Connect with us

Memoar Kehilangan

Cerita Cinta Yang Nyaris Lupa

mm

Published

on

Ada batin yang menekan dalam persimpangan menuju putusan. Demikian kelam dalam sebuah kota, atau sebuah perjalanan dari masa  hidup, akankah ada suatu kesempatan terakhir untuk tertinggal romansa? Atau kerinduan bahkan sejenak saja? Agar kenangan menjelma cahaya, agar rindu tetap sederhana dan membuatmu tersenyum di waktu senja di kotamu tenggelam, atau dalam hatimu merekah kelam.

Waktu kita mungkin tak panjang untuk berdebat dan mengambil pilihan, atau bisakah kita rasakan kerinduan menerjemahkan suatu rasa yang tidak biasa walau kita pernah diserbu  berkali-kali, oleh pekatnya rindu, atau asmara yang merekahkan keputusan akan kehidupan ini selalu dalam senyum dan energy untuk menjauh dari segala macam kesakitan.

Kita pernah ingin pertahankan apa yang kita pernah melihat bintang dalam gemerlapnya sebuah perjanjian akan perjumpaan. Kau yang kata padaku kau akan duduk dihadapku, menatap mataku lekat-lekat, tidak usah ucap apa-apa karena mata tulusmu yang setengah menjadi sendu akan ungkapkan semua yang dengan gemetar kau rasa gugup, dan tidak mungkin bisa menemukan cara yang baik untuk mengatakannya; Cinta.

Yah, cinta. Cinta yang pernah kita sepakati tanpa syarat untuk kita menjadi pemabuk dalam tuak asmara yang pahit, ataukah rasa sakit dari masa yang lalu dimana kita menjadi kanak-kanak, senantiasa mau menjadi begitu dalam kemanjaan yang menggemaskan, kanakalan yang menggairahkan atau pemberontakan yang begitu mempesona, kita ingin rasa lagi hati kita bebas dan begitu damai? Dalam itu lah kita pernah sama-sama tinggal, dank au tahu kah aku seperti tersengat matahari paling terik diiringi kidung dari seruling saluwang papling getir, paling dalam dan karenanya paling sakit.

(Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta 21/03/2010)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: