tempat tumpah darahnya.

Memang filosofi kehidupan ini kita alami setiap hari. Apa lagi bagi orang tani, sangat melekat hatinya kepada tanah yang dikerjakannya, kepada pekarangan yang didalaminya, apa pula kalau tanah itu diperolehnya sebagai pusaka nenek moyang, turun temurun dari buyut sampai ke kakek, dari kakek sampai ke bapak, dari bapak sampai ke anak dan dari anak turun ke cucu dan selanjutnya.

Sifat itulah yang menjadi seni perasaan provincialisme, yang menjadi halangan kepada majunya cita-cita persatuan bangsa. Itulah sebabnya maka cita-cita persatuan bangsa lambat timbul dalam negeri agraria, yang penduduknya terutama hidup daripada pertanian, di mana satu sama lain jarang berhubung dengan tukar menukar. Cita-cita persatuan lekas timbul dalam negeri industri, di mana rakyatnya yang memburuh terlepas dari ikatan tanah dan tempat, melainkan disusun bersatu oleh pabrik dan disiplin pekerjaan. Lihat Inggeris negeri industri, betapakah kuat persatuan kebangsaannya. Lihat pula sebaliknya tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu, negeri agraria, berapakah sukarnya membangkitkan semangat persatuan, berapakah kuatnya sifat provincialisme yang menjadi sebab hilangnya kemerdekaan bangsa dan Tanah Air Italia. Mengembara Mazzini lebih dahulu dalam pembuangan, mengandung dalam dadanya api persatuan yang tak mau padam, barulah menyingsing fajar keinsafan yang bibitnya ditanam oleh Mazzini: Italia Merdeka. Dengan itu terlekatlah semboyan di bibir tiap-tiap putera Italia, mengatakan Italia fara de se, artinya: Italia membikin dirinya sendiri.

Dalam pada itu, satu ajaran kita dapat daripada sejarah pergerakan kemderdkaan di Italia. Sekalipun sukar mencapai persatuan bagi tanah agraria dan bangsa pertanian, namun dengan usaha dan didikan cita-cita itu tercapai juga.

Keadaan Indonesia di waktu sekarang tidak seberapa bedanya dengan tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu. Juga Indonesia terbilang tanah agraria. Selain daripada itu ia terbagi atas beberapa pulau yang besar dan beratus pulau-pulau yang kecil, satu sama lain dipisah-pisah oleh lautan. Lebih lagi daripada di Italia di zaman dahulu, terdapat di sini semangat persaingan dan provincialisme, Satu, sifat tani yang dipengaruhi oleh lingkungan tanah yang dikerjakannya; kedua, keadaan insulair (kepulauan), – kedua-duanya itu adalah dasar yang baik untuk menimbulkan perasaan buat hidup sendiri-sendiri serta berpikir sebagai katak di bawah tempurung.

Tidak heran, kalau pergerakan kebangsaan ditujukan kepada Tanah Air dan bangsa yang satu, kalau pergerakan pada langkah bermula mendidik persatuan. Bukan persatuan dalam pengertian menggabungkan beberapa partai politik menjadi yang tidak punya sifat dan rupa, melainkan persatuan dengan makna “berasa satu sebagai anak dari Ibu yang satu, Ibu Indonesia.” Dalam politik boleh berbeda paham, tetapi dalam rasa kebangsaan harus terikat oleh Tanah Air yang satu, yang dicintakan kemerdekaannya.

Itulah sebabnya, maka pergerakan kita bermula menuju hilangnya perasaan provincialisme. Tidak sedikit tempo yang dipergunakan untuk propaganda persatuan, supaya orang Batak menghilangkan perasaan kebatakannya, supaya orang Minangkabau menanggalkan keminang-kabauannya, supaya orang Sunda dan Jawa dan Madura melepaskan diri masing-masing daripada perasaan kebangsaan yang picik. Bagaimana juga tiap-tiap daerah dan kaum terikat oleh kebiasaan dan adat sendiri, semuaya harus merasa dirinya bagian dari Tanah Air yang satu. Berulang-ulang dipropagandakan, bahwa keadaan bangsa tidak ditentukan oleh bahasa yang sama dan agama yang serupa, melainkan oleh kemauan untuk bersatu. Dimana ada kemauan untuk bersatu dalam perikatan yang bernama “bangsa”, di waktu itu timbullah Kebangsaan Indonesia.

Ini kepercayaan, ini propaganda, akan tetapi tidak cukup dengan itu saja. Tidak cukup kalau kita dalam perasaan saja menamai diri kita “anak Indonesia”; di mana keadaan memaksa harus ditetapkan dengan bukti.

Masih banyak di antara kita yang bernama atau menamakan diri nasionalis Indonesia, akan tetapi pergaulannya dan semangatnya masih amat terikat kepada daerah dan tempat ia dilahirkan. Hatinya berat meninggalkan tanah tumpah darahnya, bercerai dengan pekarangan tempat buaiannya tergantung. Apalagi kalau ia terpaksa meninggalkan kotanya yang ramai dengan tiada kemauan sendiri, kalau ia ditempatkan ke satu daerah yang sunyi, yang adat dan lembaganya berlainan daripada yang dipakainya. Di sana timbul pilu dalam hatinya, teringatlah ia kepada kampung dan lupalah ia kepada Indonesia, yang daerahnya jauh lebih luas daripada kampung dan halaman si musafir tadi.

Siapa yang masih berperasaan begitu, bukanlah ia anak Indonesia, melainkan tak lebih dari anak provincial. Cita-cita Indonesia Merdeka makin dekat tercapai, bilamana semangat provincial semakin hilang dan anak Indonesia tulen semakin bertambah. Tandanya orang bernama anak Indonesia tulen, ia tak takut ke mana juga dalam Indonesia ini ia dibawa nasib. Di atas lapangan Tanah Air, ia hidup dan ia gembira.

Kita kaum revolusioner yang mengikut dan menganjurkan pergerakan radikal harus mempunyai perasaan yang demikian. Kita belum revolusioner dan belum radikal dalam semangat, kalau mulut kita tidak sesuai dengan isi hati kita. Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semuanya itu bagian Tanah Air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Apalagi, karena barisan kitalah yang senantiasa terancam oleh exorbitant rechten, yang sering memberikan korban buat pembuangan.

Kepada saudara-saudara kita yang menempuh jalan pembuangan dan hidup dalam perasingan, inilah syarat hidup yang kita peringatkan: “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira, Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku”. (*)

____________

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antar anggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delgasi ke Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Perjuangannya dalam pergerakan nasional di luar negeri membuatnya dipenjara selama lima bulan bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdl Madjid Djojoadiningrat.

Menjelang kemerdekaan, pada awal Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk dengan Soekarno sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua.

Tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir. Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Repbulik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggap 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk meyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada tanggal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul Menuju Negara Hukum.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presisen Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.

Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr. Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

Sumber: Mohammad Hatta, Buku 1 Kebangsaan dan Kerakyatan, PT Pustaka LP3ES, Jakarta, 1998

Diterbitkan pertama kali dalam Daulat Ra’jat, No. 85, 20 Januari 1934, dan dimuat kembali dalam Kumpulan Karangan, I, Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Jakarta, Amsterdam, Surabaya, 1953, dan Penerbit Bulan Bintang, Jakarta 1976.

 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: