Connect with us

Editor's Choice

Alangkah Kanak-Kanaknya Cinta

mm

Published

on

Kabut menggelayuti sepanjang punggungmu, sisa hujan masih menggenang di antara jalan-jalan yang menyembunyikan jejak tari-tarian paling sublim dari jiwamu yang hendak menyongsong sedalamnya getaran yang tak pernah dapat kau pahami bagaimana sebuah puisi tiba-tiba menjelma keheningan sebuah rumah dan kau hanya ingin bersandar pada jendelanya; memandangi hujan kian lagut.

“Bagaimana jika kabut dingin itu berlalu dari kebun bunga yang kutanam di pematang kalbumu? Apa masih kau ingat bunyi dari setiap angin yang membawakan aroma asing tentang masa depan?”

Betapa takutnya kita dengan masa depan; sebab di sana lingkaran tanganmu pada punggungku hanya tinggal kenangan; di pundak ringkihku hanya tersisa halus bekas bibirmu dahulu.

Aduh bagaimana aku harus memohon untuk sebuah kenangan? Agar tetap tinggal di antara reruntuhan waktu yang telah memilih berduka waktu itu? Oh jika saja waktu tak pernah terbelah; sebagaimana sebauh usia muda menghamparkan keluasan dan getaran; sebelum sebuah nyanyian mengambilmu dari keriangan. Oh, alangkah kanak-kanaknya cinta;

Sabiq carebesth | Jakarta, 2013

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Books

Thomas Malthus: Essay On The Principle Of Populatiion

mm

Published

on

(Essay mengenai prinsip pertumbuhan penduduk)

Suatu keasyikan penghibur hati yang amat digemari diakhir abad ke-XVIII ialah mengangan-angankan utopia-utopia. Idealisme yang sejalan dengan gerakan revolusioner di Amerika dan Perancis memberikan ilham kepada para pengasyik angan-angan itu untuk mengambil kesimpulan, bahwa fajar kesempurnaan manusia telah kelihatan ditepi langit dan bahwa terciptanya sebuah sorga dunia sudah dekat betul masanya.

Diantara pengasyik angan-angan ini, dua orang, William Godwin di Inggris dan Marquis de Condorcet di Perancis, mempunyai pengikut-pengikut yang paling khusuk yang telah menyampaikan kepada orang banyak harapan-harapan dan pandangan-pandangan dari suatu jaman baru. Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Godwin dalam bukunya Keadilan Politik (Political Justice) adalah sangat tipis bagi optimis-optimis yang gigih ini. Godwin percaya, bahwa akan datang masa dimana kita menjadi begitu padat oleh hidup sehingga kita tak memerlukan tidur, — begitu penuh oleh kehidupan sehingga kita tak perlu mati dan kebutuhan pada perkawinan akan didesak oleh kebutuhan untuk mengemukakan intelek. Pendeknya, manusia akan seperti malaikat layaknya, “Perbaikan-perbaikan lainnya,” demikian ia bersenandung, “dapat diharapkan terlaksana sejalan dengan perbaikan-perbaikan kesehatan dan kepanjangan hidup. Tidak akan ada lagi peperangan, tidak ada kejahatan dan tidak akan ada lagi apa yang orang sebutkan administrasi peradilan dan pemerintah. Disamping itu juga tidak akan ada lagi penyakit, ketakutan, kesenduan ataupun dendam. Setiap manusia akan mencari kebaikan bersama dengan semangat yang tak dapat dilukiskan.”

Untuk meniadakan rasa takut, bahwa jumlah manusia akan jadi terlalu banyak sedangkan makanan tidak akan mencukupi, Godwin menulis. “Bumi akan tetap menghasilkan cukup untuk menghidupi penghuninya, biarpun manusia berkembang selama berjuta tahun lagi.” Lagi pula, demikian ia berpikir, keberahian berkelamin mungkin akan berkurang, Condorcet mengusulkan, bahwa keberahian ini bisa dipenuhi dengan tidak mengakibatkan angka kelahiran yang tinggi.

Gelembung-gelembung yang indah ini seolah-olah meminta-minta untuk ditusuk. Dan jarum penusuknya telah disediakan oleh seorang rahib muda yang tak segan-segan, bernama Thomas Robert Malthus; seorang Fellow dari Jesus College, Cambridge, Inggris yang berumur tigapuluh dua tahun. Jawabannya kepada perfeksionis-perfeksionis sosial ini ialah, Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk. (An essay on the Principle of Population) yang diterbitkan dalam tahun 1798. Karangan ini kemudian dianggap orang sebagai salah sebuah karya klasik tentang ekonomi politik.

Malthus, anak kedua dari Daniel Malthus adalah kawan sejaman, biarpun usianya jauh lebih muda dari Adam Smith dan Thomas Paine, Ayahnya, seorang gentleman pedalaman yang hidup dalam keadaan berkecukupan, adalah seorang sahabat Rousseau dan pelaksanaan dari peninggalan-peninggalannya, dan dapat disebut seorang pengangum Godwin yang paling bersemangat. Baik ayah maupun anak gemar sekali berdebat. Thomas menyerang sedangkan ayahnya membela pendirian-pendirian utopia. Akhirnya, atas anjuran ayahnya, Thomas memutuskan untuk menyatakan pendapatnya dalam sebuah tulisan. Hasilnya ialah essay yang termasyur itu – sebuah essay yang telah berpengaruh besar atas pikiran dan kegiatan manusia selama seratus lima puluh enam tahun yang lewat, dan yang barangkali belum pernah begitu nyata seperti dalam kurun jaman sekarang ini. Apa yang telah dilakukan oleh Adam Smith duapuluh dua tahun sebelumnya dalam penyelidikannya mengenai fitri dan sebab dari kekayaan, telah dilengkapkan oleh Malthus dengan analisanya yang menyigi fitri dan sebab-sebab dari kemelaratan.

Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk sebagaimana ia mepengaruhi perbaikan masyarakat dimasa datang, dengan catatan-catatan tentang spekulasi-spekulasi tuan-tuan Godwin, Condorcet dan pengarang-pengarang lain, yang diterbitkan secara anonim, dalam versinya dari tahun 1798 lebih kurang adalah sebuah pamflet (50.000 kata) dan rupanya dicetak dalam jumlah yang kecil, karena kopy penerbitan itu susah sekali diperoleh sekarang. “Buku ini ditulis,” demikian laporan pengarangnya kemudian, “karena didorong oleh keadaan dan dengan mempergunakan sumber-sumber yang sangat terbatas yang dapat dapat saya peroleh dalam kehidupan dipedalaman.” Thema essay ini tidak baru, karena berbagai pengarang abad ke-XVIII, termasuk juga Benjamin Franklin, pernah membicarakan masalah pertumbuhan penduduk, tapi tidak seorangpun diantara mereka ini yang telah menyajikannya begitu tegas, begitu bersemangat atau dengan ketajaman yang begitu  jernih seperti yang telah dilakukan oleh Malthus.

Di awal karangannya Malthus telah mengemukakan dua pendirian dasar:

Pertama, bahwa makanan perlu untuk kehidupan manusia. Kedua, bahwa gairah yang terdapat diantara sex adalah perlu dan keadaannya boleh dikatakan akan tetap seperti keadaan sekarang.

Bahkan mereka yang mengangan-angankan utopia juga tidak mengemukakan pendirian, bahwa manusia bisa hidup tanpa makanan.

Tapi tuan Godwin mengira api kegairahan berkelamin suatu masa akan padam .. Bukti-bukti yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa manusia ini dapat disempurnakan dapat diambil dari sebuah renungan tentang kemajuan-kemajuan besar yang dicapai manusia semenjak mereka masih berada ditingkatan biadab …. Tapi dalam soal pemadaman api sex, sampai sekarang belum ada kemajuan diperoleh. Rupa-rupanya api ini berwujud dengan kekuatan yang sama seperti 2000 atau 4000 tahun yang lalu.

Karena ia sangat yakin, bahwa “postulata”-nya ini tidak dapat ditolak, maka Malthus meneruskan memaparkan prinsipnya yang termasyur:

… bahwa kekuatan pertumbuhan penduduk nyata sekali lebih besar dari kekuatan dunia untuk menghasilkan nafkah bagi manusia. Jumlah penduduk jika tidak dikendalikan akan berlipat-ganda menurut perbandingan geometri. Jika kita perhatikan angka-angka yang ada mengenai ini maka akan nyatalah, bahwa kekuatan yang pertama jauh lebih besar dari kekuatan yang kedua.

Dalam menjelaskan dalilnya selanjutnya. Malthus menguatkan persoalannya dengan cara berikut:

Melalui dunia hewan dan tetumbuhan, alam menyebarkan benih kehidupan keseantero dengan tangan royal dan pemurah. Jika dibandingkan dengan cara ini, maka ia – alam – lebih hemat dalam soal tempat dan makanan yang diperlukan untuk menumbuhkan benih-benih yang …. Bangsa tanaman-tanaman dan bangsa hewan-hewan berkurang disebabkan hukum pembatas yang besar ini. Dan bangsa manusia tidak bisa dengan cara bagaimanapun juga mengelakkan diri dari padanya. Pada tanaman dan hewan akibatnya ialah penyia-nyiaan benih, penyakit dan mati muda. Pada manusia, penderitaan dan kejahatan.

Fakta-fakta yang keras tapi benar ini, menurut pengiraan Malthus, akan menimbulkan kesulitan-kesulitan yang tak dapat diatasi dalam usaha untuk menyempurnakan masyarakat. Tidak ada perobahan-perobahan yang dapat diadakan yang akan dapat meniadakan tekanan hukum-hukum alam yang merupakan halangan-halangan sehingga mustahillah “terwujudnya sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya dapat hidup dengan mudah, berbahagia, dengan kesenangan yang patut dan yang tidak usah khawatir dalam soal mencari makan bagi mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka”.

Sebagai ilustrasi dari pelaksanaan pebandingan geometrinya, ia memilih pertumbuhan jumlah penduduk di Amerika Serika “dimana alat-alat untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih banyak, kebiasaan orang lebih murni dan dengan demikian pembatasan terhadap kawin muda lebih kurang”. Malthus menemui, bahwa penduduk disini, tidak termasuk imigrasi, telah bertambah dua kali lipat dalam masa duapuluh lima tahun. Dari bukti ini ia menarik kesimpulan, bahwa dimana tidak ada pengawasan dan keseimbangan dan dimana tidak ada pembatasan diberikan kepada alam, kecepatan pertumbuhan disetiap negeri akan menggandakan jumlah penduduk setiap angkatan. Pembangkang-pembangkangnya seringkali menunjukkan cacat dalam dalil malthus dan mengatakan, bahwa keadaan yang terdapat di Ameria Serikat dimasa kurun jamann itu, adalah keadaan yang tidak dapat dikatakan typis jika dibandingkan dengan keadaan-keadaan dimasa lain dalam sejarah Amerika ataupun negara lain.

Dalam mencobakan kayu-pengukurnya buat pertumbuhan penduduk yang wajar di Inggris, yaitu suatu ukuran dari perlipat-gandaan dua kali yang potentiel dalam jangka waktu dua puluh lima tahun. Malthus mengarahkan perhatiannya kepada masalah kebutuhan. Kesimpulannya ialah, bahwa “dengan pertolongan cara-cara yang terbaik yang bisa dijalankan, misalnya dengan jalan membuka tanah lebih banyak dan dengan menganjurkan pertanian sebesar-besarnya, hasil kepulauan ini mungkin didua-kalikan dalam masa duapuluh lima tahun pertama”.

Tapi kesulitan akan mulai bertumpuk dengan datangnya angkatan berikutnya. Sedangkan jumlah penduduk sekali lagi bertambah dua kali, jadi empat kali dalam masa limapuluh tahun, dalam soal makanan “tidaklah mungkin diharapkan, bahwa makanan akan bertambah pula empat kali”. Tambahan paling tinggi yang dapat diharapkan, ialah pergandaan jumlah makanan sebanyak-banyaknya tiga kali jumlah asal. Jika diutarakan dengan angka-angka, rumus Malthus akan menunjukkan bagi pertumbuhan jumlah penduduk: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 dan seterusnya sedangkan buat persediaan makanan: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya.

Suatu konsekuensi yang wajar dari jalan pikiran Malthus, ialah bahwa orang harus mengadakan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk yang dijalankan terus. Alat pengendali yang terkeras ialah kurangnya makanan. Disamping itu ia menyebut cara-cara “pengendalian langsung” yang ia golongkan kepada golongan-golongan “positif” seperti misalnya pekerjaan-pekerjaan yang tak sehat, kerja yang berat, kemelaratan yang teramat sangat, penyakit, perawatan anak-anak yang tak baik, kota-kota besar, pes, epidemi; dan suatu golongan “preventif”, yaitu pengekangan moral dan adanya cacat jasmani.

Dalam pandangan Malthus, beberapa kesimpulan praktis yang tak dapat dielakkan akan datang dengan sendirinya. Sekiranya manusia ingin menikmati kebahagiaan yang sebesar-besarnya, maka ia tidak boleh menerima kewajiban-kewajiban berkeluarga sekiranya ia tidak mampu untuk menanggungnya. Mereka yang tak mempunyai kesanggupan cukup untuk menghidupi sebuah keluarga harus tetap tinggal membujang. Selanjutnya, dalam politik umum, seperti misalnya undang-undang kemiskinan harus dirumuskan begitu rupa sehingga menghilangkan dorongan bagi klas buruh atau klas-klas lain untuk melahirkan kedunia anak-anak yang tidak dapat mereka penuhi kebutuhannya.

Seorang manusia yang lahir kesuatu dunia yang sudah dimiliki orang, sekiranya ia tak dapat memperoleh kebutuhannya dari kedua orang tuanya, sesuatu harapan yagn layak sekali, sekiranya masyarakat tidak menginginkan kerjanya, tidak punya hak baik atas bagian terkecil sekalipun dari makanan yang ada dan sebenarnya tidak perlu sama sekali berada di tempat itu.

Yang diatas ini ia tulis sebagai jawaban atas Hak-hak manusia karangan Paine (Rights of Man).

Bantuan baik bersifat partikelir maupun pemerintah, tidaklah diingini karena ini berarti memberikan uang kepada orang miskin dengan tiada menambah banyak makanan yang bisa diperoleh dan dengan begitu menaikkan harga dan menimbulkan kekurangan. Juga tidak dapat diterima rumah-rumah pertemuan karena ia menimbulkan pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat. Gaji yang besar juga memberikan akibat buruk yang serupa. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari masalah yang sulit ini ialah dengan memperlambat perkawinan dan dengan “pengekangan moral” jadi dengan jalan “berpuasa”.

Sebetulnya, dalam mata Malthus setiap usaha kearah masyarakat yang lebih baik dan hilangnya kemiskinan sangat boleh jadi hanya akan berakhir dengan bertambahnya penyakit yang hendak diberantas. Rahib yang berpikir gigih dan yang kelihatannya bersikap anti-sosial ini menyebabkan kaum filantrop-filantrop yang idealistis memisahkan diri dari angkatannya dan angkatan yang berikutnya. Tapi sebaliknya doktrin Malthus ini diterima dengan penuh gembira oleh golongan-golongan yang kaya dan yang memegang kekuasaan dalam jamannya. Dengan itu mereka dapat menyalahkan kawin terlalu muda dan jumlah anak yang terlalu banyak sebagai sebab dari kemelaratan umum dan adanya keburukan-keburukan sosial lainnya.

Sikap Malthus terhadap rencana bantuan pemerintah dapat diperlihatkan dengan kutipan-kutipan dibawah ini:

Undang-undang kemelaratan Inggris yang bermaksud memperbaiki keadaan orang-orang miskin memberikan kecondongan kedua arah. Pertama, yaitu kecondongan dari pertambahan jumlah penduduk dengan tidak disertai pertambahan jumlah makanan untuk kebutuhan mereka. Seorang miskin mungkin kawin biarpun ia sedikit sekali bahkan tidak ada sama sekali memiliki kesanggupan untuk mengongkosi keluarganya dengan tidak bergantung pada orang lain. Karena itu dalam pengertian tertentu dapat dikatakan, bahwa orang telah berusaha menciptakan orang-orang miskin yang adanya tetap dipertahankan. Karena persediaan makanan negeri harus dibagikan kepada setiap orang dalam jumlah yang lebih sedikit, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah penduduk, maka nyatalah bahwa mereka yang tidak mendapat sokongan dari gereja hanya akan sanggup membeli persediaan yang lebih sedikit dari sebelumnya dan karena itu maka akan lebih banyaklah orang yang terpaksa meminta bantuan. Kedua, jumlah makanan yang dihabiskan dirumah-rumah miskin oleh sebagian dari masyarakat yang umumnya tidak dapat diangap sebagai bagian yang paling berharga, akan mengurangkan bagian yang sepatutnya diperoleh oleh anggota-anggota masyarakat yang lebih berharga; dan dengan demikian dengan cara yang sama telah dipaksa lebih banyak orang untuk bantuan.

Diakhir essaynya ini Malthus memberikan sebuah ringkasan dari pandangan-pandangannya.

Karena keadaan-keadaan yang lain serupa sifatnya, maka dapatlah dipastikan, bahwa pertumbuhan jumlah penduduk sebuah negara harus sesuai dengan jumlah makanan yang ia hasilkan atau ia peroleh. Penduduk ini akan berbahagia sesuai dengan berlimpahnya pembagian makanan, atau berapa banyak makanan yang dapat diperoleh dengan hasil kerja satu hari. Negara-negara gandum akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara padang rumput dan negara-negara beras akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara gandum. Tetapi kebahagiaan mereka tidak akan tergantung pada rapat jarangnya penduduk, pada kemiskinan atau kekayaan mereka, kebeliaan atau kebayaan mereka, tapi pada perbandingan yang terdapat antara jumlah penduduk dan makanan yang cukup.

Munculnya essay Malthus ini telah menghembuskan suatu topan kritik, protes dan makian, terutama dari dua golongan; golongan agama konservatif dan golongan sosialis radikal. “Selama tigapuluh tahun”, demikian Bonar, penulis riwayat hidupnya yang terpenting, mengatakan, “telah jatuh hujan pembahasan”. Malthus adalah seorang penghasil teori yang paling banyak disalahgunakan dalam jamannya dan yang telah dinyatakan sebagai “seorang pembela penyakit cacar, perbudakan dan pembunuhan kanak-kanak, sebagai seorang yang mengutuki dapur umum, perkawinan cepat dan sumbangan gereja; seseorang yang tak malu untuk kawin setelah mengkhotbahkan bagaimana jahatnya hidup berkeluarga; yang mengira, bahwa dunia ini diperintah dengan cara yang begitu buruk sehingga apapun juga perbuatan baik yang dilakukan hasilnya hanyalah kerusakan yang lebih besar; seseorang yang singkatnya, telah melucuti hidup ini dari segala keindahannya”.

Beberapa pengeritik telah menolak thesis Malthus dengan begitu saja. Hazlitt misalnya “tidak dapat mengerti apa lagi yang harus ditemui setelah kita membaca surat-surat keturunan nabi Nuh dan mengetahui, bahwa bumi ini bundar”, Goleridge mengulas, “Apakah kita sekarang memerlukan sebuah quarto untuk mengajar kita, bahwa penderitaan besar dan kejahatan besar adalah anak dari kemiskinan, dan bahwa dimana terdapat lebih banyak perut dari pada makanan disana akan ditemui kemiskinan dalam bentuk yang paling berat dan bahwa lebih banyak jumlah kepala dari pada otak?”

Pengulas-pengulas yang lain memperdengarkan suara yang getir. Seperti William Thompson, pemimpin sosialisme Inggris yang mula-mula menulis: Janganlah hinakan bagian terbesar manusia yang menderita dengan kepalsuan yang menyilaukan, bahwa dengan jalan membatasi jumlah penduduk atau dengan tiada memakan kentang, kebahagiaan mereka akan berada di tangan mereka, baik moril ataupun fisik, untuk hidup tanpa kentang dan peradaban yang jauh dari kesusahan, masih saja ada.

Ucapan lain yang tajam datang dari William Cobbett yang mengatakan: “Bagaimana Malthus dengan murid-muridnya yang edan dan menyusahkan orang – bagaimana mereka ini, yang ingin meniadakan kemiskinan, dengan jalan melarang orang miskin kawin; bagaimana golongan begini dungu dan pongah menghadapi para pekerja bermuka-muka, sedangkan mereka menyuruh pekerja-pekerja ini mengangkat senjata dan menghadangkan nyawa untuk membela negara”.

Cobbettlah yang secara kebetulan menemui pemeo “domine” bagi Malthus. Cobbett sedang berbicara kepada seorang petani muda:

“Nah”, kataku, “jadi berapa jumlah anak yang kau ingini?”

“Aku tak perduli berapa”, sahut orang itu, “Tuhan tak pernah mengirimkan perut tidak dengan pengisinya sekali.”

“Belum pernahkah kau mendengar”, kataku, “tentang seorang domine bernama Malthus?”

“Tidak tuan”.

“Kalau kedengaran olehnya ucapan kau itu, ia akan marah sekali, karena ia menginginkan undang-undang parlemen yang melarang orang kawin muda dan beroleh banyak anak.”

“Oh, iblis,” sembur isterinya, sedangkan suaminya tertawa, karena ia mengira, aku berolok-olok.

Suatu kritik yang seringkali dikemukakan dalam menentang doktrin Malthus waktu ia mula-mula terbit, ialah bahwa doktrin ini bertentangan dengan kemurahan Ilahi. Malthus dituduh telah menyiarkan sebuah buku yang bersifat anti-agama – suatu tuduhan yang sangat berat terhadap seorang pendeta sebuah gereja yang sudah berkedudukan. Karena adanya kritik ini, Malthus dalam penerbitan kedua dari essaynya menekankan “pengekangan moral” sebagai cara untuk membatasi jumlah penduduk sambil meniadakan derita dan kejahatan, dan disamping itu menghilangkan “segala tuduhan yang masih terasa terhadap kebaikan Yang Maha pemurah”.

Dalam sebuah program untuk memperingati seratus tahun kematian Malthus, dalam tahun 1935, Bonar mengadakan pembelaan terhadap orang-orang yang menurut sangkaan Bonar telah salah mengemukakan, salah membaca dan salah memahami Malthus. Menurut hematnya Malthus dalam mengemukakan masalahnya adalah tegas dan tidak negatif sama sekali. Bonar mengemukakan, bahwa dalam hakikatnya Malthus “menaruh keinginan hati untuk kebaikan ummat manusia” dalam mana tersimpul:

  1. Angka kematian yang rendah bagi semuanya
  2. Tingkat hidup dan pendapatan lebih tinggi bagi orang miskin
  3. Pengakhiran dari pemubajiran hidup manusia muda.

Malthus melihat dengan jelas, bahwa pembatasan terhadap kenaikan angka kelahiran yang cepat makin banyak dipergunakan oleh negara-negara dengan makin tingginya peradaban dan pendidikan mereka dan makin tingginya tingkat hidup yang mereka capai. Karena itu, pandangannya terhadap masa depan masyarakat manusia adalah suatu pandangan yang mengandung optimisme yang hati-hati. Di Inggris sendiri Malthus melihat, bahwa “pandangan yang biarpun hanya sekilas ke arah masyarakat akan meyakinkan kita, bahwa diseluruh golongan, pengawasan preventif terhadap kenaikan angka penduduk telah diadakan disemua tingkat penduduk”. Secara realistis ia telah memperlakukan berbagai kalangan-kalangan – kaum ningrat, saudagar dan petani, buruh dan pelayan rumah tangga – terpisah-pisah, karena perbedaan keadaan ekonomi mereka. Suatu keinginan untuk mempertahankan suatu kedudukan sosial, menurut hematnya akan menghindarkan kawin cepat.

Misalnya:

Seorang laki-laki yang berpendidikan liberal tapi dengan pendapatan yang nyaris cukup untuk memungkinkan ia menyamakan diri dengan tingkatan ningrat, akan merasa yakin, bahwa jika ia kawin dan mempunyai keluarga, dan jika ia bergaul ditengah masyarakat, ia akan terpaksa menggolongkan dirinya dalam golongan petani menengah atau golongan tukang-tukang. Kejatuhan dua atau tiga tingkat dalam masyarakat pada golongan ini, dimana pendidikan terakhir dan ketidak-tahuan mulai, dalam anggapan rakyat umumnya bukanlah bencana yang hanya ada dalam angan-angan saja, tapi adalah suatu bencana yang hakiki dan nyata.

Seperti dapat dibaca dari pengutipan-pengutipan yang dilakukan orang dari karangannya. Malthus tidak dapat dikatakan tak diperdulikan orang dalam masa hidupnya. Akibat langsung dari terbitnya cetakan pertama essay tersebut ialah diadakannya sensus penduduk oleh pemerintah Inggris dalam tahun 1801, satu-satunya tindakan yang mempunyai arti besar semenjak datangnya Armada Spanyol. Usul-usul untuk mengadakan sensus yang dimajukan sebelum itu telah ditolak sebagai sesuatu yang tak bersifat Inggris dan anti skriptual. Hasil lain dari essay itu ialah perobahan undang-undang orang miskin untuk mengelakkan beberapa kesalahan yang ditunjukkan oleh Malthus.

Pengaruh pikiran-pikiran Malthus atas ilmu pengetahuan alam boleh dikatakan sama dengan pengaruhnya atas ilmu-ilmu pengetahuan sosial.Baik Charles Darwin maupun Alfred Russel Wallace mengakui dengan terus terang, bahwa dalam mengembangkan teori “evolusi dengan seleksi alam” mereka harus berterima kasih kepada Malthus. Darwin menulis:

Dalam bulan Oktober tahun 1938, yaitu limabelas bulan setelah aku mulai dengan penyelidikan yang sistematis, kebetulan aku, semata untuk hiburan, membaca Pertumbuhan Penduduk karangan Malthus. Dan karena diriku telah sedia untuk menerima perjuangan untuk hidup (suatu ucapan yang dipergunakan oleh Malthus) yang berdasarkan suatu pengamatan yang lama dan terus menerus dari hewan dan tanaman yang berlaku dimana-mana, maka karangan ini dengan segera meyakinkan aku, bahwa dalam keadaan seperti ini jenis-jenis (variasi) yang serasi akan selamat sedangkan jenis yang tak serasi akan hancur. Hasil dari pada ini ialah suatu spesi baru. Dengan ini akhirnya aku peroleh juga sebuah teori yang dapat kupakai untuk bekerja.

Dalam nada yang sama Wallace menulis:

Buku ini adalah buku pertama yang pernah kubaca yang mempersoalkan masalah-masalah filsafat ilmu hayat. Dan prinsip-prinsip utamanya kusimpan dalam diriku sebagai milik yang tetap, yang duapuluh tahun kemudian memberikan kepadaku kunci, perangsang yang efektif dalam evolusi spesi-spesi organik yang begitu lama dicari.

Proses-proses yang berisi kemarahan yang dilancarkan oleh golongan gereja dan pemberontakan-pemberontakan sosial sebagai sambutan atas edisi tahun 1798 dari Essay itu, tidak dihiraukan oleh Malthus; ia malahan begitu asyik dengan persoalan tersebut sehingga ia bermaksud untuk menyelidikinya selanjutnya. Untuk memperkuat alasan-alasnanya ia menjelajah Eropa tahun 1799 untuk mencari bahan “melewati Swedia, Norwegia, Finlandia dan sebagian dari Rusia, karena inilah negeri-negeri yang kala itu terbuka bagi musafir-musfir Inggris”. Kemudian semasa perdamaian pendek dalam tahun 1802 ia melakukan perjalanan lagi ke Perancis dan Swis. Dalam masa ini ia menyiarkan sebuah pamflet yang berkepala. Sebuah penyelidikan mengenai sebab dari kenaikan harga makanan saat ini; dalam pamflet ini ia berpendirian, bahwa harga-harga dan keuntungan-keuntungan ditentukan terutama oleh apa yang ia sebutkan “permintaan effektif”.

Lima tahun setelah edisi pertama Essay terbit, maka diterbitkanlah versi kedua yang telah ditambah – sebuah volume quarto setebal 610 halaman. Edisi ini kehilangan kekasaran-kekasarannya, gayanya yang lincah, kepastian kebeliaan yang ditemui dalam karya yang asli dan telah mengambil bentuk sebuah pembicaraan masalah ekonomi menurut cara kesarjanaan, penuh dengan dokumentasi-dokumentasi dan catatan-catatan bawah, biarpun prinsip pangkal tidak berubah sama sekali kecuali mengenai perkembangan ide “pengekangan moral”. Selama hidup pengarangnya telah diterbitkan empat edisi lagi. Pada edisi kelima Essay ini telah menjadi tiga jilid yang kesemuanya memenuhi seribu halaman. Ia begitu asyik dengan merubah Essay ini berturut-turut sehingga satu-satunya karya besar yang lain yang dihasilkan oleh Malthus ialah Prinsip-prinsip ekonomi politik dilihat dari sudut kemungkinan pelaksanaannya, diterbitkan dalam tahun 1820.

Riwayat hidup Malthus boleh dikatakan tenang dan penuh kedamaian. Ia bebas melakukan telaah-telaah dan penulisan-penulisan ekonominya dengan tak diganggu-ganggu oleh tanggung jawab lain, sampai tahun 1804 tatkala mana ia menikah, sewaktu ia berumur tigapuluh delapan tahun. Tahun berikutnya ia diangkat menjadi guru besar sejarah modern dan ekonomi politik di East India Company’s Collage yang baru saja didirikan di Haileybury, sebuah lembaga pendidikan dimana diberikan pendidikan umum pada pegawai-pegawai kompeni India Timur. Pengangkatan ini adalah pengangkatan kursi guru besar ekonomi politik yang pertama yang menetap di Haileybury selama tigapuluh tahun, sampai ia meninggal dalam tahun 1834. Ia mempunyai tiga orang anak; dua diantaranya, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi besar sampai meningkat kemasa dewasa.

Api yang ditimbulkan oleh Malthus tidak pernah mati seluruhnya. Pertentangan-pertentangan pro dan kontra masih saja berlaga dengan hebatnya. Penerbitan-penerbitan baru yang menyokong thesis Malthus seperti Tantangan masa depan manusia. Jalan kepenyelamatan. Batas-batas dunia dan Bumi kita yang digarong telah memancing reaksi-reaksi yang tajam seperti yang terdapat dalam karangan-karangan yang berkepala “Si penakut Malthusian”, “Makanlah dengan puas”, “Kejahatan Melthusian” dan “Manusia tak perlu mati”. Pandangan yang manakah yang dapat disebut pandangan yang sama berat mengenai teori Malthus dalam jaman kita ini?

Suatu faktor besar dalam pertumbuhan jumlah penduduk semenjak pertengahan abad ke-XIX ialah bertambah umumnya diterima teknik kontrasepsi yang telah memungkinkan diadakannya batas keluarga yang berencana, kecuali diantara kalangan yang tidak mengetahui dan kalangan yang merasa dihalangi oleh perasaan keagamaan. Gerakan ini beroleh nama bermacam-macam. Neo-Malthusianisme, pembatasan kelahiran, keluarga berencana dan dapat disebut “suatu gerakan demografik yang terpenting dalam dunia modern”. Malthus terutama menolak dan mengutuki kontrasepsi, dan praktek ini dalam jamannya dianggap orang sebagai suatu “kegiatan, asing dan bertentangan dengan alam”.

Sungguhpun begitu kenyataan ini telah menjadi salah sebuah cara untuk mengendalikan jumlah penduduk dalam masyarakat modern dan dengan demikian menambah faktor keempat kepada trio Malthus “kejahatan, derita dan pengekangan moral”.

Dalam tahun 1800, waktu Malthus menulis bukunya, jumlah penduduk dunia ditaksir sebanyak satu billiun. Dalam masa seratus limapuluh tahun jumlah ini telah berkembang menjadi duasetengah billiun. Perkembangan dalam bandingan yang begitu besar ini tidaklah disebabkan oleh naiknya angka kelahiran yang luar biasa, tapi karena bertambah panjangnya umur manusia. Di negeri-negeri yang telah maju didunia ini tak terhitung jumlah nyawa yang diselamatkan berkat perubahan dalam praktek-praktek pengobatan, kebersihan dan praktek-praktek sosial. Revolusi Industri telah menghasilkan bagi Inggris kenaikan jumlah produksi barang-barang buatan yang tak tepermanai dan hasil ini ditukarkan dengan makanan dan bahan mentah negeri-negeri yang belum berindustri. Segala macam bentuk alat pengangkutan diperbaiki sehingga dengan demikian makin bertambahlah mobilitet. Penduduk yang berlebih dialirkan dengan jalan imigrasi kebenua-benua yang baru dibuka. Ramalan yang mengerikan yang diberikan oleh Malthus dengan cara begini setidak-tidaknya telah diperlambat terjadinya, bahkan bukan mustahil bahwa ia telah dapat dijauhkan untuk selama-lamanya – setidak-tidaknya untuk dunia Barat.

Tapi masih ada sisa bagian-bagian dunia ini yang dapat dipakai sebagai contoh yang baik dari teori-teori Malthus. Timur Tengah, sebagian besar dari Asia dan kebanyakan negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan ditandai oleh kesuburan pertumbuhan penduduk yang besar, tapi bersamaan dengan itu terdapat tingkat kematian yang tinggi. Dibagian-bagian itu nyawa yang diselamatkan oleh obat dan kebersihan rupa-rupanya tak berarti jadinya karena adanya kemiskinan dan epidemi.

Sebagai kebalikan dari situasi ini, beberapa dari negara yang paling maju peradabannya dan kebudayaannya, terutama Perancis, Swedia, Pulau Es, Ustria, Inggris, Wales dan Irlandia telah memasuki masa stabilisasi atau penurunan jumlah penduduknya. Stabilisasi ini terjadi karena rendahnya martabat kesuburan, penurunan jumlah orang-orang yang berusia muda dan bertambah panjangnya umur.

Semenjak jaman Malthus produksi bahan makanan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan para ahli sependapat bahwa kita dapat mencapai lebih banyak lagi kemajuan-kemajuan pokok dengan jalan menyempurnakan metodos produksi sehingga menjadi lebih effisien, dengan jalan mengadakan perbaikan irigasi, dengan jalan mempergunakan tanah-tanah baru, penggantian makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan makanan berasal dari hewan dan dengan jalan penjagaan lebih baik terhadap serangan-serangan penyakit. Kelebihan hasil tanaman di Kanada dan Amerika Serikat dapat ditunjukkan sebagai suatu bukti dari kekhilafan yang terdapat dalam prinsip Malthus. Tapi biar bagaimana cepatnyapun produksi makanan di Amerika beroleh kemajuan, masih saja beratus-ratus juta manusia di Timur dan ditempat lain yang hidup dipinggir jurang kelaparan atau atas dasar kebutuhan yang sangat minimum. Jadi gambaran yang diperlihatkan oleh barangkali duapertiga penduduk dunia yang menderita kekurangan makan, epidemi penyakit, taraf kesehatan yang rendah dan mengidapkan pelbagai penyakit, memberikan kepada kita kesan seolah-olah masalah yang dimajukan oleh Malthus satu-setengah abad yang lalu sama nyata dan mendesaknya sekarang seperti pada masa itu.

Bahkan para pengeritik yang merasa puas dengan lumpuhnya thesis Malthus dalam segi-segi tertentu yang diakibatkan oleh perkembangan yang tidak atau tidak mungkin dilihat oleh Malthus, mengakui bahwa konsekuensi-konsekuensi besar telah lahir dari buah pikirannya itu. Sebagai dinyatakan oleh Hobbouse, “Teori Malthus adalah salah satu sebab dari lumpuhnya ramalannya sendiri. Karena kepercayaan kepada kebenaran dari pertumbuhan penduduk yang terlalu cepatlah maka orang mulai mengadakan pengendalian.

            Diantara begitu banyak pembahas yang telah menulis tentang Essay mengenai prinsip pertumbuhan penduduk karangan Malthus, barangkali tidak ada yang telah mebmerikan pujian yang lebih patut dan lebih tajam dari pada yang telah diberikan oleh John Maynard Keynes, yang percaya, bahwa:

Buku ini berhak untuk beroleh tempat diantara buku-buku yang berpengaruh, besar atas kemajuan berpikir. Ia ditulis menurut tradisi yang asli dalam soal-soal ilmu kemanusiaan – menurut tradisi pemikiran Inggris dan Skot, dimana menurut hematku, terdapat suatu kelanjutan yang luar biasa dari perasaan, jika ia boleh kusebutkan begitu, mulai dari abad ke-XVIII sampai masa kini – suatu tradisi yang disarankan oleh nama-nama seperti Locke. Hume, Adam Smith, Paley, Bentham, Darwin dan Mill. Suatu tradisi yang ditandai oleh suatu kecintaan kepada kebenaran dan kejernihan yang mulia, oleh hygiene yang prosais, bebas dari sentimen atau metafisika, oleh suatu kebebasan dari kepentingan-diri-sendiri yang kuat dan oleh semangat kepentingan bersama. Dalam penulisan seperti ini terdapat suatu kelanjutan, bukan saja dalam soal perasaan tapi juga dalam hal-hal yang nyata. Kedalam kumpulan inilah Malthus bisa digolongkan. (*)

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: