Connect with us

Weekly Notes

Bagaimana dan apa yang dibutuhkan dalam menulis esai?

mm

Published

on

Menulis pada umumnya tidak pernah menjadi soal gampang. Tetapi bukan tanpa siasat. Pada dasarnya “menullis” adalah kata kerja, bukan kata sifat. Jadi ketika seorang ingin menghasilkan tulisan/ esai, maka ia harus segera memulai bekerja (menulis).

Pertama, anda harus segera mulai menulis, duduk dan mulailah mengetik. Saat seorang dalam aktifitas menulis biasanya ide berkembang. Anda menulis di buku catatan atau layar computer anda tapi bukan di dalam benak atau pikiran anda. Jadi segeralah memulai bekerja menulis dan berpikirklah sambil menulis—kecuai jika anda hanya ingin berhayal menghasilkan tulisan bagus dan selesai.

Hal selanjutanya adalah menyusun tulisan menjadi sebuah hasil kerja menulis yang utuh; ini berarti anda memulai dari pendahuluan, isi sampai kesimpulan.

Pendahuluan adalah ide utama yang ingin anda sampaikan.  Inilah bagian di mana anda menyatakan “tesis” anda. Hal paling penting adalah menemukan pertanyaan yang berbobot, relevan dan menarik. Pertanyaan anda adalah ide anda. Di mana sebagai penulis anda akan memberikan jawabannya dalam keseluruhan tulisan esai yang tengah dikerjakan. Jika anda tidak memiliki pertanyaan maka tidak ada jawaban yang harus dituliskan. Bentuknya tidak harus berupa lead pertanyaan, tapi anda harus memastikan bahwa anda menulis untuk menjawab sebuah pertanyaan atau mengajukan ide darimana anda bertanya paling tidak pada diri sendiri. Mislanya, kenapa anda merasa lebih produktif bekerja di kafe ketimbang di kantor atau di rumah? Kenapa Indonesia yang berlimpah sumberdaya agrarian tapi masyarakatnya terutama petaninya justeru miskin? Kenapa sebagai bangsa yang bhineka dan religius dalam arti masyarakatnya bukan penganut atheisme tapi justeru intoleransi mudah berkembang di sini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Isi adalah rumusan pertanyaan di mana anda meletakkan dasar gagasan jawaban anda, atau referensi bacaan yang telah anda kumpulkan dan kelola relevansinya. Bagian isi adalah bagian di mana anda mengajukan “argumentasi” untuk tesis yang telah anda ajukan dalam pedahuluan. Di sana lah anda mengajukan argumen-argumen untuk mendeskripsikan atau membuat pembaca anda yakin dengan jawaban dan kesimpulan yang anda telah pikirkan. Anda harus bertanya dalam menulis bagian ini; sudahkah atau perlukan ada contoh-contoh? Adakah kutipan relevan untuk menguatkan argumen anda? Apakah satu sama lain antar paragraf telah saling terhubung?

Kesimpulan adalah ruang bagi anda menutup jawaban dengan meyakinkan. Merujuk pada pendahuluan yang telah anda buat, dan pastikan; dalam kesimpulan anda tidak memberikan informasi baru yang membuat tulisan anda menjadi tidak meyakinkan atau tidak lagi relevan. Orang akan berpikir anda masih ragu dengan tulisan anda sendiri dan itu bukan pilihan bagus.

Hal yang terakhir adalah baca kembali keseluruhan dan lakukan revisi. Itu adalah jamak dan dibutuhkan. Tidak ada penulis yang langsung menulis dan jadi tanpa membacanya kembali untuk melakukan revisi. Jadi jangan ragu membuang yang tidak perlu—sebab tulisan bagus tidak hanya terlihat dari argumen yang kuat tapi juga bagaimana sebuah tulisan menunjukkan penulisnya telah bekerja sangat keras. (*)

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Weekly Notes

Kenapa kita memikirkan waktu?

mm

Published

on

31 Desember 2017

Rupanya senja desember tahun ini telah berlalu, hanya tinggal tersisa sedikit, kenapa kita memikirkan waktu? Kenapa kita mengenang yang berlalu?

Esok senja itu akan kembali juga, senja yang sama barangkali. Tapi hati kita baru, harapan kita baru, dan karena waktu selalu baru. Kehadiran waktu adalah kehadiran kebaruan—dalam kerjadian-kejadian; sebagian untuk dikenang, sebagian lain berlalu begitu saja; waktu terkadang ringan, terkadang juga berat. Seperti halnya kejadian-kejadian—yang terkenang karena terasa berat, yang terlupa karena ringan.

Kita sebenarnya menghendaki yang berat—sesuatu yang berbobot, kita ingin meyakini bahwa waktu bukan hampa, atau hayalan tentang kosong, dia memiliki volume, ukuran, dan kepada waktu kita menimbang diri. Tanpa waktu kita adalah kefanaan yang ringan, kosong dan tidak berarti. Dengan waktu kita menyatu, memadat, menjadi nyata, bisa dipegang dan dikenang—apa yang kita kenang kalau bukan ‘ingatan’? Kita hidup dengan ingatan-ingatan; tapi ruang bagi ingatan kita terbatas, tidak semua kita kenang, hanya hal-hal yang secara subjketif sangat penting kita jadikan kenangan, sebagai sesuatu yang layak menjadi bagian, karena telah menggenapi susunan kehidupan kita. Ya, barangkali hidup memang sebuah cerita, tanpa cerita yang tersusun dari ingatan-ingatan, hidup sulit dimaknai, sulit dibayangkan adanya. Benar kiranya, hidup memang sebuah cerita, sebuah kisah. Kita menyusun ceritanya berdasar potongan-potongan waktu; yang di dalamnya kita menerima menjadi pemeran utama, atau dengan lapang dada dan sangat bijak membiarkan yang lain menjadi aktor utamanya—kita sendiri yang memilih menjadi paduan suara, atau bahkan cuma penonton. Tapi bukankah itu semua melengkapi? Dan kehidupan juga?

Hidup adalah sebuah cerita, sebuah kisah—kisah tentang kita, sebagai manusia, sebagai mahluk. Hanya Tuhan yang maha luas, dengan keluasannya memberi tempat buat semua kisah manusia, kisah dari mahluknya, sementara kita manusia terbatas, sempit, tak mungkin menampung kisah semua manusia, bahkan kerap hanya mampu menampung cerita sendiri. Itu saja hanya sebagian, hanya yang baik-baik saja, sisanya—jika saja bisa, kita buang dalam tong sampah, atau kita biarkan menghilang bersama aliran sungai waktu yang entah menuju ke mana…

Mari kita jujur pada diri sendiri, kita mulai dari mana? Kita ingin mengatakan apa? Harapan baru? Ada, atau mengada-ngada, tentu saja ada, tapi kenapa bila jadi rahasia saja?

Bahwa kita memiliki impian, bahwa kita harus mengerjakan sesuatu; tak ada yang benar-benar patut disesalkan dari pilihan hidup hanya karena menimbang hasilnya sekarang. Itu sama sekali tidak layak jadi ukuran penyesalan. Kita mesti menghargai keputusan dan pilihan kita. Terlalu banyak hal yang bisa mempengaruhi hasil, atau karena hasil yang lain ingin mengajarkan dan memberi kita yang lain pula, membawa dan menuntun kita pada hakikat yang lain, yang lebih tepat dan layak bagi kita. Kita hanya harus melapangkan hati, menarik kebaikan dan pelajaran sambil bersiap merayakan hidup yang baru.

*

Sungguh saya bersukur atas kehidupan saya sekarang. Kehidupan yang selalu saya lapisi kabut agar tidak semua orang tahu. Kenapa saya menginginkan demikian? Entahlah tapi saya sulit memberitahu hidup saya secara terbuka. Saya merasa dalam diri saya ada pribadi seperti saya yang cukup jadi teman baik saya, diri saya sendiri. Saya bicara dengannya, memberitahunya tentang semua dan melanjutkan perjalanan bersamanya. Saya merasa tidak sendiri, tidak sepi, selalu ada yang serupa saya dalam diri saya, dan dengannya saya berkisah dan berbagi. Saya percaya Tuhan tidak akan membiarkan seseorang benar-benar sendirian dan kesepian.

Tahun ini tentu saja saya memiliki harapan—tapi mestikah saya kisahkan di sini? Tidak bolehkah itu menjadi rahasia saya saja?

Saya ingin menyebutkan ini dan itu, tapi tidakkah itu keinginan biasa dan terlalu fana? Apakah saya harus bicara dengan orang lain seolah saya kesepian dan tidak memiliki seseorang dalam hati saya yang biasa dan bisa saya ajak berbagi dengan lebih tulus dan rahasia?

Saya khwatir bahwa bila saya mengatakannya, saya tidak benar-benar jujur dengan ungkapan saya. Saya takut bila saya berkata-kata—sesungguhnya saya sedang membohongi diri saya sendiri dan kenapa saya harus menghibur anda dengan harapan-harapan baik semetara tiap orang mimiliki harapannya sendiri? Apakah saya dengan ini terlalu merekahkan egoisme? Jika iya, ah tapi apakah kita sama sekali tak punya hak tentang keberadaan kita senditi, tidak boleh kah kita memilih dan mencintai rahasia? Apakah kita harus saling mengenal hanya karena kita berbagi kata-kata?

Tidak tuan dan nona yang baik, maksud saya tidak demikian. Saya hanya ingin kata-kata lebih berarti, dan bagaimana kata-kata bisa benar-benar tenang dalam keheningannya sendiri—meski hanya sesekali, biarlah kata-kata menikmati waktunya sendiri, harapan dan impiannya sendiri tanpa mesti kita interupsi dengan hasrat dan keinginan kita sendiri yang terkadang—tak benar-benar serius atau kita inginkan kecuali hanya untuk kewajaran yang semenjana saja.

*

Barangkali itu yang saya inginkan, hidup lebih ke dalam, hidup lebih kepada kejujuran dalam ruang diri yang nyata dan benar, belajar dengan tenang dan dalam keheningan bukankah bisa begitu banyak pengalaman kita miliki? Lebih dari pada kepalsuan di dunia ramai yang semu bahkan memang sengaja palsu?  Dunia palsu yang bahkan tak bisa untuk sekedar kita jadikan bahan menulis sajak-sajak tentang masa lalu! Tapi bagaimana pun itu kehidupan juga?

Tuhan yang maha kasih dan pengertian, maafkan bila dalam hal ini, dalam kata-kata dan doa, saya telah merencanakan kepalsuan. Sungguh tidak maksud saya demikian, kecuali dikarenankan saya berharap hidup sebagaimana isyarat yang engkau kehendaki dari hidup saya untuk menuju ke sana, ke jalan di mana engkau memang menghendaki saya menjadi bagian dan jika mungkin menjadi bermanfaat untuk bumiMu.  Saya juga yakin teman-teman saya demikian, maka kami memohon petunjuk dan berkahMu…

Selamat datang tahun yang baru..

Jakarta, 2018

Sabiq Carebesth

 

 

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Selamat Malam, tapi apakah ini malam?

mm

Published

on

Waktu yang merenggutmu dari takdirku adalah puisi paling sunyi yang digariskan di atas kanvas sebagai lukisan surgawi yang maha ngeri.Tujuh puluh ribu kehilangan yang kutempuhi menjadi rindu tanpa penghabisan; menjelma kutukan bumi dari nyanyian waktu yang menyuguhkan kepedihan; kau kira lukanya disebabkan persetubuhan paling kelam malam itu; senggama dari ribuan nafsu dalam gejolak paling pasang dari gelombang jiwa yang nganga disapu rasa hampa yang ingin digenapi janji persekutuan abadi tanpa dinding dan puisi. Persetubuhan asmara kita malam itu meniti tiap jengkal dari tebing samudara sunyi yang menggelegar di antara leher dan dagumu. Malam kini samudera itu masihkah ada? Selamat malam, tapi apakah ini malam?

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2013

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Tentang Kenangan Di Buku Harian

mm

Published

on

Kutemukan kenangan di buku harian, tentang malam dan kesunyian: tentang penantian tanpa musim dan angin, hanya sebuah waktu, yang terlalu pendek untuk akhirnya tahu sepucuk surat cintamu urung terkirim; melapuk dan menua, sepertiku sekarang, sepertimu sekarang. Kamu di mana, sekarang?

Kelam menengadah muka di ujung malam; menjadi halaman-halaman kosong dari buku harian yang gagal membangunkan rumah bagi waktu kita yang enggan menjelmakan kuda pacu agar bisa kita melaju ke dalam waktu; di mana kita akan duduk, sambil menganyam kerudungmu agar bila nanti turun hujan bisa kusembunyikan wajahmu dari kebekuan yang menarikmu ke dalam masa silam sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu.

Di gurun yang tiada terik, hujan tiba sepanjang senja, akankah pada kalbumu merentang kelambu dari benang paling halus kerudung kalbumu? Kerudung kenangan terbuat dari sehelai bulu matamu yang telah jadi kaku sebab dingin dari hujan; kau resapi dengan pandangan penuh duka di antara suara-suara malam yang mengabarkan keberangkatan? bahwa hari itu kita berpisah. Pada hujan sewaktu kita gagal melukis nama kita di kaca jendela. Kita lalu sama beringsut dalam dingin kaku, ingatkah kau?

Aku mencarimu di antara hujan yang merobohkan pohon-pohon, merobohkan pula jembatan-jembatan waktu—itu yang kutakutkan; dadaku menyesak luruh lunglai, terhuyung menembus kabut mencari sepanjang batas gapai, alangkah rindu kalbuku. “Ada apa?”

Oh di mana jalan agar petang mengantarkan kelam dan bisa lagi kutempuh jalan ketika puisi menjelma hujan sewaktu wajah kita memadahkan asmara di kabut kelam kota saat sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu usai membaca surat terakhir yang urung mengatakan aku cinta padamu.

Sabiq Carebesth | Di Kamar, Kalibata, Desember 2012

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: