Connect with us

Books

Charles Darwin: Origin Of Species (Tentang Yang Selamat Dari Yang Terkuat)

mm

Published

on

Demi suatu kebetulan yang sangat menarik, tahun 1809 telah menyaksikan kelahiran lebih banyak pemimpin-pemimpin luar biasa dari yang barangkali pernah dialami satu tahun yang manapun dalam sejarah. Setiap pemimpin yang lahir ini ditakdirkan untuk mencapai kedudukan tertinggi dalam perjalanan hidup mereka masing-masing. Dua diantara mereka, Charles Darwin, “Newton Ilmu Hayat”, dan Agraham lincoln “Emansipator besar”, terlahir pada hari dan hampir pada jam yang sama. Tokoh-tokoh penting lain yang untuk pertama kali melihat cahaya matahari dalam tahun ini adalah Gladstone, Tennyson, Edgar Allan Poe, Oliver Wendell Holmes, Elizabeth Barret Browning dan Felix Mendelssohn.

Diantara nama-nama yang jaya, diantara berjuta-berjuta manusia yang dilahirkan dalam abad ke-19, mungkin terkecuali Karl Marx dalam kenyataannya tidak ada yang telah memberikan sumbangan begitu banyak dalam merubah jalan pikiran utama dan menghasilkan pandangan baru dalam soal-soal manusia, seperti Darwin. “Darwinisme” adalah suatu konsep yang pasti kedudukannya dalam pikiran orang banyak, seperti Marxisme, Malthusianisme dan Machiavelisme.

Biarpun prinsip-prinsip teori Darwin dalam dunia ilmu pengetahuan pada saat ini hampir-hampir secara universil telah diterima, boleh dikatakan selama satu abad pertentangan telah menopang sekitarnya. Pergulatan fundamentalis-modernis dari abad ke-19, yang memuncak dalam “pemeriksaan monyet” dari Scope di Tennessee, adalah salah satu dari contoh pergulatan yang dimulai dalam tahun 1859 yang paling banyak dibicarakan. Hanya baru sekarang ini ada tanda-tanda perdamaian dari permusuhan ini.

Sebagai seorang anak, Darwin sedikit sekali memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia kelak akan menjadi seorang sarjana yang termasyur diseluruh dunia. Ia terlahir dari suatu keluarga sarjana-sarjana dan ahli2 yang terpandang, tapi bahkan ayahnya menyatakan kesangsian yang keras bahwa anaknya ini kelak akan dapat mencapai sesuatu. Disekolah rendah, Charles yang muda berasa bosan mempelajari bahasa-bahasa mati dan mengikuti jam-jam  pelajaran klassik yang kaku. Ia dimarahi oleh guru kepala karena telah menyia-nyiakan waktunya dengan melakukan eksperimen-eksperimen kimia dan mengumpulkan serangga-serangga dan mineral-mineral. Untuk mengikuti jejak ayahnya ia kemudian dikirim ke-universitas Edinburgh dalam umur 16 tahun untuk belajar ilmu kedokteran. Setelah berdiam dua tahun disana, ia memutuskan bahwa pekerjaan dokter tidaklah cocok baginya. Lalu ia dipindahkan ke Cambridge untuk beroleh pendidikan seorang pendeta di Gereja Inggris.

Dilihat dari sudut pandangan pendidikan formil, Darwin menganggap masa tiga tahun selama di Cambridge sebagai tahun-tahun yang terbuang. Tapi ia bernasib baik untuk menjalin suatu persahabatan akrab dengan dua orang  guru yang berpengaruh. Bersama Henslow, gurubesar ilmu tumbuh-tumbuhan, dan Sedgwick, gurubesar geologi, ia banyak mempergunakan waktunya untuk mengadakan ekskursi keluar, mengumpulkan kumbang dan mengadakan pengamatan sejarah alam.

Berkat Sedgwick-lah maka  Darwin beroleh tawaran untuk berlayar sebagai seorang ahli ilmu alam diatas kapal perang Beagle, yang memulai suatu expedisi pengawasan yang luas dibelahan bumi selatan. Waktu mengenangkan perjalanan-perjalanan ini ditahun-tahun kemudian Darwin menghargainya sebagai “kejadian yang terpenting dalam hidup saya”. Kejadian ini telah menentukan karirnya. Pikiran untuk menjadi seorang ulama “telah mati dengan sendirinya” diatas kapal Beagle.

Selama lima tahun berikutnya, dari tahun 1831 sampai tahun 1836, ia mendarat dihampir setiap benua dan pulau besar dalam perjalanannya mengitari dunia. Darwin diminta untuk bekerja sebagai seorang ahli geologi, ahli ilmu tumbuh-tumbuhan, ahli ilmu hewan, dan sebagai seorang ahli umum – suatu persiapan yang luar biasa bagusnya bagi kehidupannya selanjutnya yang akan penuh dengan penyelidikan dan penulisan. Kemana saja ia pergi, ia membuat kumpulan yang besar dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, baik fossil maupun yang masih hdiup, kediaman-kediaman dari tanah dan bentuk-bentuk dari laut. Ia menyelidiki dengan mata seorang naturalis, flora dan fauna laut dan darat – padang-padang pampa di Argentina, tebing-tebing kering pegunungan Andes, danau-danau garam dan gurun-gurun Chili dan Australia, hutan lebat. Brazilia, Tierra del Fuego dan Tahiti, Tanjung Pulau-pulau Verde yang telah gundul, bentukan-bentukan geologi dipantai-pantai dan pegunungan Amerika Selatan, gunung-gunung berapi yang masih hidup dan yang telah mati dipulau-pulau dan dataran besar, kadang-kadang fossil binatang menyusukan dari Patagonia, ras manusia yang sudah tidak ada lagi di Peru dan manusia-manusia asli Tierra del Fuego dan Patagonia.

Dari daerah-daerah yang ia kunjungi tidak ada yang begitu menakjubkan Darwin seperti pulau-pulau Galapagos 500 mil dari pantai barat Amerika Selatan. Dipulau gunung berapi yang sunyi ini, tak bependuduk dan boleh dikatakan gersang, ia melihat kura-kura raksasa, yang ditempat lain hanya ditemui sebagai fossil, dan cicak besar yang dibagian lain dunia sudah lama mati, ketam yang besar dan singa laut. Ia terutama sangat sekali terheran-heran melihat kenyataan bahwa burung-burung disini sama dengan yang terdapat berbagai variasi diantara bermacam spesi burung dari pulau kepulau.

Gejala aneh dipulau-pulau Galapagos ini, ditambahkan pada hal-hal yang sebelumnya ia catat di Amerika Selatan, telah memperkuat pikirannya tentang evolusi, telah mulai beroleh bentuk dalam pikiran Darwin. Menurut penuturannya sendiri:

Saya sangat sekali ditakjubkan oleh penemuan hewan-hewan fossil yang ditutupi kulit-pelindung seperti yang kelihatan pada hewan bersisik yang masih hidup diformasi-formasi Pampea; kedua, cara hewan-hewan yang dekat sekali hubungan keluarganya saling menggantikan dalam perjalanan arah keselatan diseluruh dunia; dan ketiga, oleh sifat-sifat Amerika Selatan yang terdapat pada hasil-hasil kepulauan Galapagos, dan lebih lagi terutama oleh cara saling beda mereka disetiap pulau dari kumpulan pulau-pulau ini; tidak satupun diantara pulau-pulau itu yang kelihatannya sangat tua dilihat dari sudut geologi.

Tidak akan pernah lagi Darwin dapat menerima ajaran dari Genesis yang menyatakan, bahwa setiap spesi diciptakan seluruhnya dan kemudian melanjutkan hidup sepanjang jaman dengan tiada berubah, sebagai sesuatu ajaran yang masuk akal.

Sekembalinya ke Inggris, Darwin mulai membuat sebuah buku catatan tentang evolusi dan mengumpulkan fakta-fakta mengenai variasi dari spesi2, permulaan dari Asal-usul spesi2. Rangka kasar pertama teorinya ini telah ia tuliskan dalam tahun 1842, sebanyak 35 halaman. Kemudian rangka ini diperluas dalam tahun 1844 sehingga menjadi sebuah skets yang lebih lengkap setebal 230 halaman. Pada permulaannya, teka-teki yang terbesar ialah bagaimana caranya menerangkan timbul dan hilangnya pelbagai spesi. Mengapa spesi2 muncul, kemudian berubah karena timpaan masa, sudah itu pecah menjadi beberapa cabang, dan sering hilang dari pandangan sama sekali?

Kunci bagi rahasia ini diperoleh Darwin dengan secara kebetulan waktu membaca Essay  mengenai pertumbuhan penduduk  karangan Malthus memperlihatkan, bahwa angka kenaikan jumlah manusia dihambat oleh “pengendalian positif” seperti penyakit, kecelakaan, peperangan dan kelaparan. Darwin mengira bahwa faktor-faktor yang sama mungkin menekan jumlah hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Setelah mengadakan persiapan sebaik-baiknya untuk membenarkan perjuangan untuk hidup, yang dimana saja berlangsung berkat pengamatan yang terus-menerus dari kebiasaan hewan dan tanaman, jelas bagi saya dengan segera, bahwa dalam keadaan ini spesi yang serasi akan tetap dipertahankan sedangkan spesi2 yang tidak serasi akan hancur. Hasil dari pada ini ialah terbentuknya spesi baru. Disinilah akhirnhya saya beroleh suatu teori yang dapat saya pakai.

            Dengan demikian terlahirlah doktrin “seleksi alam”, “perjuangan buat hidup” atau “yang selamat dari yang terkuat” kepunyaan Darwin yang termasyur itu, batu sendi bagi Asal-usul Spesi2.

Selama duapuluh tahun Darwin menyusun buku catatannya dan memperkokoh teorinya. Ia membaca sejumlah buku – seri-seri lengkap dari majalah-majalah, buku-buku perjalanan, buku tentang sport, hortikultur, peternakan dan riwayat alam umumnya. “Waktu saya melihat daftar buku-buku yang bermacam-macam yang telah saya baca dan saya ringkaskan, termasuk seri-seri lengkap dari Jurnal-Jurnal dan Transaksi-transaksi, saya heran melihat kerajinan saya,” demikian Darwin menulis. Ia bicara dengan ahli2 ternak adan tanaman, dan mengirimkan daftar pertanyaan pada setiap orang yang mungkin mempunyai keterangan yang perlu. Rangka dari berbagai macam unggas yang diternakkan lalu dibenahkan, dan umur serta berat tulang-belulangnya dibandingkan dengan hidup sebagai spesi liar. Kalkun-kalkun dijinak dipelihara dan eksperimen-eksperimen dengan buah-buah dan benih-benih yang mengambang diair laut, dan menyelidiki soal-soal lain yang berkenaan dengan pemindahan benih. Segala pengetahuan botani, geologi, zoologi dan paleontologi yang ia kumpulkan kala ekspedisi Beagle ia pergunakan dalam mengerjakan masalah ini. Kepada massa angka-angka dan fakta-fakta ini ditambahkan pikiran Darwin sendiri karena ia selalu memikirkan teori-teori revolusionersnya ini.

Sokongan yang kuat bagi prinsip seleksi alam, menurut hemat Darwin, datang dari sebuah telaah mengenai “seleksi buatan”. Dalam soal hewan-hewan dan tanaman piaraan – kuda, andjing, kucing, gandum, jelai, kembang-kembang taman – manusia telah memilih dan memelihara varietet-varietet yang paling menguntungkan bagi kebutuhannya. Hewan-hewan piaraan, tanaman dan kembang-kembang ini mengalami perubahan yang begitu besar sehinga hampir-hampir tak dapat dikenal sebagai sesuatu yang berkeluarga dengan nenek moyang mereka yang liar. Spesi2 baru lalu ditimbulkan dengan pertolongan seleksi. Pemeliharaan memilih hewan dan tetumbuhan yang memiliki sifat-sifat ia kehendaki, dan kemudian memelihara pilihan ini dari generasi kegenerasi dan kadang-kadang menghasilkan spesi2 yang berbeda dari spesi2 yang pernah ada sebelumnya. Anjing-anjing seperti dachshund, collie, spaniel dan greyhound, misalnya biarpun tak serupa dengan serigala adalah turunan yang terakhir.

Jika evolusi dapat ditimbulkan oleh seleksi buatan, demikian Darwin berpikir, apakah tidak mungkin fungsi-fungsi alam juga ditimbulkan dengan cara yang sama oleh seleksi alam? Tapi dalam alam, kedudukan sipemelihara tadi diambil oleh perjuangan untuk hidup. Diantara bermacam bentuk kehidupan, menurut pengamatan Darwin, sejumlah besar oknum-oknum akan hilang. Hanya sebagian kecil dari yang lahir yang dapat hidup terus. Beberapa spesi2 tertentu menyediakan makanan bagi spesi2 yang lain. Perjuangan ini berlangsung dengan tiada hentinya, dan persaingan yang keras akan menghancurkan hewan dan tanaman yang tidak cukup kuat untuk mengatasi perjuangan ini. Variasi pada spesi2  terjadi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang diperlukan untuk melanjutkan hidup.

Begitu asyiknya Darwin mendirikan menara bukti-bukti yang tak dapat diingkari bagi kepentingan teorinya sehingga ia lalai menyiarkannya sampai tahun 1850. Waktu itu, karena desakan sahabat-sahabat terdekat, ia memulai persiapan dari sebuah karya monumental yang akan diterbitkan dalam beberapa jilid. Tapi waktu tugas ini kira-kira separuh selesai terjadilah suatu hal yang luar-biasa. Darwin menerima sepucuk surat dari Alfred Russel Wallace, seorang sesama ahli ilmu pengetahuan, yang sedang melakukan penyelidikan sejarah alam dikepulauan Melayu. Wallace memaparkan, bahwa ia juga sedang memikirkan asal-usul spesi dan seperti Darwin telah beroleh ilham dari pembacaan Malthus. Bersama dengan surat itu disertakan sebuah “Essay mengenai kecondongan-kecondongan varietet-variete untuk berpisah selama-lamanya dari Type asli”. Ini adalah pelisanan dari teori Darwin sendiri, karena, kata Darwin, “Sekiranya Wallace-lah yang telah menuliskan skets naskah saya dalam tahun 1842, maka ia telah membuat sebuah ringkasan pendek yang sangat baik! Bahkan kata-katanya sekarang dipakai sebagai kepala dari bab-babku”.

Darwin berada dalam suatu dilema. Jelas kedua orang ini telah sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang sama dengan tidak saling mempengaruhi, biarpun Darwin telah mempergunakan waktu bertahun-tahun untuk menelaah dan memikirkan soal ini, sedangkan pikiran-pikiran ini datang kepada Wallace dalam suatu lintasan tiba-tiba dari intuisi. Akhirnya diputuskan, bahwa pidato-pidato oleh keduanya, Darwin dan Wallace, akan diajukan pada pertemuan berikutnya dari Linnaean Society. Bersesuaian dengan itu, pengumuman yang pertama kali dari teori evolusi dengan seleksi alam telah terjadi pada malam 1 Juli tahun 1858. Tak lama sesudah itu, kedua pidato tersebut diterbitkan dalam Journal yang dikeluarkan oleh Society tersebut.

Karena didorong oleh peristiwa Wallace itu, maka Darwin meninggalkan pekerjaan besar yang sedang asyik ia kerjakan dan mulai menulis karangan yang ia sebut “Ringkasan”. Dekat akhir tahun 1859, buku ini, yang kelak akan merupakan langkah besar dalam sejarah ilmu pengetahuan diterbitkan oleh Hohn Murray di London. Penerbitan pertama sejumlah 1.200 jilid telah terjual habis pada hari pertama. Penerbitan-penerbitan lain datang menyusul. Sampai pada akhir hidup Darwin (1882) sebanyak 24.000 buah telah terjual di Inggris, sedangkan terjemahan kedalam hampir setiap bahasa yang ada telah dilakukan. Titel aslinya adalah Tentang Asal-usul spesi2 berkat seleksi alam, atau penyelamatan ras yang sesuai dalam perjuangan hidup. Masa telah memperpendek titel yang panjang ini menjadi Asal-usul spesi2.

Dasar-dasar dari teori Darwin dibicarakan dalam keempat bab pertama dari buku Asal-usul ini. Keempat bab berikutnya mengemukakan keberatan-keberatan yang mungkin dikemukakan terhadap teori tersebut, setelah mana terdapat berbagai bab mengenai geologi, penyebaran geografi hewan dan tetumbuhan, dan fakta-fakta yang perlu mengenai klassifikasi, morphologi, dan embriologi. Bab terakhir meringkaskan seluruh pembicaraan tersebut.

Pada permulaannya, Asal-usul spesi2 melukiskan perubahan-perubahan yang terjadi pada hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan piaraan sebagai hasil dari pengawasan manusia. Variasi-variasi yang lahir dari “Seleksi buatan” ini diperbandingkan dengan perubahan-perubahan dalam alam atau dengan “seleksi alam”. Dimana saja hidup ditemui, demikian disimpulkan, perubahan selalu ada. Tidak ada dua individu yang sama serupa dalam segala hal.

Kepada variasi ini ditambahkan perjuangan hidup. Beberapa contoh-contoh yang menakjubkan telah dipergunakan untuk memperlihatkan berapa jauh kesanggupan segala organisme untuk melangsungkan hidup. Bahkan hewan yang paling lambat sekali berkembang seperti gajah, akan segera dapat mengisi dunia. Sekiranya setiap gajah sampai menjadi dewasa dan kemudian berlipat-ganda secara wajar, maka “sesudah suatu masa 740 sampai 750 tahun”, kata Darwin, “akan terdapat hampir 90 juta gajah yang terlahir dari kelamin pertama”. Dari contoh ini dan contoh-contoh yang lain, diambil kesimpulan, bahwa “karena lebih banyak individu-individu dihasilkan dari pada yang dapat hidup terus, maka bagaimana juga harus terdapat suatu perjuangan untuk hidup, baik antara satu individu dengan individu lain dari spesi yang sama, atau dengan keadaan fisik kehidupan”. Tidak ada pengecualian atas hukum, bahwa setiap tetumbuhan, ikan, burung dan hewan, termasuk manusia, akan menghasilkan lebih banyak benih daripada yang dapat dilahirkan atau yang dapat ditempatkan dalam suatu dunia yang penuh sesak. Tingkat kenaikan jumlah adalah geometris sifatnya.

Saling-bergantungan yang terdapat antara spesi2 juga digambarkan dengan secara grafis. Darwin menemui bahwa penyebukan oleh “kumbang” adalah perlu bagi kesuburan kembang viool dan beberapa clover.

Jumlah  kumbang disetiap distrik tergantung pada jumlah tikus-tanah, yang menghancurkan sarang dan induk-madu mereka ….. Sedangkan sebagai diketahui orang jumlah tikus sangat sekali tergantung pada jumlah kucing ……….. Karena itu dapat dipercaya bahwa adanya jumlah kucing yang besar disebuah distrik mungkin menentukan, melalui perantaraan, pertama oleh tikus, kemudian oleh kumbang, jumlah kembang-kembang tertentu disebuah distrik.

Buku Asal-usul spesi2 kemudian diteruskan untuk memperlihatkan bagaimana prinsip “seleksi alam” bekerja dalam mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk. Beberapa individu dalam suatu spesi adalah lebih kuat, bisa berlari lebih cepat, lebih pintar, lebih tahan terhadap penyakit, atau lebih sanggup menahan kekerasan-kekerasan iklim dari pada yang lain. Yang kuat ini akan hidup terus dan berkembang sedangkan yang lemah akan hilang. Seekor kelinci putih akan dapat hidup terus di daerah-daerah Kutub, sedangkan kelinci coklat yang lebih mudah kelihatan akan dilenyapkan oleh rubah-rubah dan serigala-serigala. Zurafat-zurafat yang berleher panjang berhasil hidup terus, karena dimusim-musim kemarau mereka dapat mencapai pesediaan makanan yang ada dipucuk pohon, sedangkan zurafat yang berleher pendek mati semuanya. Variasi-variasi yang serasi dengan keadaan ini menjamin kelangsungan hidup dari yang paling serasi. Dan dalam masa bermillennium tahun mereka membawa pembentukan suatu spesi  yang baru sama sekali.

            Hukum “membunuh untuk hidup” seperti berlaku dimana-mana, telah didramatisir oleh Darwin dengan cekatan;

Kita melihat wajah alam benderang karena kegirangan, kita sering melihat makanan melimpah; kita tidak melihat, atau kita lupa, bahwa burung-burung yang bernyanyi senang keliling kita kebanyakan hidup dari serangga dan benih, dan dengan begitu terus-menerus menghancurkan kehidupan; atau telor mereka atau anak-anak mereka yang dibunuh oleh burung-burung atau binatang-binatang buas; kita tidak selalu sadar bahwa, biarpun sekarang makanan mungkin melimpah, hal ini tidak selalu demikian adanya disetiap musim setiap tahun yang akan datang.

Suatu aspek penting dari seleksi alam, yang ditunjukkan oleh Darwin ialah seleksi kelamin. “Umumnya, jantan yang paling sehat, yang paling serasi dengan tempatnya dalam alam, akan meninggalkan paling banyak keturunan ………… Seekor rusa jantan tak bertanduk, atau seekor ayam jantan tak bersusuh, akan mempunyai sedikit harapan untuk meninggalkan turunan yang banyak.” Diantara burung-burung, “pertandingan sering berlangsung dalam bentuk yang lebih damai”, karena jantan dari berbagai spesi berusaha menarik betina dengan nyanyian-nyanyian yang merdu, bulu-bulu yang indah, atau memperlihatkan lompatan-lompatan yang aneh.

Iklim juga adalah suatu faktor besar dalam seleksi alam, karena “musim yang sangat dingin atau musim kemarau adalah faktor yang paling effektif dari segala faktor pengendali ……………. Tindakan iklim sepintas lalu kelihatannya tak ada hubungannya dengan perjuangan untuk hidup; tapi dimana iklim berkerja begitu jauh sehingga mengurangkan makanan, ia akan menimbulkan perjuangan yang paling keras antara individu-individu, apakah mereka berasal dari spesi yang sama atau spesi yang berbeda, yang hidup atas dasar makanan yang sama”. Yang mungkin selamat  adalah individu-individu yang kuat yang sanggup menahan panas atau dingin dan yang paling sanggup mencari makan.

Darwin menulis:

Seleksi alam, ialah penyelidikan saksama setiap hari, setiap jam dari variasi yang sekecil-kecilnya diseluruh dunia; menolak yang buruk, memelihara dan menambahkan segala yang baik; bekerja dengan diam dan tak terlihat, kapan saja dan dimana saja kesempatan ada atas dasar penyempurnaan dari setiap mahluk organik  dalam hubungan dengan keadaan hidupnya yang organik dan tidak organik. Kita tidak melihat apa-apa dari perjalanan perubahan yang lambat ini sampai waktu memberikan tanda pelompatan jaman. Begitu tak sempurna pandangan kita terhadap jaman-jaman geologi yang telah lama lampau, sehingga kita hanya melihat bahwa bentuk-bentuk dari kehidupan sekarang berbeda dari bentuknya dahulu.

            Dalam bab penutupnya. Darwin menunjukkan bahwa daya dari seleksi alam sebetulnya  tidak ada batasnya, dan menyarankan, bahwa orang dapat “menarik kesimpulan dari analogi yang ada bahwa mungkin sekali segala mahluk organik yang pernah hidup dibumi ini adalah turunan dari semacam bentuk primordial, kedalam mana telah dinafaskan hidup untuk pertama kalinya. Ia percaya, bahwa semua bentuk-bentuk yang ruwet dari kehidupan mendasarkan perwujudannya pada hukum-hukum alam. Ia menemui bahwa hasil-hasil dari seleksi alam sangat menggembirakan.

Demikian dari peperangan Alam, dari kelaparan dan kematian, obyek tertinggi yang dapat kita gambarkan, yaitu lahirnya hewan tinggi, dapatlah terjadi, ada Suatu kebesaran dalam pandangan hidup ini, dengan kekuatan-kekuatannya yang berbagai-bagai yang pada asalnya dihembuskan oleh Mahakuasa kedalam beberapa ataupun satu bentuk; dan bahwa, sementara planit ini beredar sesuai dengan hukum gaya berat yang telah pasti, dari permulaan yang begitu bersahaja, bentuk-bentuk yang sangat indah dan menakjubkan tak ada hentinya sudah dan asyik berkembang.

Dengan cara begini teori evolusi yang tak berakhir telah disajikan oleh Asal-usul spesi2. Tapi bertentangan dengan pendapat umum, teori evolusi ini sebenarnya tidak berasal dari Darwin. Pikiran ini lebih tua dari Aristoteles dan Lucretius. Cendekiawan-cendekiawan yang sangat cemerlang seperti Buffon, Goethe, Frasmus, Darwin (nenek dari Charles). Lamarck dan Herbert Spencer telah menyokong ajaran ini. Sumbangan Darwin mempunyai arti dalam dua arah. Pertama, ia mengumpulkan lebih banyak bukti-bukti yang tak dapat disanggah untuk memperlihatkan fakta dari evolusi; hal tersebut belum pernah disajikan sebelum itu. Kedua, ia mengembukakan teori seleksi alamnya yang termasyur itu sebagai suatu keterangan yang masuk akal bagi metodos evolusi.

Penerimaan jamannya atas buku Asal-usul spesi2 telah dibandingkan orang dengan “kebakaran besar seperti kilat dalam sebuah lumbung yang penuh”. Sekiranya teori baru yang revolusioner itu berlaku, maka cerita Injil tentang penciptaan taidaklah lagi dapat diterima. Gereja dengan segera menganggap thesis Darwin sebagai sesuai yang berbahaya bagi gereja, lalu membangkitkan suatu topan pertentangan. Biarpun Darwin dengan hati-hati telah mengelakkan penggunaan teorinya terhadap manusia, dakwaan tersebar, bahwa pengarangnya telah mengambarkan manusia sebagai keturunan monyet.

Percobaan lalu dilakukan orang untuk merendahkan Darwin dengan ejekan-ejekan. Sebuah karangan dalam Quarterly Review menyebutnya “seorang olok-olok”, yang mencoba dalam bukunya untuk “menopang hasilnya yang busuk dengan terkaan-terkaan dan spekulasi-spekulasi”, dan yang “caranya membicarakan dalam” adalah “sangat sekali bersifat merusak nama ilmu pengetahuan”. Spectator tidak menyukai teorinya “karena ia tidak mengakui sama sekali sebab-sebab yang bersfiat menentukan dan disamping itu menunjukkan suatu pengertian yang didukung oleh kerusakan moral pembela-pembelanya”. Selanjutnya, Darwin dituduh telah mengumpulkan sejumlah fakta-fakta untuk memperkokoh sebuah prinsip yang salah, dan “kita tidak bisa membuat seutas tali yang baik dari seuntai gelembung busa”. Salah seorang pembahas bertanya apakah “masuk akal jika semua varietet umbi yang baik dari umbi condong untuk menjadi manusia”. Karena Inggris tidak mempunyai Inquisisi, berkala Athenaeum dalam sebuah tulisan pengejekan, menyerahkan Darwin “kepada kehendak Divinity Hall. Sekolah-sekolah tinggi, Ruang-ruang mengajar dan museum”. Komentar Darwin tentang ini ialah: “Dengan tak perduli ia akan membakar saya, tapi ia akan mempersiapkan kayunya dan kemudian mengatakan kepada hewan-hewan hitam itu bagaimana cara menangkap saya.”

Di alma mater Darwin sendiri, Whewell tidak mengijinkan satu copypun dari Asal-usul spesi2 diletakkan diperpustakaan Trinity College di Cambridge.

Dari sesama ahli ilmu pengetahuan Darwin sekaligus memberoleh sokongan hebat dan menemui tantangan yang pahit. Pendapat yang paling kuno diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Owen di Inggris dan Agassiz di Amerika, keduanya beranggapan bahwa pikiran-pikiran Darwin adalah kemurtadan ilmu dan segera akan dilupakan orang. Ahli astronomi Sir John Herschel melukiskan Darwinisme sebagai “hukum tawar-menawar”. Guru-besar geologi Darwin di Cambridge, Sedgwick, menganggap teori itu “salah dan merusak luar biasa” dan dia menulis surat kepada Darwin menyatakan bahwa karena bukunya ia “ketawa terbahak-bahak sehingga pinggangnya sakit” dan ia menganggap buku itu suatu “mesin yang sama liarnya dengan lokomotip uskup Wilkins yang akan berangkat dengan kita kebulan”.

Tapi Darwin tidak kekurangan jagoan-jagoan yang hebat. Yang terpenting diantara mereka ialah Charles Lyell, ahli geologi, Thomas Huxley, ahli ilmu hayat, Joseph Hooker, ahli tanam-tanaman, dan Asa Gray seorang ahli botani Amerika yang termasyur. Diantara mereka, yang paling menyokong Darwin ialah Huxley yang ia sebut “agen umumnya” dan yang menganggap dirinya sendiri sebagai “anjing bullodog Darwin”. Darwin bukanlah seorang ahli debat, dan tak pernah muncul depan umum untuk mempertahankan teori-teorinya. Pembelaan yang paling hebat dilakukan oleh Huxley yang cakap dan bersemangat.

Huxley-lah yang memainkan salah satu dari peran utama dalam konflik dramatis mengenai buku Asal-usul Darwin. Mimbarnya disediakan oleh pertemuan British Association di Oxford dalam tahun 1860. Pokok dari konperensi ini ialah Darwinisme. Meriam besar yang berada dipihak penentang adalah Uskup Wilberforce dari Oxford. Pada akhir dari sebuah pidato yang keras yang menurut hematnya telah menghancurkan teori Darwin, uskup itu memandang kepada Huxley, yang duduk dimimbar. “Saya ingin bertanya pada profesor Huxley,” demikian dia bertanya dengan cemooh, “apakah dipihak nenek laki-lakinya ataukah dipihak nenek perempuannya silsilah monyet telah masuk?” Kepada seorang sahabat disampingnya, Huxley berkata, “Tuhan telah menyerahkan dia ketanganku”.

Sambil berdiri Huxley dilaporkan telah mengatakan:

Tidak ada alasan bagi seseorang untuk berasa malu karena telah bernenekkan seekor monyet. Sekiranya ada moyang yang akan menyebabkan saya berasa malu untuk mengingatnya, maka moyang ini adalah seorang laki-laki yang mempunyai intelek yang gelisah dan subur, yang tidak puas dengan hasil yang ia peroleh dalam lingkungan kegiatannya sendiri, terjun kedalam soal-soal keilmuan yang tidak ia kenal, semata karena hendak menggelapkannya dengan bunga-bunga kata tak bertujuan, dan mengalihkan perhatian pendengarannya dari pokok persoalan dengan pertolongan penyimpangan yang lincah dan gamitan yang cakap pada prasangka-prasangka keagamaan.

Ini adalah yang pertama dari begitu banyak bentrokan yang terjadi antara gereja dan ilmu mengenai Darwinisme dan evolusi yang akan berkobar ditahun-tahun berikutnya.

            Pandangan Darwin mengenai agama berubah dengan bertambahnya usianya. Sebagai seorang anak muda, ia menerima pendapat dari penciptaan khusus tanpa pertanyaan. Dalam “Kehidupan dan surat-surat”nya ia mengutarakan kepercayaan bahwa “manusia dimasa datang yang jauh adalah mahluk yang lebih sempurna lagi dari pada manusia sekarang”.

Darwin selanjutnya menambahkan:

Sumber keyakinan yang lain dari bukti adanya Tuhan, yang berhubungan dengan akal, dan tidak dengan perasaan, saja rasa adalah sumber yang lebih berarti. Segalanya ini lahir dari kesulitan yang tak terkira atau lebih baik dari suatu kemustahilan untuk memahami universum yang luas dan menakjubkan ini, termasuk manusia dengan kesanggupannya untuk melihat jauh kebelakang dan kedepan, sebagai hasil dari suatu kesempatan atau keharusan yang kebetulan sifatnya. Demikian, jika saya renungkan, saya merasa terpaksa untuk mencari Sebab Pertama, sebagai sesuatu yang mempunyai pikiran cerdik yang sampai tingkat tertentu mempunyai analogi yang sama dengan yang terdapat pada manusia; saya sepatutnya disebut seorang Theis.Kesimpulan ini sangat kuat sekali dalam pikiran saya, sejauh ingatan saya semasa saya menulis Asal-usul spesi2, dan semenjak masa itulah keputusan itu, makin lama, dengan banyak turun-naiknya, makin menjadi lemah. Waktu itu timbullah kesangsian; dapatkah pikiran seorang manusia, yang telah tumbuh, seperti saya yakin sepenuhnya, dari pikiran yang begitu rendah, seperti yang dimiliki oleh hewan yang serendah-rendahnya dipercayai jika ia mengambil kesimpulan-kesimpulan yang begitu besar?

Dalam soal ini Darwin mengangkat tangannya, dan mengakhiri dengan menyatakan:

Saya tidak dapat berbuat seolah-olah saya dapat memberikan penerangan baik yang kecil sekalipun mengenai masalah-masalah yang begitu dalam dan gelap. Rahasia awal segala benda tidak dapat kita pecahkan; dan saya sebagai seseorang harus merasa puas dengan tetap tinggal bersikap agnostik.

Asal-usul spesi2  diikuti oleh serentetan buku-buku yang keluar dari pena Darwin yang giat. Buku-buku ini mempersoalkan masalah yang lebih khusus, tapi semuanya dalam intinya disusun untuk mengerjakan lebih lanjut, menambah dan memperkukuh pendirian evolusi dengan seleksi alam – yang telah disajikan dengan jelas dalam Asal-usul spesi2. Mula-mula terbit dua buah jilik kecil yang berkepala Mengenai bermacam cara serangga menyuburkan anggrek dan Gerak dan kebiasaan tetumbuhan menjalar. Seterusnya terbit dua karya besar: Variasi hewan dan tetumbuhan dalam penjinakan dan Keturunan manusia dan seleksi dalam hubungan kelamin. Buku-buku yang terbit sesudah itu membicarakan soal pengutaraan emosi pada manusia dan hewan, tumbuh-tumbuhan yang memakan serangga, akibat penyuburan bersilang, kekuatan bergerak pada tanaman, dan pembentukan tanah sayur-mayur.

Dalam Asal-usul spesi2 , Darwin dengan sengaja memperlunak setiap istikarah mengenai asal manusia, karena ia berpikir bahwa setiap penekanan apda tingkatan ini akan menyebabkan  seluruh teorinya ditolak orang. Tapi dalam Keturunan Manusia, sejumlah besar bukti-bukti telah dikemukakan untuk memperlihatkan bahwa ras manusia ini juga adalah hasil evolusi dari bentuk-bentuk yang lebih rendah.

Jika diperhatikan kembali, maka jejak Darwin atas hampir semua daerah besar pengetahuan adalah jelas, dan akan terus tercekam adanya. Doktrin evolusi organik telah diterima oleh ahli2 ilmu hayat, ahli2 geologi, ahli2 kimia, ahli2 fisika, oleh ahli2 antrhropologi, ahli2 ilmu jiwa, pendidik-pendidik , ahli2 pikir, dan ahli2 masyarakat, bahkan oleh ahli2 sejarah, ahli2 ilmu politik, dan ahli2 philologi.

Charles Ellwood menerangkan:

Jika kita bayangkan besarnya pengaruh karya Darwin atas hampir segala macam arah pemikiran manusia, dan ilmu sosial, kita terpaksa mengambil kesimpulan bahwa … kepada Darwin harus diberikan kedudukan yang paling dimuliakan sebagai pemikir yang paling menyuburkan yang telah dihasilkan oleh abad ke-19, bukan saja di Inggris, tapi diseluruh dunia. Arti sosial dari ajaran-ajaran Darwin bahkan baru sekarang mulai dimengeri orang.

Dalam tulisannya mengenai Asal-usul Spesi2 West menyatakan persetujuannya: “Akibatnya memang luas sekali. Boleh dikatakan hanya dengan merumuskan satu prinsip penilaian baru, yang dinamis tidak statis, ia telah merevolusikan setiap lapangan telaah, mulai dari astronomi sampai sejarah,mulai paleontologi sampai psykologi, mulai embryologi sampai agama”.

Sebaliknya terdapat penggunaan teori-teori Darwin, yang pasti tidak akan dapat disetujuinya sama sekali. Sebuah contoh penggunaan idee dari seleksi alam atau penyelamatan yang paling baik, ialah penggunaan oleh kaum fasis untuk membenarkan penghancuran ras-ras tertentu. Seperti itu juga, peperangan antara bangsa-bangsa telah dibela sebagai suatu cara untuk meniadakan yang lemah dan menyuburkan yang kuat. Selanjutnya Darwinisme telah diputar balikkan oleh kaum Marxis supaya sesuai dengan perjuangan kelas mereka. Dan kongsi-kongsi perusahaan yang tak mengenal kasihan telah membenarkan penghancuran kongsi-kongsi yang lebih kecil atas dasar yang sama.

Karena ia adalah seorang pengamat dan pembuat eksperimen yang luar biasa tajamnya, sebagian besar karya Darwin dapat tetap tegak, ilmu pengetahuan tambah berkembang. Bahkan biarpun teori-teorinya telah banyak dirubah oleh penemuan-penemuan ilmu modern, Darwin berhasil dengan cara luar-biasa untuk mendahului kemungkinan-kemungkinan lahirnya idee-idee yang sekarang berkuasa dalam ilmu genetika, paleontologi dan lapangan-lapangan lain yang beragam-ragam.

Suatu kesimpulan yang tepat sekali mengenai tempat Darwin salam sejarah ilmu pengetahuan datang dari seorang ahli ilmu hayat besar yang lain, yaitu Julian Huxley, cucu dari pembantu, pembela dan sahabat Darwin:

Karya Darwin telah meletakkan dunia kehidupan dalam lingkungan hukum alam. Tidak lagi perlu atau mungkin untuk membayangkan bahwa setiap ragam hewan atau tetumbuhan telah diciptakan dengan khusus, juga tidak, bahwa alat-alat yang indah dan pelik dengan apa mereka peroleh makanan mereka atau mereka hindarkan diri mereka dari musuh, telah direncanakan oleh suatu tenaga luar-alam, atau, bahwa ada suatu maksud yang disengaja dibelakang proses evolusi itu. Sekiranya pendapat tentang seleksi alam dapat dibenarkan, maka hewan dan tetumbuhan dan manusia sendiri telah terjadi sebagaimana adanya mereka berkat sebab-sebab alam, yang buta dan bekerja sendiri sebagai sebab-sebab yang mengakibatkan adanya bentuk gunung, atau yang membuat bumi dan planit-planit lain bergerak dalam sebuah ellips sekitar matahari. Perjuangan buta untuk hidup, proses buta dari sifat turun-temurun, dengan sendirinya akan menghasilkan seleksi dari type yang paling disesuaikan dan suatu evolusi yang terus-menerus dari silsilah ini kearah kemajuan …

Sumbangan Darwin telah memungkinkan kita untuk melihat kedudukan manusia dan peradaban kita sekarang ini dalam sinar yang lebih benar. Manusia bukanlah suatu hasil yang sudah selesai yang tidak sanggup maju lebih jauh lagi. Ia mempunyai suatu sejarah yang panjang dibelakangnya, dan sejarah ini bukanlah sejarah dari kejatuhan tapi dari kenaikan. Ia mempunyai kemungkinan didepannya untuk mengadakan evolusi yang lebih maju. Selanjutnya, dalam cahaya evolusi kita belajar untuk bersikap sabar. Sejarah tercatat selama beberapa ribu tahun tidak ada artinya, jika dibandingkan dengan sejarah adanya manusia didunia ini yang telah berjumlah jutaan tahun, dan beribu jutaan tahun sejarah kemajuan hidup. Dan kita boleh bersikap sabar jika ahli-ahli astronomi menjamin bahwa kita masih akan menghadapi setidak-tidaknya seribu juta tahun lagi depan kita, dimasa mana kita dapat melanjutkan evolusi kepuncak-puncak yang baru. (*)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Books

Seperti Para Penyair Seperti Juru Kunci Sepi di Jantung Keramaian

mm

Published

on

Nama Bagi Kesenyapan*)

Dalam keramaian abad digital yang mustahil dihindari, dengan apa sebaiknya kesepian dinamai? Inilah pertanyaan pembuka yang hendak saya ajukan setelah membaca 64 sajak karya Sabiq Carebesth yang dibuhulnya dengan tajuk Seperti Para Penyair. Adapun yang sebut “keramaian” dalam hal ini adalah lalu-lalang kelisanan yang terus merajalela di dunia maya sejak fajar mulai menyingsing, siang, petang, malam, hingga subuh datang menjelang. Doa-doa, himbauan, maklumat, nasihat, petuah, wejangan, tausiyah, berhamburan di sana sini. Kabar gembira, berita kematian, puja-puji, umpatan, makian, sumpah-serapah, hasutan, hujatan, fitnah, adu-domba, beranak-pinak dan membelah diri sepanjang hari. Saya membayangkan betapa letihnya makhluk bernama “bahasa.” Betapa terkuras tenaganya, betapa sibuk aktivitasnya, betapa minim waktu tidurnya. Keramaian yang tak mungkin disangkal itulah yang telah menghisap segenap jiwa bahasa, merenggut sekujur sukma kata, hingga ia hampir-hampir tak mungkin punya waktu untuk menjenguk kesepian. Begitu sukar bagi bahasa untuk hadir, apalagi pasang-badan di tengah-tengah padang kerontang bernama; kesepian. Bahasa tidak sanggup lagi memberi nama bagi kesepian. Mata bahasa dilanda semacam rabun senja setiap kali berhadapan dengan realitas keheningan.

Menurut hemat saya, ketercampakan bahasa dari realitas kesepian itulah yang sedang diratapi oleh sajak-sajak Sabiq dalam buku ini. Kalau penyair penggila kopi ini saya kiaskan dengan personalitas seorang penggembala, maka ia adalah penggembala yang sedang membujuk kembali ternak-ternak piaran yang lepas masuk ke dalam kerumunan ramai, sementara di sana rumput amatlah terbatas. Dengan berbagai cara ia menghalau dan menghela hewan-hewan itu untuk kembali mencari makan di padang-padang rumput yang lapang dan lengang. Dengan begitu, maka alam yang pantas dihuni oleh puisi bukanlah alam ramai yang sibuk, melainkan alam kesendirian yang hening. Tapi sungguh aku ingin pergi/menyusuri sungai dalam belantara sepi/seolah di sana kita telah pergi begitu jauh/seolah kita kelana dalam dunia kabut/di mana batu-batu berlumut/Dan harimau paling ganas—sama mengadu tentang kesunyiannya (Dalam Tungku Waktu, Sajak-sajak Membakarku).

Bahasa, bagi Sabiq, tampaknya hanya bisa lega bernapas dalam semesta sunyi, bukan di keramaian yang menyesakkan¾atau barangkali sudah menyesakkan. Perkenankan saya mengandaikan frasa “tungku waktu” dalam sajak di atas, sebagai durasi waktu sepi yang tidak seberapa lama itu. Tapi di sanalah, sajak-sajak memercikkan api, dan membakar apa saja. Sementara dalam arus keramaian, ia terkutuk sebagai daun-daun mati yang beterbangan dihembus kesiur angin dari utara. Maka, lewat sajak di atas, penyair merindukan rimba raya kesenyapan, yang dipenuhi kabut dan batu-batu berlumut.

Dalam sajak Seperti Para Penyair yang dipilih sebagai judul antologi ini, Sabiq membangun sebuah karakter yang ia sebut dengan “tuan bagi kesepian sendiri.” Sekali lagi saya ingin mengandaikan kalimat itu sebagai kerinduan penyair pada kesendirian yang diringkus oleh rupa-rupa keramaian realitas dunia mutakhir. Bila dalam keramaian bahasa menjadi budak yang senantiasa diperdaya, maka di ruang-ruang kesendirian ia hendak dikembalikan menjadi tuan dan majikan. Di sinilah barangkali tugas berat puisi dalam rimba raya keramaian kontemporer.Dengan segenap daya upaya, penyair membebaskannya, menyelamatkannya dari etos ketertindasan yang tak kasat.  Ikhtiar semacam itu saya jumpai dalam sajak-sajak seperti Elegi Sepi, Elegi Hening, Rajawali Musim Sepi, Kursi-kursi Mati Sunyi, dan beberapa sajak lainnya.

Tapi, apakah dengan demikian bahasa yang meringkuk sebagai terpidana dalam penjara keramaian itu sungguh-sungguh telah terselamatkan? Saya kira belum. Menimbang-nimbang upaya Sabiq dalam buku ini, sekali perkenankan saya mengumpamakan kepenyairannya. Kali ini ia adalah sipir penjara yang nakal, di mana pada waktu-waktu petugas lain sedang lengah, ia menyeludupkan seorang napi untuk bebas berkeliaran menghirup udara luar. Tapi, napi itu, yang tidak lain adalah bahasa, harus tetap bersetia pada penjara. Mesti kembali pada waktunya, menyerahkan diri dan kembali meringkuk di balik jeruji besi. Dengan begitu, di tangan Sabiq, bahasa hanya dibuat sekadar bersandiwara. Seolah-olah bebas, seakan-akan merdeka dari kuasa keramaian, padahal statusnya masih narapidana. Tidak ada puisi di siang terik/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan/jadi badut atau politisi/jadi tukang pulung atau tukang tipu/apa bedanya?/sajak-sajak dijual di pasar loak/atau di sosial media, sebagai hiburan/tapi siang ini tak ada sajak Tuan/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan (Siang Ini Tak Ada Sajak,Tuan)

Bait “membangun mimpi di dekat kuburan” sepintas lalu mungkin kedengarannya sebagai kesendirian dalam kesenyapan, tapi sekali lagi saya mengandaikannya sebagai laku yang sebenarnya juga berlangsung dalam lalu-lalang keramaian. Frasa sibuk bekerja, pasar loak, dan sosial media, adalah pertanda bagi medan ramai tempat bahasa terperangkap. Maka, “membangun mimpi di dekat kuburan” adalah semacam ziarah yang diselenggarakan dalam keramaian. “Kuburan” yang dibayangkan penyair mungkin saja pusara bagi tubuh-tubuh kesepian yang dipancangkan di jantung metropolitanisme kota-kota yang sibuk.

Piknik ke Masa Lalu

Di masa ketika doa-doa hanya dilafalkan untuk kebahagiaan di masa datang, masih adakah khutbah yang berisi nasihat dan himbauan untuk sesekali piknik ke masa lalu? Inilah pertanyaan kedua yang hendak saya munculkan bagi segenap sajak-sajak Sabiq di buku ini. Aduh sayangku/mana sempat kita melalui malam/sambil berbelanja kenangan di pojok-pojok toko sepatu, kedai kopi atau segala yang ingin kita singgahi. Demikian saya kutipkan beberapa bait dari sajak berjudul “Kota dalam 5 Paragraf Tanpa Jeda dan Dialog.” Sajak itu seolah-olah hendak menegaskan betapa masa silam telah menjadi barang rongsokan yang hanya dapat dibeli¾itupun kalau berminat¾di pojok-pojok toko sepatu atau di kedai-kedai kopi. Masa lalu tidak akan pernah dijumpai dalam etalase-etalase kaca Pondok Indah Mall, Senayan City, atau Pacific Place. Bagi sajak itu, kenangan yang bermukim di masa silam sudah lama jatuh sebagai residu perabadan kontemporer dengan kegemilangan masa depan sebagai kiblat dan berhalanya.

Oleh karena itu, kalau masih ada–sekali lagi kalau ada–manusia urban yang diklaim tekun merawat koleksi kenangan, lelaku semacam itu tiada lebih dari kegiatan piknik akhir pekan, untuk sekadar melarikan diri dari kebosanan berlibur di gedung-gedung mentereng dengan lantai yang licin, dan ruang-ruang berpendingin. Bukankah sudah lazim dalam keinginan orang-orang kota, bahwa sekali waktu kita perlu bertamasya di alam terbuka, dengan suasana yang digarap seperti perkampungan, tempat kita bermain di masa kanak-kanak. Demikian kira-kira pengandaian saya.

Sampul buku kumpulan sajak “Seperti Para Penyair”. Buku ini akan terbit dipasarkan pada pekan pertama Juni 2017. “Seperti Para Penyair” adalah buku sajak kedua Sabiq Carebesth setelah buku sebelmunya “Memoar Kehilangan” (2012). Pembaca yang berminat bisa memesan buku ini melalui WhatsApp; 08211145077.

Tapi persoalannya adalah, masa lalu yang dikunjungi dalam piknik sehari itu, hanya untuk semakin jauh dilupakan. Banyak orang gemar menapaktilasi kenangan hanya untuk semakin dalam menguburkannya. Maka ia tuangkan ke dalam gelas kopinya debu-debu kenangan/seperti debu-debu ia adalah waktu-waktu yang menempel di dinding-dinding kota/sebelum akhirnya malam merenggut kotanya dan hujan membersihkan debu-debu kenangannya; ia kedinginan, membeku dalam sendirian/seolah telah ditakdirkan demikian. Tengoklah, betapa masa lalu dalam kutipan itu, tiada lebih dari residu di masa kini. “Debu-debu,”¾demikian Sabiq menyebutnya¾yang tentu saja mengotori, atau bahkan menajisi tubuh-tubuh mentereng abad ini, dan oleh karena itu ia perlu dibersihkan dengan perkakas vacum-cleaner, paling tidak seminggu sekali.

Selepas itu, pertanyaan yang hendak saya ajukan kemudian adalah, apakah sajak-sajak Sabiq mengandung semacam ajakan untuk bersetia pada kenangan? Atau sebaliknya, penyair yang gemar sekali dengan kata “kopi” ini justru mengampanyekan agar kita segera berbenah membersihkan tubuh-tubuh modern ini dari remah-remah masa lalu?  Untuk apa bersetia pada kenangan bila kenangan itu hanyalah timbunan luka yang bila diungkit-ungkit kembali tentu akan menjadi beban yang menyakitkan? Tapi, tanpa kenangan apalah artinya hidup yang terus-menerus dibuat lelah oleh tahyul kemajuan ini? Begitulah sikap saya yang terombang-ambing saat membaca sajak-sajak Sabiq dalam buku ini.

Ekspektasi saya sesungguhnya lebih jauh. Sajak semestinya tidak hanya memperlakukan kenangan sebagai “destinasi” piknik sehari, melainkan sebagai padang mahsar tempat semua yang bernama “kekinian” dan “ke-disini-an” akan berpulang dan tidak akan kembali lagi sebagai masa kini, apalagi masa datang. Dengan rupa-rupa kenangan, sajak semestinya sanggup mengunci masa kini dan masa datang, hingga putaran waktu berhenti, dan buku-buku sejarah tak ditulis lagi. Sajak seharusnya mampu menghisap semua ruang, menghisap laju kencang waktu, dan mengunci putaran roda-roda zaman.

Puisi yang Lenyap di Belantara yang Bising

Saya mengenal Sabiq bukan sekadar pribadi yang menggemari puisi, tapi juga personalitas yang hendak menghadirkan realitas puitik dalam kesehariannya. Betapa tidak? Ia bahkan memberi nama anaknya dengan Puisi, dan beberapa sajak dalam buku ini ia garap sebagai perbincangan imajiner dengan Puisi, putri kecilnya yang menggemaskan itu.

Sabiq adalah pribadi yang gemar bersembunyi. Meskipun pada akhirnya saya berkesempatan memotret prosesi pernikahannya beberapa tahun lalu, tapi hingga kini saya tak pernah tahu di mana kampung halamannya, siapa bapak-ibunya, dan apa pekerjaannya. Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu datang lagi dengan membawa sekian banyak rencana, tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Ia selalu mengaku belum ada satu pun rencana yang pernah ia bincangkan itu terwujud, meskipun kegiatan menulis puisi tak kunjung berhenti. Pendeknya, Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini.

Sabiq pasti tahu  bahwa di belantara kelisanan yang sedemkian nyinyir dan bising ini, puisi adalah dunia yang sama sekali tidak seksi. Menulis puisi bukanlah perkara gampang, sementara mendapatkan pembaca yang tajam¾apalagi pembaca yang mendambakan kedalaman¾jauh lebih tidak mudah lagi. Mungkin sebagian orang masih giat merayakan puisi dengan berteriak-teriak di atas mimbar, sembari mendabik-dada sebagai penyair besar, lalu para hadirin bertepuk bersorak-sorai, tapi masih adakah orang yang sungguh-sungguh menyelam guna mengapai kedalaman puisi?

Hari-hari ini puisi hanya diperlakukan sebagai hiburan alternatif dalam dunia keramaian yang menyuguhkan macam-macam kesenangan. Bila ada yang jenuh, bolehlah sesekali menonton upacara pembacaan puisi, atau sekadar mengoleksi buku-buku puisi, supaya tampak sebagai makhluk berbudaya. Puisi tidak lagi menjadi laku dalam kedalaman, tapi sekadar lipstik yang dioleskan bilamana seorang perempuan hendak menghadiri sebuah pesta. Di rumah, di dapur, atau bahkan di hadapan suami, lipstik tidaklah diperlukan. Biarlah tampak kusut, dan awut-awutan, toh kita tidak sedang berada di tengah keramaian. Sabiq, saya kira menyadari betapa tak mujurnya nasib puisi di masa kini. Tapi alih-alih mengabaikannya, saban hari ia justru semakin asyik bercengkrama dengan Puisi, putri kecilnya, senantiasa melibatkan diri dalam kesadaran puitik. Semoga Puisi (dengan huru p besar) dan puisi (dengan huruf p kecil) juga memaklumi betapa besarnya cinta Sabiq kepada mereka… (*)

_________________

Damhuri Muhammad

Kolektor kenangan

Continue Reading

Books

Sir Isaac Newton: Principia Mathematica (Prinsip matematika)

mm

Published

on

Diantara semua buku yang mempengaruhi soal-soal manusia dengan alam, hanya sedikit yang lebih dipuji-puji dan tidak ada yang telah dibaca oleh jumlah orang yang lebih sedikit, seperti buku Sir issac Newton Philosophiae Naturalis principia Mathematica, “Prinsip Matematika dari filsafat alam”. Dengan sengaja ditulis dalam bahasa Latin yang paling sukar dan teknis, dan dihiasi banyak gambar-gambar diagram-diagram geometris yang ruwet, maka  golongan pembaca yang langsung dari buku ini terbatas pada ahli-ahli astronomi, ahli-ahli matematika dan ahli-ahli tabii yang paling terpelajar.

Salah Seorang dari penulis riwayat hidup Newton menyatakan, bahwa jika Principia diterbitkan dimasa perempatan terakhir abad ke-17 maka tidak akan lebih dari tiga atau empat orang yang masih hidup yang akan dapat memahaminya. Yang lain memperluas jumlah ini menjadi sepuluh atau selusin. Pengarangnya sendiri mengakui bahwa buku ini adalah “buku yang sulit”, tapi ia tidak punya alasan untuk minta maaf, karena ia telah merencanakannya serupa itu, dengan tiada memberikan konsesi sedikit juapun kepada mereka yang buta huruf dalam soal matematika.

Tapi, ahli-ahli ilmu pengetahuan yang terpandang menganggap Newton sebagai salah seorang tokoh intelektuil dari segala jaman. Laplace, seorang ahli astronomi Perancis yang gemilang, menyebut Principia “lebih tinggi dari setiap hasil kepintaran pikiran manusia”. Lagrange, seorang ahli matematika yang termasyur, menyatakan bahwa Newton adalah seorang genie terbesar yang pernah hidup. Boltzmann, orang pionir fisika matematika, menyebut Principia buku pertama dan terbesar yang pernah ditulis mengenai teori fisika. Seorang ahli astronomi Amerika W.W. Campbell, mencatat. “Bagi saya jelas sudah bahwa Sir Isaac Newton, yang dengan mudah dapat disebut orang besar ilmu fisika dalam masa tarichi, secara unik adalah pelopor besar dari astro-fisika.” Ucapan-ucapan dari ahli-ahli ilmu pengetahuan terkemukayanglain telah diucapkan dalam superlatif-superlatif yang seperti itu. Oranb biasa harus menerima pendapat-pendapat ini dengan berdasarkan kepercayaan dan atas dasar hasil.

            Newton dilahirkan hampir-hampir tepat seabad setelah Copernicus meninggal, dan dalam tahun kematian Galileo. Raksasa-raksasa dalam dunia astronomi ini, bersama dengan Johannes Kepler, telah menyediakan sendi-sendi diatas mana Newton meneruskan pembangunan.

Newton adalah seorang sihir matematika dalam suatu jaman dari ahli-ahli matematika yang paling berbakat. Sebagai matematika dinyatakan oleh Marvin, “abad ke-17 adalah abad perkembangan, seperti abad ke-18 adalah jaman perkembangan ilmu kimia, abad ke-19 abad perkembangan ilmu hayat; bagian empatpuluhan tahun terakhir dari abad ke-17 lebih banyak membuat langkah-langkah maju dari masa-masa lain dalam sejarah.” Newton menyatukan dalam dirinya ilmu-ilmu tabii yang terpenting – kima, tabii,dan astronomi – karena diabad ke-17 sebelum jaman spesialisasi yang jauh, seorang sarjana dapat melingkupi semua lapangan.

Newton, yang lahir dalam tahun 1642, pada Hari Natal, dalam masa permulaan hidupnya telah melihat naik dan jatuhnya pemerintah Kemakmuran Bersama Oliver Cromwell. Kebakaran Besar yang hampir saja memusnahkan Londok seluruhnya, dan Pes Besar yang menyapu bersih sepertiga dari penduduk kota itu. Setelah tinggal selama 18 tahun dikampung kecil Woolsthorpe, Newton dikirim ke Universitas Cambridge. Ia beruntung beroleh bimbingan dari seorang guru yang cakap dan dapat memberi semangat, yaitu Isaac Barrow yang disebut juga “bapak intelektuil” Newton. Barrow melihat lalu mendorong dan menganjurkan genie yang makin tumbuh dari Newton yang muda itu. Semasa masih dibangku pelajaran Newton menemui theorema binomial.

Karena berjangkitnya pes, maka Cambridge ditutup dalam tahun 1665, dan Newton kembali kepedalaman. Untuk selama empat tahun berikutnya, jauh terpisah dari dunia luar, ia memusatkan pikirannya pada eksperimen-eksperimen dan meditasi-meditasi ilmiah. Hasil-hasilnya adalah menakjubkan. Sebelumnya mencapai umur duapuluh lima tahun. Newton telah menemui tiga penemuan yang memberi ia hak untuk dimasukkan kedalam golongan pikiran-pikiran ilmiah tertinggi dari segala jaman. Pertama adalah penemuan dari perhitungan differensial, yang disebut “fluxions” oleh Newtonk, karena ia mengenai jumlah-jumlah bermacam-macam atau yang “mengalir”. Perhitungan ini meliputi segala masalah aliran, gerakan benda-benda, dan gelombang, dan sifat pokok bagi pemecahan masalah fisika yang berhubungan dengan segala macam gerak. “Kelihatannya ia seolah-olah membuka kunci pintu yang menyimpan gudang kekayaan matematik; ia meletakkan dunia matematik dibawah cerpu Newton dan pengikut-pengikutnya.”

Penemuan besar Newton yang kedua ialah hukum komposisi cahaya, dari mana ia selanjutnya menguraikan fitri warna dan cahaya putih. Diperlihatkannya, bahwa cahaya putih matahari terdiri dari sinar-sinar dari semua warna bianglala. Karena itu warna adalah suatu hal yang khas dari cahaya, dan adanya cahaya putih – seperti telah diperlihatkan oleh eksperimen-eksperimen Newton dengan prisma – berasal dari percampuran warna spectrum. Dengan pertolongan pengetahuan yang ia peroleh dari penemuan ini. Newton berhasil membuat teleskop reflektif pertama yang memuaskan.

Bahkan lebih penting lagi adalah penyingkapan Newton yang ketiga; hukum gaya atau gaya-berat universil, yang dianggap orang sebagai sesuatu yang merangsang pikiran ahli-ahli ilmu pengetahuan lebih lagi dari penemuan teoretis dari jaman modern. Menurut sebuah anekdot yang terkenal, kilatan intuisi yang datang pada Newton yang mengamati jatuhnya sebuah appel telah membawa ia pada perumusan hukum ini. Sebetulnya tidak ada yang baru dalam idee dari penarikan bumi terhadap benda-benda yang ada dekat permukaannya. Sumbangan besar Newton, ialah dalam menjelaskan bahwa hukum gravitasinya dalam kegunaannya adalah bersifat universil – suatu daya yang tidak kurang kuatnya dalam hubungan dengan benda-benda langit, dari dengan bumi – dan kemudian memberikan bukti-bukti matematik dari teorinya ini.

Yang mengherankan ialah, bahwa Newton selama masa ketiga penemuan yang teramat penting ini, calculus, warna dan gravitasi, tidak ada menyiarkan apa-apa. Karena dikuasai oleh suatu sifat yang sangat pendiam dan tak mau terkemuka, bahkan sifat yang tertutup, ia mempunyai suatu kebencian yang hampir-hampir bersifat suatu penyakit terhadap perhatian dan kontroversi publik. Karena itu, ia cenderung untuk menyimpan hasil dari eksperimen-eksperimennya. Apa jugapun yang kemudian ia siarkan semuanya terjadi karena terkanan sahabat-sahabatnya. Sesudah itu hampir boleh dikatakan selalu ia menyesal karena telah menyerah kepada bujukan-bujukan mereka. Penerbitan membawa pengeritikan dan pembicaraan oleh sesama ahli, suatu hal yang oleh Newton dengan sifatnya yang perasa tidak disukai dan dibenci sama sekali.

Setelah penyendirian yang terpaksa ini, Newton kembali ke Cambridge dimana ia menerima ijasah Masternya, lalu ia diangkat menjadi pengajar di Trinity College.  Tidak lama sesudah itu gurunyayang lama, Barrow, mengundurkan diri, lalu Newton dalam usia 27 tahun diangkat menjadi gurubesar ilmu matematika. Jabatan ini ia pegang selama 27 tahun selanjutnya. Selama sepuluh atau duapuluh tahun berikutnya tak banyak kedengaran tetnang Newton. Orang tahu bahwa ia melanjutkan penyelidikannya mengenai cahaya, dan kemudian menerbitkan sebuah karangan tentang penemuannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai sifat ganda dari cahaya putih. Dengan segera ia terlibat dalam suatu pertentangan, pertama karena kesimpulan-kesimpulannya mengenai masalah cahaya bertentangan dengan pendapat yang kala itu berkuasa; kedua, karena ia telah memasukkan kedalam karangannya itu suatu pernyataan dari filsafatnya mengenai ilmu pengetahuan. Dibagian terakhir iniia menyatakan pandangannya, bahwa fungsi pertama dari ilmu, ialah melaksanakan eksperimen-eksperimen yang direncanakan dengan hati-hati, mencatat pengamatan dari eksperimen-eksperimen tersebut, dan akhirnya menyiapkan hukum-hukum matematika yang berdasarkan hasil yang diperoleh. Seperti dilisankan oleh Newton, “cara yang sebaik-baiknya untukmemeriksa sifat-sifat benda adalah dengan mengambil kesimpuland ari eksperimen-eksperimen.” Biarpun pendirian-pendirian ini bersesuaian sekalid engan penyelidikan ilmu modern, ia tidak diterima seluruhnya dalam masa Newton. Kepercayaan yagn berdasarkan pegangan, akal dan sifat lahir benda, yang biasanya diwarisi dari ahli-ahli filsafat purba, lebih disukai dari bukti-bukti eksperimentil.

Serangan-serangan terhadap karangannya oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan yang sudah diakui seperti Hygens dan Hooke begitu memarahkan Newton sehingga ia memilih untuk mengelakkan kemengkalan-kemengkalan dimasa depan dengan tidak menyiarkan apa-apa lagi. “Saya begitu diganggu,” katanya, “oleh pembicaraan-pembicaraan yang timbul dari penyiaran teori saya mengenai cahaya, sehingga saya menyatakan ketidak-tahu-maluan saya untuk melepaskan rakhmat yang begitu besar, seperti ketenangan saya, untuk berlari mengejar bayangan.” Ia bahkan menyatakan suatu kebencian yang keras pada ilmu sendiri, dan bersikeras mengatakan, ia telah kehilangan “sayangnya” yang lama padanya. Kemudian, ia harus “didorong, dibujuk-bujuk dan dikeroyok” supaya menulis karyanya yang terbesar, Principia. Pendeknya, penciptaan Principia kelihatan terjadi lebih kurang karena kebetulan.

Dalam tahun 1684, berkat perhitungan yang dibuat olehPicard, untukpertama kalinya keliling lingkaran bumi dapat ditentukan dengan eksak. Dengan memakai angka-angka yang diberikan oleh ahli astronomi Perancis ini, Newton mencobakan prinsip gravitasi untuk membuktikan bahwa daya yang membimbing bulan keliling bumi dan planit-planit sekeliling matahari, adalah daya gaya-berat. Kekuatan ini berbeda menurut massa dari benda-benda yang ditarik dan kebalikan kwadrat jaraknya. Newton selanjutnya memperlihatkan, bahwa hal ini berlaku bagi orbit ellips dari planit-planit. Tarikan gaya-berat menyebabkan bulan dan planit-planit tetap berada dijalan mereka, sambil mengimbangi kekuatan-kekuatan centrifugal dari gerakan-gerakan mereka.

Lagi-lagi, Newton lalai menyingkapkan penemuan raksasanya atas rahasia alam terbesar. Tapi sebagaimana jadinya, ahli-ahli yang lain sibuk mencari jawaban dari masalah yang sama. Beberapa ahli astronomi menyarankan, bahwa planit-planit itu terikat pada matahari berkat kekuatan gaya berat. Diantara mereka Robert Hooke, pengeritik Newton yang paling keras dan yang paling gigih, tapi tak seorangpun dari ahli-ahli teori itu yang berhasil memberikan bukti matematika. Pada saat itu Newton sudah mempunyai nama sbagai seorang ahli matematika dan ia dikunjungi oleh ahli astronomi Edmund Halley di Cambridge yang datang meminta pertolongannya. Waktu Halley menyatakan masalahnya, maka ia mengetahui bahwa hal tersebut telah dipecahkan oleh Newton dua tahun yang lampau. Disamping itu Newton telah menyelesaikan hukum-hukum dasar gerak dari benda-benda yang bergerak atas kekuatan gaya-berat. Anehnya ia tidak mempunyai maksud untuk menyiarkan penemuan-penemuannya itu.

Halley dengan segera melihat kepentingan hasil yang diperoleh Newton, lalu ia mempergunakan segala daya pembujuknya untuk menyakinkan Newton yang keras kepala itu supaya mengembangkan dan meng-exploitir penemuan-penemuannya. Karena terpengaruh oleh kegembiraan Halley dan karena perhatiannya sendiri hidup kembali Newton mulai menulis karya besarnya, Principia, yang disebut oleh Langer “sebuah lumbung yang sebenarnya dari filsafat mekanistik, salah sebuah karya yang paling asli yagn pernah dibuat orang”.

Satu hal, yang juga tidak kurang menarik hati dari Principia ini, ialah bahwa penyusunannya telah diselesaikan dalam masa 18 bulan. Selama itu dikatakan orang, Newton begitu asyik sehingga sering-sering ia lupa makan dan ia tidur sedikit sekali. Hanya suatu pemusatan pikiran yang paling khusyuk dan lama yang akan dapat menghasilkan perolehan kecedekiaan yang monumental seperti itu dalam waktu yang begitu singkat. Buku ini telah menghisap Newton, baik rohani maupun jasmani.

            Lagi pula, selama menulis buku ini, ketenangan pikiran Newton sangat terganggu oleh pertentangan-pertentangan yang biasa ada, terutama dengan Hooke, yang bersikeras, bahwa ia berhak menerima pengakuan sebagai seseorang yang menemui teori, bahwa gerakan-gerakan planit-planit dapat diterangkan dari hukum penarikan kebalikan kuadrat. Newton yang telah selesai dengan duapertiga dari Principia begitu marah oleh permintaan hak yang tidak benar itu, sehingga ia mengancam untuk mengenyampingkan bagian ketiga dan yang terpenting dari karangannya. Lagi-lagi Halley mempergunakan pengaruhnya dan berhasil mempengaruhi Newton untuk menyelesaikan buku itu seperti direncanakan semula.

Peranan yang dimainkan oleh Edmund Halley dalam seluruh sejarah buku Principia patut sekali dipuji. Tidak saja ia pertama-tama bertanggung jawab dalam meyakinkan Newton, untuk memulai pekerjaan tersebut, tapi ia juga memperoleh janji Royal Society untuk menerbitkannya dan dengan rela-hati ia mengesampingkan pekerjaan yang ia kerjakan sendiri untuk mengawasi pencetakan itu. Akhirnya, waktu Royal Society kandas memenuhi janjinya untuk mengongkosi pencetakan buku tersebut. Halley campur tangan lalu membayar seluruh ongkos penerbitan itu dari kantongnya sendiri, biarpun ia bukanlah seorang yang kaya dan masih mempunyai keluarga yang nafkahnya harus ia carikan.

Setelah mengatasi segala kesulitan, maka dalam tahun 1687 Principia keluarlah dari percetakan, dalam bentuk edisi kecil, seharga 10 atau 12 shilling sejilid. Halaman depannya dibubuhi imprimatur Samuel Pepys, yang waktu itu menjadi presiden Royal Society, “biarpun sangat disangsikan”, ulas seorang komentator, “penulis catatan harian yang terpelajar ini dapat mengerti bahkan satu kalimatpun dari yang terdapat dalam buku ini.”

Setiap ringkasan dari Principia dalam bahasa yang tidak teknis adalah sulit, jika akan dikatakan mustahil untuk dikerjakan, tetapi beberapa puncak-puncaknya dapat ditunjukkan. Buku ini sebagai suatu keseluruhan mempersoalkan gerakan benda-benda dikemukakan secara matematika, terutama penggunaan dinamika dan gayaberat kepada sistim matahari. Buku ini dimulai dengan hitungan differensial atau “fluxion” yang ditemui oleh Newton dan yang ia pakai sebagai alat kalkulasi dalam seluruh Principia ini. Kemudian diikuti oleh perumusan arti ruang dan waktu, dan sebuah pernyataan dari hukum gerak, sebagai dirumuskan oleh Newton dengan contoh-contoh penggunaannya. Prinsip fundamentil dinyatakan, bahwa setiap partikel benda ditarik oleh partikel-partikel lain dengan kekuatan kebalikan kuadrat dari jarak yang terdapat antara mereka. Juga diberikan hukum-hukum yang menguasai masalah dari benda-benda yang saling berlanggaran. Semuanya diutarakan dalam bentuk-bentuk geometri klassik.

Buku pertama dari Principia membicarakan gerakan benda-benda dalam ruang bebas, sedangkan yang kedua membicarakan “gerak dalam medium yang menahan”, seperti air misalnya. Dibagian yang terakhir, masalah yang ruwet dari gerakan zat cair dibicarakan dan dipecahkan, kemudian dibicarakan cara-cara untuk menentukan kecepatan suara, dan gerakan-gerakan gelombang yang dinyatakan dengan secara matematis. Disini diletakkan sendi-dasar bagi ilmu modern seperti fisika matematika, hydrostatika, dan hydrodinamika.

Dalam buku kedua dengan berhasil Newton telah mengungkai sistim dunia Descartes yang waktu itu sedang populer. Menurut teori Descartes, gerakan benda-benda langit disebabkan oleh pusaran-air. Semua ruang berisi suatu cairan encer, dan pada suatu saat tertentu maka zat-zat cair ini membuat pusaran-air. Misalnya sistim matahari mempunyai 14 pusaran, yang terbesar diantaranya berisikan matahari. Planit-planit berputar seperti sebuah cakram dalam pusaran angin. Pusaran-pusaran ini adalah penjelasan dari Descartes bagi phenomena gaya-berat. Newton memperlihatkan secara eksperimentil dan matematika bahwa “Teori Pusaran ini bertentangan seluruhnya dengan fakta-fakta astronomi, dan jauh daripada menerangkan gerakan dilangit, ia malah lebih mengacaukannya”.

Dalam buku-buku sebelum ini telah saya letakkan prinsip-prinsip dari filsafat (ilmu); prinsip-prinsip yang tidak bersifat filsafat tapi bersifat matematika ……….. Prinsip-prinsip ini adalah hukum dan syarat-syarat dari gerak-gerak tertentu, daya atau kekuatan ……….. Saya telah memberikan contoh disana-sini ……… dengan mengemukakan benda-benda yang lebih bersifat umum ………… seperti densitet (kepadatan) dan daya-tahan benda-benda, ruang-ruang yang bebas dari benda-benda dan gerakan cahaya dan suara. Tinggal kewajiban saya sekarang untuk menjelaskan bingkai sistim Dunia berdasarkan prinsip yang sama.

Kala menerangkan mengapa ia tidak menulis bukunya dengan cara populer Newton menyatakan:

Mengenai pokok persoalan ini, saya memang telah menyusun buku ketiga dengan cara yang populer supaya ia dapat dibaca oleh banyak orang, tapi kemudian mengingat bahwa mereka yang belum mendalami prinsip-prinsipnya tidak akan mudah melihat kekuatan dari konsekuensi-konsekuensinya dan sukar mengesampingkan prasangka-prasangka yang telah mereka anggap biasa selama ini. Karena itu untuk menghindarkan perdebatan-perdebatan yang mungkin timbul karena hal-hal tersebut, maka saya memilih untuk mengurangi substansi dari Buku ini dalam bentuk Dalil-dalil (dalam pengertian metematik), yang harus dibaca oleh mereka yang telah menguasai prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Buku-buku tersebut; karena telaah ini memerlukan waktu yang sangat banyak, bahkan juga bagi pembaca-pembaca yang pengetahuan matematikanya lebih dari memadai.

Karena itulah, maka gaya Principia dilukiskan orang sebagai suatu “kejauhan bening, yang ditulis dengan cara memisahkan diri dari seorang pawang yang tinggi.”

Pada permulaannya, Newton mengadakan suatu pemisahan fundamentil dengan kelampauan dengan mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan phenomena dunia dan phenomena langit. “Effek yang serupa dalam alam harus disebabkan oleh sebab yang sama,” demikian ia menjelaskan, “seperti pernafasan pada manusia dan hewan, jatuhnya batu dari Eropa dan di Amerika, cahaya api dapur dan matahari, pembalikan cahaya pada bumi dan pada planit-planit.” Dengan demikian ditiadakanlah kepercayaan kuno, bahwa dunia-dunia yang lain adalah sempurna dan hanya dunia kita yang tidak sempurna. Kini semuanya dikendalikan oleh hukum-hukum rasionil yang sama, dan “dengan demikian didirikan susunan dan sistim disuatu daerah”, seperti dikatakan oleh MacMurray, “dimana selama ini kerahasiaan dan kekacauan berkuasa.”

Suatu daftar dari pokok-pokok penting yang dibicarakan dibuku ketiga saja sudah mengangumkan. Dalam Buku ini ditentukan gerakan planit-planit dan satelit-satelit sekitar planit-planit, metodos untuk mengukur massa matahari dan planit-planit diperlihatkan; dan kepadatan bumi, perjalanan siang dan malam, teori pasang, orbit komet, gerakan bulan, dan soal-soal yang bersangkutan dengan itu dibicarakan dan dipecahkan.

            Dengan teori “gangguan” Newton membuktikan bahwa bulan ditarik baik oleh bumi maupun oleh matahari dan karena itu orbit bulan jadi terganggu oleh tarikan matahari, biarpun bumi telah menyediakan tarikan yang lebih besar. Seperti itu juga, planit-planit berada dalam kekuasaan gangguan. Matahari bukanlah pusat yang stasioner dari unviersum, seperti diyakini orang sebelumnya, tapi ia ditarik oleh planit-planit; planit-planit ini ditarik oleh matahari, dan bergerak dengan cara yang sama. Diabad-abad kemudian, penggunaan teori gangguan itu telah menghasilkan penemuan planit-planit Neptunus dan Pluto.

Massa berbagai planit dan massa-massa matahari ditentukan oleh Newton dengan memperbandingkannya dengan massa bumi. Menurut taksirannya kepadatan bumi adalah antara 5 dan 6 kali kepadatan air (angka yang dipakai ahli-ahli ilmu pengetahuan sekarang ialah 5,5). Atas dasar ini Newton menghitung massa matahari dan massa planit-planit dan dengan satelit-satelitnya, suatu hasil yang disebut Adam Smith “melampaui apa yang dapat dicapai oleh pikiran dan pengalaman manusia”.

Selanjutnya, diterangkan kenyataan, bahwa bumi bukanlah sphera yang murni, tapi agak pecak dikutub-kutubnya disebabkan oleh putaran. Tingkat kepicakan ini dihitung. Karena kutub-kutub yang agak picak dan kemeledutan kecil dikhatulistiwa, maka Newton menarik kesimpulan bahwa kekuatan gayaberat dikutub-kutub akan lebih kurang dari dikhatulistiwa – suatu phenomena yang menyebabkan adanya siang dan malam, ialah gerakan conical dari sumbu bumi, yang menyerupai sebuah gyroskop. Dengan jalan menelaah bentuk planit selanjutnya, kemungkinann untuk menaksir panjangnya siang dan malam dipanit diperlihatkan. Penggunaan lain dari hukum gaya-berat universil adalah dalam pemeriksaan masalah pasang oleh Newton. Jika bulan sedang penuh, air dibumi mengalami penarikan maximum lalu terjadilah pasang naik. Juga matahari mempunyai pengaruh atas pasang, dan jika matahari dan bulan sebaris, maka pasang berada ditingkat paling tinggi.

Soal lain yang disorot oleh Newton yang menarik perhatian umum ialah soal komet. Teorinya mengatakan bahwa komet-komet yang bergerak karena tarikan matahari, menempuh suatu jalan berbentuk ellips dengan kebesaran yang luar biasa sekali, sehingga diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Dengan demikian komet-komet yang selama ini dipandang oleh mereka yang percaya takhayul sebagai tanda-tanda bala, sekarang mendapat tempat yang wajar sebagai suatu phenomena langit yang indah dan tidak merusak. Dengan mempergunakan teori-teori Newton mengenai komet (bintang-bintang beredar) Edmund Halley berhasil untuk menentukan dan meramalkan dengan tepat munculnya kembali Komet Halley yang terjadi kira-kira sekali 75 tahun. Jika sebuah komet sekali sudah dikenal, maka tempuhannya selanjutnya dapat ditentukan dengan pasti.

Salah sebuah dari penemuan-penemuan yang telah diperbuat oleh Newton yang sangat menakjubkan adalah metodos penaksiran jauhnya sebuah bintang tetapk, berdasarkan jumlah cahaya yang diterima bumi demi pembalikan sinar matahari dari sebuah planit.

Kitab Principia tidak mencoba menjelaskan masalah “mengapa” dan hanya masaalah “bagaimana” dari universum. Kemudian, sebagai jawaban atas tuduhan bahwa skema yang ia perbuat adalah suatu skema yang seluruhnya mekanistik, dan tiada memberikan lowongan bagi sebab-sebab yang essentiel atau bagi Maha Pencipta, Newton menambahkan suatu pengakuan kepercayaan pada edisi kedua dari hasil kerjanya.

Sistim matahari, planit-planit dan komet-komet yang begitu indah hanya bisa berjalan berkat rencana dan penguasaan dari suatu kecendekiaan, suatu zat yang maha berkuasa ….. Sebagaimana seorang buta tidak arif sama sekali mengenai warna, demikian juta kita tidak arif bagaimana caranya Tuhan yang Maha Tahu memahami dan memandang segala-segalanya.

Menurut kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun kepercayaannya fungsi ilmu, ialah melanjutkan pembangunan ilmu pengetahuan. Makin lengkap pengetahuan kita, makin dekat kita kepada pengarifan. Sebab, biarpun manusia tidak akan pernah menemui hukum ilmiah alam yang sebenarnya dan yang pasti.

Biarpun Principia adalah suatu hasil yang gemilang, pengagum-pengagum Newton yang paling setia mengakui, bahwa ia tidak ditulis dalam suatu keadaan hampa. Seperti dinyatakan oleh Cohen:

Sintesis besar Newton didasarkan atas karya-karya ahli-ahli sebelum dia. Kelampauan terdekat telah menghasilkan geometri analitika Descartes dan Fermat, aljabar Oughtred, Harriot dan Wallis, hukum gerak kepler, hukum benda-benda jatuh Galileo. Juga jaman ini telah menghasilkan hukum komposisi-komposisi kecepatan Galileo – suatu hukum yang menyatakan, bahwa gerak dapat dipecah menjadi bagian-bagian komponennya, setiapnya bebas dari yang lain (misalnya gerakan sebuah peluru terdiri dari suatu kecepatan kedepan yang seragam dan kecepatan  dipercepat kebawah seperti yang terdapat pada benda yang jatuh dengan bebas). Faktor-faktor yang telah dikemukakan diatas adalah beberapa dari ramuan-ramuan yang menunggu suatu sintesis Newton. Tapi kecemerlangan Newtonlah yang memberikan suatu sintuhan yang gemilang; untuk akhirnya memperlihatkan, sekali dan untuk selamanya, cara bagaimana unversum tersusun serta dikendalikan oleh hukum-hukum matematika.

Jelas bahwa dunia membutuhkan, seperti digambarkan oleh jeans, “seorang yang sanggup membuat sistim, mengadakan sintesis dan meluaskan keseluruhannya ini; dunia telah menjumpai kebutuhannya dengan keluarbiasaan yang tak ada taranya pada diri Newton”.

Newton sendiri mengakui, bahwa “Sistim dunia”-nya mekanika universumnya, telah dibangunkan atas usaha-usaha yang dimulai oleh Copernicus dan yang dilanjutkan oleh Tycho Brabe, Kepler, dan Galileo. “Saya dapat memandang lebih jauh dari orang-orang lain,” kata Newton, “karena saya berdiri atas bahu raksasa-raksasa.”

Sebetulnya sebab dari pertentangan-pertentangan yang telah mengganggu kehidupan Newton adalah gelora intelektuil yang terdapat dalam masa Newton. Udara penuh dengan teori-teori baru dan berjumlah-jumlah ahli ilmu pengetahuan asyik menyelidikinya. Jadi tidaklah mengherankan jika dua orang yang bekerja dengan tiada hubungan dan pada waktu yang sama menemui penemuan yang sama. Hal ini telah terjadi pada kedua penentang-penentang Newton yang utama, Leibniz dan Hooke. Leibniz menemui perhitungan differential dan Hooke mengemukakan teori gayaberat universil, keduanya agak kemudian dari Newton. Tapi mereka telah mengumumkan hasil mereka terlebih dahulu, karena Newton tak menghiraukan untuk menyiarkan hasil pekerjaannya.

Penerimaan jamannya terhadap Principia lebih baik lagi di Inggris dan Skotlandia daripada di Benua Eropa. Umumnya boleh dikatakan lambat. Seperti telah disadari oleh Newton, pengarifan kerja ini menghendaki suatu pengetahuan ilmu matematika yang besar. Sifat luar biasa dari karya ini diakui, bahkan oleh mereka yang hanya mengerti sedikit sekali dari sumbangan yang diberikan oleh Newton. Lambat-laun, ahli-ahli ilmu pengetahuan dimana-mana menerima sistim Newton, dan diabad ke-18 sistim ini telah beroleh kedudukan yang kukuh dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sehabis Principia, Newton kelihatannya seolah-olah kehilangan perhatian yang aktif terhadap penyelidikan ilmu pengetahuan, biarpun sesudah penerbitan kitab tersebut ia masih hidup selama 40 tahun. Selama masa ini ia menerima lerbagai kehormatan; diangkat jadi “Master of the Mint”, diangkat jadi bangsawan oleh Queen Anne, dipilih jadi presiden Royal Society mulai tahun 1703 sampai ia meninggal dalam tahun 1727, mengalami penerbitan edisi kedua dan ketiga dari Principia, dan umumnya terpandang dan dimuliakan.

Penemuan-penemuan ilmiah dalam abad ke-20 telah merubah atau memperlihatkan kekurangan-kekurangan dalam karya Newton, terutama yang berkenaan dengan astronomi. Teori kenisbian Einstein, misalnya menyatakan, bahwa waktu dan ruang tidaklah mutlak sifatnya, seperti diajarkan oleh Newton. Sungguhpun begitu, seperti telah dinyatakan oleh berbagai ahli ilmu pengetahuan dan teknologi struktur sebuah pencakar langit, keamanan sebuah jembatan kereta api, gerakan sebuah mobil, penerbangan sebuah pesawat udara, navigasi kapal menyeberangi samudera, pengukuran waktu, dan bukti-bukti lain dari peradaban kita sekarang pada hakikatnya masih tergantung pada hukum-hukum Newton. Seperti ditulis oleh Sir James Jeans, prinsip-prinsip Newton “tidak mencukupi hanya jika ia dibandingkan dengan kesempurnaan luar biasa dari ilmu pengetahuan modern. Jika seorang ahli astronomi ingin menyiapkan “almanak nautika”nya atau membicarakan gerakan-gerakan planit, boleh dikatakan ia cukup mempergunakan skema Newton saja. Seorang insinyur yang sedang membangun sebuah jembatan atau sebuah kapal atau sebuah lokomotip akan berbuat seperti apa yang ia lakukan sekarang sekiranya skema Newton tidak pernah dibuktikan ketidak-cukupannya. Hal yang sama ditemui juga pada seorang insinyur listrik, apakah ia sedang memperbaiki sebuah telpon atau membuat rencana sebuah stasiun tenaga. Ilmu pengetahuan hari ini masih bersifat Newtonia seluruhnya; dan hampir tak mungkinlah untuk menaksir berapa banyak hutang ilmu kepada pikiran Newton yang jernih dan menukik yang telah menempatkannya dijalan yang benar, begitu kukuh dan meyakinkan sehingga tidak ada orang yang paham metodos-metodosnya akan menyangsikan kebenarannya”.

Penghormatan yang dilakukan oleh Einstein kepada Newton akan meniadakan setiap kesangisan dari ahli-ahli filsafat yang bersaingan. “Baginya alam adalah sebuah buku terbuka, yang huruf-hurufnya dapat ia baca dengan tiada susah payah. Dalam satu pribadi ia kumpulkan ahli eksperimen, ahli teori, ahli mekanik dan tidak kurang dari itu seorang seniman dalam pengucapannya”.

Penilaian Newton sendiri terhadap kehidupannya yang ia perbuat pada masa akhir dari suatu hidup yang panjang, adalah sangat khas bagi sifatnya yang rendah hati; “Saya tidak tahu bagaimana saya dalam mata dunia, tapi bagi diri saya sendiri, saya hanya seolah-olah seorang budak kecil tegak ditepi pantai, yang menghibur dirinya sendiri dengan sekali-sekali menemui sebuah karang yang lebih halus atau sebuah lokan yang lebih bagus dari yang biasa, sedangkan samudera kebenaran terbentang didepannya dengan tidak terselami sama sekali”. (*)

Continue Reading

Books

Sigmund Freud; Die Traumdeutung (Tafsir mimpi-mimpi)

mm

Published

on

Dari segala cabang ilmu, umumnya diakui bahwa psykologi adalah yang paling gelap dan mystik, yang paling tidak peka terhadap bukti-bukti ilmiah dari ilmu yang manapun juga. Seyogiyanya keruwetan dan hal-hal tak disangka-sangka memang tak bisa dielakkan, karena ahli-ahli psikologi berurusan dengan suatu phenomena alam yang paling misterius; jiwa manusia. Sebuah teori kimia fisika dapat diperiksa atau disalahkan dengan pertolongan teknik laboratorium, tapi berlakunya satu teori psykologi adalah suatu hal yang tak bisa diperlihatkan. Itulah sebab adanya keributan pertentangan pendapat yang berkecamuk sekitar Sigmund Freud dan psykoanalisis selama lebih dari 60 tahun.

Tapi biar bisa diperlihatkan atau tidak, teori-teori Freud telah mendjalankan pengaruh yang tak ada toloknya pada pemikiran modern. Bahkan Einstein tak dapat menggamit khayal atau memasuki hidup orang-orang sejamannya seperti telah diperbuat oleh Freud. Dalam menjelajah daerah jiwa yagn tak dikenal, Freud telah merumuskan cita dan istilah yang sekarang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sebetulnya setiap lapangan – kesusasteraan, seni, agama, anthropologi, pendidikan, hukum, sosiologi, kriminologi, sejarah, biografi dan telaah-telaah lain mengenai masyarakat dan individu – merasai akibat ajarannya.

Tapi sebenarnya dalam ajarannya sedikit sekali kemanisan dan penjelasan. Seorang pembahas yang agak lucu mencatar:

Bagi seorang yang tak mengetahui, dengan tersebarnya  teori Freud, ia kelihatannya seorang penggaduh terbesar dalam sejarah pikiran manusia, yang telah merubah telucon manusia dan kenikmatan-kenikmatan mesra menjadi tekanan-tekanan yang kering dan misterius, yang menemui kebencian diakar cinta, kebusukan dijantung kesayangan, noda dalam kesayangan kekanak-kanakan, dosa dalam kebaikan hati, dan kebencian yang ditekan terhadap ayah seseorang sebagai suatu warisan manusia yang normal.

Sungguhpun begitu, oleh karena Freud, manusia sekarang berpikri lain sekali tentang dirinya. Mereka terima sebagai hal yang biasa konsep-konsep Freud seperti: pengaruh bawah-sadar pada sadar, dasar kelamin dari neurosis, adanya dan pentingnya sexualitet infantil, fungsi mimpi, komplex oedipus, pengendalian, pengengkaran dan transferensi (pemidahan). Segi-segi kelemahan manusia, seperti salah sebut, lupa nama dan tak ingat janji beroleh arti baru jika dilihat dari sudut pandangan Freud.

Pada saat ini sulit untuk membayangkan bahwa prasangka-prasangka yang harus diatasi Freud untuk menyebarkan ajarannya bahkan lebih keras lagi dari yang ditemui oleh Copernicus dan Darwin.

Waktu Freud dilahirkan di Freiberg, Moravia, kitab Asal-usul spesi-spesi belum lagi terbit. Tahun itu ialah tahun 1856. Seperti Karl Marx, dalam silsilah moyang Freud termasuk beberapa orang rabbi; tapi berbeda dengan marx, Freud berkata; “Saya tetap tinggal Yahudi.” Ia dibawa ke Wina waktu ia berumur 4 tahun dan ia tinggal diasana boleh dikatakan selama kehidupan dewasanya. Ayahnyalah, seorang saudagar wol, menurut penulis riwayat hidupnya yang utama, Ernest Jones; yang menjadi sebab makanya ia menaruh “sikap skeptis yang getir terhadap gonta-ganti tak tentu dari kehidupan, biasa untuk menunjukkan suatu moral dengan mengutip sebuah anekdote Yahudi, murtad dalam soal-soal agama”. Ibu Freud, seorang pribadi yang ramah dan lincah hidup sampai umur 95 tahun. Sigmund adalah anaknya yang pertama dan yang paling ia sayangi. Frend kemudian menulis, “Seorang laki-laki yang selalu menjadi kesayangan ibunya untuk selamanya dalam hidupnya akan menyimpan perasaan seorang penakluk, dan menaruh kepercayaan kepada sukses yang sering sekali menghasilkan sukses yang nyata.”

Dimasa mduanya Freud sangat sekali tertarik pada teori-teori Darwin, karena ia merasa, bahwa “teori-teori ini memberikan harapan kemanjuan yang luar biasa dalam pengertian kita tentang dunia”. Setelah memutuskan untuk menjadi dokter Freud belajar di universitas Wina untuk mempelajari ilmu kedokteran dimana ia dalamt ahun 1881 memperoleh ijasah dokternya. Sebagai seorang dokter mdua yang tetap dirumah sakit umum, ia melanjutkan pelajarannya mengenai neurologi dan anatomi otak. Beberapa tahun kemudian datanglah titik perkisaran nasibnya yang kelak akan membangunkan kemasyurannya diseluruh dunia. Sebuah beasiswa untuk berkunjung membawa ia ke Paris dimana ia bekerja dibawah Jean Charcot – waktu itu seoran ahli patologi dan meurologi Perancis yang terkenal. Disini ia beroleh kontak langsung dengan pekerjaan-pekerjaan Charcot mengenai hysteria dan pengobatannya dengan jalan sugesti hypnotis. Charcot membuktikan demi kepuasan Freud “kesungguhan phenomena hysteria, timbulnya yang sering pada manusia, penyebab paralyse (kelumpuhan) hysteria dan kemengkeretan-kemengkeretan disebabkan sugesti hypnotis”, dan kesamaan-lahirnya yang dekat dengan serangan-serangan yang sebenarnya.

Tapi setelah kembali ke Wina, Freud tidak berhasil meyakinkan dokter-dokter sejawatnya perihal dasar ilmiah pengobatan gangguan saraf dengan metodos hypnotis. Bahkan ia dihukum karena pendapat-pendapatnya yang radikal dengan menjauhkannya dari laboratorium anatomi otak. Semenjak itu, ia adalah seorang yang sunyi, jauh dari kehidupan akademi dan ia tak lagi mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan perhimpunan-perhimpunan kesarjanaan. Dalam praktek kedokteran partikelirnya, ia melakukan eksperimen dengan hypnotis selama beberapa tahun, tapi lambat-laun cara ini ia buang karena sedikit sekali orang yang dapat dijadikan subyek yang baikd an hypnosis kadang-kadang mempunyai akibat yang tak baik atas kepribadian. Sebagai gantinya, Freud mulai mengembangkan teknik yang disebut “assosiasi bebas”, yang semenjak itu menjadi standard praktek psykologi.

Dengan tiada sangsi lagi Freud adalah pendiri dari psikhiatri modern. Sebelum Freud, psikhiatri telah mempersoalkan simtom kegilaan seperti schizophrenia, dan psykosis maniac-depressif yang menghendaki pengawasan didalam suatu rumah sakit. Setelah memulai kerja kliniknya dengan pengobatan repressi dan konflik orang neurotis Freud segera sampai pada kesimpulan bahwa konflik-konflik seperti itu tidak terbatas hanya pada seorang neurotis, tapi juga khas bagi orang-orang yang sehat jiwanya. Selanjutnya, meurosis bukanlah penyakit dalam pengertian baisa, tapi adalah keadaan psykologis jiwa. Soal besarnya disini ialah bagaimana caranya mengobat gangguan pikiran ini yang begitu banyak ditemui. Berdasarkan pengamatan eksperimen, dan pengalaman-pengalaman dengan pasien-pasien Wina, sekitar akhir abad ke-19, Freud meletakkan dasar dari psykoanalisis.

Freud adalah penulis ilmu jaman kita yang paling subur, dan keragaman dari konsep-konsep baru dan sumbangan-sumbangan psykologi yang lahir dari penanya tidak mungkin ditemuid alam satu buku atau satu pidato. Dalam pandangannya sendiri, karya besarnya yang mungkin paling ia sukai, ialah Tafsir Mimpi yang terbit dalam tahun 1900, yang memuat hampri semua dari pengamatan-pengamatannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya, bahwa gangguan kelamin adalah faktor ajasi dalam etiologi, baik neurosis maupun psykoneurosis” – salah sebuah tiang-pokok dari teori psykhoanalisis. Dalam beberapa tahun kemudian. Freud juga telah mengerjakan konsepsi mengenai resistansi (penahanan), transferensi, sexualitet mada kanak-kanak, hubungan antara kenangan-kenangan yang tidak enak dengan fantasi, mekanisme pembelaan dan penekanan.

Sebuah ringkasan singkat dari ajaran-ajaran pokoknya akan menyingkapkan sedikit kerumitan psykoanalisis. Pertama-tama, psykhiatri dan psikoanalisis tidaklah sama. Psykoanalisis dapat dianggap sebagai bagian dari psykhiatri, dan biasanya digunakan hanya pada keadaan-keadaan gangguan kepribadian yang paling susah. Psykoanalisis dapat dirumuskan sebagai therapid alam pengobatan gangguan syaraf dan psykis. Menurut suatu lapuran yang baru, 300 dari 4000 orang ahli psykiatri yang diakui di Amerika adalah ahli-ahli psikoanalisis.

            Freud hanya kadang-kadang menaruh perhatian apda therapi individuil. Keadaan individu-individu yang tak seimbang ia anggap sebagai gejala-gejala penyelewengan ekonomi, sosial dan kebudayaan dari dunia jaman sekarang. Tujuannya ialah untuk menyerang penyakit itu pada akarnya.

Kebanyakan pengeritik sepakat bahwa hak Freud atas kemasyuran yang lama berdasar pada penemuannya dan penyelidikannya mengenai jiwa tak sadar. Dengan membandingkan pikiran manusia dengan sebuah gunung es, yang 8/9 bagiannya berada dibawah air, ia beranggapan bahwa pikiran itu sebagian besar tersembunyi  dalam tak-sadar. Dibawah permukaan terdapat motif-motif, perasaan-perasaan dan maksud-maksud yang disembunyikan oleh seorang individu bukan saja bagi orang lain tapi juga bagi dirinya sendiri. Dalam psykologi Freud, tak-sadar itulah yang berkuasa dan kegiatan-kegiatan sadar tidak  lebih dari kegiatan yang bersifat mengikut (lebih rendah). Dengan jalan memahami kedalaman-kedalaman dari tak sadar yang jauh dan yang tidak dikenal, kita dapat mengenal fitri batin manusia. Kebanyakan pemikiran kita menurut Freud, adalah tak sadar dan hanya kadang-kadang menjadi sadar.l pikrian tak-sadar ini adalah submer dari neurosis, karena individu itu mencoba membuang kedaerah itu kenangan-kenangannya yang tak ia sukai dan harapan-harapannya yang berakhir dengan kekecewaan. Tapi ia hanya berhasil menimbunnya jadi kesulitan-kesulitan dimasa depan.

Freud menganggap kegiatan mental satu individu sebagai sesuatu yang berlangsung pada tiga tingakt, yang dia namai Id, Ego dan Superego. Yang palign penting ialah Id. “Daerah Id,” kata Freud adalah bagian dari pribadi kita yang gelap yang tak dapat dimasukkan pengetahuan yang ada pada kita; sedikit tentangnya kita pelajari dari telaah mimpi dan dari pembentukan gejala-gejala neurotis.” Id adalah pusat dari naluri-naluri dan impuls-impuls primitif, yang menjangkau kebelakang sampai kekelampauan hewani manusia, dan ia bersifat hewani dan sexuil. Ia tak  sadar. “Id” itu, kata Freud “mengandung segala yang diwarisi, yang ada waktu dilahrikan, yang telah terpateri apda susunan diri”. Id itu buta dan tak kenal kasihan. Satu-satunya kehendaknya ialah memuaskan keinginan dan kenikmatan, dengan tiada memperdulikan akibat-akibatnya. Seperti dikatakan oleh Thomas Mann, “Ia tak mengenal nilai, tak mengenal buruk baik, tak punya moral.”

Bayi yang baru lahir adalah perwujudan dari Id. Lambat-laun Ego berkembang dari id ini dengan bertambah besarnya bayi itu. Ego itu tidak dibimbing seluruhnya oleh prinsip kesenangan, tapi ia dikuasai oleh prinsip kenyataan. Ego ini sadar akan dunia kelilingnya, dan mengakui bahwa kecondongan tak kenal aturan dari Id itu harus  ditahan untuk mengelakkan suatu bentrokan dengan masyarakat. Sebagai dilukiskan oleh Freud, Ego itu adalah medator, “antara kehendak-kehendak Id yang liar dan kendali-kendali dunia luar”. Karena dalam kenyataannya, Ego itu berlaku sebagai sensor terhadap keinginan-keinginan Id, dengan jalan menyesuaikannya kepada keadaan-keadaan yang realistis, dengan jalan menyadari bahwa pengelakan hukuman,bahkan kepentingan keselamatan diri sendiri, mungkin tergantung dari penekanan Id itu. Tapi dari konflik antara Ego dan Id ini mungkin timbul neurosis yagn sangat mengganggu kepribadian seseorang.

Akhirnya ada unsur ketiga dalam proses mental, yaitu Superego, yang secara umum dapat dirumuskan sebagai sanubari. Pengikut ajaran Freud di Amerika yang terkemuka, A.A. Brill, menulis:

Superego ini adalah evolusi mental tertinggi yang dicapai oleh manusia, dan terdiri dari endapan-endapan segala larangan-larangan, segala tatakrama yang diajarkan kepada seorang anak oleh orang tuanya dan pengganti-pengganti orang tua. Perasaan kesadaran batin semuanya tergantung dari perkembangan Superego.

Seperti Id, Superego adalaht ak-sadar sifatnya, dan keduanya selalu berada dalam konflik yang tak putus-putus, sedangkan Ego bertindak sebagai wasit. Superego adalah kampung halaman dari cita-cita akhlak dan peraturan-peraturan tingkah-laku.

Jika Id,Ego, Superego berada dalam keadaan rada selaras, maka individu itu akan seimbang dan berbahagia. Tapi jika Ego mengijinkan Id untuk melanggar aturan, maka Superego akan menyebabkan kesusahan, perasaan dosa dan pelaksanaan-pelaksanaan lain dari kesadaran batin.

Suatu konsep yang dekat sekali ikatannya dengan Id, ialah konsep yang dilahirkan oleh Freud; teorinya tentang libido. Ia mengajarkan bahwa semua impuls-impuls Id, dibebani oleh suatu bentuk dari “energi psykhis”, disebut libido yang terutama bersifat sexuil. Teori libido ini disebut orang “inti dari doktrin psikoanalisis”. Semua kerja-kreatif manusia, baik seni, hukum, agama dan sebagainya, dianggap sebagai perkembangan dari libido. Dalam penamaan energi sexuil, sebetulnya kata “sexuil” disini mempunyai arti yang luas. Pada kanak-kanak, termasuk kebiasaan-kebiasaan, seperti mengisap jari, mengisap botol, dan buang air. Ditahun-tahun kemudian, libido ini mungkin dipindahkan kepadea orang laind engan perkawinan, lalu beroleh bentuk gangguan sex, atau diutarakan dengan pertolongan ciptaan-ciptaan artistik, sastra atau musik – suatu proses yang disebut “penggeseran”. Menurut Freud, naluri sex itu adalah submer terbesar dari kerja kreatif.

Di bawah pengaruh libido, demikian Freud membela dalam suatu teori psykoanalisis yang barangkali paling kontroversial, kanak-kanak itu mengembangkan perasaan sexuil terhadap orang tuanya. Dimulai dengan kenikmatan indera pertama yang diperoleh dari minum dari susu ibu, budak itu kemudianmulai memperoleh suatu rasa ikatan cinta pada ibunya. Makin matang ia, pada suatu usia yang muda, budak laki-laki itu mulai merasakan sautu penarikan sexuil yang besar terhadap ibunya, sedangkan ayahnya ia benci dan ia takuti sebagai seorang saingan. Sebaliknya, anak perempuan, akan berkisar dari hubungan yang d ekat dengan ibunya dan jatuh cinta pada ayahnya, sedangkan ibunya menjadi pokok dari kebencian dan persaingan. Pada laki-laki teori ini disebut komplex Oedipus, diberi nama menurut suatu tokoh dongeng Yunani kuno yang telah membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Komplex Oedipus ini, menurut Freud, adalah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita yang primitif, yang telah membunuh ayah mereka dalam suatu topan kecemburuan. Jika ia telah dewasa maka seorang individu yang normal akan dapat mengatasi impuls-impuls Oedipus ini. Tapi individu-individu yang lemah, sebaliknya mungkin tidak pernah berhasil memutuskan ikatan pada orang tua ini dan dengan demikian jatuh kedalam rentetan neurosis.

Sebetulnya, demikian Freud menjelaskan, “Neurosis-neurosis itu dengan tiada kecualinya adalah gangguan-gangguan dari fungsi sexuil”. Selanjutnya, neurosis tidak bisa disebabkan oleh perkawainan yang tidak berhasil atau hubungan percintaan orang dewasa yang malang, tapi semuanya dapat dikembalikan kepada komplex-komplex sex dari masa kanak-kanak. Dalam mencobakan teorinya pada lapangan antropologi, dalam bukunya Totem dan tabu, Preud berkesimpulan bahwa mythe alam adan keagamaan dari manusia primitif adalah hasil dari komplex-komplex ayanh dan ibu. Bahkan agama, menurut kepercayaannya, adalah suatu pengutaraan dari komplex ayah. Setelah memberikan analisa-analisa yang sampai keperincian terkecil dari beratus kejadian yang dibawa kepadanya untuk diobati, Freud mengangkat naluri sexuil menjadi peranan yang terpenting dalam pembentukan suatu kepribadian, dan sebagai sebab utama dari neurosis. Pandangan ini adalah suatu pandangan yang telah ditolak oleh beberapa ahli psikoanalisis terkemuka, seperti nanti akan diperlihatkan.

Karena ia dipaksa oleh masyrakat untuk menekan sebagian besar dari keinginan-keinginannya, individu itu dengan tak sadar menumpuk banyak “tekanan-tekanan” – begitulah ia dinamakan oleh Freud. Biasanya, kesadaran seseorang berhasil untuk menghindarkan “kekuatan kelam dari tak-sadar” yang telah ditekan untuk muncul kembali. Tapi orang-orang yang neurotis, mungkin harus melewati suatu masa gangguan emosionil yang sangat dalam disebabkan oleh penyensoran tersebut. Adalah kewajiban terapi psikoanalitis, kata Freud untuk “menyingkapkan tekanan-tekanan ini dan menggantinya dengan tindakan-tindakan pertimbangan yang mungkin lahir  dari penerimaan atau penolakan dari apa yang selama ini telah diengkari”. Karena sifat yang perih dari bahan-bahan yang ditekan ini, maka sipenderita akan mencoba menghindarkan pengungkapan tekanan-tekanannya. Freud menyebut usaha ini “tahanan”, yang harus dijadikan tujuan oleh dokter untuk diatasi.

Teknik yang ditemui oleh Freud mengenai tekanan-tekanan dan tahanan-tahanan adalah metodos yang kini terkenal sebagai “asosiasi bebas” – pembicaraan arus-kesadaran oleh seorang penderita yang berbaring disofa seorang ahli psykoanalisis, dalam sebuah ruang yang diterangi samar-sama muka. Penderita dianjurkan untuk “mengatakan apa saja yang datang kedalam pikirannya dan berhenti memberikan arah dengan sadar pada pikirannya”. Dinyatakan oleh Freudk, bahwa metodos asosiasi bebas ini adalah satu-satunya cara untuk mengobati neurosis, dan bahwa ia telah “mencapai apa yang diharapkan dari padanya, yaitu penyadarkankembali bahan-bahan yang ditahan-tahan oleh tahanan”. Seperti Brill melukiskan prosedur  Freud dengan penderita-penderitanya, “Diyakinkannya mereka supaya meninggalkan setiap refleksi sadar, kemudian menyerahkan diri mereka pada konsentrasi yang tenang, dan mengikuti kejadian-kejadian mental mereka yang spontan, dan menyampingkannya semuanya kepadanya. Dengan cara begini, akhirnya ia memperoleh asosiasi bebas yang  membawanya kepada asal dari gejala-gejala itu”. Hal-hal yang telah dilupakan, yang kemudian disauk kembali oleh subyek dari tak sadarnya, setelah barangkali pengobatan psikoanalitis yang berbulan-bulan, biasanya menggambarkan sesuatu yang sangat menyakitkank, tak disukai, menakutkan, atau hal-hal yang tak enak dari jaman lampau, hal-hal yang tak ingin ia ingati dengan sadar. Taklah dapat dielakkan dalam proses seperti itu, bahwa kenangan yang kacau itu akan mengeluarkan suatu masa kejadian-kejadian yang samar, tak ada hubungannya dengan persoalan dan mungkin tidak berguna sama sekali. Karena itu semuanya tergantung pada kesanggupan dokterlah untuk mempsikoanalisa bahan-bahannya  yang, seperti ditunjukkan oleh pelbagai pengeritik, dan dapat ditafsirkan dengan cara yang tak terhitung jumlahnya. Jadi intelegensi dan kecakapan dari ahli psikoanalis itu adalah sesuatu yang bersifat sangat penting.

Selama ini ia mengadakan pengobatan psikoanalitis pada penderita-penderita, Freud menemui apa yang ia sebut “suatu faktor yang luar biasa pentingnya”, suatu hubungan emosionil yang akrab sekali antara subyek dan analisnya. Inilah yang disebut “pemidnahan” (transferensi).

Penderita itu tidak puas dengan pandangan terhadap analis dalam arti yang realistis yaitu seorang penolong dan penasehat …… sebaliknya, penderita pemandangnya sebagai kembalinya – reinkarnasi – suatu tokoh yang penting dari masa kenak-kanaknya atau dari masa lampaunya, dan dengan demikian memindahkan kepadanya peraaan-perasaan dan reaksi-reaksi yang tak sangsi lagi disangkakan ada pada model ini.

Pemindahan ini “mungkin berkisar antara ujung-ujung suatu percintaan sexuil yang penuh gariah dan lengkap, dan ucapan yang terkekang dari tantangan dan kebencian yang getir”. Dalam  situasi ini, analis, “biasanya, ditempatkan ditempat salah seorang dari orang uta penderita, ayahnya atau ibunya”. Kata pemindahan ini, dianggap oleh Freud sebagai “alat terbaikd alam pengotan analitis”, tapi “sungguhpun begitu cara mempergunakannya tetap paling sulit dan dapat diangggap bagian yang paling penting dari teknik analisa”. Masalah “dipercahkan” kata Freud, “dengan meyakinkan penderita bahwa ia sedang mengalami kembali hubungan emosionil yang berasal dari masa kanak-kanaknya dulu”.

Alat yang lain yang berhasil untuk masuk kedalam konflik dan emosi batin, yang dikembangkan oleh Freud ialah analisa mimpi. Juga disini Freud adalah seorang pelopor. Sebelum dia, mimpi dianggap sebagai sesuatu yang tak punya arti atau maksud. Bukunya Tafsir Mimpi adalah percobaan pertama dari telah ilmiah yang sungguh-sungguh mengenai phenomena ini. Tigapuluh satu tahun setelah buku ini diterbitkan, Freud mengatakan bahwa “ia berisi, bahkan dalam ukuran saya sekarang ini, pokok-pokok  yang paling berharga dari segala penemuan yang telah saya perbuat demi kebaikan nasib”. Menurut Freud, “Dapat dibenarkan jika kita mengatakan bahwa sebuah mimpi adalah pengabulan yang menyamar dari keinginan yang ditekan”. Setiap mimpi menggambarkan sebuah drama dalam dunia bathin. “Mimpi adalah hasil dari suatu konflik.” Demikian Freud menjelaskan, dan “Mimpi adalah pengawal tidur,” Fungsinya lebih lagi untuk menolong tidur dari pada mengganggunya, dengan mengendurkan ketegangan-ketegangan yang datang dari kehendak-kehendak yang tak terkabul.

Dunia mimpi dalam pandangan Freud, dikuasai oleh tak-sadar, oleh Id, dan mimpi adalah penting sekali bagi seorang psikoanalis, karena mimpi ini dapat mengantarkan dia kedunia tak-sadar penderita. Dalam tak-sadar ini terdapat semua keinginan-keinginan primitif dan kehendak emosionil yang dijauhkand ari kehidupan sadar oleh Ego dan Supergo. Nafsu hewani selalu berada dibawah permukaan dan mendorong dirinya sendiri kedalam mimpi. Tapi bahkan dalam tidur, Ego dan Superego berjaga sebagai sensor. Oleh sebab itu, arti mimpi tidak selamanya jelas; mereka dinyatakan dengan lambang-lambag, dan memerlukan penafsiran seorang ahli. Sebagai lambang mereka tak dapat diterima begitu saja, kecuali barangkali dalam mimpi-mimpi anak yang bersahaja. Tafsir Mimpi menjanjikan berjumlah-jumlah contoh mimpi, yang sudah dipsikoanalisa oleh Freud.

Juga suatu petunjuk bagi kerja tak-sadar ialahs alah ucap, terlanjur lidah, dan kejadian-kejadian kecil yang dilahirkan kelanaan pikiran. “Seperti psykoanalisis telah mempergunakan tafsir mimpi” kata Freud, “ia juga dapat menarik keuntungan dari kesalahan dan kekhilafan yang begitu banyak diperbuat oleh manusia – tindakan-tindakan simptomatis, begitulah ia disebut.” Soal ini telah diselediki oleh Freud dalamt ahun 1904 dalam bukunya “Psykopathologi dari Kehidupan Sehari-hari”. Dalam buku ini ia jelaskan, bahwa “phenomena ini tidaklah bersifat kebetulan …. mereka punya arti dan dapat ditafsirkan, dan kita boleh mengambil kesimpulan tentang adanya impuls-impuls dan kehendak-kehendak yang menegang atau diterkan”. Lupa suatu nama mungkin berarti, bahwa kita tak menyukai api karena kacau dalam jam berangkat kereta api, maka inimungkin berarti bahwa ia tak beringin mengejarnya. Seorang suami yang kehilangan atau lupa kunci rumahnya mungkin tak bahagia dirumah dan tak ingin kembali. Suatu telaah mengenai kesalahan-kesalahan seperti itu dapat mengantarkan seorang psykoanalis kejaring pikiran tak-sadar.

            Kebebasan yang sama diperoleh dengan jalan lelucon, yang disebut Freud “keselamatan yang paling baik yang diperoleh manusia modern” karena melalui lelucon-lelucon ini kita untuk sebenat dibebaskan dari tekanan-tekanan yang biasanya diminta oleh masyarakat sopan supaya kita sembunyikan.

Barangkali karena peringatan-peringatan, kekecewaan bertambah atau pessimisme yang kelewat, pda dekat akhir kehidupannya Freud mulai mengasyiki “naluri mati”. Akhirnya ia menganggap konsepsi ini hampir sama pengtingnya dengan naluri sexuil. Freud beranggapan bahwa ada suatu naluri mati yang mendorong segala mahluk untuk kiembali kekeadaan organik dari mana ia berasal. Menurut pandangan ini, manusia selalu ditarik-tarik oleh keinginan pada hidup, yaitu naluri sexuil, dan oleh suatu kekuatan yang bertentangan, keinginan untuk menghancurkan,atau naluri kematian. Pada akhirnya tentu saja naluri kematian ini yang menang. Naluri ini menjadi sebab dari peperangan, dan contoh-contoh sadisme, seperti prasangka terhadap ras dan kelas, kenikmatan menghadiri pengadilan-pengadilan kriminil, adu sapi dan pemasungan.

Diatas ini secara singkat dilukiskan faset-faset pokok dari teori Freud. Ahli-ahli psykiatri sekarang ini terpisah jadi dua perkampungan yang lebih kurang bertentangan, yang pro dan yang anti Freud. Bahkan murid-muridnya telah merubah penerimaan bulat dari teori-teorinya selama limapuluh tahun ini. Salah seorang dari pengikut yang termula, Alfred Adler, memisahkan diri dari pihak Freud karena ia percaya bahwa Freud terlalu melebih-lebihkan naluri sexuil. Sebagai suatu doktrin alternatif, Adler mengajarkan bahwa keinginan setiap orang untuk membuktikan keagungannya adalah sumber dari tingkah laku manusia. Ia kembangkan pikiran dari “komplex rendah diri” yang mendorong seorang individu untuk berusaha beroleh pengakuan dalam suatu lapangan kegiatan. Pembelot yang lain yang terkenal ialah Karl Jung dari Zurich, yang juga mencoba mengurangi peranan sex. Jung membagi manusia menjadi dua type psykologis; type extrovert dan type introvert, biarpun ia membenarkan bahwa setiap individu adalah campuran dari keduanya. Berbeda dari Freud, Jung mementingkan faktor-faktor keturunan dalam perkembangan kepribadian. Umumnya, para pengeritik Freud memisahkan diri dari dia mengenai soal-soal seperti kepercayaannya yang ia kemukakan tentang pentingnya neurosis masa kanak-kanak, keyakinannya bahwa manusia dikendalikan naluri yang asal dan kaku, dan angkatan yang dbierikannya kepada libido atau energi sexuil sehingga beroleh tempat sentral dalam pembentukan kepribadian. Beberapa orang tak sependapat dengan Freud mengenai kepercayaannya bahwa assosiasi bebas adalah suatu teknik yang tak dapat diganti untuk menyelidiki tak-sadar, dengan menunjukkan terutama kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan kejadian-kejadian yang dihasilkan oleh metodos ini.

Sungguhpun begitu seperti dikatakan oleh seorang psykiatris:

Perubahan dan perkembangan selama 60 tahun tak sedikitpun mengurangi kebesaran atau pengaruh Freud. Ia terlalu membukakan dunia tak-sadar. Ia telah memperlihatkan bagaimana tak-sadar ini bekerja menjadikan kita seperti adanya kita sekarang dan ia telah memperlihatkan bagaimana cara untuk mencapainya. Banyak dari idee dan konsepnya harus dirubah oleh orang-orang yang datang sesudahnya berkat pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman lebih jauh. Kita boleh mengatakan bahwa mereka telah menulis sebuah Wasiat Baru bagi psykiatri. Tapi Sigmund Freud telah menulis Wasiat Lama. Karyanya selalu akan mempunyai arti besar.

Sebagian besar dari sikap kita terhadap kegilaan adalah disebabkan oleh Freud. Sekarang ini terdapat kecondongan yang main keras untuk menyatakan bahwa orang “neurotis dan psykotis sebetulnya sama saja seperti kita, Cuma lebih neurotis dan lebih psykotis”. Alexander Reid Martin menegaskan, bahwa “baik diakui atau tidak, semua rumah-rumah sakit psykotherapeutis sekarang ini mempergunakan unsur-unsur dan dasar-dasar dari psykologi Freud. Apa yang dulu dianggap suatu dunia yang tak dikenal, terlarang, dan grotesque, tak punyai arti dan gun, berkat Freud menjadi cerah dan penuh berisi arti, yang telah menarik perhatian dan pengakuan bukan saja dari ilmu kedokteran tapi dari segala ilmu pengetahuan sosial”.

Pengaruh pikiran Freud atas kesusasteraan dan seni dapat dilihat dengan sama jelasnya. Dalam roman, puisi, drama, dan bentuk-bentuk sastera yang lain, motif-motif  Freudian berkembang dalam tahun-tahun ini. Benard de Voto telah menguntarakan pendapat bahwa “tidak ada ahli ilmu pengetahuan lain yang mempunyai pengaruh begitu kuat dan meluas pada kesusasteraan”. Pengaruhnya atas seni lukis, seni pahat dan dunia seni umumnya tidak kurang dalamnya.

            Adalah suatu kewajiban yang sulit untuk menjumlahkan sumbangan yang bermacam-macam dari kecemerlangan Freud, karena kelebaran perhatiannya dan karenasifat yang kontroversial dari penemuan-penemuannya. Salah satu percobaan telah dilakukan oleh seorang pengarang Inggris, Reboert Hamilton. Dan kesimpulannya adalah seperti berikut:

Freud telah memetakan psykologi. Ia adalah seorang pelopor besar dan sebagian besar dari suksesnya adalah disebabkan oleh keasliannya dan gaya penulisnya. Sungguhpun sifanya nihilistis, tidak ada diluar sastera murni sistim yang begitu menarik, yang mempunyai gaya yang lebih bagus. Ia telah membuat dunia berpikir secara psykologis – suatu kebutuhan pokok bagi jaman kita dan ia memaksa manusia menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bersifat vital bagi kesejahteraan manusia. Dari thesis psykologi akademi yang steril dari abad ke-19 ia membawa anti-thesis psykoanalisis dengan pengengkaran-pengengkarannya yang kelam.

Seorang psykiatris Amerika yang tekemuka, Frederic Wertham, menuliskan soal itu dari sudut pandangan yang lain:

Orang harus menjelaskan, bahwa disamping kumpulan fakta-fakta klinik tentang penderita-penderita yang ia amati, Freud telah membawa tiga perubahan dasar dalam cara penelaahan kepribadian dan pathologi jiwa. Yang pertama ialah, bahwa orang mengira bahwa kita tak dapat bicara tentang proses psykologi sama sekali dan memikrikannya dengan logika pengetahuan alam. Ini baru mungkin tatkala Freud mengemukakan konsnep realistis dari tak-sadar dan memperkenalkan metodos-metodos praktis untuk menyelidikinya. Kedua, adalah pengemukaan suatu dimensi baru dalam psykopathologi; masa kanak-kanak. Sebelum Freud, psykiatri dipraktekkan seolah-olah setiap penderita adalah seorang Adam – yang belum pernah jadi budak kecil. Ketiga ialah pembukaannya terhadap penghargaan genetik dari naluri sexuil. Penemuannya yang sebenarnya disini terutama bukan bahwa kanak-kanak mempunyai kehidupan sex, tapi bahwa naluri sex itu mempunyai masa kanak-kanak.

Suatu penghargaan yang sama telah diutarakan oleh A.G. Tansley pada suatu “peringatan kematian” yang dipersiapkannya untuk Royal Society di London:

Sifat revolusioner dari kesimpulan-kesimpulan Freud jadi dapat dimengerti jika kita ingat, bahwa ia telah menyelidiki suatu lapangan yang belum digarap sama sekali, sautu daerah dari pikiran manusia kedalam mana belum ada orangpernah masuk sebelumnya, dan yang perbuatan-perbuatannya yang terbuka dianggap sebagai sesuatu yang tgakd apat diterangkan atau sebagai penyimpangan kehancuran, atau disia-siakan sama sekali karena ia berada dibawah tabu manusia yang paling keras. Adanya lapangan ini tidak diketahui. Freud dipaksa untuk menerima realitet suatu daerah tak-sadar dari pikiran manusia, dan kemudian mencoba memeriksanya dengan pertolongan diskontinuitet yang jelas dari rantai kejadian-kejadian jiwa yang sadar.

Akhirnya Winfred Overholser menyarankan, “Cukup alasan untuk percaya bahwa dalam masa seratus tahun yang akan datang Freud akan digolongkans atu kelas dengan Copernicus dan Newton sebagai salah seorang dari mereka yang membuka tepi-tepi langit baru dari pemikiran. Yang pasti sudah, ialah bahwa dalam masa kita tidak ada orang yang telah menyorotkan begitu banyak penerangan atas cara bekerja pikiran manusia seperti yang telah dilakukan oleh Freud.

Bulan-bulan terakhir dari kehidupan Freud yang panjang dialami dalam pembuangan. Setelah Austria diduduki oleh Naz ia terpaksa meninggalkan Wina dalam tahun 1938. Inggris memberikan asylum padanya, tapi kanker mulut telah menyebabkan kematiannya dalam bulan September tahun 1938. (*)

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: