Connect with us

Memoar Kehilangan

Aku Mencintaimu; Dengan Cinta Yang Tak Bernama

mm

Published

on

Bersemanyam di sini di antara lagu dan nama; mempesiang minta nyawa. Aduhai, apa aku harus tertidur di antara lelapmu? Yang ribuan tahun dalam kesunyian?

Di mana engkau di antara air mata yang tertahan? Ia menunggumu datang agar mendengar sebutir suara di antara detak-detak bisu di luasnya hidup yang dihamparkan oleh kebekuan yang menyadari gejolak diam-diam.

Cinta telah bekerja dengan aneh dalam diri dan aku tidak tahu apa-apa. Hanya pada tarian hidup di sudut kerliangan matamu detak-detak bergetar menggetarkan sayat menyanyat dalam jeda, cinta; yang membuat pandanganmu pada tatapku berjarak sedetak getar senyum yang menunda tawa sebelum hatimu di bebaskan untuk menari di tengah langit sewaktu matahari bergerak semau sendiri betah di antara padang rindumu.

Tak ada kata, kata, kata, tak ada. Apa hendak kau sebut, saat rindu kehidupan seketika kehilangan nama-nama; hanya detak, getar bunyi bertalu-talu dalam pesta pora saat kau di lumat asmara.

Aku mencintaimu; dengan cinta yang tak bernama.

(Jakarta, 3 Juli 2011)

 

Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Selain menulis puisi juga menulis esai dan kolom untuk koran dan majalah. Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Saat ini penulis aktif sebagai editor in chief Galeri Buku Jakarta dan Majalah Kebudayaan “Book, Review & Culture”. Buku terbarunya “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memoar Kehilangan

Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

mm

Published

on

Bila seruling bambu meniupkan rindu

Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

 

Engkau mulai menyanyikan lagu

Duduk tersedu di tepi danau

Seperti dahulu ia selalu begitu

 

Melewatkan malam menimang pagi

Engkau menunggu dan menetapkan hati

Untuk menantinya kembali

”Barangkali pagi ini….”

Tapi ia tak pernah kembali

 

Di Kamar, 14 Januari 2011 | Sabiq Carebesth 

 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Monolog Kesunyian

mm

Published

on

Ah….
Jangan terlalu percaya;
Rasa nikmat dari senggama kata;
Yang ingin melahirkan kata
Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.
Orang gila yang menari di sore hari
Dalam segelas kopimu;
Dalam baris kata tak ter eja;
Kalau dia pergi kau yang gila;
Menari sendiri
Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu
Jangan ingkar janji
Bila berhenti berlari
Puisi-puisimu kan menari di ujung hari
Menggali liang lahat
Bagi kematianmu;
Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Memoar Kehilangan

Memoar Kehilangan

mm

Published

on

Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga kenangan, yang teratanam di tanah paling dalam dari ingatan; kehilangan-kehilangan adalah bukan lukanya yang menyakitiku, tapi ingatanku yang sadar akan terampasnya waktu dan keindahan, atau kepahitan; yang harus milikku, namun kau ambil dan tidak akan pernah dapat kembali; atau untuk sekedar sama serupa. Kini kupegangi seutas tali paling halus dan sederhana; untuk menggambar nyata; melukis keabadian; bahwa engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan…

Jakarta, 08 mei 2010 | Sabiq Carebesth 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: