Connect with us

Memoar Kehilangan

Doa Dalam Namamu

mm

Published

on

Rembulan di seperempat pagi nyaris memelukmu; apa isyarat rembulan kini bagimu? Barangkali itu rembulan yang dahulu, tapi betapa kehidupan memang cepat berubah. Tapi pastilah ada waktu-waktu kini untuk merindukanmu; beserta malam-malam yang resmi menjadi kenangan.

Ah, rupanya kini aku tak lagi kenak-kanak remaja, kini aku jadi diriku, tak lagi muda beserta segenap kekecewaan yang memang soal perasaan; tak mudah diungkap katakan, atau tak perlu.

Bahwa tentangmu adalah angin malam sepanjang jalan itu; tentang nyanyian ombak; jalan-jalan pertempuran, pohon, darah, lautan berombak; ketika semua ingin kutunjukan betapa aku menginginkanmu untuk kuperdengarkan kalimat hatiku.

Bahwa tentangmu adalah menit terakhir di malam kini, sebelum puisi dibenamkan oleh nyanyian, sebelum kerinduan di semayamkan luka mata diam-diam; sebelum tentangmu berlalu malam kini.

Tentangmu adalah redupnya jiwaku yang mencarimu semalaman di halaman antara jiwaku dan takdirmu. Bahwa tentangmu adalah doa-doa yang digenapkan namamu.

Sabiq Carebesth | Agustus 2011

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: