Connect with us
mm

Published

on

Duduk sendiri di etalase waktu yang memajang tubuh mati, senyuman tanpa rona; seperti hujan di terik sewaktu burung gereja kehilangan daun yang menyembunyikan serangga; seolah masa lalu menelan seluruh kota dalam kenangan.

Jalan-jalan kembali asing bersama mendung yang menggenapi petang nan sia-sia; menjadi pemanis malam sebelum kelam sungguh-sungguh membentangkan masa lalu di atas ranjang; telanjang bulat menjadi waktu di jam dinding berwarna kelabu, namun matamu tetap saja rahasia paling sunyi yang dikandung lautan biru—tak kunjung tergenapi; lantaran kepada yang dirindu tak pernah sanggup kehilanganmu mencumbu.

Inilah tangisanku yang tak mungkin kau pahami, lirih jeritnya hanya sepetik tali harpa dalam sebuah pesta pora tentang lupa dari masa lalu yang terlalu  pilu untuk dikenang sebagai keberlaluan waktu oleh sejumput hujan yang menepikan namamu di atas pasir dalam pantai jiwaku di mana ribuan kuda pacu tengah menderu menuju kesendirian; menempuhi suara yang membimbing bunyi kepada kedalaman dari ketidaksanggupan menyembunyikan cinta.

Itu lah waktu dan ruang bagiku, dan bagimu, kekasihku; dan aku membuat ribuan jendela, aku membukanya beribu kali; berkali-kali tapi tak pernah kutemukan kota, atau jembatan panjang, gedung-gedung tua dengan burung-burung yang melukiskan masa lalu menjadi lebih sempurna dari kesakitannya; dan lorong-lorong sunyi dari kali-kali mati di pinggir jalan tanpa lampu malam di mana dulu kita pernah berjanji berkali-kali untuk saling bertemu kembali.

Aku membuat lagi jendela dari pengapnya ruang yang memenjarakanku tanpa waktu dari detik dan dentang jam; waktu yang kerap menjadi kecil bagi masa depan yang angkuh; bagi waktu yang meresmikan diri menjadi masalalu; dan kubuka jendela, ah tapi semua kembali hampa; tak ada kota yang sama seperti kota milik kita waktu itu, tak ada senja seperti senja waktu itu sayangku; sewaktu kau mengucup bibirku dengan air mata terakhir yang bisa kusingkap sebelum akhirnya kalbuku menggigil, kembali di dekap sunyi, kembali tak mengerti—aku mabuk dan gigil seperti puisi.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2013

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seperti Para Penyair

Surat Yang Tak Kunjung Jadi

mm

Published

on

; susan gui

Pipimu rembulan merah
Aku rentang jarak meruah
Kelopak matamu gundukan waktu
Aku sajak pilu
Rambutmu alunan komedi Romeo
Aku sajak Suto

Telapak kakimu pasir sehalus kabut
Aku gemuruh ombak merenggut
Alismu pucuk sunyi
Aku jalan mendaki
Payudaramu bebatuan suci
Aku perahu kertas di deras sungai

Jemarimu puisi
Aku kelam di malam sepi
Bibirmu sayap merpati
Aku surat yang tak kunjung jadi

Engkau waktu yang berhembus
Aku peziarah yang terbius;

Pada kalbumu kutuntun pilu rinduku
Peluklah tangisku atau tawa kelamku

Malam tambah biru
Kututup jendela kamarku
Barangkali di luar rembulan berpendar
kian membiru…

Sabiq Carebesth | 16 Maret 2014

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Pelukis Senja

mm

Published

on

Office in a Small City by Edward Hopper

Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta di atas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup
Kita tak lagi bertanya…
Barangkali hidup memang bukan tanya, yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama

Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut pada gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
atau dalam kolam jiwanya
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu;
yang dahulu.

Sabiq Carebesth | Jakarta, 2 Juni 2012

Continue Reading

Seperti Para Penyair

Senja Terakhir di Bulan Mei

mm

Published

on

Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia

Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

Sabiq Carebesth | Jakarta, 27 Mei 2012

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: